Huft! Memalukan

1161 Words
"Sudah jangan menangis lagi. Nanti cantik anak Ayah luntur." Alih-alih berhenti, tangis Ayana semakin kencang. Pelukan di tubuh ayahnya mengerat. "Ay, belum mau nikah, Yah. Ay, mau cari kerja dulu, biar bisa bahagiain Ayah." Gadis itu terisak di d**a ayahnya. "Ayah udah bahagia. Lihat kamu tumbuh sebesar ini, bisa mengantarkanmu menjadi sarjana. Ayah tidak butuh apa-apa lagi." Ayana semakin membenamkan kepalanya ke d**a sang ayah. Mencari ketenangan dengan mendengarkan detakan jantung lelaki pelindungnya. "Mungkin ini sudah takdir dari Tuhan. Jangan berkecil hati. Percaya saja, apa yang terjadi sudah jalannya seperti ini." Ayah Ayana terus mengusap punggung putrinya lembut. Berharap bisa menguatkan Ayana menerima pernikahannya dengan Malik. "Tapi, Ayana mencintai Rudi, sedangkan Malik ...." Bibir Ayana tak jadi melanjutkan kata-kata karena sang ayah melerai pelukannya. "Nak, kamu ingat, kan, nasehat Ayah dulu?" Ayana mengangguk sembari mengusap air mata yang kembali lolos ke pipi, meski tangisnya sudah mereda, tetapi sesak di d**a belum berkurang. "Jangan pernah terlalu mencintai manusia karena seorang hamba tidak akan pernah bisa menjadi sandaran. Kadang yang baik untuk kita belum tentu baik juga menurut Tuhan. Harusnya kamu bersyukur sifat asli Rudi terkuak sekarang, kalau nanti setelah kalian menikah?" Ayana melipat bibirnya ke dalam. Nasehat sang ayah masuk dan meresap ke d**a. Ayahnya benar, seandainya semua terkuak setelah mereka menikah, tentu dia akan lebih sedih daripada sekarang. "Kita enggak tahu umur, Nak. Ayah bersyukur masih bisa menikahkanmu. Ayah minta, cukuplah sekali menikah. Meski awalnya seperti ini, usahakan untuk seumur hidup. Dengan kamu patuh kepada suamimu, sama saja mempermudah jalan Ayah ke surga kelak." Cairan hangat yang lolos ke pipi Ayana menarik kesadaran gadis itu kembali. Dia menatap cermin dan melihat wajahnya sudah basah oleh air mata. Nasehat sang ayah sesaat setelah akad nikahnya memantul-mantul di benak Ayana. Manik mata lelaki yang sudah dipenuhi katarak tampak berpendar indah saat menyerahkan tangannya untuk digenggam Malik. Tak pernah Ayana melihat ayahnya secerah hari itu, rasanya dia telah menghadirkan sesuatu yang sangat berharga yang membuat senyum sang ayah bertahan hingga malam. "Hei, masih lama di dalam?! Aku juga butuh ke toilet." Ayana berdecak. Lagi-lagi si tuan arogan. Lelaki itu suka sekali datang di saat yang tidak tepat. Kalau Malik melihat matanya yang memerah, pasti akan memancing keisengan pria tersebut. Heran! Hobi kok, julid. Pantas saja Viola kabur. Lagi-lagi gadis itu, setiap mengingat Viola dadanya mengilu. Sampai hati sang sahabat menikamnya dari belakang. Padahal Ayana sudah menganggap gadis tersebut seperti saudarinya sendiri. Gagang pintu diputar Ayana. Dia tidak bisa keluar karena tubuh menjulang Malik menghalangi pintu toilet. "Kenapa enggak sekalian tidur di toilet aja?" ketus Malik dengan wajah congkak. Ayana mengembuskan napas berat. Sudah hampir tengah malam, dia tak ingin berdebat dengan Malik. Jadi, dia memaksa bibirnya mengulas senyum selebar mungkin. "Tadinya iya, tapi mengingat aku ini istri konglomerat, enggak pantas tidur di sana. Lagian, aku juga enggak mau melewatkan malam pertama kita. Katanya aku hebat banget," balasnya sarkas mengembalikan kata-kata Malik. Mata Malik menyipit. Dia menelisik paras Ayana. Mengira-ngira di toilet gadis itu kesambet jin genit. Kemarin siang saja dia masih ngamuk perkara kecupan di pipi. Sekarang malah nantangin malam pertama. "Apaan, sih!" Ayana menepis tangan Malik di dahinya. "Normal," gumam Malik, sambil menyentuh dahinya sendiri membandingkan dengan suhu tubuh Ayana. Gadis itu mendengkus. Dia sengaja menabrak bahu Malik saat melewati si lelaki. "Jelas aku normal, kamu, tuh, yang enggak." Masih sempat dia melontarkan kata bernada jutek. Malik hanya geleng-geleng kepala. Ingin mengejar, tetapi ada hasrat yang harus dia tuntaskan dari tadi sampai-sampai perutnya terasa sangat mulas. * Keluar dari kamar mandi Malik melihat Ayana duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia mendekat lalu merebahkan tubuhnya di samping gadis tersebut. Terang saja Ayana yang sedang asyik menonton tik-tok terkejut. Dia segera mendekap bantal ke d**a. "Ngapain kamu?!" Matanya menyorot siaga. "Tidur," jawab Malik singkat. "Tahu, tapi kenapa di sini?" Wajah Ayana berubah panik. "Suka-suka aku, dong. Ini, kan, kamar aku." "Tapi, aku lihat banyak kamar di rumah ini, ngapain tidur di sini?" Ayana mendebat keras. Muthia memboyong Ayana pulang ke rumah meski fasilitas dari hotel masih tersisa dua hari lagi. Dengan bersemangat wanita itu membawa sang menantu berkeliling bangunan megah berlantai tiga, sembari memperkenalkan kepada semua asisten rumah tangga bahwa Ayana adalah nona muda di rumah itu. Meski pernah masuk beberapa kali ke dalam rumah, tetapi hanya sampai dapur saja. Dia tak bisa menutupi kekaguman melihat desain interior ciamik dan furniture berkualitas tinggi yang memberi kesan mewah. Apalagi saat Muthia menunjukkan sebuah kamar luas dan indah yang akan ditempati, tetapi Ayana tak mengira Malik juga tidur di sana. Dia belum siap tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki meskipun itu suaminya sendiri. "Aku enggak perlu jelasin ke kamu. Lagian, ya, kalau kamu enggak mau tidur seranjang, sana tidur di sofa atau di lantai aja," jawab Malik acuh tak acuh. Saking gemas mendengar jawaban Malik, Ayana memukulkan bantal bertubi-tubi ke perut si lelaki. Masa bodoh kalau laki-laki itu mengamuk. "Gadis gila! Apa-apaan sih, kamu?!" Malik merebut bantal yang dijadikan senjata oleh Ayana. Tak kehabisan akal, gadis itu meraih guling lalu kembali dipukulkan kembali ke arah Malik, membuat lelaki itu kelabakan menghindar. "Astaga! Kamu bar-bar banget sih?!" Malik tanpa sadar berdiri di atas ranjang. "Kamu, tuh yang bar-bar!" Ayana ikut berdiri hingga mereka berdiri berhadapan. Aku enggak mau tidur di sofa, kamu aja yang tidur!" "Enggak mau! Kamu enggak liat kakiku panjang? Aku enggak bisa tidur kalau kakiku dilipat." "Bodo amat! Kamu bisa tidur atau enggak, aku tetap tidur di ranjang." "Kamu benar-benar gadis alien! Aku udah sabar, ya, sama kamu. Kalau bukan karna Mama, aku udah ...." Mata Malik seketika berpendar genit. "Bilang aja udah enggak sabar malam pertama sama aku," imbuhnya menggoda Ayana. Wajah Ayana memerah, apalagi melihat senyum tengil yang terbit di bibir Malik. Dia kembali memukul laki-laki itu dengan guling sekuat tenaga. Alih-alih menghindar, Malik balik memukul Ayana sehingga terjadilah perang bantal yang membuat gaduh. "Malik, Ayana! Kalian baik-baik aja, kan?" Ketukan di pintu dan suara Muthia membuat gerakan keduanya terhenti. Dengan isyarat mata, Malik menyuruh Ayana membuka pintu karena mamanya kembali mengetuk. Semula gadis itu menolak, tetapi Malik memelototkan mata sembari bersiap memukulkan bantal kembali. "Mama? Ada, Ma?" Ayana tersenyum kikuk mendapat tatapan intens dari mertuanya ketika pintu terbuka. "Mama dengar ribut-ribut, ada apa?" Ayana tertawa garing, sambil menggaruk dahi, otaknya memerintahkan mencari alasan yang masuk akal. "Maaf, Ma, tadi ada kecoak lewat." Ayana menyelipkan anak rambutnya yang berantakan. Muthia menelisik penampilan Ayana, dia juga memanjangkan leher melihat putranya sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengutak-atik ponsel. Bibir wanita yang wajahnya sedang memakai masker lumpur mengembangkan senyum. Matanya berbinar melihat ranjang berantakan dan rambut Ayana acak-acakan. "Aduh, maaf, ya, ganggu. Ternyata lagi proses bikin cucu buat Mama." Muthia mendorong bahu Ayana kembali masuk, lalu menutup pintu dari luar. Sebelum Ayana mencerna perkataan ibu mertuanya, terdengar suara Muthia berseru dari balik pintu bercat cokelat tua. "Jangan lupa pintunya dikunci biar enggak ada yang ganggu, yang semangat ya! Emm, kalau boleh request, Mama minta cucu kembar!" Ayana terkesiap mendengar seruan mama mertuanya, sementara Malik malah terkekeh melihat wajah sang istri yang memerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD