17. Kekacauan

1268 Words
17. Kekacauan Ketika Naraya membuka mata, hari telah sepenuhnya menggelap. Lampu-lampu menggantikan peran matahari. Derik jangkrik dan hewan malam saling bersahutan. Dengan suasana sesunyi ini, malam pastilah terlalu larut. Benar saja, jarum pendek pada jam dinding telah menunjuk angka sebelas. Di sisi kanan ranjang, ibunya terlelap. Di sudut ruangan bercat putih, kakek dan neneknya tidur di atas sofa dengan posisi duduk dan saling bersandar. Aroma obat-obatan yang kental menyadarkan bahwa ia berada di klinik yang sama. Entah bagaimana caranya ia dibawa kembali ke sini. Ia muak dengan segalanya. Aroma obat-obatan ini dan segalanya. Perisakan yang didapatkan dari Bisma, ibunya yang selalu menyimpan rapat-rapat segala kebenaran, serta… identitas sebenarnya sang ayah. Bagaimana bisa ibunya…? Ah, sejak dulu ibunya memang sudah terkenal dengan imej buruk setelah insiden rudapaksa itu. Namun… Naraya tidak akan menduga ibunya pernah berada di titik terendah di mana ia menyerahkan diri kepada… siluman? Ibunya bukan orang super religius, tetapi bukan seseorang yang akan melanggar ajaran agama dengan mempercayakan dirinya kepada makhluk di luar nalar untuk memuluskan segalanya. Ada sedikit kekhatiran bahwa kesuksesan bisnis kuliner milik ibunya juga ada campur tangan dengan makhluk-makhluk semacam itu. Itu hanya asumsi liar.  Ibunya tidak memiliki ritual aneh. Semua yang ia dapat adalah hasil kerja keras, tidak ada sangkut pautnya dengan makhluk-makhluk macam itu. Hanya saja, tebakan liar itu berkelebat saja di kepala, tidak bisa ditolak. Ada getaran cukup kencang di nakas. Ponselnya yang sama sekali tidak disentuh sejak insiden sebelumnya. Grup berisi tiga orang itu dipenuhi dengan banyak pesan, kotak keluarnya dipenuhi panggilan tidak terjawab. Tiga besar adalah milik ibunya dan dua sahabat karibnya. Selama beberapa hari ini, ia menuangkan segala kegundahannya tentang masa sekolah yang buruk kepada Azka dan Ruben. Mereka pastilah khawatir padanya karena tidak kunjung memberikan balasan dan panggilan, bahkan melewatkan semuanya. Naraya membuka grup. Teman-temannya tidak dalam keadaan daring. Ia mengetikkan sebuah pesan singkat sebelum mematikan daya ponsel. Gue udah enggak kuat, gue pengen balik. Gue bakalan minggat. *** Jika ada papan presensi di depan rumah, maka Aditya akan mendapatkan poin paling tinggi. Setiap saat selalu menyempatkan diri mengunjungi Naraya. Tak lupa membawa buah tangan yang bisa didapat dari memetik hasil kebun di belakang rumah. Beberapa buah lokal terhidang di meja dan semua itu didapat dari kebun belakang Aditya yang subur. Jamblang, srikaya, belimbing bintang, dan sebuah papaya berukuran jumbo. Pemuda itu menyengir ketika membawa buah papaya yang sudah dikupas kepada Naraya. “Belum pernah lihat jamblang sama srikaya di kota, ‘kan? Nih, yang namanya jamblang. Kalau di sini namanya dhuwèt. Hayo, mirip sama anggur, ‘kan? Anggur versi low budget ini.” Aditya meletakkan beberapa buah-buahan lain di meja. Ia sendiri tampak antusias, sedangkan Naraya sudah separuh mengantuk. Efek obat yang diminum menjadikannya mengantuk sepanjang waktu. “Makasih, ya. Aku bersyukur aja enggak ada anak kelas yang datang besuk.” Ekspresi di wajah Aditya segera berubah. “Ya… itu enggak mungkin terjadi. Tahu enggak, sehabis Bisma babak belur dihajar monyet itu satu sekolah heboh. Enggak ada yang enggak tahu. Untung aja enggak nyebar ke sekolah lain—eh, belum aja. Kalau beneran… itu pasti Bisma udah enggak bisa nahan malu lagi. Bisa pindah sekolah dia.” Perkataan itu diakhiri dengan kekehan sebenarnya, tetapi Aditya buru-buru mengurungkan tawanya. Seolah-olah ia baru saja teringat akan sesuatu yang penting. Lalu, Naraya baru saja menyadari ketiadaan ibu dan kakek-neneknya. Pemuda itu menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, semenjak terbangun tadi ia hanya menjumpai Bagas dan Aditya. Saat ini pun Bagas keluar klinik, mencari rokok katanya. Jadilah Aditya yang menggentikan peran menunggui itu. “Ibu sama Simbah mana, ya? Kayaknya kemarin mereka masih ada di sini. Apa udah pulang?” tanya Naraya. Pertanyaan tersebut meninggalkan ekspresi kaku di wajah Aditya. Pemuda itu mendadak tak lagi menghiraukan buah-buahan yang sebelumnya sangat ia banggakan. Seolah digelantungi mendung, hujan bisa turun kapan saja dari wajahnya. “Ya… bukannya aku mau bikin kamu tambah cemas. Tapi… saat ini ibu kamu… dia dipanggil ke kantor polisi sama Bu Anto.” Aditya mengulum bibir bawahnya tidak nyaman. “Simbahmu, tadi sempat pingsan. Mbah Putri langsung dibawa ke ruang di samping, Mbah Kakung yang nunggu. Itulah kenapa aku yang ada di sini, nungguin kamu.” Itu adalah jawaban yang sama sekali tidak ia inginkan. Seperti karang yang menyusut setelah dihantam ombak berjuta-juta kali, Naraya tidak dapat menahan air mata. Pemuda itu menangis. Menyadari bahwa ia telah menggiring ibu dan kakek-neneknya ke dalam masalah lain yang lebih kompleks. Semua masalah yang menimpa mereka diawali dari dirinya. Seharusnya ia tidak perlu pindah ke sini. Maka dengan begitu tidak ada lagi masalah-masalah seperti ini. “Sabar, Ya… sabar. Tapi aku yakin Budhe sama Simbah enggak apa-apa, kok. Bu Anto pasti bakal ditahan sama Pak Anto. Lagian Bu Anto juga enggak punya bukti kuat buat menjebloskan ibu kamu ke penjara. Keadaan Simbah juga udah berangsur membaik. Paling sore ini udah bisa dibawa pulang. Kamu tenang aja, ya.” Aditya menepuk-nepuk punggung kawannya tersebut. Dalam kondisi ini hanya ia yang bisa diandalkan. Mengingat Bagas sudah pergi entah ke mana, seolah tidak siap jika berada di posisi Aditya saat ini. Namun, asumsi jahat Aditya segera dipupuskan oleh Bagas yang baru saja tiba bersamaan dengan ibu yang tampak kusut masai. Perempuan itu buru-buru menghambur memeluk Naraya, lega menyaksikan anaknya telah terbangun. “Maafin Ibu, ya. Kamu jadi terlibat hal semacam ini.” Naraya membalas pelukan ibunya erat-erat. “Akulah sumber masalah ibu dari dulu. Ibu enggak salah. Aku yang salah! Aku anak durhaka!” Bagas dan Aditya meninggalkan ruang rawat Naraya ketika menyadari suasana sudah tidak bisa mereka kendalikan. Bukan lagi ranah mereka untuk ikut campur urusan pribadi keluarga tersebut. Sepeninggal keduanya, baik Naraya maupun ibunya sama-sama menumpahkan air mata dan saling menguatkan. Hingga kalimat itu tercetus juga dari bibir Naraya. “Bu… aku udah enggak kuat di sini. Ayo balik aja ke tempatnya Pakde. Ya…? Ssimbah kita bawa aja. Biarin rumah yang ada di sini kita tinggal.” Ibu tercenung cukup lama. Jika melihat kembali pada suasana, terlebih lagi ibunya yang juga tidak ingin berdekatan dengan ayahnya, pindah adalah solusi terbaik. Pun nantinya simbah juga tidak akan merasa sendirian dan terasing di ibu kota. Pakde Widodo tinggal dalam lingkungan yang dikelilingi orang-orang Jawa dan lagi fasilitas di kota lebih lengkap. Jika kakek-neneknya itu sakit, mereka akan mendapatkan perawatan yang lebih memadai. Namun Naraya tidak habis pikir ketika ibunya menolak usulan itu. “Kalau mereka bersedia, sudah dari dulu Ibu mengajak mereka ke kota. Dan lagi… ini juga bukan masalah kita. Tapi masih ada persetujuan dari Pakde dan Paklik kamu yang lain. Dan ibu enggak mau lihat mereka lagi.” Pastilah yang dimaksudkan Ibu adalah Pakde Estu dan Paklik Trimo. Dua saudara ibu yang sangat jauh dari mereka. Dalam artian hubungan mereka tidak terlalu baik. Pakde Estu seharusnya masih satu kabupaten dengan mereka, tetapi di sudut paling pucuk kabupaten mereka, sedangkan Paklik Trimo yang hanya lebih muda satu tahun dari ibu sudah lama merantau dan sulit dihubungi. Bahkan sampai sekarang tidak ada yang mengetahui apakah pakliknya yang satu itu sudah menikah atau belum. Ia seperti angina yang muncul dan hilang seenak hati. “Tapi, Bu… Ibu enggak kasihan sama aku yang tiap hari dapat perlakuan buruk dari Bisma? Kalau Ibu enggak mau pindah, tolong biar aku aja yang pindah sekolah. Atau biar aku aja yang pulang ke tempatnya Pakde Widodo.” Ibu termangu, ia mengusak kasar rambut yang sudah serupa surai singa itu. “Naraya! Ibu enggak mau bahas ini dulu. Kamu istirahat aja sementara ibu pergi ke dokter.” Di titik ini ibunya memang sudah terlalu lelah juga. Namun Naraya juga sama-sama berada di posisi itu dan ia tidak bisa bertahan lagi. Ia mengambil ponsel, lantas mencari kontak Pakde Widodo. |Bersambung| 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD