Manusia Kutub

1020 Words
Ballroom hotel penuh oleh para undangan. Mereka terdiri dari pengusaha sukses dan relasi bisnis Malik. Sayangnya, tak satu pun Ayana kenal. Bahkan, gadis yang terlihat cantik dengan gaun pengantin modern berwarna hijau tosca ditinggal sendiri di atas pelaminan. Dia seolah-olah pajangan di pesta itu, sementara sang pengantin lelaki asyik-masyuk berbincang dan tertawa di salah satu sudut ballroom. Malik juga tak risih ketika seorang wanita cantik berpakaian terbuka bergayut manja di lengannya. Ingin rasanya Ayana lari dan bersembunyi ke dalam kamar, tetapi ancaman Malik menciutkan nyalinya. Dia hanya mampu menunduk sambil memilin jemari lentik yang dilukis cantik dengan henna berwarna merah. "Seharusnya kau bergabung dengan suamimu di sana." Ayana mengangkat kepalanya dan melihat seorang lelaki sedang tersenyum padanya. "Dia mengajakku, tapi aku menolaknya," jawab Ayana. Tentu dia berbohong, akan tampak menyedihkan jika dia jujur. Lagipula Ayana tidak mengenal lelaki di depannya. Lelaki itu tertawa pelan. Dia melangkah lebih dekat ke arah Ayana. "Awasi suamimu. Lihat, banyak kucing garong sedang mendekatinya," tunjuknya dengan dagu. Dahi Ayana berkerut samar mendengar kalimat itu. Dia mengikuti arah pandangan sang lelaki, lalu tersenyum geli ketika yang dimaksud adalah wanita yang sedari tadi menempeli Malik seperti lintah. "Cantik." Ayana menoleh cepat dan melihat lelaki itu sedang menatapnya dengan senyum simpul. "Iya, wanita itu memang cantik," lirih Ayana, dia kembali menunduk memperhatikan jemarinya. "Senyummu yang cantik. Aku suka," ulang si lelaki. Ayana segera mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung. Iris matanya yang jernih membuat sang lelaki terpukau. Rasanya dia mengenal tatapan seperti itu, sementara Ayana merasa risih. Lelaki asing itu pasti perayu ulung. Mereka bahkan tidak saling kenal, tetapi dia begitu berani merayu pengantin wanita. "Namaku Hanan." Lelaki itu mengulurkan tangannya, "dan kau pasti Ayana." "Bagaimana kamu tahu?" Ayana balik bertanya. Dia mengabaikan tangan Hanan. Hanan tertawa lebar, sehingga matanya menyipit. Garis-garis yang timbul di sekitar mata membuatnya semakin tampan. Pria berkulit putih itu memiliki sorot mata yang hangat. Cekungan di pipi kirinya terlihat saat dia tertawa. "Kau ini polos atau bodoh?" tanya Hanan dengan sisa tawa di wajahnya. Pipi Ayana memerah dikatakan bodoh, dia ingin membantah, tetapi Hanan lebih dulu menyambung kalimatnya. "Di luar namamu dan Malik terpampang sangat besar. Cuma aku heran kenapa nama yang ditulis di undangan berbeda?" tanyanya ingin tahu. "Itu bukan urusanmu, Hanan!" Keduanya menoleh ketika suara berat bernada ketus menyela. Entah sejak kapan Malik berdiri di belakang Hanan. Ayana menunduk saat tatapan lelaki itu menajam padanya. Jelas terlihat Malik tidak suka interaksi keduanya. "Sensitif sekali," sindir Hanan dengan senyum mengejek. "Maaf, aku hanya penasaran," sambungnya pelan. "Simpan rasa penasaranmu untuk hal yang berguna. Jangan mengurusi rumah tangga orang lain," sindir Malik, dia berdiri di samping Ayana. Menggamit pinggang gadis itu erat. Hanan mengangguk paham. "Ow, sangar dan posesif." Dia menyalami Malik, lalu tersenyum pada Ayana sambil mengedipkan sebelah mata. "Selamat atas pernikahannya. Ingat kata-kataku tadi." Mata Ayana kembali melebar melihat gaya sok akrab Hanan. Dia mengantar sang lelaki menjauh dengan matanya. "Jadi kau mulai menebar jaring untuk menjerat lelaki kaya?!" bisik Malik seduktif di telinga Ayana. Ingin rasanya Ayana merobek mulut Malik. Dia tak mengira si lelaki menilai dirinya serendah itu. Meski hatinya perih sehingga memanaskan retina, dia menahan agar kelopak mata tak melinangkan cairannya. Terserah lelaki itu berkata apa. Anehnya, Malik tak lagi beranjak ke mana-mana. Dia tetap berdiri di sisi Ayana sampai tamu undangan pulang satu per satu. * Pesta telah usai beberapa jam.yang lalu. Hanya beberapa teman dekat Malik saja yang tinggal. Ayana yang tak mengenal mereka memilih naik ke kamar yang memang berada di hotel yang sama dengan resepsi pernikahan. Gadis itu berdiri di balkon kamar. Mendongak menatap rembulan sempurna yang menggantung di langit malam. Angin dari selatan berembus perlahan. Membelai pipi Ayana yang basah oleh air mata. Entah berapa banyak gadis itu menangis. Rasanya hidup begitu tidak adil memperlakukannya. Rasanya Ayana selalu berusaha hidup di koridor yang benar. Meski dia bukan orang suci, tetapi selalu berusaha menjadi manusia yang baik. Namun, kesulitan demi kesulitan yang melahirkan air mata sangat erat memeluk hidupnya. Tanpa disadari Ayana. Mata tajam Malik memperhatikannya dari ambang pintu. Dari sana jelas melihat gadis itu terlihat putus asa. Mata gadis itu membengkak. Mungkin dia tak berhenti menangis sejak pagi. Malik terus mengamati Ayana dengan wajah datar tanpa berniat melakukan apa pun. Baginya semua yang terjadi karena kebodohan gadis itu, jadi penderitaan itu pantas dia dapatkan. Setelah puas melihat kesakitan Ayana, Malik memilih pergi begitu saja. * Cahaya mentari masuk dari kisi-kisi jendela kamar hotel, menyentuh apa saja yang terpapar sinarnya. Ayana membuka kelopak mata perlahan ketika merasakan hangat menyentuh wajahnya. Mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang menusuk retina mata. Dia bangkit dari rebahan, menyapu ruangan dengan matanya. Dia mendesah kecewa ketika melihat taburan bunga mawar di atas pembaringan, juga hiasan di dalam kamar. Semalam, sebelum tidur dia berharap pernikahan itu hanya mimpi dan bila esok membuka mata, dia akan terbangun dia dalam kamarnya sendiri. Harapan itu harus dia gulung kembali, bahkan gaun pengantin rancangan salah satu desainer ternama, masih melekat di tubuhnya. Ayana melihat sisi sebelah kiri ranjang. Masih terlihat rapi. Pertanda Malik tak tidur di kamar ini. Ada lega sekaligus kecewa di hatinya. Lega, karena dia memang tak siap berdekatan dengan lelaki itu. Kecewa, mengingat besarnya kebencian Malik padanya. Padahal dia juga terluka, dikhianati sahabat dan kekasih hati. Dia tak berharap Malik menganggapnya istri, tetapi setidaknya menganggap dia ada. Ayana mengembuskan napas pelan membayangkan masa depan rumah tangganya. Rasanya akan sangat berat. Akan tetapi, dia bukanlah gadis lemah. Dia yakin bisa menghadapi semua kemungkinan terburuk. Yang harus dia lakukan hanya menjaga jarak dari Malik dan sedapat mungkin tak membuat lelaki kutub itu marah. Dreeettt ... dreeettt ... dreeettt Notifikasi dari ponsel menarik lamunan Ayana yang melanglang buana. Dia meraih benda tujuh inci yang ada di atas nakas. Menggambar pola sandi, lalu membuka aplikasi chat berlogo hijau. "Segera turun ke restoran. Mama mau kita sarapan bersama. Jangan katakan apa pun. Cukup patuh saja." Ayana tak berniat membalas pesan dari si manusia kutub. Pagi baru saja menjelang, tetapi hatinya sudah digayuti senja. Ayana menghela napas sejenak sambil menimbang perlu tidaknya menanggapi pesan Malik. Andai bukan mama lelaki itu yang meminta, dia enggan menuruti. Bagaimana tidak, di dahi si manusia kutub, sudah tertempel kata-kata, 'dilarang mendekat' untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD