Demi Adek Gemes

1040 Words
Celia turun dari mobilnya, ia memasuki gedung Dirgantara didampingi oleh Lala, asisten pribadinya. "Mbak, itu seragam OB kucel amat. Suruh minta ganti ke HRD. Kurang enak dilihat," bisik Celia kepada Lala. "Nggeh, Non." Lala langsung menghubungi pihak terkait untuk meneruskan komplain Celia. Memasuki lift khusus Direksi, Celia berpapasan dengan Nanda. Mantan pacar sang Bunda yang kini dipercaya Tara memegang cabang Surabaya. Nanda datang ke gedung tersebut untuk memenuhi undangan kantor pusat untuk meeting bulanan. "Halo Om Nanda, apa kabar?" Sapa Celia sopan. "Aih, si cantik. Baek, mau naik ya?" Nanda menjawab sapaan Celia, gadis kecil yang memenangkan hati Rara itu membuat Nanda kagum. "Iya neh, yuk bareng sini aja, Om." Celia memberi ruang kepada Nanda dan sekretarisnya masuk ke lift tersebut. "Jadi kapan? Om diundang, kan?" Pertanyaan Nanda memberikan Celia bersemu merah. "Iya, sudah pasti diundang semua. Tante Prita ajakin yah. Ngomong-ngomong di Surabaya seperti apa?" "Aman, tapi ada beberapa poin yang perlu Om bicarakan sama Papamu. Udah datang belum orangnya?" "Papa kayaknya ke pabrik Bekasi, setahu Celia sih Bunda yang ambil alih meetingnya. Cie, ketemu mantan!" Celia terkekeh kecil karena melihat wajah Nanda yang salah tingkah. "Aduh, untung di lift ini gak ada orang, Nak. Om udah tua, lagian udah cerita lama. Nanti Papamu ngereog lho." "Hahaha, oke-oke. Duluan Om, hati-hati terpesona dengan mantan." Celia cekikikan sebelum lift itu terbuka. Seperti biasa, wajahnya kembali jutek ketika keluar dari lift tersebut. Sempat membalas sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, Celia berjalan melewati ruangannya. "Kita langsung masuk ruang meeting saja, Mbak Lala. Dokumennya udah dibawa sama Bu Egi kok." Menenteng tas kerjanya, Celia memasuki ruangan yang ia maksud. Peserta meeting yang sudah hadir menyapa seperti biasa. Celia mempersilahkan mereka kembali duduk. Walaupun berusia lebih muda dari mereka, Celia mengedepankan etika dan sopan santun. "Apa ada yang belum hadir?" tanya Celia kepada Lala. "Mulai saja, Nona. Orang itu sudah di bawah kok. Sebentar lagi juga datang," bisik Lala memberitahu Celia. "Oke, kalau begitu kita mulai yah." Celia mulai menjelaskan tentang proyek pembangunan mall di kota kelahiran sang Bunda, Malang. Tidak lama kemudian, pintu ruang meeting yang sudah tertutup, diketuk dari luar, Celia mengalihkan perhatiannya dari layar proyektor ke arah pintu masuk. Pandangannya tertuju pada seorang pria berpakaian formal masuk bersama dengan asisten pribadinya. Pria itu adalah Denny, perwakilan Cipta Karya Building yang memenangkan proyek pembangunan mall. "Silahkan duduk, Pak Denny. Kami baru saja mulai," sapa Celia dengan sopan. "Terima kasih dan mohon maaf kepada semuanya." Denny duduk di kursi yang sudah disediakan, lalu menyimak penjelasan yang diberikan oleh Celia. Kurang lebih tiga puluh menit Celia memberikan penjelasan mengenai proyek tersebut. Kemampuan gadis itu boleh dibilang sudah seperti Rara, hanya memang dibutuhkan jam terbang untuk mendukung. "Saya mohon kepada Pak Denny dan tim untuk memperhatikan safety pekerja di lokasi. Apalagi ini, lokasinya di tempat ramai. Dekat dengan sekolah dan tempat umum lain. Sudah pasti rekayasa lalu lintas nya diperhatikan," ungkap Celia. "Oke Bu Celia, sudah sesuai SOP. Kami sudah terbiasa mengerjakan proyek seperti ini, jadi tidak perlu khawatir," jawab Denny meyakini Celia. "Kalau tidak ada lagi, kita akhiri meeting ini. Untuk progres pembangunan, seperti biasa. Saya diberi salinannya. Terima kasih." Celia dibantu oleh Lala membereskan mejanya, beberapa dokumen yang ia bawa sebagai pendukung sudah dimasukkan ke dalam map dengan rapi. "Udeh cantik, pintar pula. Gak heran kalau Rara sama Pak Tara kasih ini proyek ke kamu." Egi memuji kepandaian Celia. Wanita itu masih setia bekerja di Dirgantara, kini posisinya sebagai wakil Rara. "Bu Egi jangan banyak memuji, nanti Celia terbang gak bisa nginjak bumi," jawab Celia terkikik. "Oke deh, saya naik dulu yah. Bundamu udah nungguin, meetingnya belum selesai sepertinya." Sebenarnya Celia hendak menghubungi Evan, pria itu berjanji akan menjemput dirinya untuk makan siang bersama dan mengambil cincin pernikahan mereka. "Kakak jelek kemana ya, Mbak Lala. Tumben belum muncul," ucap Celia gelisah. "Masih dijalan Nona. Sepertinya, yang itu diatasi dulu. Tidak apa, ada saya disini." Lala menunjuk ke arah dimana Denny berada. Pria maskulin itu terlihat menghampiri Celia dengan sombongnya. "Halo cantik, apa kabar? Apa kau sudah benar-benar melupakan aku yang ganteng ini?" Denny hendak mengusap pipi mulusnya, namun gerak cepat tangan Celia menepiskan. "Tangannya tolong dikondisikan, ini kantor bukan di tempat hiburan malam!" Celia teringat pesan Rara untuk melawan jika ia diperlakukan tidak sopan. "Sombong amat, lagian setiap inck tubuhmu aku sudah tahu. Apa yang mau kau sombongkan?" Denny menertawakan penolakan Celia kepadanya. "Di sampingnya kurang sopan, ternyata otak Anda yang bermasalah. Tidak salah jika Mahameru tidak diberikan padamu, kasian!" Celia mengejek Denny. Sukses membuat pria itu murka. "Kurang ajar! Perempuan gak tau diri!" Denny hendak melayangkan tangannya ke arah Celia, namun ditahan oleh Evan. Pria itu datang tepat pada waktunya. "Singkirkan tangan kotormu dari calon istriku!" Evan menghempas kasar tangan Danny. "Hahaha, kau yakin menjadikan dia istri? Tidak salah dengar aku ini?" Denny menertawakan Evan. Pria itu masih saja dengan kesombongannya. "Kupingmu masih normal, kan? Jangan lupa datang ke acara pernikahan kami. Kau tidak perlu susah payah mengingatkan Celia tentang kebobrokanmu. Apa kau tidak malu?" "Untuk apa? Harusnya, calon istrimu yang malu. Bisa-bisanya dengan percaya diri menikah dengan penerus Mahameru. Apa kau tidak risih, jika tubuh calon istrimu sudah pernah dijamah oleh orang lain?" Lagi-lagi Denny berusaha memprovokasi Celia dan Evan. "b******n!" Bersamaan dengan umpatan Evan, pria itu tersungkur karena pukulan telak dari Evan. Ia tidak terima jika Celia dihina oleh sepupunya itu. "Sudah! Ini kantor, aduh! Pak, tolong atasannya dibawa keluar dari sini." Lala memundurkan tubuh Celia agar menjauh. Sementara Roy, ia menahan Evan agar tidak melanjutkan emosinya. "Van, Evan. Udah! Tenang!" Roy sekuat tenaga menahan Evan agar tidak menghampiri Denny. "Buaya model Denny kok bisa hidup, Pakde. Pengen tak hih!" Nafas Evan terengah-engah setelah didudukkan oleh Roy di salah satu sofa tak kasih dari mereka. "Kalian tunggu pembalasanku!" Denny berteriak keras kepada Evan. Baru saja hendak berdiri, ucapan Roy menghentikannya. "Mengalah bukan berarti kalah. Untuk saat ini, ada hal yang lebih utama untuk dilakukan daripada mengurus Denny, Tuan muda Evan." "Sial! Tuan muda opo!" Evan tidak suka dengan sebutan tuan muda, entah mengapa, pria itu lebih suka dipanggil namanya saja. "Makanya, biarkan Denny dengan amarahnya. Kita tunggu saja permainan dia berikutnya," jawab Roy merapikan pakaian Evan yang berantakan. "Kak, apa kau terluka?" Suara Celia yang tiba-tiba duduk di sampingnya, membuat hati Evan tenang. "Demi adek gemes, abang rela terluka."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD