“Aku masih menunggu kawan,” ucap Sergio seraya terus memperhatikan Dedrick yang tengah menyesap secangkir kopi yang baru saja dibuatkan oleh pelayan. Hal aneh selanjutnya yang Sergio lihat. Sejak kapan Dedrick mengkonsumsi kopi? Karena setahu Sergio, Dedrick lebih suka meneguk segelas tequila daripada menyesap secangkir kopi seperti sekarang ini. Atau, karena dia telah beristri sehingga meninggalkan kebiasaan minumnya? Hem, sungguh hal yang mengejutkan.
“Apa yang ingin kau ketahui Sergio?” tanya Dedrick sembari meletakkan cangkir kopinya di meja kaca yang berada di depannya.
“Aku ingin mendengar penjelasanmu mengenai kabar pernikahan yang baru saja aku dengar. Jujur, aku merasa kaget sekaligus kecewa Dedrick.” Sergio menatap Dedrick dengan tatapan yang begitu serius. Sorot matanya sedikit memancarkan kekecewaan, ya karena dia memang tidak berbohong.
Menghela napasnya pelan, Dedrick ikut menatap Sergio dengan tatapan sungguh-sungguh. Jujur ia merasa tidak enak hati karena mendengar kejujuran yang Sergio ucapkan. Dedrick tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari sahabatnya itu. Namun, memang semuanya ia lakukan secara cepat dan rahasia, hingga hanya sedikit saja orang yang tahu. Hanya kedua orangtua April dan kedua orangtuanya. Tidak lebih.
“Maaf karena tidak memberitahumu soal ini sebelumnya. Karena jujur saja, semuanya terjadi secara mendadak, dan ya, lihat apa yang tejadi sekarang, aku, telah menikah.”
“Tapi… bagaimana bisa? Kau pasti punya alasan kenapa kau bisa tiba-tiba menikah kan?” Sergio masih keukeuh dengan penyangkalannya, ia masih tidak percaya jika Dedrick telah menikah secepat ini. Bahkan diantara mereka berlima baru Januar saja yang telah menikah. Kecuali ada kejadian yang tak terduga sehingga Dedrick harus menikahi gadis itu, tunggu, apa dia masih benar-benar gadis? “atau, jangan-jangan dia hamil duluan?” tebak Sergio cepat setelah berperang dengan spekulasi-spekulasi yang ia pikirkan. “kenapa kau ceroboh sekali? Aku kan sudah sering kali bilang, gunakan pengaman ketika kau melakukannya Dedrick!”
Dedrick menggeleng pelan, ia tidak marah dan tetap tenang, karena ia sudah tahu apa yang akan Sergio katakan. Karena pemikiran pria itu tidak akan jauh-jauh dari hubungan seksual. “Tidak. Dia tidak hamil, belum. Aku belum mebuatnya hamil.”
“Jika tidak, kenapa kau menikahinya hem?” tanyanya dengan kerutan di dahinya. Namun sedetik kemudian sebuah seringaian nakal tersemat di bibir seksinya. “tapi, aku lihat-lihat dia cukup cantik, badannya juga bagus—”
“Jangan coba-coba Sergio, atau aku akan membunuhmu!” ancam Dedrick dengan raut wajah serius.
Sergio terkekeh pelan, matanya menatap Dedrick geli. Ingin rasanya ia kembali menggoda Dedrick. Namun, ia tidak seberani itu karena jika ia lihat, raut wajah Dedrick nampak begitu serius dan Sergio tidak mau mati konyol. “Hei, tenanglah aku hanya bercanda man,”
“Dan aku sedang tidak ingin bercanda saat ini.”
Menghela napasnya pelan, Sergio kembali menatap Dedrick dengan muka sungguh-sungguh. Ia harus mendapatkan alasannya. “Baiklah. Jadi, bisa kau jelaskan secara singkat?”
Dedrick mulai menyamankan duduknya. Ia terlihat lebih rileks dari sebelumnya. “Aku mencintainya, maka dari itu aku menikahinya. Agar tidak ada pria lain yang bisa memilikinya.”
“Huh, dasar! Pria posesif menyebalkan!” Sergio menyebik pelan, matanya menatap Deddrick jengah. Tidak Januar, tidak Dedrick, mereka adalah dua pria posesif yang pernah Sergio kenal. Ayolah, wanita tidak hanya satu di dunia ini, jadi mengapa mereka begitu rela dan buang-buang waktu untuk menyukai satu wanita saja. “Tapi, apa kau yakin jika rasa itu adalah cinta? Bukan obsesi semata?”
“Ku rasa bukan,” ucap Dedrcik pelan, ia nampak memikirkan sesuatu.
“Hem?”
Sebelah tangan Dedrick terulur untuk menyentuk d**a kirinya yang terasa berdegup lebih cepat ketika membayangkan wajah imut milik April. “Jantungku selalu berdegup kencang, dan aku merasa sangat bersemangat ketika akan bertemu dengannya. Bahkan ketika aku berada di sampingnya degupan itu itu tidak mau berhenti. Jadi, apa itu yang dinamakan jatuh cinta?”
Sergio menatap Dedrick bingung, hingga tangannya mulai menyentuk d**a kirinya sendiri, seperti yang Dedrick lakukan. Namun, setelahnya ia menggeleng pelan dan mengendikkan bahunya pelan. “Entahlah, aku belum penah merasakan yang namanya jatuh cinta,” ucapnya setelah ia tidak merasakan apapun saat menyentuh d**a kirinya.
“Hah, pecuma aku bicara padamu jika kau sendiri belum pernah merasakannya. Lebih baik aku bertanya pada Januar.” Dedrick menatap Sergio malas, percuma ia bercerita pada seseorang yang bahkan tidak percaya apa itu cinta.
“Tapi saranku, jangan terlalu menjatuhkan hati kepada seseorang. Karena kau tahu? Jatuh itu rasanya sakit. Tidak ada jatuh yang nikmat.”
Tapi, bagaimana jika ternyata hatiku sudah jatuh sejak lama kepada satu wanita saja?
Sergio menunggu reaksi dari Dedrick. Tapi, karena pria itu terus diam saja dan tidak memberi respon apapun, Sergio memilih untuk bangkit dari duduknya seraya merapikan sedikit jaket denim yang ia kenakan. “Aku pergi dulu, aku harus menemui seseorang.”
Dedrick mengangguk pelan. “Baiklah, hati-hati dan saranku jangan terlalu banyak bermain, kau bisa mendapatkan penyakit yang serius.”
Sergio terkekeh pelan. “Aku tidak bodoh Dedrick! Aku selalu bermain aman dan bersih. No condom no s*x! Tapi, jika aku sudah tidak tahan, maka sesekali juga tak apa.”
Dedrick menggeleng pelan melihat kelakuan Sergio. Bahkan ucapannya tidak pernah berubah sejak sekolah menengah atas dulu, ia selalu saja berkata v****r hingga membuat beberapa teman wanita mereka akan bersipu malu ketika mendengarnya.
Hem, cinta ya? Sergio benar, ia menjadi bodoh karena cinta.
*****
April menatap sendu kearah pemandangan kota Manhattan di siang hari. Kota yang menurut April tidak pernah tidur. Selalu ada keramaian di setiap sudut kotanya. Bahkan, ketika malam menjelang, kota tersebut akan bertambah ramai.
Menghela napasnya lelah, April hanya dapat berdoa jika Dedrick akan mengizinkannya untuk kembali ke Indonesia. Terselip rasa rindu yang amat mendalam di hatinya. Tidak pernah terbayang sebelumnya di hati April jika ia kan di culik oleh seorang pria tampan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. April pernah memikirkan jika ia akan hidup jauh dari keluarga ketika ia berencana untuk kuliah di Jakarta. Namun, ia tidak pernah membayangkan jika akan tinggal diluar negeri bersama pria yang berstatus sebagai suaminya. Percaya atau tidak, ia telah berada di Negara orang sekarang.
Kedua netra biru langit itu menatap sosok yang begitu sempurna menurutnya. Seiring berjalannya waktu, April tumbuh dengan begitu baik, dan Dedrick sangat menyukainya.
Terselip rasa kasihan dalam hatinya ketika melihat keadaan April saat ini. April terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Sebelum ia membawanya ke rumah mereka. Dedrick tahu, April tidak pernah menyentuh makanannya, bahkan ia hanya makan satu kali dalam sehari. Dan lebih parahnya ia hanya akan meminum segelas s**u yang pelayan antarkan setiap paginya.
Rasa teriris juga menghampiri Dedrick, ketika menyaksikan April yang menangis setiap malamnya melalui tayangan cctv yang ia pasang di kamar April. ingin Dedrick meminta maaf, namun itu tidak mungkin. Karena jika Dedrick melakukan hal tersebut maka April akan meminta lebih padanya. Tak apa jika April meminta seluruh hartanya, seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Dedrick akan memberikannya secara cuma-cuma. Namun, jika April meminta pulang, tidak Dedrick tidak bisa mengabulkan hal itu saat ini. Tapi, mungkin nanti.
“Apa yang sedang kau lakukan Baby?” tanya Dedrick seraya berjalan mendekat kearah April, tubuh gadis itu sedikit tersentak ketika mendengar suara Dedrick.
Hanya sebentar, karena setelahnya dapat Dedrick lihat jika tubuh April kembali rileks. “Baby?”
“Memang apa pedulimu?”
“Tentu saja aku peduli padamu, karena kau istriku.”
April tersenyum miring, ia tidak kunjung membalikkan tubuhnya hanya untuk menatap Dedrick. “Benarkah? Istri kau bilang? Aku bahkan tidak tahu kapan aku menikah Dedrick, dan sekarang kau bilang aku adalah istrimu? Yang benar saja!”
“Aku tidak berbohong,” ucap Dedrick tenang, “dan aku juga memiliki buktinya. Jika, kau memang bena-benar istriku.”
“Oya? Bukti apa?” tanya April yang kali ini membalikkan tubunya untuk menatap Dedrick yang tengah tersenyum puas melihatnya, April merasa penasaran. Dan ternyata mudah bagi Dedrick untuk membuat April terfokus padanya.
“Dokumen pernikahan kita, bahkan ada tanda tanganmu disana.”
“Apa? Aku tidak pernah menandatangani dokumen apapun!” pekik April cukup keras. Ia menatap Dedrick garang. Yang benar saja, pria itu pasti berbohong padanya karena seingatnya, ia tidak pernah menandatangani dokumen apapun.
Sedangkan Dedrick, ia tersenyum tipis mendengar ucapan protes dari April, tangannya terulur untuk merogoh saku celana jeansnya, kemudian mengambil sebuah ponsel keluaran terbaru dari brand ternama. Dedrick terlihat sibuk mengutak atik ponselnya hingga menunjukkan layarnya kepada April.
“Lihat? Ini tanda tanganmu bukan?”
Kedua mata April menyipit, lalu membacanya sekilas. Matanya melebar, menatap salinan dokumen yang berada di ponsel milik Dedrick. Dan benar, lengkap dengan tanda tangan miliknya. “Ta-tapi, bagaimana bisa?”
Dedrick tersenyum tipis. “Tentu saja bisa Baby, karena aku menginginkannya.”
“Kau- kau b******k Dedrick!”
“Ya, dan pria b******k ini mencintaimu.”
April tertawa sumbang. “Cinta? Bullshit dengan pernyataan cintamu itu! Cinta tidak pernah memaksakan kehendaknya!”
“Tapi bagiku, cinta itu harus memiliki. Karena hanya orang munafiklah yang bilang jika mereka bahagia melihat seseorang yang mereka cintai bahagia dengan orang lain.”
“Aku membencimu!”
“Dan aku mencintaimu!”
Air mata April menetes, ia tidak sanggup lagi menahannya. Dedrisk benar-benar membuatnya merasa terpojok dan tidak dapat berkutik lagi. Dokumen itu asli, dan berlegalisir sekaligus terdapat materai didalamnya. Lalu, dengan cara apa ia harus pergi dari sini? Atau, haruskah ia memohon kepada Dedrick agar mau memulangkannya?
“Biarkan aku pergi dari sini Dedrick!”
“Tidak akan pernah.”
“Jangan egois! Kau tidak bisa selalu memaksakan kehendakmu pada orang lain!” kepala April menunduk dalam, “Aku mohon, biarkan aku pergi,” ucapnya lirih.
Dedrick menatap April dengan pandangan datar. Jujur, ia merasa sedih melihat April yang menangis dan memohon kepadanya. Namun, ia mencoba untuk menulikan telinganya, membatukan hatinya. “Memohonlah, menangislah. Dan aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu!”
“Kau egois Dedrick! Dan aku sangat membencimu!”
“Ya, aku memang egois. Dan aku juga mencintaimu.”
Dedrick melenggang pergi dari sana. Ia tidak bisa jika harus terus menatap April dalam keadaan lemah seperti sekarang. Dan lebih baik ia memberikan April waktu untuk menyendiri. Tapi, ketahuilah, cinta itu, perlu egois. Karena dengan egois lah kau bisa memiliki seseorang yang kau cintai.