Dasar, Pria Arogan, Sombong

1010 Words
Ketukan di pintu kamar mandi, membuat Ayana menyudahi acara mandinya. Padahal dia ingin berlama-lama berada di bawah shower, sekadar mendingin kepala yang terlanjur memanas membaca pesan Malik. Lelaki itu memang seorang yang tidak terbiasa berbasa-basi. Sejak tinggal di lingkungan rumah keluarga sang lelaki, tak pernah dia mendengar Malik tertawa. Bila bicara hanya seperlunya saja. Awal-awal masuk ke rumah keluarga Hardiansyah, Ayana mengira Malik bisu. Lelaki itu selalu mengurung diri di kamar dan membatasi berinteraksi dengan orang luar. Hanya mamanya dan kepala asisten rumah tangga saja yang diizinkan masuk ke kamar. Saat itu Malik berusia tiga belas tahun, sementara usia Ayana selisih tiga tahun di bawah sang pria. Ayana tinggal di sebuah paviliun kecil yang berada di belakang rumah megah keluarga Malik. Dia mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai kepala asisten rumah tangga. Artinya, sang ayah cukup dekat dengan lelaki tersebut. Pernah dia bertanya perihal Malik yang jarang terlihat tersenyum kepada ayahnya. Alih-alih mendapat jawaban. Ayahnya berkata, "jangan pernah mencari tahu hal yang tidak ada hubungan dengan kita." Sejak saat itu, Ayana berhenti memperhatikan Malik. Dia berusaha tak terlihat di mata lelaki tersebut hingga bertahun-tahun. Bahkan, dia lupa ada seorang tuan muda yang bernama Malik tinggal di rumah itu. "Kamu enggak mati, kan, di dalam?" Suara Malik membuyarkan lamunan Ayana. Sepertinya rencana bersantai, sambil mendinginkan kepala harus ambyar. Malah kini ketukan keras terdengar dari balik pintu kamar mandi. Ayana mendengkus. Tidak cukupkah sikap sinis semalam? Hingga lelaki itu perlu menambah dengan sindiran seperti itu? Ayana memakai jubah mandi, lalu menggulung rambut basahnya dengan handuk putih. Dia memutar anak kunci, kemudian melenggang berjalan menuju pembaringan, mengabaikan Malik yang berdiri bersidekap di depan pintu kamar mandi. "Kamu enggak bermaksud mengabaikan perintahku, kan?" tanya Malik dengan mata menyipit. "Aku enggak ngerti maksudmu apa?" jawab Ayana acuh tak acuh. Tangan gadis itu membuka travel bagnya, lalu memilih pakaian yang hendak dikenakan pagi ini. Malik mendesis kesal. Ayana tak seperti semalam, yang terlihat seperti kelinci yang patuh. Apa gadis itu memiliki dua kepribadian yang gampang berubah-ubah? "Jangan pakai baju kampungan. Aku enggak mau dipermalukan karena gaya pakaianmu yang norak!" Malik melontarkan sindiran melihat pakaian yang dikeluarkan Ayana dari dalam kopernya. Ayana membulatkan matanya. Dia tidak terima lelaki dingin itu menghina setelan terbaiknya. Padahal kemeja dan celana jeans branded itu dia beli dari hasil bermain arisan selama setahun. Gadis itu memilih menentang larangan Malik. Dia mau lihat apa lagi 'kata-kata mutiara' yang keluar dari bibir si pria. Dia menyampirkan setelan tersebut, bermaksud masuk lagi ke kamar mandi. "Kalau kamu coba menentang atau membantah perkataanku, maka--" "Apa?" Ayana menghentikan gerakan kakinya. Dia menegakkan tubuh menantang Malik. Sebenarnya dia sangat gentar berhadapan dengan lelaki itu. Akan tetapi, kalau dibiarkan Malik akan leluasa menginjak-injak harga dirinya. Ayana sadar betul jika hanya itu yang dia punya. Jika harga diri saja tak bisa dipertahankan, lalu apa yang bisa dibanggakan sebagai manusia? Malik mendekat dengan langkah lebar. Matanya menyorot tajam ke arah Ayana. "Jangan kamu kira aku akan memperlakukanmu dengan baik. Karena kebodohanmu, aku akan menghukum hingga kamu meminta ampun padaku." "Kalau begitu kamu salah, Tuan Malik yang terhormat. Kamu sendiri yang memaksaku menjadi pengantinmu. Kamu pikir aku beruntung menikah dengan pria kaya sepertimu?" Ayana tersenyum mengejek. "Lebih baik aku nikah sama orang miskin daripada dengan lelaki arogan sepertimu. Sama sekali enggak bisa menghargai wanita," imbuhnya. Gantian Malik yang memelotot mendengar balasan Ayana. Gadis itu benar-benar berbeda dengan yang semalam. Beraninya Ayana meremehkannya. Malik mendengkus, dia tidak mau melayani perdebatan dengan wanita, karena di mana-mana sama saja, sebangsa mereka tidak mengenal kata, 'salah'. Dia lebih memilih adu jotos di arena atau berdebat dengan rival bisnisnya selama berjam-jam. "Sayangnya aku lelaki kaya dan tampan. Jadi permintaanmu tidak dikabulkan," balas Malik lebih sarkas. "Sekarang, pakai baju yang aku siapkan atau kamu mau aku yang memakaikannya?" Lelaki itu mendekat sehingga jaraknya dengan Ayana hanya setengah lengan saja. Gadis itu hendak surut, tetapi lebih dulu Malik mencengkeram lengan Ayana dan menatap lekat. Tatapan lelaki itu seakan hendak melubangi tubuh si gadis. "Aku tidak main-main. Sekali lagi membantah, lihat saja hukuman apa yang akan kuberikan." Tubuh Ayana bergetar mendengar nada suara Malik yang sangat mengintimidasi. Namun, gadis itu tetap menantang mata si lelaki. Dia tidak ingin menunjukkan nyalinya sudah menciut. Melihat Ayana tidak lagi membantah, Malik menyodorkan paper bag yang sejak tadi dia pegang. Dia melangkah keluar kamar setelah melihat si gadis menggangguk. Kadang dia heran, apa yang ada di otak gadis tersebut? Ayana suka sekali mencari gara-gara. Padahal dia memilihkan pakaian terbaik untuk dikenakan pagi ini. Dan pasti tahu juga bahwa keinginannya adalah titah. Tubuh Ayana melemah setelah pintu kamar hotel tertutup. Ngeri juga menghadapi lelaki dingin itu. Dia melihat isi paper bag, lalu mengeluarkannya. Sebuah gaun terusan berwarna hitam yang panjangnya sejengkal di bawah lutut. Lengan model balon dan pita di bagian bawah d**a membuat gaun tersebut sangat cantik. Ayana terpekik ketika melihat label harga yang tergantung di baju. Matanya terbelalak melihat nominal gaun senilai dengan ponselnya. Tiba-tiba saja Ayana merasa takut memakai gaun itu. Bagaimana barang semahal itu nanti rusak? Sayang sekali bila dipakai. Apa setelah dipakai bisa dijual lagi seperti para artis yang jualan baju bekas mereka? Gadis itu seperti orang ling-lung. Bukannya memakai gaun tersebut, dia malah meletakkan gaun yang dibelikan Malik di atas ranjang dengan hati-hati, sembari mengusap-usap pelan untuk merapikan bagian yang tidak licin. Seakan usapannya bisa merobek gaun itu. 'Pasti dia sengaja enggak copot label harga, biar aku insecure lihat nominalnya. Huh! Dasar lelaki sombong! Dikira aku bakal baper dibeliin gaun mahal.' Ayana sibuk bermonolog sendiri. Dia kembali mondar-mandir. Lalu menatap lagi ke gaun, sambil meringis. 'Ya, Tuhan ... ini baru baju. Gimana nanti dia belikan aku barang mahal lainnya? Bisa-bisa aku jantungan dia pamer terus,' Lagi, pikiran negatif bermain di benak Ayana. 'Eh, tapi gaunnya emang keren banget. Astaga, Ayana! Gegara gaun kamu udah kayak orang gila!' Gadis itu mengusap wajahnya. Perkara harga gaun sudah membuatnya galau, gundah, dan gulana. Sebuah notifikasi masuk lagi ke ponselnya. Ayana memejamkan mata kala melihat Malik yang mengirim pesan. Lelaki itu mengancam jika dalam lima menit dia tidak turun, maka Malik akan melaksanakan ancamannya. Fixs! Malik adalah lelaki paling arogan, sinis, sombong, dan m***m!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD