[2. Tempat yang Akan Mereka Sebut Rumah - II]
Terungkap jika kakek dan neneknya pergi ke warung makan memesan ikan nila bakar dan beberapa makanan untuk menyambut kedatangan Naraya dan ibunya. Padahal mereka sendiri kepayahan ketika berjalan, tetapi tidak memupuskan niatan memberikan hidangan yang enak. Dengan keterbatasan sang nenek, mereka tidak bisa memasak sendiri. Pun dengan sang kakek yang sudah tidak bisa mengendarai sepeda motornya seorang diri. Meskipun begitu, mereka justru berjalan kaki menuruni jalanan yang menurun demi membeli dua porsi ikan nila, gorengan yang masih hangat, dan beberapa bungkus biskuit aneka rasa.
Naraya masih berada di kamar yang akan ditempatinya selama beberapa tahun ke depan ketika mendengar pembicaraan cukup serius antara ibu dan kakek neneknya. Menyadari bahasa jawanya tidak bagus, ia berharap semoga saja tidak salah tafsir mengartikan pembicaraan mereka. Itu adalah obrolan yang paling menguras tenaga, dengan air mata dan kata maaf yang seolah tidak berujung. Baik kakek dan neneknya sama-sama menumpahkan seluruh penyesalan setelah belasan tahun memusuhi putri sendiri, yang harusnya mendapatkan perhatian lebih setelah ditimpa begitu banyak kemalangan bertubi-tubi.
Entah bagaimana cara mereka mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Mungkin dengan berjalan digelantungi matahari, tanpa menolak tawaran diantar dan pulang ke warung, serta menangis di pangkuan sang anak pun tidak akan menghapuskan dosa-dosa tersebut. Naraya memejamkan mata, mencoba menempatkan diri di posisi sang ibu. Biarpun sudah diperlakukan buruk dengan orang tua dan saudaranya beberapa tahun ke belakang, ibunya tidak sampai hati membenci balik mereka. Ia tetap berusaha menjalin hubungan baik walaupun niatan itu belum tentu dibalas dengan niatan baik pula.
Hal yang didapat dari menguping pembicaraan penuh haru ibu dan kakek neneknya adalah sebuah awal baru. Permintaan maaf telah mendapat maafnya, keinginan untuk hidup saling menyayangi, dan segala harapan untuk hidup saling menyayangi pun telah menjadi janji untuk bertahun-tahun ke depannya. Maka… ia akan kesulitan merencanakan kabur dari tempat ini suatu saat nanti. Tepat ketika niatan kaburnya menipis, ia mendapatkan sedikit pelarian atas kekecewaan kehilangan alasan kembali ke ibukota. Ponselnya berdering cukup kencang, wajah dua sobat kentalnya tampak terdistorsi menjadi kotak-kotak. Oh, sinyal di desa memang tidak pernah menyenangkan bagi orang kota, Naraya memahaminya.
“Maaf kalo suara sama muka gue kayak resolusi 3gp, sinyalnya ngajak gelud ini,” ujar Naraya sembari menempatkan dirinya pada kasur kapuk. Ia tak membayangkan kasur itu akan sangat empuk. Paling tidak wangi aroma pelembut pakaian yang biasa dijual di toko kelontong atau warung kecil.
“Sialan lo, cari tempat kok enggak ada sinyal.” Itu adalah Ruben, blasteran Ambon Belanda yang lebih fasih berbahasa Indonesia dan Inggris daripada bahasa ibu sang ayah. Ia bahkan tidak memiliki logat khas orang daerah timur Indonesia. Memiliki perawakan tinggi dan berkulit lebih gelap, tetapi memiliki figur wajah unik, ia sering mendapatkan tawaran sebagai model. Hanya saja ia terlalu malas dan lebih banyak bermain gim daripada berbaur. Bisa berkawan dengan Naraya adalah sebuah keberuntungan bagi pemuda yang satu itu. Termasuk juga keberuntungan bagi Naraya sendiri yang lebih sering menenggelamkan diri pada novel dan komik.
“Eh, eh, kayaknya pemandangan di sana bagus banget. Arahin keluar dong!” Satu-satunya pemuda paling “normal” di antara Naraya si misterius dan Ruben anti sosial, Azka yang tipikal murid terpandai di kelas dan mengenakan kacamata. Ia adalah gambaran sempurna murid pandai yang susah bergaul, berpakaian rapi, berkacamata memberikan kesan wibu padahal tidak membaca selain buku pelajaran, potongan rambut jamur, dan membawa ransel khas anak teladan. Sebagai anggota paling normal di group chat mereka, ia bertanggung jawab mengingatkan mengerjakan tugas dan memberikan informasi tentang beasiswa, tempat les, dan perguruan tinggi yang bagus.
Kedua temannya cukup terpukau dengan pemandangan di luar. Naraya sendiri juga terpesona karena ia dihadapkan dengan pepohonan yang tergelar seperti karpet dengan beberapa atap rumah menyembul di beberapa tempat. Lalu sebagai fokus utamanya adalah waduk yang luas. Sungguh pemandangan yang mahal jika diibaratkan sedang berlibur di hotel. Mungkin kedua sahabatnya itu akan merajuk minta diundang kapan-kapan. Naraya mengingat bahwa ia pernah membenci datang ke tempat ini lagi. Ingatan masa kecilnya tak pernah memberikan gambaran indah ini. Mungkin karena ia sudah telanjur mengingat hal-hal buruk saja semasa itu sehingga melupakan pemandangan indah ini.
“Pokoknya kalau libur nanti, gue bakalan minta diajak ke situ. Sebodo amat mau diajak Mami sama Papi, yang jelas gue bakal ke tempat baru lo!” Itu keputusan sepihak Ruben yang entah mengapa menjadi seperti magnet bagi Azka yang juga memberikan respons sama.
“Gue setuju sama Ruben. Kita udah kebanyakan liburan di tempat wisata mainstream, ‘kan? Sekali-sekalilah jalan-jalan ke wisata yang agak beda. Tapi kalau si Ruben sampai situ protes soalnya enggak ada sinyal.”
“Ya… gue sadar sih kalau daerah biasanya susah sinyal banget. Tapi enggak pa-pa sekali-kali main pakai badan. Betewe, gue mau agak tobat main game. Mau banyak-banyak gerakin badan. Jadi inget Papi, soalnya beliau jadi ada masalah sama saluran kencing gegara nahan kencing itu juga. Kebanyakan duduk di depan komputer juga soalnya. Gue jadi takut aja nanti ngalamin sakit yang sama kayak Papi,” ujar Ruben sembari memasang muka masam. Ya… sebagai anak yang cukup dekat dengan ayahnya, pemuda kelewat ceria itu pasti bersedih dengan kondisi sang ayah.
“Gue juga sering ngeluh sembelit gegara kebanyakan duduk, ‘kan? Kayaknya kita berdua emang butuh gerak deh, iya enggak, Nar?” balas Azka.
Naraya mengiakan saja. Biarpun ia sendiri memiliki hobi membaca sekaligus pelarian instan atas masalah hidupnya, tetapi jogging dan berenang selalu disempatkan seminggu tiga kali. Sebuah gaya hidup yang bagus bukan, jika dibandingkan kedua temannya yang lebih akrab dengan kursi putar daripada kaki mereka sendiri.
“Kalian aja dah, gue udah capek bayangin naik turun dari rumahnya kakek sama nenek gue ke bawah, buat cari warung aja sampai turun gunung gengs.”
Obrolan yang tidak terduga akan lama itu justru berlangsung nyaris satu jam. Mengingat sedang masa liburan, tidak ada masalah sebenarnya jika mengobrol hingga larut malam atau esok paginya. Hanya saja, baik Ruben yang maniak gim dan Azka yang ambisius, mereka memiliki satu kesamaan. Sosok ibu yang tidak pernah bisa membiarkan anaknya bermain ponsel lama-lama. Dengan alasan sendiri-sendiri tentunya.
“Ruben! Mau sampai kapan kau main hape itu? Mau Mami remukkan kau punya hape?!” Oke, itu maminya Ruben yang datang lebih dulu. Lalu ia membeberkan segudang aktivitas tidak bermanfaat sang putra dan ancaman-ancaman lainnya. Pada akhirnya maniak gim undur diri lebih dulu dengan tatapan pasrah.
“Azka, Nak… buka pintunya. Ini udah mau jam Asar loh, sini keluar dulu buat makan. Nanti lanjut lagi belajar. Udah sholat Zuhur belum?” Tak sampai lima menit, bundanya Azak mengetuk pintu, bertanya dengan nada lembut penuh kasih sayang. Kalau kata Azka, itu hanya pencitraan. Ia tahu kalau Azka sedang mengobrol dengan dua sobatnya sehingga bersikap lembut. Jangan tanya kalo udah sampe luar kamar, paling-paling paha gue digebuk pake sapu lidi kasur, Azka sendiri pernah berkata demikian suatu hari.
Maka, tersisalah Naraya dengan kesepian. Ibu ataupun kakek neneknya tidak menengok ke kamarnya. Seolah membiarkannya menghabiskan waktu dengan kawan-kawan setelah perjalanan panjang. Di titik ini, seharusnya ia mengkhawatirkan tentang tetangga yang dulu sibuk menggosipkan mereka atau membayangkan bagaimana kehidupan sekolahnya sebagai anak pindahan. Namun, yang terbayang di kepalanya adalah monyet di tengah jalan itu.
|Bersambung|