Bab 2 - Seorang Tamu

1657 Words
“Apa?!” April berteriak dengan sedikit keras, hingga membuat beberapa pelayan yang berjaga di sekitar mereka menoleh heran ke arahnya. Napasnya sedikit tidak beraturan, bahkan kini kedua matanya menatap pria bernama Dedrick itu dengan tajam dan tidak percaya. “Yang benar saja! Kau pasti berbohong kan?” “Untuk apa aku berbohong kepadamu?” Dedrick menatap April dengan tatapan datar seakan tidak terjadi apapun. “tidak ada untungnya bagiku.” “Ta-tapi bagaimana bisa?” April nampak begitu kalut, memikirkan beberapa kemungkinan – kemungkinan yang bisa saja terjadi. “Tentu saja karena aku mengginginkannya Baby.” April menatap Dedrick dengan begitu tajam. Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah amarah yang membuncah di dadanya. Ada rasa marah, sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu. “Haruskah? Haruskah semua yang menjadi keinginanmu harus terwujud?” “Ya, tentu saja. Karena aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan.” “Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan apa saja yang bisa menjadi milikmu tuan!” “Tapi buktinya, kau berada di sini sekarang, karena aku menginginkannya.” “Kau adalah pria paling egois yang pernah aku temui. Dan aku membencimu!” April melenggang pergi meninggalkan Dedrick yang masih berdiri kaku di tempatnya. Ia terlalu marah. Tentu saja, gadis mana yang tidak marah ketika ada seorang pria asing yang membawanya pergi dari kedua orangtuanya begitu saja. Dan lebih parahnya, status mereka telah menikah, walaupun April tidak mengetahui bagaimana prosesnya.  Menghela napasnya lelah, Dedrick menatap kepergian April begitu saja. Ada rasa ingin mengejar di hatinya, namun, ia mengurungkannya karena ia tahu bahwa April memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Dan Dedrick tidak bisa memaksanya lebih jauh lagi. “Permisi Tuan,” Lamunan Dedrick buyar ketika seorang kepala pelayan berjalan menghampirinya. “Ada apa?” “Ada tamu untuk Tuan,” “Siapa?” “Tu-“ “Hi, brother!” sapa seorang pria dewasa yang nampak begitu tampan dengan rambut tipis yang terlihat tumbuh di sekitar dagunya. Tatapan jahil lengkap dengan sebuah senyuman terus terpatri indah di wajah adonis miliknya. Hingga langkahnya berhenti tepat di depan Dedrick yang tengah menatapnya tanpa minat. “Ada perlu apa kau kemari?” tanya Dedrick seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans hitam yang tengah ia kenakan. Kedua kaki jenjangnya melangkah lebar menuju sebuah sofa berwarna putih gading yang berada di ruang keluarga. “Tentu saja karena aku ingin mengunjungi sahabat baikku ini, apa kabar dengannya? Apakah ia masih hidup?” Dedrick menatap pria itu dengan tajam. Ia tahu, bahwa apa yang diucapkan pria itu hanyalah sebuah candaan belaka, namun tetap saja, Dedrick akan memberinya sebuah tatapan mematikan. “Jaga bicaramu Sergio!” “Hahaha,” Sergio tertawa dengan begitu keras. Baginya menggoda Dedrick adalah kesenangan tersendiri. Dirasa cukup, Sergio berdeham sedikit keras untuk meredakan tawanya yang terdengar cukup keras. “Tidak perlu terlalu serius Dedrick, karena kau juga butuh bermain.” Sergio nampak mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum jahil. Dan Dedrick tahu, apa arti dari bermain yang Sergio maksud. Karena sudah bukan rahasia umum lagi jika Sergio dikenal dengan julukan cassanova sejak mereka masih duduk di bangku kuliah dulu. Ya, mereka sama-sama lulusan Havard University. “Ah, apa kau sudah mendengar berita itu Dedrick?” kali ini raut wajah Sergio berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. Tidak seperti tadi yang menunjuak raut jahilnya kini Sergio nampak lebih tegas dan berwibawa jika sedang dalam mode serius. “Berita apa?” tanya Dedrick yang kini juga menjadi lebih serius dari sebelumnya. “Januar, aku dengar dia kecelakaan di Bali bersama Vergi.” Wajah Sergio nampak menerawang, mengingat sebuah berita yang ia dengar sejak tiga hari yang lalu, namun ia baru dapat membicarakannya dengan Dedrick saat ini. Karena jadwal mereka yang selalu bentrok dan berlawan, Sergio tidak bisa menemui Dedrick secara sembarangan, begitu juga dengan Dedrick, apalagi di saat perusahaan tekstil miliknya yang tengah berkembang dengan pesat. Dedrick nampak mengangguk pelan, “Ya, aku mendengarnya. Lio yang memberitahuku tiga hari yang lalu.” Menghela napas pelan, Dedrick kembali menatap Sergio, pria itu sepertinya tengah tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri. “Kenapa kau tiba-tiba membicarakan mereka?” Sergio menggeleng pelan, “Tidak, aku hanya kagum dengan perjuangan Januar, ia terlalu gigih mempertahankan satu wanita.” “Memang apa salahnya mempertahankan satu wanita saja? Apalagi jika itu adalah wanita yang kau cintai.” “Tentu saja salah! Apalagi jika wanita itu tidak berbalik menyambut cinta yang kau berikan!” “Menurutku itu tidak salah, cinta dapat datang karena terbiasa, dan aku yakin bahwa Vera juga mencintai Januar. Aku bangga dengan pria satu itu.” “Cinta cinta cinta!” Sergio tersenyum mengejek, “Wanita tidak hanya satu! Masih banyak jutaan wanita dibelahan bumi ini yang dapat kau milikki. Ingat? Kita seorang pria, jika kita tampan, kaya, wanita mana yang tidak akan bertekuk lutut padamu?” “Itu karena kau belum pernah mengenal, dan mengalami apa itu jatuh cinta Sergio.” Tersenyum miring, Sergio nampak menatap Dedrick dengan tatapan mengejek. “Apa enaknya jatuh cinta Dedrick? Cinta hanya akan membuatmu bodoh.” “Aku bertaruh, kau akan merasakan apa itu yang dinamakan cinta.” “Bullshit! Aku tidak percaya dengan apa yang dinamakan cinta. Dan aku tidak akan pernah jatuh cinta! Ingat itu!” “Baik. Aku akan selalu mengingatnya. Tapi jika aku benar dan kau yang kalah, kau harus merelakan satu unit gedung apartemenmu di Downtown Los Angeles. Bagaimana?” “Kau gila?! Satu unit gedung apartemen?” “Why not? You have more than a hundred apartement buildings spread throughout the United States!” “Ya, dan aku akan membangun beberapa unit gedung lagi tahun ini.” “Jadi? Apa kau takut menerima tantanganku ini Mister Cassanova?” “Are you crazy?!” Sergio tertawa lepas, dan Dedrick hanya melihatnya dengan sebuah senyuman tipis. “Tentu saja aku akan menerimanya. Kau tahu, aku tida pernah takut dengan apapun—” “Kecuali kucing, jangan lupakan itu, kau takut dengan hewan berbulu yang menggemaskan itu Sergio!” Dedrick tersenyum puas ketika mendapati wajah pias milik Sergio ketika ia mengucapkan nama dari hewan kesukaan April. “Aku tidak takut!” “Ya, kau takut, bahkan kau pernah lari terbirit ketika Abigail membawa kucingnya ke kelas.” Abigail, dia adalah gadis berambut hitam sebahu yang fanatic dengan hewan berbulu menggemaskan tersebut. bahkan  tak  jarang Abigail akan membawa dua tas ke kampus. Satu tas yang berisi laptop dan alat keperluannya untuk kuliah dan satunya adalah tas khusus untuk hewan peliharaan seperti kucing. Dan jika sudah seperti itu, maka Sergio akan memilih menjaga jarak radius lima meter dari tempat Abigail berada. “Aku tidak takut Dedrick! Aku hanya alergi dengan bulunya. Tolong kau garis bawahi! Takut dan alergi itu berbeda!” “Bagiku sama, karena kau sama-sama melarikan diri.” “Baiklah! Terserah kau saja! Yang jelas aku menerima tantanganmu dan kau—” Dedrick mengeryit, menatap aneh ke arah Sergio yang tiba-tiba mengantungkan ucapannya tanpa ingin melanjukannya kembali. Tatapan mata Sergio tetep fokus melihat ke arah belakang tubuh Dedrick, bahkan Dedrick merasa Sergio akan meneteskan air liurnya sebentar lagi, karena kini pria itu tengah menatap penuh minat. “Ada apa Sergio?” “Siapa dia?” bukannya menjawab pertanyaan Dedrick, Sergio justru melontarkan sebuah pertanyaan lain yang tidak Dedrick mengerti. Penasaran dengan apa yang pria itu maksud, dengan pelan Dedrick memutar kepalanya, mencoba melihat sebuah objek yang mampu menarik semua atensi Sergio. “Baby?” dengan cekatan Dedrick berdiri dari duduknya, melangkah pelan menghampiri April yang tengah berdiri di belakangnya, menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau membutuhkan sesuatu?” Dedrick nampak begitu telaten memperhatikan semua kebutuhan April selama tinggal bersamanya. Walaupun dalam satu minggu belakangan ia belum menampakkan wajahnya pada April karena urusann pekerjaan, namun, ia tetap memantaunya dari rekaman cctv dan juga laporan pelayan yang bertugas. “Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meminta kepada pelayan, tidak perlu turun ke bawah.” “Em, Dedrick kau belum menjawab pertanyaanku. Who’s she?” “Ah ya, aku lupa memberitahumu Sergio. She’s April, my wife.” “Wife?! Are you kidding me?!” dan sesuai dengan dugaan Dedrick sebelumnya, mengenai reaksi yang akan Sergio berikan. Dan benar saja, pria itu nampak sedikit histeris. “You are lying!” “Untuk apa aku berbohong padamu?” “Ta-tapi, kapan kau menikah? Aku bahkan tidak pernah melihat kau berkencan selama ini!” Sergio sedikit berteriak, kemudian berbisik pelan, namun Dedrick masih dapat mendengarnya dengan baik. “Kecuali dengan medusa itu.”  Sergio menatap Dedrick dengan tatapan menuntut, meminta pria itu untuk menjelaskan semua situasi yang tengah terjadi. Jujur saja, Sergio merasa sedikit shock— ah tidak, sangat shock ketika ia mendengar bahwa Dedrick telah memiliki istri, apalagi hal tersebut ia dengar dari mulut Dedick sendiri. Ayolah, sahabat mana yang tidak kaget dan kecewa ketika mendengar sahabatnya telah menikah dan lebih parahnya tidak mengundangnya. Jujur saja, Sergio sedikit kecewa mendengar hal tersebut. Namun ia juga harus mendengarkan penjelasan Dedrick terlebih dahulu. Dedrick adalah pria yang tampan, tentu saja. Namun, ia sedikit cuek sehingga membuat para gadis takut untuk mendekatinya. Namun, Dedrick bukanlah pria introvert yang tidak akan pernah pacaran seumur hidupnya. Karena ia juga memiliki beberapa mantan ketika sekolah menengah atas dulu bahkan kerap bergonta-ganti karena rasa mudah bosannya. Hingga sebuah hal berbeda yang Sergio temukan sejak tiga belas tahun yang lalu. Ketika ia sanggup bertahan cukup lama ketika berkencan dengan seorang wanita asal Prancis yang juga merupakan teman satu angkatan mereka ketika duduk di bangku kuliah. Mereka berkencan hingga tiga tahun, dan sesuatu membuat hubungan mereka kandas, dan yang Sergio tahu, wanita itu pergi bersama pria lain. Sergio membenci wanita itu, tentu saja! Dan sejak sat itu Dedrick tidak pernah terlihat berkencan dengan siapapun, dan sekarang justru ia berkata telah menikah. Yang benar saja! “See? Bahkan temanmu sendiri tidak mempercainya Dedrick, apalagi aku!” “Baby tunggu—” Namun, April justru melenggang pergi meninggalkan Dedrick tanpa mau mendengar penjelasannya. “Jadi, ada yang mau kau jelaskan padaku Dedrick?” Dedrick menghela napas seraya menatap Sergio lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD