[1. Tempat yang Akan Mereka Sebut Rumah - I]
Kendati jarang memiliki ingatan indah tentang masa kecilnya, Naraya pernah beberapa kali dibuat terpukau dengan kota kecil itu. Orang-orang dari luar tentu belum pernah melihat bagaimana bebatuan sebesar bukit ditumbuhi pepohonan kokoh dan bahkan dijadikan sawah. Tak heran pula jika nama kota kecil itu memiliki arti sawah di atas gunung. Sebenarnya yang dimaksud gunung itu bukan gunung secara harfiah, hanya sekumpulan batu berbagai jenis. Dan, banyak dari jenis batu itu, ada jenis batu yang dijadikan sumber penghasilan. Pernah ketika kecil, ia melewati pria-pria yang tengah mengikis bebatuan, dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Di usianya sekarang pun, pria-pria penambang batu itu masih ada.
Ada pula yang tek pernah hilang walaupun sudah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di kampung halaman. Hewan-hewan menggelikan yang tertangkap mata sedang berkumpul di atas pohon. Duduk dalam satu barisan lalu berburu. Entah apa yang sebenarnya mereka cari di atas tubuh kawannya, Naraya selalu mengasumsikan mereka sedang mencari kutu. Kalau ketemu serangga parasite itu, taka da perubahan pada wajah mereka. Tinggal masukkan ke mulut, kunyah, selesai, lalu mencari-cari lagi.
“Lagi liatin saudara, ya?” Celetukan agak meledek itu berasal dari Bagas, sopir yang dipanggil ibunya untuk menggantikan menyetir. Pria berusia tiga puluhan itu salah satu tetangga kakek dan neneknya. Kerja luntang-lantung dan serabutan, salah satunya juga jadi penambang batu padas. Bapak satu anak itu memang supel dan mudah bergaul dengan siapa pun. Satu hal yang terkadang ingin sekali Naraya curi dari siapa pun.
“Ah, enggak. Mereka kayak enggak pernah hilang dari sini, ya. Padahal saya liat, udah banyak pohon yang ditebangi di jalan-jalan besar tadi, tapi mereka tetep ada.” Naraya mengecilkan volume suara, sebetulnya ia tidak ingin mengusik tidur sang ibu di jok paling belakang.
“Haha, monyet itu hewan paling pintar, ya to? Selama mereka bisa temukan tempat buat tidur, dapat makanan enak, mereka masih tetap ada. Kadang nyolong hasil tani orang, kadang nyelinap masuk ke ruamh ambil ini itu, ya… pokoknya mereka banyak cara. Udah ditembak berkali-kali aja, jumlah mereka kayak enggak pernah kurang,” balas Bagas.
“Kalian juga berburu monyet? Bukannya tadi ada papan besar dilarang berburu tanpa izin? Memburu mereka tindakan melanggar hukum, dong.”
“Ya… bisa gitu juga, tapi kalau enggak ditembak, nanti hasil pertanian orang-orang habis, dong. Kamu kan orang kota, enggak tahu kalau cari uang dari bertani itu makin hari makin susah. Modalnya banyak, enggak tentu bisa balik modal. Kadang karena habis dibabat monyet, kadang juga karena pedangan di pasar kalau matok harga suka jatohin. Begitulah susahnya jadi petani, makanya anak muda zaman sekarang udah enggak mau tani. Capek, keluar uang banyak, enggak tentu berhasil.” Bagas mengakhiri kalimatnya dengan kekehan ringan. Biarpun menggunakan nada jenaka, tetap saja terselip ironi di sana.
Naraya tidak mengajak pria itu kembali mengobrol. Setelah membalas perkataan Bagas dengan kalimat bernada simpati, ia kembali menatap keluar jendela mobil. Pemandangan alam yang tidak biasa ia tonton itu menjadi televisi raksasa baginya. Waduk yang luas, wisata speed boat, karamba ikan, anak-anak berlarian sepanjang pinggiran jalan tanpa beban, belum terkontaminasi gawai. Ah, ia jadi ingat jika beberapa tahun yang lalu ketika datang ke sini bersama Pakde Widodo, ia harus susah payah mencari tempat tinggi untuk menemukan sekadar dua atau satu sinyal. Haruskah ia mengalami kesulitan serupa di sini?
Naraya ditarik paksa akan lamunannya tentang sinyal ketika mobil yang mereka kendarai berhenti mendadak di tengah jalan dengan suara ban yang berdecit keras. Mereka beruntung karena tidak ada kendaraan bermotor di depan maupun di belakang. Hawa panas di puncak siang seperti ini menghalang seseorang meninggalkan rumah. Namun, tetap saja. Apa yang membuat Bagas mengerem mobil secara mendadak?
“Enek opo to*, Gas? Kok ngerem mendadak?!” Ibu mendadak bangun, tentulah aksi mengerem mendadak tadi mengusik tidurnya. (*Jawa: ada apa?)
“Kuwi, Mbakyu. Enek kethek gedhe ning tengah dalan**,” sahut Bagas sembari menunjuk seekor monyet berekor panjang yang menghalangi di tengah jalan. Ukurannya satu setengah kali lebih besar daripada monyet kebanyakan. Rambutnya pun tampak lebih lebat dan bersih daripada monyet-monyet lain yang tadi sempat Naraya perhatikan sekilas. (**Jawa: Itu, Mbak. Ada monyet besar di tengah jalan.)
Ibunya tercenung, pun dengan Bagas yang tidak mampu melepaskan pandangannya dari primata yang menghalangi mobil mereka. Bagas tampak membaca ayat kursi sedangkan ibunya tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap ke depan. Jika dibilang ia terserap ke dalam matanya, tatapannya tidak seperti itu. Dari tatapannya yang dalam dan tajam, ibu seolah memberikan peringatan terhadap si monyet. Bagaikan sebuah bel ditekan di kepalanya, Naraya menyadari bahwa monyet tersebut berukuran lebih besar dan tidak memiliki ketakutan terhadap manusia. Mengingat desa seperti ini masih familier dengan hal-hal mistis, mungkinkah itu ada monyet jadi-jadian? Di siang bolong seperti ini?!
Bunyi klakson menarik atensi ketiga orang dalam mobil. Naraya dan Bagas menoleh ke belakang, mendapati sebuah truk bermuatan beras tengah menantikan mobil mereka bergerak. Bagas sempat mengucap hamdalah, ia balik menatap ke depan dan monyet besar di tengah jalan itu telah lenyap seolah ditelan bumi. Sembari beberapa kali menggumamkan hamdalah dan kalimat syukur lainnya, Bagas menjalankan kembali mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah, baik Bagas atau ibunya enggan berkomentar mengenai si monyet bertubuh bongsor itu walaupun Naraya sempat memberikan isyarat. Ketiganya larut dalam kesunyian.
***
Rumah bergaya joglo itu memiliki halaman luas. Di kanan dan kirinya diapit pohon mangga yang tengah berbuah. Serambi depannya dihiasi beberapa pot bunga, sebagian bunganya layu dan mengering seolah sudah tidak terawat sejak lama. Kesan tidak terawat juga merambat ke bagian belakang di mana kandang sapi dan kambing juga sama tidak terawatnya, bahkan menjadi yang paling parah. Beberapa kali mengucap salam, tidak mendapatkan jawaban. Bagas hanya khawatir pasangan manula itu sedang mengalami posisi yang mengancam nyawa. Ibu dan Naraya juga berpikiran sama mengingat tidak ada yang menyahut semenjak tadi. Pintu depan dan belakang terkunci, pun dengan jendela. Kekhawatiran tentang pasangan suami istri renta itu semakin menjadi. Jika seluruh pintu dan jendela dikunci, bukankah itu berarti mereka berdua keluar rumah? Padahal kondisi mereka sama-sama sedang tidak sehat.
“Duh, Simbah pada ke mana, ya? Padahal tadi istri saya udah suruh istri saya buat ngabarin mereka supaya enggak ke mana-mana. Sebentar, saya telepon istri saya dulu.” Bagas mengeluarkan ponsel, menggulirkan jari mencari fitur telepon.
“Lha kuwi***, Gas. Bapak sama Simbok enggak mau punya hape. Ora iso nganggo jare****. Padahal kan bisa diajarin sama Mas Estu atau istrinya.” Ibunya juga menyebutkan tentang rencana membelikan kedua orang tuanya yang sudah renta itu ponsel. Sebenarnya Pakde Widodo yang menawarkan atas usulan ibunya, mengingat hubungan ibu dengan kakek dan neneknya masih belum bisa dibilang baik. (*** Jawa: nah itu; ****Jawa: Tidak bisa menggunakan, katanya.)
Naraya tidak mau ikut campur. Ia justru merogoh ransel, mencari ponselnya yang terbenam jauh di dalam. Entah kehabisan daya atau memang tidak ada notifikasi karena kesulitan menemukan sinyal. Naraya menghentikan niatannya mengambil ponsel ketika menyadari sepasang pasutri tua tengah berjalan pelan beriringan ke arah mereka. Dua bungkusan plastik hitam ditenteng perlahan. Mereka berdua menatap dalam pada Naraya.
“Bapak… Simbok…,” panggil ibunya perlahan setelah menyadari keberadaan mereka berdua. Ibu menghambur ke dalam pelukan mereka. Tanpa penolakan, tanpa rasa segan, pasangan manula itu membalas pelukan ibunya sembari menangis. Apakah ibunya sudah mendapatkan pengampunan dari mereka?
|Bersambung|