13. Monyet-Monyet – II

1272 Words
13. Monyet-Monyet – II Hari ini pun berakhir dengan agak tenang. Bisma dan dua kroconya sama sekali tidak mengusik Naraya dari awal hingga akhir pelajaran—walaupun hari ini sama sekali tidak ada pelajaran. Aditya juga cukup terkejut karena Trio BAU sama sekali tidak menunjukkan pergerakan. Yah, asumsikan saja bahwa hari ini mereka sedang beruntung. Kalia juga tidak datang mengusik, pastilah ia sedang sangat disibukkan dengan acara bapaknya kepala desa itu. Dengan ketiadaan Kalia, Naraya juga agak tenang. Diikuti oleh perempuan ke mana pun pergi, bukan hal menyenangkan bagi seseorang yang menyukai ketenangan seperti dirinya. “Ya, gimana kalau kita jalan-jalan ke waduk sebentar. Di sana ada yang jualan nasi pecel sama ikan bakar. Belum pernah rasain nila bakar di sini, ‘kan? Rasanya paling juara!” Aditya yang selalu bersemangat jika menyangkut makanan mengacungkan kedua jempol. Dua menu yang direkomendasikan itu sebenarnya baru-baru ini Naraya santap sebagai sarapan. “Hmm, boleh. Tapi aku bilang dulu sama Ibu. Hari ini Ibu enggak ada di rumah, simbah sendirian. Enggak tahu bakal dikasih izin apa enggak.” Sebelum Naraya mengambil ponsel, sebuah tarikan kecil di celana lebih dulu mengambil alih atensi. Aditya dan Naraya melongok ke bawah, mendapati anak monyet kecil yang di lehernya terkalung sesisir pisang matang. “Loh, itu kan monyet yang tadi kamu selametin dari amukan ibu kantin.” Aditya menunjuk monyet kecil tersebut. Naraya menaikkan satu alis. Sekali lagi, ia tidak begitu menyukai hewan berisik seperti mereka, dan lagi… ia juga memiliki sedikit pengalaman buruk dengan monyet. Sesuatu yang cukup menakutkan di masa sekolah dasarnya. Namun, monyet ini tampaknya tidak seribut monyet-monyet lain yang sejak beberapa saat lalu mulai menunjukkan diri dan menimbulkan keributan di pinggiran sekolah. Ia kasihan kepada anak monyet ini, mungkin terpisah dari induk dan saudara-saudaranya. Terlebih lagi hampir saja disiram dengan air panas. Meskipun ia tidak suka dengan mereka, bukan berarti ia membiarkan hewan tidak berdosa ini diperlukakan dengan keji. “Iya, kenapa juga dia balik ke sini? Kayaknya terpisah dari kawanannya sendiri. Kalau enggak gitu, mana mungkin dia balik, ‘kan?” Naraya membawa monyet kecil itu dalam gendongannya. Lucunya, primata kecil tersebut tidak terusik dengan perbuatan Naraya, malah anteng seperti bayi yang digendong. “Kamu kan pecinta monyet, bisa tunjukkan tempat biasanya mereka nongkrong?” Pertanyaan yang ditujukan kepada Aditya itu ditanggapi dengan kekehan ringan. “Ya, biarpun begini, aku enggak cinta monyet. Masih lurus aku, suka sama perempuan. Tapi… kalau kamu mau cari tempat di mana mereka biasanya nongkrong, kamu bertanya ke orang yang tepat.” Aditya memang bisa diandalkan untuk hal semacam ini. Naraya merasa tenang bisa mempercayakan anak monyet ini kepada pemuda itu jika tidak bisa menemukan kawanannya. “Oh, ada yang mau adopsi anak monyet, ya? Haha, cocok sih. Mukanya mirip.” Ejekan itu berasal dari Udin. Ah, padahal sepertinya Bisma dan Atim tetap diam saja sedari tadi. Kenapa pula pemuda itu memulai? Bisma dan Atim tidak menanggapi atau mendukung perkataan Udin. Bahkan Bisma sebagai ketua dari trio itu melewati saja Udin dan membiarkan saja Atim menariknya menjauh. “Ngapain, sih?! Bis, dari tadi sama sekali enggak ngapa-ngapain. Mentang-mentang Kalia enggak ada di sini makanya enggak mau—“ Bisma menampar Udin tepat di wajah. Perbuatannya tak hanya meninggalkan tanda tanya bagi Udin dan Atim sendiri, tetapi juga kepada Naraya dan Aditya yang merasa sesuatu aneh tengah terjadi. “Udah diem aja. Jangan bikin keributan dulu.” Begitulah Bisma meninggalkan Naraya dan Aditya disusul dengan kedua kroconya tak lama kemudian. Naraya dan Aditya saling pandang dalam kebingungan, tetapi keduanya segera mengenyahkan asumsi buruk tentang Bisma dan sikan buruknya kepada Udin. Mereka berdua kembali disibukkan dengan anak monyet dalam gendongan Naraya. Mata bulat anak monyet itu memandangi pemuda yang menggendongnya penuh dengan binar kagum. Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan. “Kayaknya dia suka sama kamu, deh. Kalau gini, enggak usah dibalikin ke induknya,” celetuk Aditya yang mendapatkan delikan tipis dari Naraya. Kedua pemuda itu memutuskan untuk mencari induk si monyet kecil. Naraya dan Aditya tidak menyadari jika kepergian mereka diawasi oleh seorang pria paruh baya. Pria itu mengembuskan asap rokoknya. Dari awal pun, pria itu sudah memberikan perhatian lebih untuk pemuda itu. *** Aditya dan Naraya telah menyusuri hutan hingga agak dalam. Si monyet kecil tetap anteng dalam gendongan. Seolah ia memang nyaman berada di sana. Sebenarnya mereka berdua sudah beberapa kali melihat kawanan monyet lain, tetapi tidak ada dari kawanan-kawanan itu yang menyambut si monyet kecil. Lucunya, alih-alih menyingkir karena kedatangan orang asing, para monyet itu malah mengikuti mereka. Sehingga mereka berdua terlihat seperti dua pemuda biasa yang diikuti pasukan kecil monyet. “Uhm… kayaknya kita aneh banget, ya? Dari tadi diikuti monyet. Mana mereka anteng banget kayak bebek digiring,” celetuk Aditya yang merasa aneh saja dengan kondisi mereka saat ini. “Gimana kalau kita balik aja dulu ke sekolah. Terus anak monyet ini kamu aja yang bawa gimana?” tawar Naraya. Monyet kecil dalam gendongan Naraya mendadak tidak nyaman. Mungkin ia menyadari ide itu tidak baik baginya. “Aduh, enggak bisa, Ya. Mana mungkin aku bawa monyet itu pulang. Nanti diamuk sama mamakku. Mana monyet kan banyak makan. Nanti malah dia digoreng sama bapakku.” Si monyet kecil makin tidak nyaman dalam gendongan. Naraya sendiri juga tidak bisa membayangkan monyet sekecil ini akan berakhir menjadi hidangan makan malam dan disajikan dengan sambal. “Aku juga enggak tahu mau apakan bocah kecil ini. Dia juga kayaknya enggak mau pisah sama kita.” Aditya mendecih. “Ih, sama kamu aja kali. Dia lihat aku aja ogah. Dia kayaknya suka sama kamu. Itu monyet-monyetnya juga suka sama kamu. Sampai terkintil-kintil gitu.” Naraya juga tidak bisa menyangkal tentang hal itu. Sepertinya mereka memang suka padanya. Sedikit banyak memantikkan kembali rasa penasaran tentang monyet besar yang selama ini mengganggu pikirannya. Monyet itu seolah tertarik padanya, termasuk pula monyet-monyet kecil ini. “Kita balik aja dulu, Dit. Urusan monyet ini, nanti aja,” putus Naraya. Pada akhirnya kedua pemuda itu kembali ke sekolah. Hari beranjak gelap ketika mereka tiba di sana. Naraya tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada anak monyet ini. Mungkinkah ia betul-betul terpisah dari induk dan kawanannya? Mengingat para monyet yang mengikuti mereka tidak mengakui anak monyet tersebut. “Kenapa kalian balik ke sekolah pas mau magrib?” Sebuah suara mengejutkan Naraya dan Aditya. Mereka berdua dikejutkan oleh penjaga keamanan yang sedang berkeliling. Dengan penampilannya yang agak menyeramkan, tentu saja membuat keduanya takut. “Anu… Pak… ini ada anak monyet kesasar di sekolah. Karena kasihan… jadinya kita mau cari induknya ke hutan. Siapa tahu lagi dicari.” Aditya lebih dulu menjawab. Pria paruh baya itu menatap Naraya lekat-lekat. Pria itu menghela napas lalu menawarkan diri merawat si monyet. “Kalian pulang aja, biar saya yang rawat.” Ajaibnya, monyet kecil yang tadinya lekat dengan Naraya mau saja dibawa penjaga keamanan itu. Bahkan ia tampak nyaman-nyaman saja dibawa si bapak walaupun matanya masih terpaku pada Naraya. Sehabis dipisahkan dari Naraya, si monyet menenggelamkan wajahnya di pelukan pria berpostur tinggi itu. Aditya buru-buru mengucapkan terima kasih, sedangkan Naraya masih merasa ragu meninggalkan anak monyet itu kepada pria ini. Walaupun begitu, Naraya berusaha mengikhlaskan saja. Ia dan Aditya mohon diri pamit setelah mengucapkan permintaan maaf pula karena terkesan sedang menyusup di sekolah. Sebelum mereka semakin menjauh, Naraya tercenung sejenak. Baru saja, ia seperti mendengar suara bapak penjaga tadi tepat di telinganya. Padahal ketika Naraya menoleh ke belakang, ia mendapati bapak itu sedang berjalan ke arah berlawanan dengan mereka. Kalau kau ingin tahu tentang identitasmu, datanglah ke sini pagi-pagi sekali besok. Naraya merinding. Ia mengalami lagi satu peristiwa yang tidak bisa dinalar. Namun, ia lebih mempercayai kata-kata itu daripada alasan-alasan ibunya tiap kali menolak menjawab pertanyaan Naraya tentang identitasnya. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD