"Kau sudah siap, Baby?" Kepala Dedrick mengintip di celah pintu kamar April yang terbuka. Mereka masih menempati kamar yang terpisah, dan Dedrick belum berani mengajak April untuk satu kamar dengannya. Ia terlalu penakut memang. Namun, tak apa ia sudah merasa senang dengan hanya April mau menerimanya seperti sekarang ini. April sedikit bergumam, hingga memolej ke arah pintu. Dan di sana Dedrick tengah mengintip, dengan kepala yang menyembul di cela daun pintu yang tak tertutup. "Sebentar lagi, aku hanya perlu menyisor rambutku, Dedrick." April tersenyum ke arah Dedrick, "sedang apa kau di sana? Kemarilah, masuk! Jangan mengintip seperti penguntit begitu!" Dedrick tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi, ia merasa malu karena April menganggapnya seperti penguntit. Dan dengan perl

