Pagi Meresahkan

1194 Words
Di dalam lift, Ayana memaksakan bibirnya tersenyum. Dia bisa melihat pantulan wajahnya melalui dinding lift yang mengkilat. Gadis itu merasa aneh dengan riasannya pagi ini. Bibir yang biasanya hanya dioles lipbalm, kini sedikit berwarna merah muda karena sentuhan lipstik. Meski tidak kentara tetap saja dia merasa ada yang lengket di bibir. Wajahnya juga sedikit lebih lebih cerah karena dipoles bedak padat. Dia memakai make-up bukan tanpa alasan. Di dalam paper bag, selain gaun juga berisi satu paket kosmetik merk luar negeri di mana artis Cinta Laura pernah menjadi brand ambasadornya. Ditambah pesan beruntun Malik yang mengatakan agar dia berdandan layaknya istri seorang pengusaha terpandang. Malik mengatakan dandanan Ayana selama ini sangat buruk. Bahkan, asisten rumah tangganya terlihat lebih menarik. Ayana mendengkus. 'Dosa apa aku di kehidupan lalu, sehingga bisa nikah sama laki-laki yang mulutnya lemes kayak perempuan. Kalau asisten rumah tangga keliatan menarik, kenapa enggak nikah sama mereka aja. Dikira make-upan itu enak?' Tangan Ayana tidak berhenti menekan-nekan wajahnya pelan. Mungkin karena tak biasa mukanya terasa gatal. Dia juga memperbaiki anak rambutnya yang jatuh di dahi. Rambut panjangnya dia kuncir ke belakang, memperlihatkan leher jenjang dan anak-anak rambut di sekitar tengkuknya. Embusan napas keluar dari bibir Ayana seiring denting suara lift. Dia mengangkat kepala, mengulas senyum kembali, lalu melangkah keluar dari lift dengan dagu terangkat. Untung saja dia gemar menonton drama korea, di mana banyak adegan gadis biasa kencan dengan CEO muda dan tajir. Wait! Kencan?! Ayana menepuk jidatnya. Kenapa pikirannya suka sekali ngelantur. Mungkin efek kebanyakkan nonton K-drama sehingga terbawa ke dunia nyata. "Bersikap elegan, jangan kampungan gitu." Ayana mendelik. Malik seperti hantu saja. Laki-laki itu selalu muncul di mana saja yang dia mau. Seperti kali ini. Restoran yang masih berada di dalam hotel berjarak lima meter lagi ke pintu masuk, tetapi dia malah berdiri di sini. Apa Malik sengaja menunggunya? Ayana memicingkan mata melihat penampilan Malik pagi ini. Pakaiannya sudah berganti, tidak lagi kemeja putih dan celana bahan hitam. Gayanya terlihat lebih santai dan kasual. Laki-laki itu mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana cungkring coklat tua. Kalau dilihat-lihat dia sangat tampan, apalagi mengenakan topi bermerek. Ayana sangat paham kalau semua yang melekat di tubuh si lelaki barang branded semua. Entah kenapa otak gadis itu iseng menaksir harga setelan Malik. 'Dasar gadis gila!' Malik tidak tahan bergumam juga. Dia heran melihat bibir Ayana komat-kamit. Namun sayang, tertangkap oleh membran telinga Ayana. "Heh! Ngomong apa tadi? Gila? Siapa yang gila?" tanyanya, sambil berkacak pinggang. "Ngomong sendiri namanya apa kalau bukan gila?" balas Malik acuh tak acuh. Dia menyematkan kaca mata hitam di wajahnya. Ayana meneguk liurnya. Malik terlihat semakin tampan. 'Dasar narsis! Dikira ganteng kayak gitu. Pake gegayaan lagi pakai kaca mata hitam.' "Aku enggak gila. Lagi ngitung aja berapa uang yang kamu habiskan untuk satu stel yang kamu pakai." Ayana memilih menjawab untuk mengalihkan degupan jantung yang sedang marathon. Mendengar jawaban Ayana, Malik tersenyum remeh. Wajah julid seketika hadir di wajah tampannya. "Ngapain kamu itungin harga pakaianku. Enggak bakal kebeli. Atau mau bayarin baju bekasku? Eh, enggak usah. Ntar, kamu pelet lagi." Seketika rahang Ayana jatuh ke lantai mendengar jawaban Malik. Dia sangat yakin, laki-laki itu terlahir dari kombinasi kesombongan abadi, tidak tahu malu, dan percaya klenik. Ayana bergidik sebagai reaksi atas tudingan Malik. Dia hendak menjawab, tetapi dengan cepat laki-laki itu menarik pinggangnya. Yang lebih membuat gadis itu terkejut, wajah Malik seketika berubah ramah dan mengajaknya bicara sangat pelan. Ayana bahkan harus memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar perkataan Malik, tetapi sepertinya Malik hanya menggerakkan bibirnya saja tanpa bersuara. "Eh, Pak Malik. Selamat, ya, atas pernikahannya." Seorang laki-laki paruh baya mendekat bersama seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Muthia, Mama si manusia arogan di sampingnya. Pantas saja seketika Malik berubah ramah. "Makasih, Pak. Saya juga merasa terhormat Bapak mau menyempatkan diri hadir." Ayana hanya tersenyum ketika mereka berbasa-basi. Padahal dia sangat risih merasakan tangan Malik semakin menekan pinggangnya. Apalagi tatapan Muthia yang selalu tersenyum dan mencuri-curi pandang ke arah tangan putranya. "Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Kebetulan pesawat saya berangkat pagi ini." "Sekali lagi terima kasih atas kedatangannya. Supir kami akan mengantar Anda ke bandara." Muthia memberi isyarat kepada supir pribadi yang berdiri tidak jauh dari mereka. Setelah bersalaman, lelaki yang merupakan salah satu relasi penting Malik berjalan meninggalkan hotel. "Mama senang sekali liat kalian akrab gini. Enggak nyangka cepat amat lengketnya," ujar Muthia, seraya tersenyum. Dari binar mata wanita itu, Ayana bisa melihat kebahagiaan yang sangat kentara. "Tapi, kok, rambut Ayana masih kering, harusnya, kan, basah?" Ayana terdiam. Dia menatap Malik dan Muthia bergantian. Gadis itu tidak mengerti kenapa rambutnya harus basah? Apalagi dia tidak suka keramas di pagi hari. "Sebaiknya kita sarapan," Muthia melirik putranya, "Dan, kamu Malik, kamu harus jelaskan kenapa rambut istrimu enggak basah setelah malam pertama menikah." Malik mengembuskan napas berat saat sang mama berjalan lebih dulu masuk ke dalam restoran. Dia melirik Ayana dengan cepat dan sinis, seolah-olah gadis itu telah melakukan kesalahan fatal. "Apa?!" tanya Ayana tidak tahan dengan sorot Malik. Alih-alih menjawab, Malik malah berjalan meninggalkan Ayana menyusul Muthia masuk ke restoran. 'Napa jadi aneh, sih? Apa hubungan rambut basah dengan pernikahan? Huh! Laki-laki aneh!' * Selama sarapan hanya Muthia dan Ayana saja yang bercakap-cakap. Wanita itu bertanya apa rencana gadis tersebut setelah menikah. Tentu saja Ayana tak bisa menjawab, karena pernikahannya dadakan. Bahkan, sampai sekarang dia masih tidak percaya sudah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan. "Eh, Tante Muthia sarapan di sini?" Ketiga orang yang sedang menikmati sarapan menoleh. Muthia tersenyum kepada laki-laki yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Dahi Ayana berkerut karena dia ingat lelaki itu yang mengajaknya bicara selagi Malik asyik-masyuk melayani para wanita seksi. "Hanan, ayo gabung sarapan," ajak Muthia kepada pria tersebut. Hanan tersenyum. Dia duduk di sebelah Muthia tepat di depan Ayana. "Hai, ketemu lagi," sapanya kepada si gadis yang ditanggapi Ayana dengan anggukkan disertai senyum manis. "Belum pulang? Tumben masih di sini? Biasanya paling cepat ngilang kalau ada acara." Suara Malik terdengar ketus. Alih-alih Hanan malah tertawa. "Enggak boleh aku menikmati fasilitas hotel? Kan, tiap tamu punya jatah tiga hari? Rugi, dong, aku kasih hadiah kemarin." Mendengar jawaban Hanan, Malik mendengkus. "Aku akan kembalikan hadiah darimu tiga kali lipat. Sebut saja berapa?" Tangan Malik bersiap memasukkan nominal dari mobile banking-nya. "Udah-udah! Kalian kalau ketemu ribut aja. Kapan akurnya, sih?" Muthia menyela ketika Hanan terlihat ingin membalas lagi. "Aku, sih, asyik-asyik aja, Tante. Dia, tuh, bawaannya ketemu aku auranya jelek." Hanan menunjuk Malik dengan dagunya. "Udaaaah!" Muthia memelototkan mata ke arah Malik yang bersiap berdebat. "Boleh enggak Mama sarapan dengan tenang?" Dia melirik Malik dan Hanan bergantian. Setelah melihat anggukkan keduanya, Muthia mengembuskan napas panjang, lalu kembali menikmati sarapannya. Sementara Ayana hanya diam melihat tingkah kedua lelaki di hadapan. Sepertinya sosok yang bernama Hanan sangat dekat dengan sang mama mertua. Siapa dia? Dan mengapa Malik selalu bersikap ketus padanya? "Jaga matamu, jelalatan aja liat laki-laki tampan." Ayana mendengkus ketika Malik berbisik di telinga. Ingin sekali menyumpal mulut lelaki itu dengan roti bakar di atas piringnya, tetapi urung. Sayang, kan, dia tidak mau kelaparan dan membuang makanan. "Artinya aku masih normal. Beda kalau kamu yang jelatan liat laki-laki tampan," balas Ayana pelan. Dia tersenyum melihat wajah Malik berubah merah padam. Skor imbang Malik!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD