BAB 1 Malam Penghinaan
Arunika Devanka berdiri di tengah aula kaca Hotel Devanka Palace, gaun putihnya berlumur cahaya lampu kristal, tapi hatinya hancur.
Seolah ditelanjangi oleh lensa kamera yang menyorot tajam.
Reno Arsanta — suaminya — tersenyum manis ke arah kamera wartawan, lalu menayangkan foto-foto skandal istrinya dengan sopir pribadinya, Ganesh Narendra.
"Malam ini... Aku ingin menunjukkan sesuatu yang lebih jujur dari cinta."
Sorakan tamu, bisikan jijik, tatapan ibu mertua yang dingin — semua menghujam.
Arunika tidak sempat membela diri. Ia tahu ini bukan hanya penghinaan, tapi eksekusi politik.
"Apa maksudnya ini, Ren?"
Reno melirik singkat.
Layar raksasa di belakang panggung menyala. Satu demi satu, foto-foto muncul - Arunika, tidur di ranjang satin, surai keperakannya terurai di bahu telanjangnya.
Damai dalam dekapan Ganesh yang bertelanjang d**a.
"Astaga, memalukan."
"Sudah bersuami sempurna masih cari kepuasan lain, serendah itukah putri tunggal konglomerat Devanka."
Arunika mematung. Wajahnya pucat, debaran menyakitkan terasa di d**a. Ia ingin berteriak, menyangkal, menjelaskan, tapi suaranya lenyap.
Reno mendekat, wajahnya datar, tapi matanya tajam seperti bilah pisau.
"Aku ingin seluruh keluarga besar Devanka dan Arsanta tahu," katanya dengan suara tenang dan menusuk.
"Bahwa aku telah hidup dengan kebohongan selama tiga tahun. Istriku... ternyata menjual kesetiaan untuk pelayan rumahnya sendiri."
Arunika menatap Reno, mencoba mencari alasan di balik penghinaan ini. Namun, ia hanya temukan dingin. Bukan kemarahan, bukan cinta, hanya strategi.
"Aku tidak_" suaranya pecah. "Aku tidak melakukan itu, Reno. Aku_"
"Cukup, Arunika."
Reno menatap Arunika seolah ia sesuatu yang menjijikkan. "Aku punya bukti. Kamu bisa menyangkal, tapi dunia akan percaya pada sesuatu yang terlihat. Dunia ini mencintai kebohongan yang indah, sebab itulah kita masih bersama sampai sekarang."
Tawa samar terdengar dari sudut ruangan. Para tamu berpura-pura prihatin, tapi mata mereka haus akan drama.
Pandangan menghakimi seolah siap menelanjangi, membentuk lingkaran membuatnya bak manusia hina.
"Apa ini putri yang dibanggakan oleh Devanka? Dia bahkan lebih hina dari pelacur."
"Mungkin ini awal kehancuran mereka."
"Siapa yang menyangka, nona angkuh kebanggaan Devanka, tak lebih menjijikkan dari kotoran."
Arunika bungkam, ingatannya samar pada kejadian malam kemarin di acara makan malam keluarga besar menjelang tahun ketiga pernikahannya dengan Reno saat ini.
Sindiran akan sunyinya rumah tanpa anak, kondisinya yang dianggap kutukan, segelas anggur yang masih utuh, dan....
Apa mungkin segelas air putih bisa membuatnya hilang kesadaran?
"Kenapa? Mau menyangkal?"
Suara Reno kembali menggema, dia memasang tampang suram, matanya nelangsa menatap Arunika. "Apa kurang ku, Arunika? Sampai kamu merendahkan dirimu untuk... seorang rendahan sepertinya."
Reno mengusap sudut matanya yang basah, lalu menghela napas berat. Di belakangnya, layar televisi besar masih menampilkan foto-foto aib Arunika.
"Bagimu mungkin pernikahan ini hanya sekadar formalitas, tapi bagiku... kamu segalanya."
Bisik-bisik mencemooh mengudara, tatapan menghakimi seperti hujan busur panah api.
"Atas dasar apa tuduhan mu itu?"
Arunika melangkah mundur. Kakinya gemetar, tapi tubuhnya tetap tegak. Ia tahu, dalam dunia mereka, kelemahan hanya akan menjadi bahan tontonan.
"Jadi, ini rencanamu?"
Reno mengernyit. Ketakutan di wajah manis itu sirna, terganti sorot lelah yang kini menatapnya dingin.
Arunika menyilangkan tangan di d**a, menyembunyikan tubuhnya yang gemetar. Menatap datar Reno dengan segaris senyum miring.
"Rendahan sekali," bisiknya. "Demi merebut kekuasaan sepenuhnya DS Holdings, seorang Reno Arsanta, merendahkan diri pada permainan kotor."
Suaranya lirih, tapi tajam. Para tamu elit saling melirik bingung, mengira-ngira kalimat apa yang berhasil mengusik sosok tenang seorang keturunan Arsanta.
Sementara sepasang insan yang kini berseteru, seolah memberi isyarat dari sorot tajam mereka.
"Malam itu, di acara makan malam keluarga. Kamu menjebak ku dengan obat tidur, tapi kamu tahu seperti apa kondisiku. Obat-obatan tak lebih dari sebutir gula-gula untuk tubuhku."
Reno bungkam, pikirannya buntu sesaat. Sebelum tawa hambar menguar. "Atas dasar apa? Tanya pada pria hina mu itu, yang menyambut kami setelah menghabiskan malam penuh dosa dengan istri majikannya sendiri."
Lampu menyorot ke sisi panggung, Ganesh Narendra, berdiri dengan seragam hitam. Wajahnya datar, tapi matanya... memantulkan luka yang sama.
Ganesh tidak membela diri. Tidak berkata apa-apa. Hanya menatap Arunika tajam.
Reno menatap keduanya dengan senyum kemenangan.
"Mulai malam ini, Arunika Devanka bukan lagi istri Reno Arsanta. Mulai malam ini, kamu bukan siapa-siapa."
Kata-kata itu seperti palu yang memecahkan d**a Arunika dari dalam.
Seluruh ruangan mendadak sunyi, dingin dan kejam. Dari sudut kanan, lelaki paruh baya memberi isyarat penuh ancaman.
Arthur Irawan Devanka, pemegang kekuasaan tertinggi di DS HOLDINGS, seseorang yang memegang kendali sebagai komisaris, maju menengahi.
"Kenapa diam? Pergi..."
Arunika melirik ayahnya, bisikan tajam itu seolah meruntuhkan setitik harapnya. Ia menggeleng.
"Tidak, Ayah. Ayah tidak tahu apa pun, dia...." Jemari lentiknya menunjuk Reno. "Dia mau menjebak kita, mereka_"
"Sudahlah, Ayah mertua." Reno menyela. "Jangan terlalu memanjakan putrimu hanya karena dia sakit, kebenaran harus terungkap walau menyakitkan."
Arunika mengernyit. Sontak berdiri berhadapan dengan Reno yang diam-diam tersenyum sinis.
Amarahnya membuncah. "Diam, atau ku penggal kepalamu dan kuberikan pada anjing peliharaan mu itu."
Reno mengernyit, sudut bibirnya berkedut menahan tawa. Seolah kalimat itu hanya sekadar lelucon.
"Kamu tenang saja, Arunika. Meski kita telah bercerai, DS Pharmaceutycal masih milik kalian."
Reno tak hanya menjatuhkan harga dirinya, dia ingin menghapus Arunika dari garis kekuasaan, agar saham DS Holdings bisa jatuh seluruhnya ke tangan Arsanta.
"Aku yang selingkuh, atau kamu yang diam-diam merencanakan pernikahan dengan saudari tiri ku?"
Melihat ekspresi keruh Reno membuat Arunika tersenyum sinis.
"Kamu benar," bisiknya. "Dunia ini memang mencintai kebohongan, tapi kalian lupa satu hal. Tak ada kebohongan yang bertahan selamanya."
Arunika berbalik, melangkah tenang meninggalkan ruang menyesakkan itu.
Di belakangnya, dunia bergemuruh. Seolah siap menumbalkan tubuh ringkih itu pada kegelapan tak berujung.
Di depannya, hanya sunyi dan bayangan tinggi seorang pria yang diam-diam mengikutinya keluar, Ganesh, yang kini menjadi simbol kehancurannya.
Arunika menunduk dalam, kepalan tangannya menguat seirama detak menyakitkan di d**a.
"Nona."
Ganesh memanggil lirih, suara beratnya seakan mampu menggetarkan sudut beku di hati Arunika.
Semilir angin menghantarkan wewangian musk dan mint. Bayangan tinggi Ganesh membentang menjadi tameng. Kilat kamera menyambar bagai gemuruh petir di langit sana.
"Nona Arunika, apa benar Anda dan sopir Anda menjalin hubungan gelap?"
Para wartawan berkumpul seperti semut, saling dorong berharap mendapat gambar terbaik mereka.
Kilat kamera terus menyorot, udara disekitarnya menipis. Dunia berisik itu mendadak bisu.
Tatapan penuh amarah memenuhi kepala. Arunika merasakan napasnya memberat, segalanya berputar, tapi suara-suara itu tak mau berhenti.
"Nona... Nona..."
Sayup-sayup suara berat Ganesh memanggil, tapi tidak lebih berisik dari seruan mencemooh itu.
"Berita perselingkuhan Anda menjadi topik panas, Anda bahkan menuduh suami Anda berselingkuh."
"Ini bukan lagi hina, Anda bisa di cap noda hitam bagi Devanka."
Kamera serentak menyorot pada rombongan Arsanta, terutama Reno yang kini menatap Arunika.
Lelaki itu melangkah tenang memasuki sebuah mobil mewah, samar sudut bibir itu melengkung.
Arunika menggeram, tangannya mengepal kuat. "Sialan," bisiknya.
Dekapan kuat membungkus tubuhnya, Arunika tidak sempat memberontak. Ketika Ganesh memboyongnya membelah kerumunan wartawan, memasuki mobil mereka.
Arunika mendongak, wajah Ganesh masih datar, iris itu kelam menatap dingin. Seolah tak tersentuh oleh tangan kotor yang mencoba merampas jiwa.
"Wah, lihat mereka! Sungguh tidak tahu malu!"
Arunika membeku. Tubuhnya gemetar, bukan udara dingin di tengah guyuran hujan yang membuatnya membeku.
Namun, jemari kasar yang kini menyentuh wajahnya. Arunika mendongak, sorot itu tajam, tapi menghantarkan hangat di jiwa dinginnya.
"Bernapas lah perlahan," bisik Ganesh.
Satu tangannya menutup mulut sang majikan. Sementara deru napas Arunika terdengar memburu.
Iris kelam Ganesh menyorot tajam pada sepasang karamel yang kini basah.
"Hanya ada kita di sini, fokus saja pada saya."
Napas Arunika kembali normal, tetapi pipinya semakin basah. Dunianya kembali hening, dan Ganesh menjadi poros satu-satunya di sana. Lagi.
Malam itu, langit berduka. Di bawah riak air hujan, dua jiwa yang dianggap berdosa berjalan menuju permainan takdir.