3. Tempat Di Mana Ia Mulai Beradaptasi – I
Naraya mendapati dirinya terjaga di tengah malam. Nyaris tidak ada mobilitas. Dersik angin, dedaunan saling bergesekan, hewan-hewan malam. Manusia tidak lagi menguasai dunia sebagaimana di siang hari. Tidak seperti kota yang tidak mengenal istirahat, desa kecil ini seolah tertidur. Hanya segelintir dari mereka yang tetap terjaga. Melalui celah-celah dinding kayu ruang tamu di depan, sorot lampu sepeda motor berjalan perlahan membawa serta suara knalpot tua dan aroma terbakar yang pekat. Untungnya, suara menyebalkan itu tidak mengusik tidur ibu beserta kakek neneknya.
Untuk pertama kalinya semenjak teringat perlakuan buruk yang diterima Naraya dan ibu bertahun-tahun silam, hari ini mereka berdua mendapatkan perlakuan paling hangat. Kendati neneknya sudah tua dan kesulitan bergerak dengan cepat, tidak menghambat tangan-tangannya yang berkeriput dan agak tremor membuatkan sepiring nasi thiwul yang dihidangkan bersama rempeyek kacang dan sambal teri. Padahal beliau kesulitan memasak sebelumnya, tapi siapa yang akan menduga ia mampu memasak beberapa jenis masakan sederhana untuk Naraya dan ibu?
Bahkan hari ini mereka berempat tidur beralaskan kasur kapuk di ruang tamu. Berselimutkan jarit beraneka motif, cerita-cerita menyenangkan di masa lalu, lelucon-lelucon garing kakeknya, kehidupan sekolah Naraya yang menyenangkan, dan pujian akan kebaikan hati keluarga Pakde Widodo, mereka menghabiskan waktu dengan menghapuskan kesedihan di masa lampau dengan banyak cerita bahagia dan harapan untuk hari esok yang lebih baik. Naraya tidak begitu ingat kapan ia tertidur, konsep jam dan waktu seolah tidak berlaku di sini. Semua orang menjadi serba santai dan tenang, tidak banyak tuntutan seperti di kota.
Ketika Naraya bermaksud menyambung lagi tidurnya, sebuah suara mengurungkan niatannya tidur. Suara itu berasal dari atap. Mungkin buah yang jatuh menghantam genting atau monyet. Mendengar obrolan ibunya dan Bagas tentang monyet yang sering kali masuk ke pemukiman warga, ia berasumsi saja jika primata-primata itu sedang iseng saja. Mungkin sedang mencari kudapan lewat tengah malam atau iseng berjalan-jalan. Biarkan saja, toh mereka juga tidak mengganggu sampai di tahap membahayakan orang bukan? Pemuda itu menaikkan selimut, memejamkan mata, tetapi suara gemerisik di atap justru semakin mengusik. Niatannya melanjutkan tidur benar-benar pupus.
Naraya mengerang kesal. Kalau betul monyet-monyet di atas sedang iseng mencoba menyelinap ke dalam rumah untuk mencari makan, ia harus memastikan mereka tidak akan mengacak-acak dapur. Ia menyibak selimut kasar, tetapi cengkeraman erat ibu di pergelangan tangan menahan kepergiannya.
“Diam dan lanjut tidur,” titah ibunya dalam suara paling minimum. Kendati lampu di ruang tamu hanya lima watt dan redup, tetapi sorot mata ibu yang menyiratkan kewaspadaan memberikan sinyal bahaya kepada Naraya.
“Tapi, Bu—“
“Kalau kamu kira itu monyet… sekarang jelaskan sama ibu. Monyet mana yang hidup secara nokturnal dan bikin keributan di malam hari? Apa kamu yakin itu monyet?”
Pertanyaan sang ibu membawa kilasan sosok hantu lampor yang pernah menghantui jagat dunia maya beberapa waktu lalu. Bulu-bulu halus Naraya menegang, angin lembut membelai tengkuk, suasana yang tidak ingin ia alami secara langsung ketika menjalani kehidupan di desa. Sialnya harus ia alami secepat ini. Naraya kembali berbaring di kasur, membungkus tubuhnya hingga kepala. Ia merapal hafalan doa pendek dan ayat kursi, sementara napas lembut kakek dan neneknya terdengar dari balik selimut.
***
“Ya, ayo keliling kampung dulu. Tengok-tengok desa yang udah kamu tinggalkan bertahun-tahun.” Ajakan dari Bagas itu seperti angin yang masuk melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri bagi Naraya. Ia nyaris tidak bisa melupakan kejadian semalam tentang suara-suara aneh di atap rumah. Membayangkan malam ini akan mengalami kejadian sama, mendadak keputusan pindah ini menjadi terasa menyebalkan lagi.
“Maaf, Mas. Mau berbenah kamar dulu. Ini lagi mau keluarin novel-novel yang mau disusun,” tolak Naraya sembari menunjukkan tumpukan koleksi buku-bukunya yang berceceran di lantai kamar.
Alih-alih memupuskan Bagas, bapak satu anak itu justru antusias dengan koleksi buku Naraya. Novel berseri, novel sekali tamat, buku-buku filsafat terkenal dunia, buku-buku psikologi, kumpulan cerpen, beberapa judul komik, dan masih banyak lagi. Sebagai kutu buku level akut, Naraya memiliki lebih banyak buku bacaan seperti ini daripada buku paket pelajaran dan literatur tambahan lain. Sebenarnya, masih ada dua kardus koleksi bukunya yang belum datang. Sekarang ia dipusingkan bagaimana memasukkan semua koleksi buku itu ke kamar ini.
“Wah… udah kayak toko buku aja kamu, Ya. Baca banyak buku emang bagus, tapi kalau cuma dibaca aja enggak dipraktekkan, ya… sama aja bohong. Mending keluar, terus belajar bersosialisasi. Orang-orang desa itu ramahnya bukan main loh.” Bagas tampaknya tidak ingin ditolak semudah itu.
“Uhm… sebenarnya aku masih agak enggak nyaman sama lingkungan ini. Dulu kan aku dan ibu sering banget digunjingkan. Biarpun udah kejadian lama banget, tapi rasa enggak nyamannya masih terasa sampai sekarang. Ya… setidaknya aku mencoba jujur, Mas. Aku bukannya enggak mau sosialisasi, tapi kalau ingat-ingat zaman enggak enak itu, rasanya nyebelin aja.” Naraya juga tidak membuat-buat alasan. Untuk hal ini ia memang serius. Teringat akan hal-hal buruk yang orang katakana tentang mereka, seolah membuka kembali luka lama.
Ekspresi di wajah Bagas berubah sendu. Bapak satu anak itu menepuk pundak Naraya lembut. “Semua berubah, Ya. Semua bisa berubah. Kamu enggak akan tahu kalau enggak mencari tahu. Mungkin kamu masih merasakan sakit karena gunjingan orang di masa lalu, tapi jangan jadikan itu rem yang menghadang jalanmu. Generasi yang itu udah tergantikan sama orang-orang baru, ada lebih banyak orang yang bakal senang kenalan sama kamu. Yuk, ah. Daripada nungguin truk barang-barang kalian itu.”
Di ambang pintu, ibu berdiri. Dari matanya dan anggukan ringan itu, ia menginginkan agar Naraya ikut saja berkeliling desa. Sebagai warga baru rasa lama, mereka berdua memang harus bersosialisasi. Terlebih lagi kehidupan di desa yang sangat kental dengan gotong royong, bersosialisasi adalah salah satu poin utama dalam menjaga ketentraman antar warga. Orang yang tidak pernah bersosialisasi akan dikucilkan dari pergaulan. Ah… hidup di desa tidak sesimpel kelihatannya.
Naraya menghela napas panjang. Ajakan dari Bagas diiyakan dengan sedikit rasa berat di hati. Buku-buku yang bertebaran dimasukkan satu per satu dengan hati-hati ke dalam kardus. Bagas mencoba menyalakan sepeda motor tua kakeknya yang diabaikan selama ini. Selagi berbenah dengan koleksi bukunya, ibu datang dan memeluk Naraya dari belakang.
“Semoga kamu bisa menemukan hal menyenangkan di sini. Kita harus tetap kuat di sini. Demi simbah, ya?”
Naraya mengangguk pelan. Semoga beradaptasi di desa ini tidak begitu sulit ke depannya.
“Ini motor simbahmu udah enggak bisa dipakai naik turun gunung lagi. Kalau kamu mau sekolah di sini bakalan susah sih, Ya,” celetuk Bagas menyambut Naraya yang menyusul dari dalam. Pemuda itu mengenakan jaket bertudung dan celana selutut warna krem. Sebuah sandal gunung melengkapi penampilannya yang terkesan santai.
“Eh… naik gunung?”
“Iya, naik gunung. Sekolahmu nanti kan di atas gunung,” balas Bagas sembari menyisipkan senyum jail. “Kebanyakan orang di sini sekolahnya di sana. Di gunung. Kamu bakal tahu kalau udah lihat sendiri gimana sekolahnya.”
Naraya melongo. Selama sepersekian detik ia melupakan tentang sekolah baru. Ibunya tentu akan mendaftarkannya ke sekolah di pusat kabupaten dan bukan di atas gunung, ‘kan? Iya, ‘kan?