16. Siapakah Ayahku? – II

1213 Words
16. Siapakah Ayahku? – II Kedua simbah sedang bersantai di teras. Kendati sudah uzur, mereka masih terbiasa bangun sebelum subuh tiba. Semenjak kedatangan Naraya dan ibunya, seolah-olah dunia menjadi lebih tenang dan enteng. Beban yang menduduki pundak selama belasan tahun telah hilang. Saat ini yang tersisa adalah sisa-sisa waktu untuk menyalurkan cinta yang belum pernah diberikan kepada cucu lelaki mereka. Cukup menyedihkan ketika mengetahui Naraya mengalami insiden yang mengharuskannya dirawat di klinik. Pasangan suami istri tersebut sangat terkejut dengan kabar Naraya dilarikan ke rumah sakit. Namun, sekhawatir apa pun, ibunya Naraya tidak memberikan izin bagi mereka berdua untuk menyusul. Bagas dan istrinya sempat menengok, memastikan keduanya baik-baik saja selagi Naraya dirawat di klinik dengan pengawasan dari ibunya. Kini rumah itu kembali sepi, seperti sebelum kedatangan Naraya. Teh hangat dan pisang kue nagasari terhidang di meja, dibuatkan istrinya Bagas yang saat ini berada di dapur. Ia mendapatkan amanah dari ibunya Naraya untuk memasakkan sarapan. Kendati mendapatkan teh manis dan kudapan manis untuk mengawali hari, tetapi pasangan suami istri itu tetap digelayuti kekhawatiran. Bagaimanakah keadaan Naraya saat ini? Sebuah salam menarik atensi simbah, keduanya bangkit bersamaan dari kursi. Tubuh Naraya direngkuh bersamaan. Mereka sudah pasti mengkhawatirkan pemuda itu. Sekujur tubuhnya dipenuhi lecet, wajah cekung, bibir pucat, dan masih mengenakan pakaian dari klinik. Bahkan sandal yang ia kenakan pun milik klinik dan sandal klinik yang khas dengan sandal dalam rumah itu pun nyaris sobek karena dibawa berjalan di atas aspal, jalanan menanjak, dan benda-benda tajam lain. Istrinya Bagas buru-buru keluar setelah mendengar kegaduhan kecil di teras. Menyaksikan Naraya berada dalam kondisi yang tidak begitu baik, ia segera menghubungi ibunya Naraya. Tepat setelah panggilan itu berakhir, tubuh Naraya tumbang, dengan mata yang tidak terpejam. *** Ibu tiba di rumah dengan napas memburu. Kamar Naraya dipenuhi dengan beberapa tetangga. Terjadi sedikit kekacauan di klinik ketika Naraya menghilang. Para dokter dan perawat akan berakhir dalam masalah besar jika pasien ketahuan kabur. Ketika ia dan para perawat kelimpungan mencari keberadaan pemuda itu, panggilan mendadak itu datang. Naraya pulang ke rumah, lalu pingsan. Mengetahui keberadaan putranya itu, sang ibu tidak bisa berhenti bersyukur. “Aku mau telpon pihak klinik dulu. Mungkin mereka mau datang ke sini.” Ibu keluar dari rumah sejenak. Sinyal yang kurang baik di dalam rumah mengharuskannya mencari yang lebih baik di luar. Niat menelepon pihak klinik teralihkan oleh kemunculan monyet berukuran besar di salah satu dahan pohon. Jarak terbentang di antara mereka cukup jauh, tetapi ibu buru-buru memutus pandangan. Ia sudah cukup tahu mengapa pria itu datang ke sini. Belum habis rasa tidak nyaman di dadanya, ia kembali kedatangan tamu yang tidak diinginkan. Sugi diikuti dengan Kalia. Oke, Kalia tidak masalah, tetapi Sugi? Pria itu mungkin akan mengungkit lagi pembicaraan yang belum terselesaikan waktu itu. Ia buru-buru menyambut kedatangan Kalia dan mengabaikan saja Sugi. Pria itu dibiarkan saja bersama dengan tetangga-tetangga lain yang kebetulan masih berada di sana. Sugi sendiri tidak protes atau menuntut sehingga ia hanya berbaur dengan orang yang ada. “Tadi Aditya telpon aku kalau Naraya hilang dari klinik. Baru aja dia juga kabarin kalau Naraya udah balik ke rumah sendirian. Saya enggak nyangka kalau Naraya sampai jalan kaki sejauh itu.” Ucapan Kalia kembali mengingatkan ibu bahwa Naraya mungkin saja telah melakukan perjalanan paling jauh dengan berjalan kaki. Klinik ke rumah, mungkin ada delapan kilometer dan pemuda itu menempuhnya sendirian. “Iya, Alhamdulillah udah balik. Tante enggak tahu lagi harus gimana semisalnya dia enggak ketemu. Tapi kalau ingat-ingat lagi jarak dari klinik ke sini, Tante bener-bener enggak bisa bayangin. Dia sama sekali enggak bilang apa-apa, Tante hampir kena serangan jantung pas dia ilang dan enggak bisa ditemukan. Sekarang Tante hanya bisa menjaga dia biar enggak kabur-kaburan lagi,” ujar ibu sembari sesekali mengusap air mata. “Tadi dia ketemu saya di sekolah. Ada yang kami bicarakan dan itu seharusnya hal yang kamu jelaskan kepada dia sendiri, Esti.” Sugi mengatakannya di depan semua orang tanpa pikir panjang. Karena ialah seluruh pasang mata beralih padanya dan ibu menatap pria itu sengit. “Kalau enggak ada urusan di sini, lebih baik kamu pergi aja. Ini urusan keluarga saya dan kamu enggak bisa ikut campur,” desis Ibu menahan amarah. Namun pria itu masih bergeming di sana, seolah sengaja menantang ibu satu anak itu. Dibutakan amarah, ibu buru-buru menarik tangan pria itu dan menyeretnya menjauh. Perbuatan ibu sebenarnya menarik atensi dari banyak orang. Di luar, matanya sempat berkeliling sejenak dan monyet tersebut tak lagi berada di sana. Mungkinkah ia tidak ingin diketahui oleh Sugi? “Jangan datang ke sini lagi. Saya bukan orang yang pemarah kayak gini, tapi saya enggak mau kamu ganggu Naraya lagi.” Pria itu hanya tersenyum miring. “Dia bakalan ketemu saya terus sepanjang masa sekolah, saya enggak perlu menjauh. Dia yang bakal datang sendiri. Lalu… satu lagi. Dia udah tahu tentang hal yang kamu sembunyikan. Saya udah ceritakan garis besarnya, karena dia sendiri yang ingin cari tahu kebenaran tentang dirinya.” Sebelum amarah ibu memuncak dan Sugi menjadi korbannya, Bagas buru-buru menyusul dan menahan ibu. Terjadi sedikit adu mulut antara ibu dan Sugi, walaupun sebenarnya pria itu hanya diam dan tidak banyak menanggapi. Sugi dituntun pergi oleh orang-orang yang kebetulan berada di sana. Namun, belum habis ketegangan saat itu, bertambah lagi satu masalah ketika mobil dari juragan mebel terkenal di kampung memasuki halaman rumah. Sang nyonya yang memiliki tubuh tambun turun disertai wajah beringas dipenuhi amarah. “Endi bocah sing uwis gawe anakku bonyok?!*” Amuk perempuan itu yang segera menghambur ke halaman dan menampar ibu tanpa tedeng aling-aling. (*Di mana bocah yang sudah membuat anakku babak belur?) Ibu tentu tidak terima dengan tamparan dan tuduhan tersebut. “Lho, Bu. Anake jenengan sing nggebuki anak kula. Sak penake cangkeme jenengan sanjang mekaten!**” (**Llho, Bu. Anak Anda yang memukuli anak saja. Enak saja menuduh demikian) Sejak awal hubungan keduanya memang rumit. Bu Anto, istri dari Pak Anto sudah lama mengejar-ngejar suaminya di masa lalu. Namun suaminya malah kepincut dengan Esti yang notabene kembang desa waktu itu. Kalau bukan karena keluarganya yang kaya menopang bisnis keluarga Pak Anto, pernikahan mereka hanyalah angan-angan semata. Kini wanita yang pernah ditaksir suaminya itu kembali dengan menjadi pebisnis perempuan sukses. Bu Anto sendiri yakin bahwa suaminya masih menyukai Esti sendiri. “Dasar kamu pelakor, ya? Pasti gara-gara kamu ini suami saya sampai menutup-nutupi sebab anak saya babak belur. Kalau bukan karena dia ngaku abis dipukuli sama penunggunya anakmu itu, pasti sampai sekarang saya juga percayanya dia babak belur abis berantem. Dasar perempuan s****l!” Bu Anto kembali menampar ibu. Tuduhan dan tamparan itu menyulut kembali api kecil yang berkobar di d**a ibu. “Pelakor, penunggu? Bu, sadar! Ini zaman modern! Kalau pola pikir Ibu sekolot ini, selamanya cuma jadi orang t***l! Enggak ada itu acara penunggu-penunggu apaan itu!” Perdebatan itu menarik atensi banyak orang, mayoritas berusaha menghentikan sementara yang menganggapnya sebagai tontonan semata. Bahan pembicaraan yang bagus untuk dibagi ketika arisan atau di ketika berbelanja ke warung. Pertengkaran itu berakhir ketika Pak Anto turun tangan membawa balik istrinya dan salah seorang perawat dari klinik datang menemui ibu. Selagi pertengkaran itu terjadi, Naraya terbangun, terusik akan keributan itu. Ketika matanya menoleh ke sisi lain kamar, di jendela itu ia menemukan pria bertubuh lebih tinggi di antara manusia pada ummnya. Dan, ia bersumpah melihat ekor panjang meliuk-liuk di belakang tubuh gagah itu. Pandangan Naraya menggelap lagi. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD