Kegaduhan di Pagi Hari

1030 Words
Alarm dari ponsel membuat Malik membuka mata. Telinganya memang sangat sensitif mendengar suara sepelan apa pun. Apalagi suara alarm yang selalu membangunkannya setiap pukul empat dini hari. Niat hendak bangkit urung ketika merasakan perutnya seperti ditindih sesuatu. Nyaris jantungnya itu copot ketika menoleh ke samping. Si gadis alien sedang tertidur dengan masker masih melekat di wajahnya. Guling yang jadi pembatas antara mereka sudah terserak ke lantai. Bibir Malik berkedut menahan tawa ketika mendengar Ayana ngorok. Baru kali ini dia melihat gadis cantik, tetapi gaya tidurnya ... nyungsep! Malik berdecak pelan. Tidak dipungkiri jantungnya berdegup kencang. Bangun tidur disajikan pemandangan yang membuat hasratnya tersulut. Dia laki-laki normal yang tentu akan tergoda melihat seorang gadis tidur dengan posisi memeluk posesif. Tidak hanya tangan, tetapi kaki Ayana juga menguasai perutnya. Mau tidak mau dalam jarak kurang satu jengkal mata Malik bisa melihat paras Ayana. Alis hitam berbaris rapi menghias wajah ovalnya. Bulu mata lentik membingkai mata jernih yang kadang menyorot tajam. Tulang hidung tinggi dan bibir merah alami. Malik sampai menggigit bibirnya membayangkan yang iya, iya. Astaga! Malik mengumpat dalam hati. Kenapa dia mulai tergoda dengan gadis alien itu? Dia tidak lebih cantik dari Viola. Entah di mana gadis itu sekarang. Detektif yang dia sewa belum menemukan jejak apa pun. Gadis itu dan Rudi menghilang bagai ditelan bumi. d**a Malik terasa panas kala wajah Rudi terbayang di matanya. Berani sekali anjing yang dia beri makan menggigit tangannya. Rudi dia angkat dari jalanan. Berprofesi sebagai loper koran, Malik memberi posisi sebagai office boy di perusahaannya. Tahun demi tahun Rudi menunjukkan kerja keras kesetiaan, dan kemauan yang kuat untuk maju. Bahkan, usaha Malik menanggung pendidikan dibayar dengan nilai kelulusan IPK 3, 9. Nyaris sempurna. Oleh karena itu, Malik tak ragu memberi lelaki itu posisi staff. Namun, manusia cepat sekali berubah. Posisi tinggi dan uang menghitamkan hati Rudi hingga berani mengkhianatinya. Lamunan Malik tentang Rudi terberai ketika merasakan desah pelan di sampingnya. Dia menoleh dan melihat hidung Ayana mengendus dadanya. 'Sial! Kenapa dia seperti ini?' Malik merutuk dalam hati. Kini mereka tak berjarak. Benar-benar sangat lekat hingga dia bisa merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel ke dadanya. Malik tergoda ingin mencecap keranuman bibir Ayana. Toh, mereka suami-istri, tidak dosa, dan tidak merugikan siapa pun. Namun, ketika mengingat amukan gadis itu perkara kecupan di pipi saja, membuat gerakan Malik tertahan. 'Haiish! Kenapa mesti ingat sekarang? Kenapa enggak nanti! Lagi, Malik bermonolog dalam hati. Dia menggeleng cepat, frustasi dengan posisinya saat ini. Malik menutup mata rapat-rapat saat melihat kelopak mata Ayana terbuka. Gengsi, dong, ketahuan kalau dia mengamati gadis itu. Ayana menggeliat. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Dalam pikiran gadis itu guling yang dia dekap, tetapi hidungnya menangkap aroma parfum yang beberapa hari ini mengusik penciumannya. Dia mengendus tanpa membuka mata, sambil meraba-raba dengan tangan. Antara bingung dan penasaran, otaknya bertanya-tanya, kenapa guling terasa sangat keras dan wangi sekali? Pelan-pelan Ayana membuka kelopak mata, yang pertama ditangkap netranya adalah tangannya sedang memeluk tubuh seorang lelaki. Ayana merem beberapa detik, berharap semua mimpi dan tubuh yang dia rangkul menghilang saat membuka mata. Dia menghitung sampai sepuluh sebelum membuka mata kembali. "Kyaaa!" Ayana melompat sampai turun dari tempat tidur, membuat Malik juga ikut melompat. "Kamu! Kamu ...!" Ayana menunjuk Malik dengan wajah mata memelotot. "Apa?" Malik pura-pura tak tahu. Dia menguap agar tawa tak tersembur dari bibirnya melihat raut Ayana. "Apa yang kamu lakukan?" Ayana memperhatikan tubuhnya. Dia mengembuskan napas lega melihat pakaiannya masih lengkap. "Emang apa yang aku lakukan?" Malik bersedekap menatap Ayana dengan dagu terangkat. "Kamu mencuri kesempatan saat aku tidur!" tuding Ayana masih menunjuk ke arah Malik. "Kesempatan apa?" Malik berlagak b**o. Mengerjai Ayana di pagi buta ternyata sangat menyenangkan. "Apa yang kamu lakukan saat aku tidur? Aku, kan, udah bilang. Enggak ada yang boleh melewati garis pembatas. Aku udah kasih guling sama bantal, masih juga!" Malik tertenyum tengil mendengar racauan Ayana. Dia maju mendekati gadis tersebut. "Stop! Mau ngapain?" Ayana merentangkan tangan dengan wajah panik ketika jaraknya dengan Malik tinggal satu lengan. "Mau melakukan apa yang dibayangkan otakmu," goda Malik tersenyum miring. "A-apa?!" Ayana memucat. Dia panik mencari benda untuk melindungi diri. Dia mundur meraih sisir di atas meja rias, lalu menggepit dekat ke d**a seperti sedang memegang pisau. Alih-alih tawa Malik semakin keras, sampai dia harus memegang perutnya karena geli melihat tingkah konyol Ayana. "Kamu mau ngapain sama sisir itu? Mau nyisir rambut aku?" Ayana salah tingkah. Saking paniknya dia tak tahu harus mengambil apa untuk melindungi diri, tetapi bukan Ayana namanya kalau mati langkah. Dia memasang wajah angkuh. "Kalau iya, kenapa? Berani mendekat aku sisir rambutmu sampai botak!" Ayana mengacungkan sisir ke arah Malik. Malik tak bisa menghentikan tawa sampai air matanya ikut keluar. "Astaga! Kamu benar-benar alien!" Malik berdeham berkali-kali agar tawanya berhenti. "Emang tadi siapa yang peluk-peluk aku? Siapa yang mepet tidur ke aku? Liat, gulingnya terlempar ke tempatmu. Artinya kamu yang mendekat ke arahku." Mata Ayana mengikuti arah yang ditunjuk oleh Malik. Dia menelan saliva melihat apa yang diucapkan laki-laki itu benar. Lagipula memang tadi dia yang memeluk Malik. "Gimana, udah sadar siapa yang menggoda siapa?" Malik bersidekap menahan tawa. Ayana melengos, walau sudah kalah argumen tetap saja dia enggan mengakui. "Bisa aja kamu yang melempar gulingnya ke sana," jawab Ayana masih dengan gaya angkuh. Padahal sebenarnya mukanya sudah terasa panas. Mengingat muka, Ayana merasa wajahnya sangat lengket. Dia meraba pipi dan mendapatkan masker kertas masih menempel di wajahnya. Melihat bibir Malik hendak bergerak, Ayana memilih kabur ke dalam toilet. Ingin rasanya berubah jadi asap dan menghilang dari hadapan Malik ketika dari balik pintu laki-laki itu berseru. "Cantik, sih, cantik, tapi sayang tidurnya ngorok!" Ayana tidak tahu bagaimana nanti berhadapan dengan Malik. Pasti laki-laki itu akan menertawainya lagi. Dasar enggak ada akhlak! Dia bercermin dan melepas masker dari wajahnya. 'Mana mungkin aku ngorok. Pasti akal-akalan si beruang kutub.' Ayana bermonolong sendiri. 'Lagian, kenapa bisa tidur mepet dia, sih?! Astaga Ayana, lain kali kalau tidur kaki sama tanganmu kudu diikat biar enggak nyasar ke mana-mana.' Ayana membekap wajahnya. Kebiasaan tidurnya yang lasak memang meresahkan. Bukan hanya sekali ini, teman-temannya juga berkomentar seperti itu saat mereka menginap bersama, hingga Ayana selalu mendapat jatah tidur di lantai. Bayangan memeluk tubuh Malik kembali membuat pipinya panas. Rasanya ingin nguras lautan saja daripada bertemu Malik lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD