Not Perfect

1007 Words
Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan Tara menyadari itu adalah sebuah kewajaran. "Andai saja waktu bisa diulang, gue lebih milih Celia nangis-nangis gak dikasih izin pergi ke pesta sialan itu!" Tara kembali masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju kamar pribadinya dengan Rara. Untuk saat ini, ia tidak akan menghampiri Celia ke kamarnya. Tara takut tidak bisa menahan emosi karena melihat sang anak menangis. "Kok mukanya suram begitu, ada apa Mas?" Rara yang sedang duduk di depan cermin, sedang mengoleskan perawatan malamnya bertanya kepada sang suami. "Celia dengar Evan ngobrol sama anak itu. Menurut kamu, gimana sayang?" Tara berbaring di ranjang dengan perasaan tak menentu. "Cepat atau lambat, mereka bakal ketemu. Itu tidak perlu dihindari, nanti aku coba ngobrol sama Celia. Mas cukup kasih warning ke anak itu," jawab Rara tegas. "Benar juga, makasih sayang. Kamu selalu dukung suaminya yang ganteng ini." Tara menghampiri Rara lalu memeluk sang istri dari belakang. "Udah tua, masih aja manja. Nanti kalau dilihat Kevin, gimana?" "Kevin dah bobo, tadi aku intip di kamarnya. Celia, biar dulu. Aku gak sanggup kalau liat dia nangis." Tara menuntun Rara berbaring di ranjang. Seperti biasa, Rara sudah hafal betul dengan tabiat suaminya. Namun, belum apa-apa, pintu kamar mereka diketuk. "Yaelah, baru mukadimah udah digangguin. Nasib!" Tara uring-uringan karena acara malamnya dengan Rara terusik lagi. Sementara sang istri, dia hanya tertawa kecil. Rara beranjak dari ranjangnya untuk membukakan pintu. "Sepertinya Celia, Mas." Rara memberitahu suaminya agar tidak berisik. "Hhhmm." Tara memilih bermain ponsel untuk sementara mengalihkan perhatiannya. "Bun, boleh masuk?" Suara parau Celia terdengar oleh Tara. Menghela nafasnya, Tara berpikir sejenak akan berbicara apa. Sebagai ayah, tentu saja Tara ingin memastikan jika anak gadisnya menikah dengan pria yang tepat. "Boleh dong, ayo masuk." Rara menggandengnya masuk ke dalam kamar. "Sini sayang, ada apa? Kamu kok belum tidur?" Tara memintanya mendekat. Gadis itu memang tidak menangis di depan kedua orang tuanya. Namun, raut wajahnya sudah seperti bicara bahwa Celia sedang bersedih. Rara duduk di sebelah Celia, mengusap-usap rambut panjangnya yang digerai biasa. "Celia minta maaf, kalau saja nanti membuat Mas Evan kecewa. Apa mereka tidak keberatan dengan kondisiku, Bun? Papa?" Menundukkan kepalanya, Celia tidak berani menatap keduanya. "Sayang, tidak ada yang mempermasalahkan itu. Jadi, Papa harap kamu tidak memikirkan lagi. Apalagi, Evan sudah sampaikan ke Papa. Dia tidak peduli bagaimanapun masa lalu kamu. Oke?" Tara dengan tenang memberi pengertian kepada anaknya, walaupun ia tahu hal ini tidak mudah untuk dihadapi. "Bagaimana dengan calon mertua Celia? Apa mereka tidak masalah, Pa?" Celia berkaca-kaca, wajah sendu nya membuat Tara dan Rara tidak berdaya. "Mereka seperti Bundamu, sangat menyayangi Celia. Bahkan waktu kamu masih kecil. Yah, mungkin seusia Kevin, gak usah sedih yah. Papa dan Bunda selalu ada untuk kamu," jawab Tara mengusap kedua mata anak gadisnya dengan lembut. "Bener ya, Pa? Celia takut…" Gadis itu sesenggukan di pelukan Rara. Wanita itu dengan tenang, mengusap punggung Celia lembut. "Mau tidur disini?" tawar Rara kepada Celia. Namun, gelengan kepala Celia membuat Tara lega. "Papa kasian, Bun. Celia ngerti kok." Menahan senyumnya, gadis itu akhirnya menyudahinya kegalauannya. Sepertinya, ia datang di saat tidak tepat. Mengusap wajah cantiknya, Celia berpamitan kepada keduanya untuk kembali ke kamar. "Anak pintar, Celia memang sayang banget sama papanya yang ganteng ini. Makasih sayang," ucap Tara sebelum Celia menutup pintu kamarnya. "Mas! Kok gak malu ada anaknya, mana lagi sedih begitu, sempat-sempatnya!" Rara memukul lengan Tara karena kesal. "Lah, kalau gak gitu, mana bisa senyum anaknya. Biarlah papanya dianggap badut juga. Yang penting dia happy." Ada satu rahasia Tara yang tidak banyak orang tau. Dibalik ucapannya yang pedas, sejujurnya ia memiliki hati yang rapuh. Jika sudah menyembunyikan kepalanya di balik bantal, sudah dipastikan jika pria itu menangis. "Ya Tuhan, aku harus apa. Ayah dan anak sama-sama seperti ini," gumam Rara sambil mengusap puncak kepala suaminya. "Besok meeting, kamu yang handle, kan? Aku mau lihat pabrik," ucap Tara di balik bantalnya. "Iyah, gak usah ngomong kerjaan. Udah malam juga, ayo sini tidur. Biasa juga dipeluk. Ini pake malu-malu segala!" *** Rutinitas pagi di kediaman Rara seperti biasa, Kevin yang sibuk menunggu kakaknya selesai berdandan. Si kecil yang protektif seperti Tara itu memastikan penampilan Celia perfect. "Udah cantik, Kak. Yuk turun, Bunda buatin kita ayam goreng, lho!" Kevin menggandeng tangan Celia dengan semangat. "Hhhmm, ayam goreng mentega yah. Mau dong," jawab Celia antusias. "Aromanya sampai ke kamar, Bunda. Wangi menteganya suka." Mengenakan dress berwarna merah muda, penampilan ceria Celia membuat Tara mengedipkan mata kepada istrinya. Kevin dengan sopan mempersilahkan kakaknya duduk terlebih dahulu di sebelahnya, pemandangan menyenangkan bagi setiap orang tua. Melihat anak-anaknya akur satu sama lain. "Makan siang, jadi liat cincin?" tanya Tara kepada Celia. "Iya, Bun. Mungkin habis meeting kali ya. Biar gak terlalu sore juga balik kantornya," jawab Celia sambil menyendokkan nasi di piringnya. "Boleh juga, kamu jangan lupa beli vitamin. Sepertinya stok punya kita udah habis." "Heem." Tara yang sudah memulai sarapannya, hanya menjadi pendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Tara berpikir jika kehidupan sempurna Celia memang harus diberi yang tidak sempurna, mungkin ini cara Tuhan untuk menegurnya agar tidak terlalu jumawa dengan berbagai prestasinya memimpin Dirgantara. Di mata orang lain, Celia adalah gadis kaya raya, cantik dan populer. Siapa yang tidak mau menjadi pendamping hidup gadis itu. Nyatanya, masa lalunya menjadi kerikil kecil Celia meraih cintanya. "Pa, Papa? Celia boleh pakai kartunya agak banyak yah? Mau kirim kado ke Pemda." Celia yang sudah menyelesaikan sarapannya teringat acara anniversary salah satu pejabat pemerintahan yang mengundang dirinya. "Pake sayang, ngapain pake izin segala sih?" "Ya karena nilainya besar, Pa. Celia lagi gak pengen diomeli. Jadi, lebih baik bilang dulu," jawab gadis itu sambil menunjukkan kado yang ia maksud. "Oalah itu, ya udah sok beli." "Oke, Celia jalan duluan, Pa." Mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian, Celia bersama dengan Lala berangkat ke gedung Dirgantara. Perusahaan keluarga yang didirikan oleh sang kakek itu berkembang pesat seiring dengan berkembangnya waktu. "Non, kalau misal ketemu orang itu, gimana?" Pertanyaan Lala menghentikan kegiatan Celia yang tengah sibuk dengan tabletnya. "Sebenarnya gakpapa, Celia aja yang terlalu cengeng. Enak betul dia hidupnya bahagia, sementara Celia tersiksa. Nangis-nangis gak jelas!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD