"Enggak ada alasan lain, kamu harus ajak Ayana bulan madu. Kalau perlu jangan balik sebelum positif." Muthia menyodorkan dua tiket ke atas meja. Dia menyipitkan mata ke arah Malik ketika putranya hendak membuka mulut.
"Emm, Maaf, Tante, positif apa, ya? Emang Malik sakit?"
Kontan saja tawa Hanan tersembur mendengar celutukkan Ayana. Aura kesal Muthia karena putranya terus saja membantah keinginannya, perlahan mencair. Wanita yang masih terlihat modis di usia pertengahan abad tersenyum, tetapi tidak Malik. Dia ternganga tidak percaya. Kadang dia berpikir gadis yang dia nikahi sudah dewasa atau masih bocil? Tak mungkin Ayana tidak mengerti arti positif setelah kata bulan madu.
"Ay, Ay! Kamu itu lucu banget. Gemesin lagi. Masak enggak tahu arti positif?" Hanan bertanya dengan sisa tawa di wajahnya.
Ayana menggeleng pelan menatap Hanan dengan mata bulatnya. Hanan tersenyum, sorot mata wanita di depannya sangat polos dan jernih. Ayana seperti peri yang baru saja turun ke bumi, lalu kebingungan dengan kosa kata orang-orang sekitar.
"Sayang, gini lho. Kalian udah menikah. Kurang sreg rasanya kalau belum menghabiskan waktu berdua saja. Apalagi kamu dan Malik nikahnya dadakan." Muthia melirik putranya yang hanya diam sedari tadi. "Siapa tahu setelah liburan berdua pulang nanti kamu hamil."
Ayana tersedak mendengar kata hamil. Dia memukul dadanya pelan, lalu meneguk air mineral yang diangsurkan Muthia.
"Pelan-pelan makannya, sayang."
Ayana mengangguk dan mengucapkan terima kasih. "Tante, gimana aku bisa hamil, Malik aja liat aku kayak mau nerkam."
Malik mendelik mendengar ujaran Ayana. Dia meraih pinggang si wanita cepat dan mencengkeram, membuat Ayana memelotot padanya. Alih-alih melepaskan, dia malah mengulas senyum dan berkata, "Sayang, enggak usah diceritakan malam pertama kita, yang pasti kamu hebat. Aku aja kewalahan."
What! Mata Ayana membeliak. Dia merasakan hawa panas menerpa wajahnya. Dia menggeleng cepat sembari melihat ke arah Muthia yang tersenyum lebar dan Hanan yang terkekeh pelan. Bibirnya hendak bergerak ingin menjelaskan, tetapi tidak disangka-sangka Malik justru mendaratkan satu kecupan ringan di pipinya, membuat tubuhnya beku seketika.
OMG! Ayana merasa pipinya memanas, leher juga seakan kaku, malu rasanya melihat ke arah mama mertua dan Hanan. Mungkin orang-orang di dalam restoran yang duduk tidak jauh dari mereka melihat perbuatan Malik. Dia berharap punya ilmu halimun sehingga bisa menghilang dari sana.
"Duh, so sweet banget. Mama yakin sebentar lagi bakal punya cucu." Muthia terlihat bahagia, dia melirik ke arah Hanan, "benar, kan, yang Tante bilang. Mereka serasi banget. Sweet lagi."
Hanan yang sedang menyesap kopi menanggapi dengan menaikkan alis. Dia lebih tertarik melihat rona merah di pipi Ayana dari balik cangkir kopi.
*
Laki-laki gila m***m! Arogan! Gila!
Ayana terus meracau sembari mengusap menepuk-nepuk pipinya. Dia menggeleng cepat, sambil memejamkan mata. Kakinya mengentak lantai dengan kesal karena Malik sudah m*****i pipinya. Sejak dulu Ayana selalu menjaga dirinya. Selama pacaran dengan Rudi pun mereka hanya sebatas duduk mengobrol atau makan di tempat keramaian. Dia selalu menolak bila laki-laki itu mengajaknya pergi berdua saja, meski Rudi beberapa kali mencoba meminta lebih, tetapi dia menolak.
Ayana pernah menceritakan hal itu kepada Viola. Tahu apa tanggapan sahabatnya? Gadis berwajah barbie itu malah menertawakannya. Viola mengatakan kalau Ayana terlalu kaku dan lebai. Kecupan di pipi, bibir bahkan lebih dari itu sudah biasa bagi dua orang yang saling mencintai. Gadis berkulit putih itu juga menceritakan gaya pacarannya dengan mantan-mantannya dulu. Meski Viola menuturkan panjang kali lebar, tetap saja tak bisa memengaruhi pola pikir Ayana.
Memiliki seorang ayah yang baik dan selalu tampak sempurna di mata, Ayana menjadikan lelaki itu role mode untuk mencari seorang suami. Ayahnya selalu mengingatkan gadis itu untuk menjaga diri, jangan sampai terjebak dalam pergaulan bebas yang akhirnya membaca kepada keburukan. Meski Ayana belum sepenuhnya menjalankan syariat, tetapi imannya tidak terlalu tipis menghalau gaya pacaran yang menjurus ke arah zina. Sejak kecil kupingnya sudah menjejali cara cara bergaul yang baik. Pondasi kuat yang melekat di hati, membuat Ayana risi bila disentuh laki-laki bukan muhrimnya.
"Aku baru sadar, selain norak kamu suka ngomong sendiri."
Ayana menoleh ke arah suara. Matanya mencelang melihat Malik berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan bersilang di d**a. Sejak kapan laki-laki itu masuk? Ayana membatin.
"Aku juga heran, kamu ini keturunan makhluk halus, ya. Sebentar di sana, sebentar di sini," balas Ayana tak kalah ketus.
"Iya! Aku makhluk halus yang akan menghantui hidupmu selalu." Malik tersenyum miring.
"Eh, mau ngapain?" Ayana memelotot ketika Malik merebahkan badan di atas ranjang.
"Berenang!" jawab Malik asal-asalan, membuat Ayana mengentakkan kaki dengan wajah gemas. "Lagian, udah tahu ranjang buat tidur masih nanya lagi." Malik meletakkan tangan kanan untuk menutupi mata, sementara tangan kiri sebagai bantalan.
Ayana mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ingin sekali menarik tangan Malik atau memukul laki-laki itu dengan sejadi-jadinya. Namun, Ayana masih sangat waras untuk tidak memancing keributan. Bukan takut, Malik sangat susah ditebak. Sebentar dia seperti beruang kutub, tetapi nanti bisa bersikap romantis mengalahkan pemeran pria ala-ala DRAKOR.
"Kenapa diam? Udah enggak mau ngomong sendiri lagi?" sindir Malik masih dengan mata terpejam.
Kedua tangan Ayana terangkat dengan gerakan meremas. Dia menatap Malik dengan sorot ingin melumat laki-laki itu. Menurutnya, tingkat nyinyir si lelaki sudah membuatnya gregetan. Ayana memilih keluar kamar agar tak semakin tertekan dengan sikap Malik.
"Mau ke mana?" Pertanyaan Malik menahan tangan Ayana yang hendak memutar gagang pintu.
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
"Kamu lupa kita udah nikah?" Diingatkan seperti itu mata Ayana terpejam. "Mulai sekarang semua urusanmu adalah urusanku. Kamu enggak boleh ke mana pun tanpa ijin dariku."
Ayana berbalik, menyorot Malik dengan sorot kesal. "Aku ingat, bukan berarti kamu bebas mengatur-atur hidupku!"
"Siapa bilang?" Malik bangkit. Dia mendekati Ayana, menggulung jarak semakin dekat dengan gadis itu. "Kamu lupa apa yang kukatakan? Aku akan membuat hidupmu bagai di penjara. Kamu adalah tawananku dan akan selamanya begitu."
Mata Ayana memicing dengan raut jengkel melihat senyum mengejek di bibir Malik. Dia hendak menjawab, tetapi laki-laki itu sudah membungkam mulutnya dengan jari.
"Kamu siap-siap. Lusa kita berangkat ke Belanda bulan madu."
"Apa?!" Bola mata Ayana seakan hendak meloncat dari tempatnya. "Enggak! Aku enggak mau."
"Kamu enggak punya hak menolak. Ayahmu pasti enggak suka anaknya menentang perintah suami. Ingat, jantung Ayahmu enggak kuat."
Ayana mendengkus kesal mendengar kalimat bernada ancaman dari Malik. Dia benar-benar terjebak. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah Viola. Andai wanita itu tidak melarikan diri dengan Rudi ...
"Oke, tapi sebelum pergi aku mau kita buat kesepakatan."
Sebelah alis Malik terangkat naik. "Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali mengajukan syarat padaku?"
Ayana mengangkat dagunya dengan raut angkuh. "Kan, kamu sendiri yang bilang, aku harus bersikap seperti wanita terhormat karena aku adalah istri seorang pengusaha ternama." Dia menyeringai membuat Malik sadar gadis di hadapannya bukan gadis semabarangan.
"Kamu enggak mau, kan, Mama mencoretmu dari kartu keluarga dan menyumbangkan bagian hartamu ke dinas sosial?"
Skak mat! Malik menggeram keras, membuat Ayana tersenyum lebar.
"Dasar gadis alien!" umpatnya kesal, membuat senyum kemenangan terulas di bibir Ayana.
'Oo, Tuan Malik, kamu salah memilih istri. Aku bukan gadis yang bisa kamu tindas seenaknya. Jaga hatimu, jangan sampai terpesona padaku.' Ayana membatin.