15. Siapakah Ayahku? – I

1345 Words
15. Siapakah Ayahku? – I Sebenarnya Naraya tidak diizinkan masuk sekolah lebih dulu. Dengan kondisinya yang babak belur, ibu tidak memberikan lampu hijau atas keinginan putranya masuk sekolah. Ada pertengkaran di antara mereka berdua, sampai saat ini pun mereka berdua tidak banyak mengobrol seperti biasa. Ibunya masih cukup syok dengan kejadian semalam, terlebih lagi panggilan telepon tidak terduga dari Anto, juragan mebel yang pernah mengejar-ngejarnya di masa lalu sekaligus ayah dari Bisma. Inti dari panggilan tersebut semalam adalah agar menjauhkan Naraya dengan Bisma. Untuk sementara pria itu akan berusaha menahan kecurigaan istrinya. Bisma dan kedua kroconya sedang dirawat, tetapi ia beralasan bahwa mereka melakukan kenalakan remaja pada umumnya. Tidak ada bagian yang disangkut-pautkan dengan Naraya. Namun, jika ia bisa berhasil menahan kecurigaan itu untuk waktu lebih lama. Jika Bisma sudah mengatakan penyebab p*********n itu, mungkin istrinya akan memanggil orang pintar. Sebagai pria yang pernah menyukai ibu di masa lalu, sampai sekarang pun rasa tertarik itu tidak pudar. Bahkan semakin menguat ketika menyaksikan bagaimana waktu tidak meluruhkan kecantikan Esti Juwita, kembang kampung di masa muda itu. Dengan statusnya yang melajang, ditambah menjadi perempuan sukses pemilik banyak cabang toko kue, Anto tetap memandang ibu sebagai sosok menarik. Tidak bisa dibandingkan dengan istrinya yang bertambah ukuran baju hingga dua ukuran padahal hanya memiliki satu anak dan sifat galaknya makin parah seiring waktu. “Bisma sama dua kawannya juga enggak masuk sekolah dulu untuk beberapa hari. Dia lebih bonyok dari kamu.” Ibu belum juga beranjak dari ruang inap malam itu. Padahal ia memiliki beberapa dokumen yang harus dikerjakan. “Monyet besar itu pasti hajar mereka sampai babak belur. Enggak heran juga, soalnya ukuran monyet itu enggak main-main. Kalau diibaratkan manusia, pasti tingginya lebih dari dua meter, sih.” Ucapan Naraya menerbitkan kerutan di dahi ibunya. Kentara sekali bahwa ia tidak suka ketika Naraya membawa-bawa si monyet sebagai topik obrolan. “Itu cuma monyet.” “Bu… monyet itu selalu datang di momen-momen pentingku. Dia ada pas kita pertama kali datang ke sini, pas aku di-bully  sama Bisma pertama kali dia juga ada di sana, dia juga datang lindungin aku dari Bisma. Dengan kemunculannya yang selalu pas itu, mana mungkin aku enggak merasa aneh? Seolah dia jadi pelindungku. Ibu pasti sembunyiin sesuatu dari aku, ‘kan?” cecar Naraya dengan berbagai macam pertanyaan. “Diam! Enggak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Kamu tidur, udah malam.” Ibu menyudahi perdebatan malam itu dengan meninggalkan kamar inap Naraya. Menyisakan kembali berbagai macam pertanyaan yang belum memiliki kejelasan bagi pemuda tersebut. Hari ini pun, ketika ia belum boleh dinyatakan pulang. Naraya mendatangi sekolah sendirian, sembunyi-sembunyi, dan tentunya tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk ibunya. Bahkan gerbang sekolah belum dibuka, tetapi Naraya sudah disambut oleh Sugi yang baru saja menikmati sarapan paginya di pos penjagaan. Si monyet kecil yang dititipkan ke pria itu masih pulas di keranjang anyaman bambu beralaskan kain-kain rombeng. Tidurnya terlalu lelap sampai-sampai tidak terusik oleh kedatangan Naraya. “Saya enggak nyangka kalau kamu bakal datang dalam keadaan agak belur begini. Kemarin keadaan kamu luar biasa parah. Untungnya luka-lukamu lebih cepat pulih daripada manusia biasa,” ujar Sugi sembari menyajikan segelas kopi s**u untuk Naraya di dalam pos penjagaannya. Naraya mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. “Saya memang jarang luka, tapi sekalinya luka gampang sekali sembuh. Ya… walaupun kadang-kadang sakit dan emang ada momen di mana luka saya agak lama sembuhnya, tapi itu wajar jika dibandingkan sama orang lain. Jadi… apakah saya bukan manusia sampai-sampai Bapak bilang gitu?” Pria itu menggeleng. “Kamu manusia, hanya saja di dalam darahmu mengalir darah sosok lain. Bukan manusia tentunya. Saya yakin ibumu pasti enggak pernah mengungkit ini satu kali pun.” Naraya mengangguk. “Iya, saya yakin kalau ada sesuatu yang selama ini Ibu sembunyikan dari saya. Kalau mendengar perkataan Bapak tadi, saya juga paham kenapa Ibu sama sekali enggak pernah bicarakan soal ini. Tapi… saya juga penasaran. Siapakah bapak kandung saya.” Sugi tersenyum tipis, tetapi dalam senyumnya itu tersimpan banyak cerita, yang jika dikatakan satu-satu pagi ini akan memperlambat pekerjaannya. “Saya enggak bisa cerita banyak. Tapi… dulu orang-orang sebelum kenal ajaran agama seperti saat ini, mereka memuja sebuah eksistensi yang sudan lama merawat dan melindungi gunung. Saya salah satunya walaupun saya juga menyematkan ajaran Islam sebagai agama di KTP saya. Tapi saya tidak lantas memuja eksistensi itu. Saya hanya menjadikannya sebagai sosok yang patut diberikan terima kasih dan apresiasi karena telah melindungi dan merawat alam ini.” “Penunggu?” terka Naraya yang segera mendapatkan senyum lebih lebar, seolah itu kekehan ringan. “Ya, anggap saja begitu. Tapi saya enggak meyakininya begitu. Ia hanyalah makhluk Gusti yang kebetulan punya umur panjang dan kemampuan berlebih untuk merawat alam ini. Itu aja. Tapi orang-orang selalu menganggap mereka sebagai momok yang harus ditakuti dan diberikan materi. Dia bukan sosok yang seperti itu.” “Jadi… apakah dia adalah bapak saya?” Sugi urung menjawab, ia memutar bola mata lalu mengembuskan napas agak berat. “Singkatnya, iya. Itulah mengapa ibumu tidak pernah cerita sama kamu. Ada hal besar yang menyebabkan keruntuhan padepokan dan itu bukan hal menyenangkan untuk diceritakan lebih detail saat ini. Terlebih lagi dalam setiap keruntuhan selalu ada saja cerita emosional di dalamnya dan itu melibatkan kamu. Dengan wujudnya yang menyerupai kera itu… dia adalah sosok paling kuat yang pernah saya temui.” Ekspresi Naraya tidak dapat dijelaskan.  Pemuda itu bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak berselang lama suaranya yang parau terdengar, “Jadi… saya anak siluman? Oh… wajar kalau Ibu selalu mencoba menutupi siapa bapak saya dan enggak pernah menceritakan apa pun. Pasti saya ini sebuah aib besar baginya.” “En-enggak begitu, bagi kami yang berasal dari padepokan itu… kamu adalah orang paling berharga. Seperti kami memandang anak bos atau—“ “Saya enggak bisa menerima kenyataan ini, Pak,” potong Naraya tiba-tiba. “Saya selalu memiliki anggapan kalau bapak saya mungkin orang jahat, mengingat dia enggak pernah datang menjemput kami. Atau paling enggak menemui saya sendiri dan mengatakan kalau saya adalah anaknya. Tapi mendengar penjelasan Anda tadi tentang sosok itu, dia mungkin sesuatu yang paling berkuasa dan kuat. Tapi kenapa sekalipun saja dia enggak pernah datang ke saya?” “Ada cerita panjang di balik itu semua. Saya hanya menceritakan garis besarnya, kalau sepotong-sepotong begini kamu enggak akan paham. Kita harus ketemu lagi di waktu yang—“ “Kayaknya enggak perlu deh, Pak. Sosok yang Anda hormati itu mungkin bukan sesuatu yang bakal saya temui ke depannya. Saya sempat memiliki harapan bahwa bapak saya adalah manusia, sama seperti saya. Mungkin ia punya kemampuan mengendalikan monyet karena tiap kali saya dapat masalah, dia pasti mengirimkan bantuan ke saya. Tapi mendengar kalau dia punya sosok monyet itu… saya jadi paham kenapa Ibu meninggalkannya.” “Bukan, bukan begitu. Kamu harus dengarkan saya lebih dulu—“ “Enggak, Pak. Maaf. Saya udah telanjur kecewa sama dia. Kalau ia bapak yang baik, harusnya ia sudah lebih dulu menemui kami jika dia emang sosok sekuat itu. Tapi yang ada dia malah sembunyi di tempat ini. Rasa hormat saya pada dia udah hilang.” Naraya beranjak keluar, lekas-lekas meninggalkan pos tersebut. Sugi tentu tidak ingin Naraya pergi dengan kesalahphaman, tetapi sebelum ia sempat meraih pemuda itu, ia sudah lebih dulu dipanggil kepala sekolah yang sering kali menginap. Ia akan mencari waktu menemui Naraya dengan suasana lebih kondusif nantinya. Naraya sendiri seolah kehilangan arah. Ia menyadari bahwa hari masih terlalu pagi. Kabut bahkan belum sepenuhnya hilang ketika ia berjalan menuruni jalan. Di hari yang masih terlalu malas ini, ia tidak menemukan adanya monyet atau hewan-hewan pagi lain. Sebuah awal buruk untuk memulai hari. Ia tidak sudi kembali ke klinik, lebih baik kembali ke rumah simbah. Mereka pasti khawatir padanya, ia tidak peduli lagi pada ibunya yang akan kelimpungan menyadari ketiadaannya di ranjang klinik. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan sekolah dan berjalan menuju rumah sinbah. Sampai saat ini pun ia tidak menyukai monyet. Menyadari jika ada darah siluman itu mengalir dalam darahnya, Naraya mengernyit. Ia juga bagian dari monyet yang tidak ia sukai itu. Jika ke depannya rasa tidak suka itu berkembang menjadi benci, maka… itu berarti ia juga akan membenci dirinya sendiri. |Bersambung|  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD