Bab 1 - Dedrick Agler Northman

1551 Words
Dengan tiba-tiba tubuh April melompat turun dari ranjang. Membuat pelukan yang tadi dilakukan oleh pria yang tidur disebelahnya terlepas begitu saja. "Ka-kau! Siapa kau!" ucapanya sedikit histeris. Jemari telunjuknya menunjuk-nunjuk pria didepannya dengan tatapan mencurigai. "Ba-bagaiman bisa kau berada dikamarku? Dan apa yang telah kau lakukan dikamarku? Padaku! Kenapa kau tidur memelukku?!" Tanpa mengacuhkan teriakan histeris dari April, pria itu bangkit dari tidurnya, kemudian beranjak dari sana dan berjalan menghampiri April yang masih menatapnya dengan penuh waspada. "Ja-jangan mendekat!" tubuh April mundur secara perlahan, hingga langkah kakinya berhenti tepat saat punggungnya membentur tembok dibelakangnya. Gadis itu terlihat panik ketika menyadari bahwa pergerakannya terbatas. Dan pria asing didepannya itu semakin berjalan mendekat. "Menjauh! Atau aku akan membunuhmu!" Pria itu tersenyum. Namun, bukannya berhenti dan berjalan menjauh, pria itu justru semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh April yang sudah menubruk tembok dibelakangnya. Mengulurkan kedua lengan kekarnya, pria itu mengurung tubuh April dalam kukungan lengannya. "Kau memang sudah membunuhku Baby," Pria itu mendekatkan wajahnya kearah wajah April, hingga berhenti tepat disamping telinga gadis itu, kemudian berbisik pelan. "Membunuhku dengan cintamu." Meneguk salivanya perlahan, bulu kuduk April meremang seketika. Pria didepannya ini, sudah gila! Bagaiman bisa ia berbicara seperti itu pada dirinya? Sedangkan ia tidak mengenal siapa pria didepannya ini. "A-apa maksudmu? A-aku tidak mengerti." Mata April menatap pria itu takut. Ia harus waspada dan tidak boleh lengah begitu saja. "Tidak." Ucapnya kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya, namun masih dengan kedua lengan kokoh yang mengurung pergerakan April. Tak apa, setidaknya April masih dapat bernapas dengan lega. Mata biru langit itu menatap April dalam, "Apa kau takut padaku?" ucapnya penuh selidik. "Ya-ya, kau sedikit menakutkan." Ucap April dengan wajah yang masih menatap waspada kearah pria itu. Bukannya marah atas jawaban yang ia dengar, pria itu justru terkikik geli, matanya menatap April dengan pandangan jahil dan akhirnya melembut. "Kau terlalu jujur Baby, masih sama seperti dulu." "Dulu?" Dahi April mengeryit dalam. Ia tidak salah dengar bukan? Pria itu mengatakan dulu. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Namun seingat April mereka belum pernah bertemu. Bahkan April belum pernah melihat pria didepannya ini. Bukannya menjawab, pria itu justru mengendikkan bahunya tak acuh. Seakan pertanyaan April hanyalah angin lalu baginya. Pria itu menatap April menelisik. Kemudian bertanya dengan gaya angkuh khas pria dewasa yang kaya. "Apa kau tidak lapar? Kau harus makan Baby." "Siapa kau sebenarnya?" tanya April ketika pria itu hendak mengapit tangannya dan membawanya pergi. "Kau akan tahu nanti. Sekarang, kau ikut aku." Dengan menyekal pergelangan tangan April, pria itu hendak mengajak April untuk pergi dari ruangan tersebut. Namun, "Tidak," April melepaskan cekalan tangan itu. Ia tidak boleh boleh percaya begitu saja terhadap orang asing. Apalagi orang asing tampan seperti pria didepannya ini. Ia harus lebih berhati-hati. Menghela nafasnya pelan, pria itu menatap April dengan pandangan yang sedikit lelah. Mungkin ia membutuhkan sedikit tenaga ekstra untuk dapat membujuk April agar percaya terhadapnya. Karena gadis itu tidak mudah percaya terhadap orang asing. "Ayolah, aku tidak akan melukaimu. Trush me," "Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Apa jaminannya?" Mata April menatap penuh selidik pada pria itu. Wajahnya memang terlihat begitu sungguh-sungguh dan dapat dipercaya. Namun ia tidak boleh lengah begitu saja. Karena bisa saja itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kedoknya yang sebenarnya bukan? "Nyawaku." Ucap pria itu dengan tegas dan lantang. Matanya menatap April dengan penuh keyakinan. "Nyawaku adalah jaminannya jika aku berbuat buruk terhadapmu. Kau bisa membunuhku dan aku tidak akan mengelak." Wajah April speechless seketika. Pria di depannya ini pasti sudah gila! Mana mungkin April akan membunuh seseorang dengan alasan ia dibohongi? Itu alasan yang sungguh tidak masuk akal! "Tidak." Ucap April cepat. "Aku tidak ingin membunuhmu. Aku tidak mau menjadi seorang pembunuh." Tubuhnya bergidik ngeri ketika ia membayangkan dirinya sendiri membunuh seseorang. Menikam pria itu dari belakang menggunakan sebuah pisau, persis seperti adegan di film-film thriller, ah tidak! Menontonnya saja April tidak berani, apalagi melakukan adegan di dalamnya dengan tangannya sendiri? Itu mengerikan dan menjijikkan! "Kalau begitu, jangan bunuh aku. Kau bisa menciumku saja," Ucapnya dengan senyuman jahil, seraya menunjuk pipi kanannya menggunakan jemari telunjuknya. Menunjukkan pada April bahwa tempat itulah yang harus ia beri ciuman. "Kau gila!" Ucap April dengan sedikit membentak. "Ya, dan itu karena kamu." Kepala April penggeleng heran, pria ini memang benar-benar sudah gila. Pria bule yang gila! "Jadi, kau akan ikut bersamaku atau tetap disini sepanjang hari?" Tanyanya lagi, namun kini tersirat sebuah ketegasan didalamnya. "Apa imbalan yang akan aku peroleh jika aku ikut denganmu mister?" tanya April dengan nada yang sedikit mengejek. Dan sepertinya pria itu tidak tersinggung karena perbuatannya tersebut. Karena justru pria didepannya itu menatapnya dengan sebuah senyum misterius yang membuat April sedikit mengerutkan dahinya. "Kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang bersarang di otak cantikmu itu." Ucapnya tepat sasaran. April meneguk salivanya perlahan. Itu adalah penawaran yang sangat menarik. Ia akan mendapat semua jawaban atas semua teka-teki ini. Tapi, bagaiman pria itu tahu jika ada banyak sekali pertanya yang beterbangan didalam otak pintarnya ini? Ah, itu tidak terlalu penting. Karena yang penting sekarang adalah, ia bisa mengetahui semua jawaban itu. Dengan sedikit antusias April menganggukkan kepalanya, namun ia mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Ia tidak mau pria itu merasa menang atas ketertarikan April. "Baik, aku ikut denganmu. Tapi kau harus berjanji padaku?" "Ya, aku akan berjanji Baby." "Dan jangan memanggilku Baby!" Ucap April dengan nada marah. Entah mengapa ia tidak menyukai panggilan tersebut, ia seperti anak kecil manja yang harus dipanggil Baby oleh daddynya. Dan April membencinya, ia bukan gadis manja! "Kenapa? Aku menyukai panggilan itu." Ucapnya seraya mengedikkan bahunya tak acuh. Dan setelahnya pria itu beranjak pergi meninggalkan April yang mengikutinya dari belakang. ***** "Kau sudah berjanji padaku!" ucap April sedikit membentak pada pria yang sialnya tampan itu. Sudah lebih dari tiga jam yang lalu semenjak mereka menyelesaikan sarapan paginya. Dan bukannya menjelaskan hal ia janjikan tadi, pria itu justru mengajaknya berkeliling rumah megah bergaya khas eropa yang telah April tempati selama kurang lebih satu minggu ini. Dan selama satu minggu itu merindukan kedua orangtuanya yang berada di Indonesia. "Baiklah-baiklah, apa yang ingin kau tanyakan Baby?" April mendengus pelan ketika panggilan itu kembali terucap. Ia tidak suka dipanggil seperti itu. Seperti anak kecil menurutnya. "Kenapa aku bisa berada disini?" Itu adalah pertanya yang ingin sekali ia tanyakan sejak satu minggu yang lalu. Ketika ia terbangun disebuah kamar di kota Manhattan! "Tentu saja karena aku menginginkannya." "Apa?" Dahi April mengerut dalam. Karena pria itu menginginkannya? Apa maksud dari ucapannya itu? April butuh kejelasan, bukan hanya jawaban sekilas. "Lagi? Apa yang ingin kau tanyakan?" What?! Yang benar saja? Bahkan jawaban itu tidak membantu apapun! Dan pria itu telah menyuruhnya untuk menanyakan sebuah pertanyaan lagi? Yang benar saja bung! "Statusku!" Ucap April cepat, lebih baik ia mengalah dan menanyakan pertanyaan lainnya walaupun ia akan mendapatkan jawaban sekilas seperti tadi. "Kenapa aku bisa menikah? Dan dengan siapa aku menikah?" April menatap pria itu tajam. "Dan kapan akau menikah? Kenapa aku tidak tahu apapun?!" April berucap dengan sedikit cepat, dan diakhiri dengan sedikit teriakan frustasi. Membuat pria itu sedikit menyunggingkan sebuah senyuman geli. Apa menurut pria itu ini lucu? Ayolah, ini tidak lucu sama sekali, ini menyangkut hidup dan masa depan April kedepannya. "Hei, calm down Baby, tenanglah, aku kan menjawabnya, oke?" Ucapnya sedikit menenangkan. Namun tidak dengan senyuman geli. Dan jika saja pria itu tetap tersenyum geli tadi, mungkin April akan mencekiknya saat itu juga. April menghembuskan nafasnya kesal. Kesabarannya telah hampir habis, dan ia tidak menyukai situasi seperti ini! Satu minggu yang lalu, sehari setelah ulangtahunnya yang ke delapan belas tahun, April terbangun disebuah kamar yang begitu asing untuknya. Hingga seorang pelayan memberitahunya bahwa ia tengah berada di Manhattan, Amerika Serikat! Dan lebih ajaibnya lagi, pelayan itu bilang bahwa ia telah menikah! Terkejut? Tentu saja! Mengelak? Pastinya! April ingin pergi dari sana dan kembali bertemu dengan kedua orangtuanya! Namun selama seminggu berlalu, ia belum bertemu juga dengan pria yang berstatus suaminya itu. Ia ingin pulang, April merindukan orangtuanya! "Jadi, kau sudah tahu bahwa kau telah menikah?" Pria itu menatap April dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. April mengangguk cepat, matanya menatap pria itu tajam. "Ya, dan aku tidak tahu siapa suamiku." "Memang apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan suamimu itu?" tanyanya penasaran. "Tentu saja aku akan meminta untuk dipulangkan! Aku tidak mau berada disini! Aku mau pulang ke Indonesia!" April berkata dengan emosi yang nampak menggebu-gebu. Namun, sedetik kemudian, nadanya sedikit memelan dan nyalinya terasa menciut ketika merasakan atmosfer disekitanya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Matanya melirik pria itu dengan takut, dan benar, pria itu tengah menatapnya dengan tajam dan rahang yang mengeras. Ada apa? Apa April salah berbicara? "Ekhm," pria itu berdeham pelan untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba saja tegang. "Kenapa kau mau pulang? Bukankah disini enak? Semua kebutuhanmu terpenuhi?" Memang benar, apapun yang ia inginkan disini terpenuhi dengan begitu apik dan sempurna. Tapi April tidak mau tetap berada disini bersama orang-orang yang tidak ia kenal. Disini memang nyaman, namun tidak senyaman dan sehangat suasana rumahnya. April menatap pria itu ragu, lalu bertanya dengan nada yang pelan. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi, dengan siapa aku menikah, kapan, dan dimana? Mengapa aku bisa disini?" "Apa kau sangat ingin mengetahui hal itu?" "Tentu saja!" jawab April cepat. Lalu matanya menatap pria didepannya dengan menelisik, memperhatikan dari atas dan kebawah. "Dan, ngomong-ngomong, siapa namamu?" "Ah, aku? Aku, Dedrick Agler Northman. Dan aku adalah pria yang kau maksud itu. Aku, adalah suamimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD