Masa Lalu Celia

1033 Words
Wajah Evan bersemu merah setelah mendapatkan ciuman di kedua pipinya. Pria itu mengalihkan perhatian Celia dengan menyuapi ice cream agar gadis itu tidak tahu jika ia sedang salah tingkah. "Gak usah pura-pura cool. Aslinya lagi bahagia, kan? Iyalah, dapat ciuman dari cewek cantik." Celia mencibir Evan. Pria itu malah sibuk dengan makanannya yang baru saja datang. "Udah ah, gak enak sama yang di pojokan sana." Evan baru tersadar setelah Roy mengirimkan pesan singkat kepadanya agar tidak bablas ketika berduaan dengan Celia. Pria itu menunjuk meja paling ujung di belakang Celia. "Aih, mereka ngikut aja sih!" Celia uring-uringan karena merasa tidak ada privasi. "Mereka hanya melakukan tugasnya. Gak usah ngamuk," ucap Evan mengingatkan gadis itu. "Ya kali, gue mandi doang kayaknya yang gak diikutin!" "Hahaha, mereka akan berhenti kalau kamu sudah nikah. Namanya orang tua, menunjukkan rasa sayangnya ke anak itu macam-macam caranya. Bersyukurlah masih diperhatikan Papa dan Bundamu." "Ish, keterlaluan! Mereka gak ada kerjaan lain apa?" "Sudah, gak baik marah-marah terus. Mending kita habiskan ice cream nya, terus pulang yah. Udah jam sepuluh lho." "Iyah, sepertinya aku mau take away. Boleh yah, sekalian beliin Kevin sama Bunda." Celia memanggil pelayan cafe untuk menambah pesanan. "Ide bagus, beli agak banyakan gakpapa." Evan bahagia, ternyata Celia tidak semenyebalkan yang ia pikir. Masalahnya, awal pertemuan keduanya Evan merasa dirugikan. Dinner malam itu sepertinya sudah menjadikan seorang Evan yakin seratus persen dengan Celia. Penerus bisnis Mahameru itu memang cukup terkenal di Surabaya. Pria sederhana namun digilai banyak wanita itu memilih menerima perjodohan dari orang tuanya karena sulit mendapatkan restu setelah membawa beberapa wanita untuk dikenalkan dengan keluarganya. "Celia, kau tidak keberatan jika kita sering mondar-mandir Jakarta- Surabaya? Aku belum tau pasti, sebaiknya kita tinggal dimana." Dalam perjalan pulang ke rumah, Evan meminta pendapat calon istrinya. "Yang mudah saja gimana baiknya. Lagian, kalau misalkan gue ikut ke Surabaya juga gak masalah. Ada yang bantu kok disini." Celia seperti menimbang-nimbang bagaimana jika ia meninggalkan Jakarta. "Nanti kita pikirkan sama-sama. Yang paling dekat ya konsep pernikahan. Besok jam makan siang, kita lihat cincin yah. Sepertinya sudah jadi," ucap Evan lagi. "Oke, Mas. Eh, itu hapenya bunyi." Celia menunjuk ponsel Evan yang menyala. "Hhmm, kita minggir sebentar yah." Evan menepikan mobilnya ke parkiran sebuah minimarket agar lebih nyaman. Jiwa penasaran Celia muncul karena Evan begitu serius berbicara dengan seseorang di telepon. "Siapa sih yang call, ganggu orang kencan aja," gumam Celia mulai bete. Menunggu adalah hal yang tidak disukainya. Celia keluar dari mobil hendak menyusul Evan yang belum selesai menerima telepon. Gadis itu menghampiri Evan yang berdiri menyender di badan mobil. "Mas jangan sekali-kali sentuh dia. Aku yang menerima dia, jadi kau tidak bisa menyentuhnya seenak jidatmu!" Evan menutup pembicaraan itu dengan amarah yang Celia tidak tahu penyebabnya. "Eh, kok keluar. Ayo masuk," ucap Evan mengajaknya kembali masuk ke mobil. "Iya, Mas. Itu tadi, siapa? Kenapa marah-marah?" Celia membuka pintu mobil Evan setelah bertanya siapa lawan bicara Evan di telepon barusan. "Yakin ingin tahu?" "Memangnya kenapa? Gak boleh?" Celia bingung dengan pertanyaan Evan. Seolah pria itu tahu jika Celia mengenali lawan bicaranya. "Boleh saja. Neh orangnya." Evan menunjukkan foto pria yang berbicara dengannya tadi. Wajah Celia memucat, setelah sekian lama akhir Celia melihat penampakan pria yang menghancurkan rasa percaya dirinya sebagai seorang wanita. "Nah, kan. Kamu gak boleh marah, dia memang saudara sepupuku. Yang jelas, aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu," ucap Evan lagi. "Di-dia orangnya," jawab Celia terbata. "Iya, aku sudah tahu. Tidak apa-apa." "Kakak gak gimana-gimana?" "Setiap orang punya masa lalu. Dan aku tidak peduli bagaimana kau punya masa lalu. Entah dengan siapapun itu," jawab Evan menyunggingkan senyum tulusnya. "Sebaik itukah dia, Tuhan." Ingin sekali Celia berteriak sekencang-kencangnya. Bagaimana bisa pria sebaik Evan, tidak juga membuat dirinya tertarik. "Celia, kamu gakpapa?" Konsentrasi Evan terpecah karena sambil mengendarai mobilnya. Gadis di sampingnya membuat Evan khawatir. "Gakpapa Mas. Maaf yah kalau aku merusak suasana." Celia menggigit bibir bagian bawah. Wanita itu tidak menyangka jika Evan memiliki hubungan saudara dengan pria itu. "Udah, kamu aman denganku. Tidak usah takut. Oke?" Sepanjang perjalanan, Celia banyak diam. Gadis itu kembali mengingat memori masa kelam itu. "Andai boleh melupakan, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk melupakan kejadian itu. Sayangnya, ingatan itu muncul lagi. Apa sih maksudnya, Tuhan?" "Aku masuk yah, mau ketemu Papa sebentar." Evan menggandeng tangan Celia masuk ke dalam rumah. "Iya, jam segini biasanya ada di depan TV sih. Nah itu, Papa. Gue naik dulu ya, Mas." Celia mencium punggung tangan Tara yang memang sengaja menunggu keduanya datang. "Lho, gak ngobrol-ngobrol dulu, Nak?" Tara sebenarnya hendak mencegah Celia kembali ke kamarnya. Namun, wajah mengantuk dan lelah gadis itu membuatnya tidak tega. "Celia udah ngantuk sepertinya, Om. Biar istirahat saja," ucap Evan memberikan anggukan kepada Celia agar gadis itu meneruskan langkahnya. "Oh, oke. Kita ngobrol di taman yah." Tara membuka pintu masuk taman belakang rumahnya yang terhubung dengan ruang TV. "Om, maaf. Celia tapi sempat dengar saya ngobrol sama Mas. Masih ketakutan, gimana ya?" "Tidak masalah, justru lebih tau di awal tidak apa. Celia harus berani hadapi masa lalunya. Makanya, saya minta kamu memaklumi dia. Trauma itu tidak bisa hilang begitu saja, berdamai adalah jalan terbaik jika Celia mau hidup tenang. Sayangnya, pacar-pacarnya gak ada yang bener. Termasuk di kadal itu!" "Om tenang aja, semoga dengan saya, Celia percaya. Hanya saja, saya masih ragu mengajaknya tinggal di Surabaya. Kemungkinan akan lebih besar terjadi pertemuan dengan Mas kalau Celia tinggal disana," ungkap Evan gelisah. "Sebenarnya tidak juga, anak itu juga sering ke Jakarta dan bertemu dengan Vano dan Nanda. Tidak ada bedanya, Evan." Tara pun sama cemasnya dengan Evan. Bagaimana cara mengatasi trauma Celia. "Kalau Mas dipindahkan ke luar kota, rasanya juga tidak bijak. Harus ada solusi, jika dihindari tidak akan menyelesaikan masalahnya." Evan belum memiliki ide untuk menjauhkan Celia dari pandangan saudaranya itu. "Biarkan Celia hadapi, kamu dampingi dia. Semampu kamu bisa, saya percaya kamu bisa. Sudah saatnya dia hadapi kerikil kecil dalam hidupnya," jawab Tara yakin. "Dengan cara saya?" tanya Evan untuk memastikan ucapan Tara barusan. "Tentu saja, sebaiknya kau pulang. Banyak istirahat biar tidak loyo," ucap Tara memberi Evan semangat. "Baik, Om. Evan pamit dulu, terima kasih atas kepercayaannya." Evan undur diri dari kediaman calon istrinya. Pria itu diantar oleh Tara hingga teras rumah. "Sepertinya, gue kudu maju. Berani-beraninya anak itu muncul!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD