Celia memutar bola matanya malas. Sungguh, ia menyesal telah bertanya seperti itu kepada Evan. "Astaga, Mbak Lala nyesel kan jadinya kalau kayak gini. Jadi pergi tidak sih?"
"Jadi sayang, jangan marah yah." Evan mengusap lembut punggung tangan Celia untuk menenangkan gadis itu.
"Ya udah ayo, lapar ini!" Celia menggandeng tangan Evan setengah memaksa. Gadis itu kembali ke setelan jutek seperti biasanya.
"Yang pemarah itu menantang, Pak Evan." Lala berbisik kepada Evan sambil terkekeh.
"Mbak Lala!" Celia berkacak pinggang mendengar ucapan Lala kepada Evan.
"Hehehe, ayo masuk mobil. Keburu sore nanti." Lala merangkul Celia berjalan ke arah lobby gedung, apalagi melihat mobil Celia sudah standby.
"Pakai mobilku aja, kamu sini dong sayang." Evan meminta Celia ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Dimana aja, orang sama-sama jalan. Ayo, Mbak Lala."
Tiba di salah satu mall, keduanya langsung menuju toko perhiasan tempat Rara dan Liana memesankan cincin. "Ini sih tempat Bunda dan Papa beli cincin, tapi memang bagus-bagus sih disini," ucap Celia berbinar menatap beberapa koleksi perhiasan di toko tersebut.
"Selamat siang Nona Celia. Ini pesanannya kemaren, bisa di cek dulu," sapa salah satu pegawai toko tersebut membawakan cincin yang Celia maksud.
"Halo, siang juga Mbak. Wah, cantik betul! Bunda memang yang terbaik," ucap Celia dengan senang hati.
"Aku gak disebut juga, yang ambil model itu, aku lho." Evan menarik kursi kecil lalu duduk di sebelah Celia.
"Emang gitu? Kok gue gak tau, Kak?"
"Kamu sibuk mulu, ada orang ngobrol gak diperhatikan," jawab Evan cuek.
"Ya mana tau, udah pas neh. Bagus, Mas." Celia mencoba cincin tersebut lalu memamerkan kepada Evan.
"Sip, gak ada komplain yah? Yang untuk akad belum jadi, kamu sabar dulu." Evan mencintai pasangan cincinnya juga.
"Oke, selesai. Jadi jemput calon mertua kah?"
"Jadi, kita makan siang dulu. Kamu mau makan apa?" Evan melakukan pembayaran sebelum mengajak Celia keluar dari toko tersebut.
"Apa aja, ngomong-ngomong, yang dibeliin kemarin udah datang. Kayaknya cocok untuk dipakai ke acara kantor nanti malam, makasih Mas."
"Pakai lah, kamu harus tunjukkan ke orang-orang. Celia adalah calon istri Evan Mahendra Putra."
"Kalau lagi narsis begitu, gak beda jauh sama Papa. Mungkin memang Papa cari duplikatnya, padahal udah ada Kevin." Batin Celia terkekeh mendengar ocehan Evan. "Mas, kita jemput masih pakai baju kerja begini, gakpapa?"
"Gak masalah, memang kita sibuk kok. Okelah, mereka juga paham."
Kecemasan Celia bukan tidak berdasar, gadis itu masih saja memikirkan hal-hal negatif yang bersarang di kepalanya.
"Syukurlah, takutnya kayak yang di sinetron. Kan gak lucu, Mas." Dalam perjalanan menuju bandara, Celia mengungkapkan kegelisahannya.
"Hadeeeh, jangan sampai ada headline di lambe-lambean kalau seorang Celia mencemaskan perlakuan calon ibu mertuanya. Apa kabar cewek-cewek di luar sana. Bisa gak berani menikah, lho. Kamu kan banyak followers, kasih lah edukasi yang bagus ke pengikutnya."
"Masalahnya, Celia bukan artis. Tapi wanita karir. Kalau Mama, nah dia memang artis."
"Udah centang biru juga, kamu gak pengen bikin proyek bagus untuk anak muda gitu? Yah yang bermanfaat."
"Ada, tapi Papa minta tunda dulu sampai nikah. Selesai acara, terserah kalau mau lanjutin."
"Oke, kita pikirkan sama-sama nanti. Ngomong-ngomong yang di belakang kita pada diem. Kalian gak jamuran, kan?" Evan bertanya kepada Lala dan Roy. Kedua asisten pribadi itu sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Jamuran sih tidak, tapi bosan. Kalian pacaran di depan kita, sementara kami hanya bisa membayangkan orang terkasih sedang bekerja," jawab Roy dengan nada kesalnya.
"Hahaha, sabar ya Om Roy. Nanti kita balik Surabaya kan ikut." Celia cekikikan melihat wajah kesal Roy dari kaca mobil.
"Hhhhmm, tempat makan siang udah dipesan. Aman, Mas Evan."
"Sip, makasih Mbak Lala."
"Mas, digandeng kek! Nanti kalau digandeng yang lain ngamuk! Kayak tadi, nonjok orang." Celia menghentikan langkahnya, cemberut karena Evan nyelonong begitu saja.
"Eh, kirain kamu udah di sebelah aku. Eleuh, gitu aja ngambek. Ayo." Evan tersenyum kecil menghampiri Celia yang ngambek. Gadis itu langsung tersenyum setelah digandeng oleh Evan.
"Memang agak lain Nona satu ini. Katanya pernikahan gak ada cinta, apa gue bisa bahagia ya, Mbak Lala." Asisten pribadi Celia mencibir, ia berbicara dengan Roy mengenai suasana hati Celia beberapa hari terakhir.
"Celia sudah berhasil membuat para cewek iri, tapi dia gak nyadari itu. Followers Mas Evan rata-rata cewek dan ibu-ibu. Siap-siap aja adu mekanik," jawab Roy mengingatkan Lala.
"Sepertinya seru, bolehlah. Eh itu mereka, Pak Tyo dan Bu Liana. Mereka udah salim aja." Lala dan Roy menghampiri keduanya dan saling bertegur sapa.
"Ayo-ayo, pasti sudah pada lapar. Saya juga neh, duh calon mantu makin cantik aja. Dijaga yang betul, Van." Liana menggandeng tangan Celia sambil mengedipkan mata ke arah Evan. Meminta sang anak tidak protes dengan sikapnya.
"Yah, ras terkuat di bumi sudah beraksi. Ada baiknya, kita diam saja wahai para lelaki." Evan pasrah dengan tindakan sang ibu. Liana memang menyukai Celia sejak gadis itu memakai seragam sekolah dasar.
"Gak usah protes, ini demi kebaikan Celia juga." Bisik Tyo kepada sang anak.
"Siap Yah, ngomong-ngomong Surabaya aman?"
"Aman, proyek udah jalan. Kamu jangan terlalu banyak tanggapi Denny. Anak itu memang sedeng."
"Iya, Yah. Yang tadi itu, kelepasan aja. Kalau gak gitu, makin kurang ajar dia nya."
Memasuki salah satu restoran di gedung terminal tiga, mereka makan siang bersama. "Celia suka nasi langgi, pas banget Bu."
"Iya memang sengaja makan disini, ibu juga pengen cobain. Sepertinya enak. Oiya, tadi cincinnya gimana, cocok?"
"Cocok, Bu. Bagus sekali, pas di jadi Celia."
"Syukurlah kalau cocok. Kebaya nya nanti kita fitting sama-sama ya cantik." Liana mengusap pipinya gemas.
"Iya, Bu. Makasih," jawab Celia kikuk.
"Aduh, jangan kaku Nduk. Ibu ini sama aja kayak Bundamu. Orang Jawa tulen tapi modern. Tenang aja, gak akan kamu nyesel nikah sama anakku. Yah, walaupun kadang agak kurang tapi dia bertanggung jawab."
"Bu!" Evan hendak memprotes pembicaraan ibunya dan Celia, namun Liana menghardiknya.
"Wes, ojo protes. Baik buruknya kamu, Celia harus tahu dari mulut kamu dan orangtuanya. Itu sudah paling bener. Gak ditambah-tambahi kalau orang lain yang kasih tahu."
"Iya, tapi gak kayak gitu juga, Bu."
"Mas diam dulu yah, Celia pengen tau dari Ibu. Gak baik lho, marah-marah begitu." Celia menyunggingkan senyumnya karena merasa didukung oleh Liana.
"Wow. Potret keluarga bahagia yah, Budhe yakin mau ambil mantu dia? Kalau gak sesuai harapan, nanti nyesel, lho." Kehadiran Denny merusak suasana makan siang Celia, mata gadis itu basah tidak berani menunjukkan wajahnya.
"b******n!" Evan berdiri dari duduknya dan langsung memukul Denny. "Siapapun orangnya yang membuat calon istriku menangis, berhadapan denganku. Termasuk kowe!"
"Aduh, wes! Den, kowe minggat dari sini. Ini bukan tempatmu! Sana!" Tyo mengusirnya. Keponakannya itu memang selalu membuat masalah dimana-mana. Denny dipaksa oleh Roy untuk keluar dari restoran itu.
"Tolong jangan ganggu majikan kami, atau kamu bertindak lebih dari ini!" Lala mengingatkan Denny agar tidak mengusili Celia lagi.
Suasana sudah tidak kondusif, Celia kembali terisak di pelukan Liana. Gadis itu tidak bersuara. Hanya tetesan air mata yang mengalir di pipinya sudah menjawab apa yang ia rasakan.
Tyo mengeram kesal. Untuk pertama kalinya, ia melihat Celia tidak berdaya. Tyo tidak akan melepas Denny begitu saja. Ia akan berbicara secara khusus kepada Tara mengenai keponakannya itu. "Dia harus membayar mahal, setiap tetes air mata menantuku harus dia bayar, Roy!"