14. Insiden
Pertama kali membuka mata, nyeri tidak tertahankan menghantam kepalanya. Seolah ia baru saja dipukul dengan kencang. Naraya mengerang lirih, tak lama kemudian suara ibu yang khawatir terdengar oleh indera pendengarnya. Ada selentingan tipis aroma khas klinik atau rumah sakit. Begitu matanya sudah mampu beradaptasi, ia menyadari sedang berada ranjang dengan selang infus terhubung ke tangan kirinya. Seburuk apa situasi yang terjadi hingga ia berada di sini?
“Ya… Alhamdulillah kamu udah bangun.” Itu suara penuh kelegaan Aditya. Pemuda itu mendapatkan beberapa buah plester di wajah dan sisa-sisa lecet. Di sofa sudut ruangan, Kalia tengah tertidur. Di pahanya terdapat plester besar, selebihnya tidak ada luka lain.
“Kenapa… aku bisa di sini?” tanya Naraya lirih.
“Jangan dipikirin dulu, Ya. Istirahat dulu aja. Itu ibumu baru aja panggil dokter. Kamu haus? Mau minum?” Aditya menghampiri ranjang, dengan cekatan ia mengambil gelas berisi teh manis hangat dan sendok. “Teh manis enggak apa-apa, ‘kan?”
Naraya seharusnya tidak bertanya. Baru saja ingatan tentang alasan mengapa ia dan dua kawan terdekatnya ini berakhir di sini melesak masuk. Terlalu banyak, seolah saling menubruk hingga rasa pusing itu kembali datang dan meninggalkan rintihan kecil. “Sekarang udah ingat. Aku juga enggak mau ingat-ingat sih.”
Kalau Naraya dan Aditya tidak berpapasan dengan Kalia di tengah perjalanan pulang itu, tidak akan begini jadinya. Hari telah sepenuhnya menggelap ketika Naraya kesulitan mengendarai sepeda motornya dalam perjalanan pulang. Medan yang berkelok-kelok dan banyaknya lubang di jalan sedikit banyak menghambat laju sepeda motor Naraya. Terlebih lagi Aditya ikut membonceng, semakin sulit bagi Naraya menuruni jalan gelap itu.
“Biar aku aja, Ya. Kalau gini terus sampai isya juga kita enggak bakal sampai ke rumah,” tawar Aditya. Namun tawaran itu dibalas dengan penolakan. Naraya yang pada dasarnya ingin menguasai rute ini akan menganggap jalan yang rusak dan tambahan beban Aditya sebagai salah satu rintangan agar levelnya makin naik. Ya… anggap saja begitu.
Kendati memakan waktu yang agak lama, mereka berhasil “turun gunung” dan akhirnya tiba menuju jalan besar. Keduanya bisa bernapas lega sekarang. Naraya cukup bangga bisa melewati banyak rintangan itu. Bagi Aditya, kawannya yang satu ini memang pekerja keras. Ia senang dengan pencapaian Naraya yang terhitung anak baru di daerah ini. Akhirnya mereka bisa pulang, Naraya dalam hati berjanji akan memberikan sedikit penghargaan kecil bagi dirinya. Mari membeli nila bakar yang banyak sambalnya.
“Wegah! Ora gelem aku, Bis! Ojo nggeret-nggeret tanganku!*” Sebuah suara yang sangat mereka kenali tiba-tiba saja terdengar dari mobil yang terparkir agak jauh. (*Tidak mau! Aku tidak mau, Bis! Jangan tarik-tarik tanganku!)
Kalia berada dalam situasi yang tidak menyenangkan melibatkan Bisma. Baik Naraya maupun Aditya tidak mengetahui cerita keseluruhannya, tetapi membiarkan perempuan berada dalam situasi seperti itu adalah hal tidak jantan. Terlebih lagi Bisma mulai menunjukkan kekuatan fisiknya dengan beberapa kali menarik Kalia dan memaksanya keluar dari mobil. Walaupun Naraya sebisa mungkin menghindari pertengkaran dengan Bisma, tetapi ia tidak bisa diam saja menyaksikan perlakuan kasar pemuda itu kepada Kalia.
“Bisma! Stop! Sebaiknya kamu jangan ganggu Kalia lagi.” Naraya menengahi Bisma, tepat sebelum pemuda itu melayangkan tamparan kepada Kalia.
Bisma menggeram. Ia berada di posisi sedang tidak bisa menghajar siapa pun terutama Naraya. Bapaknya yang suka marah itu selalu berpegang teguh pada setiap ancaman yang diberikan kepadanya. Jika sudah begini, ia hanya akan mendapatkan sabetan gesper dari bapaknya jika betul-betul melakukan sesuatu yang merugikan Naraya.
“Jangan ikut campur! Ini bukan urusan anak yang enggak punya bapak kayak lu!” Bisma mendorong Naraya menjauh. Walaupun tenaganya tidak begitu besar, tetapi ia juga lupa bahwa Naraya memang memiliki tubuh lebih lemah darinya. Satu dorongan itu nyaris menjatuhkan Naraya ke tanah dan Kalia yang menyaksikan bagaimana kasarnya Bisma semakin menunjukkan penolakan kepada pemuda itu.
“Bisma! Kamu jahat banget! Jangan sentuh aku lagi! Aku enggak sudi lihat wajah kamu lagi!” Kalia mengulurkan tangannya kepada Naraya bermaksud mengajak pemuda itu menjauh saja. Kembang desa yang terlalu polos itu tidak peduli dampak apa yang ditimbulkan nantinya dengan memberikan perhatian kepada Naraya.
Bisma yang berusaha menahan diri agar tidak terbawa emosi pada akhirnya terbakar api cemburu ketika Kalia menggenggam tangan Naraya. Dibutakan oleh amarah, Bisma menarik Kalia menjauh, ia bahkan mendorong perempuan itu hingga terjerembab di aspal. Tanpa tedeng aling-aling, Bisma menarik kerah seragam Naraya. Pukulan beberapa kali mendarat di wajah Naraya, Aditya kalang kabut. Ia berusaha menghentikan Bisma, tetapi tenaganya juga tidak cukup kuat untuk melawan pemuda itu. Jangan tanya Naraya, ia sama sekali tidak berdaya dalam cengkeraman Bisma.
Raungan sepeda motor menakuti jalanan. Udin dan Atim menyusul tidak lama kemudian. Dengan perintah dari Bisma agar menahan Aditya dan Kalia, Bisma memuaskan diri menghajar Naraya hingga babak belur. Udin dan Atim sendiri sudah mengetahui ancaman yang diberikan bapaknya Bisma. Di posisi yang serba salah ini mereka hanya bisa menurut walaupun khawatir akan mendapatkan masalah sehabis ini.
Naraya telah berada di ambang kesadaran ketika ia melihat langit berbintang. Dari kegelapan itu, ia melihat pergerakan pada pohon-pohon tinggi. Suara-suara monyet saling bersahutan itu… kenapa tidak ada yang mendengar, ya? Bisma masih memukulinya sedangkan kedua kroconya juga tidak berbuat apa-apa. Namun, suara monyet-monyet itu sangatlah nyaring. Sebelum ia betul-betul kehilangan kesadaran, sesosok monyet berukuran besar mendarat dengan kencang di motor yang terparkir seenaknya di pinggir jalan. Pendaratannya cukup keras sehingga kedua motor itu ambruk dan terdengar bunyi benda keras yang dipenyokkan. Itu adalah ingatan terakhir Naraya. Aditya pasti juga sedang tidak bisa berpikir jernih karena sosok monyet besar itu.
“Bisma enggak kenapa-napa, ‘kan?” tanya Naraya.
Aditya mengurungkan tangannya menyuapi sang kawan. Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga. “Dia beruntung soalnya ada kendaraan yang lewat. Monyet besar itu… dia lari ke hutan sehabis Bisma sama dua kroconya. Kalia pingsan pas lihat monyet itu. Aku juga… enggak percaya sama hal yang baru aja aku lihat. Ya… itu bukan monyet… itu sudah pasti sesuatu yang enggak bisa dijangkau sama nalar kita.”
“Kamu juga ceritakan ini ke ibu?”
Aditya menggeleng. “Tadi Pak Sugi yang bawa kita ke klinik ini. Dia juga yang hubungi orang tua Trio BAU itu. Dia yang bikin skenario paling aman saat ini. Yang enggak melibatkan monyet itu. Untung aja ada Pak Sugi.”
Naraya teringat akan penjaga keamanan sekolah yang membawa pulang si monyet kecil. Ia penasaran betul dengan suara pria itu yang seolah berbisik langsung di telinganya padahal jarak mereka terlalu jauh. Bisikan itu sendiri juga tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Terlalu banyak hal berlarian di kepalanya. Naraya menjatuhkan lagi tubuhnya ke ranjang. Ia ingin tidur dengan tenang dan melupakan semua rasa sakit ini.
***
Ibu baru saja kembali dari meja administrasi ketika ia berhadapan lagi dengan pria itu. Salah satu pria yang dulu sangat mengenal dirinya. Perempuan itu berusaha menghindar, tetapi terlambat. Sugi, yang merupakan penjaga keamanan di sekolah Naraya itu mengatakan kembali hal-hal yang tidak ingin ia dengar.
“Esti… kamu harusnya tahu kalau Kanjeng Iswara masih mengawasi kalian berdua. Kenapa kamu tidak katakan apa pun sama Naraya kalau dia—“
“Tidak! Ia tidak berhak atas apa pun pada Naraya. Ia juga tidak berhak menemui kami atau menunjukkan batang hidungnya di depan kami. Itu sudah janjinya, dia pria yang menepati janji bukan? Katakan sama dia supaya jangan mendekati kami lagi!”
Rasa sakit di dadanya merayap. Ibu tidak pernah memiliki penyakit pernapasan atau jantung, tetapi ia memiliki luka yang tidak akan pernah sembuh jika membicarakan lagi tentang masa lalu. Antara ia, Naraya, dan ayah kandungnya. Semua ini tentang insiden itu.
|Bersambung|