Itulah sepenggal kisah hidup yang aku jalani. Sebuah kisah cinta pertama yang entah bertepuk sebelah tangan atau tidak. Kisah yang tak tau dimana ujungnya. Entah berakhir bahagia atau malah menyakitkan.
Apa aku menyesal? Jawabnya tak pernah ada kata penyesalan dihidupku. Semua yang aku lakukan penuh pertimbangan. Aku tak pernah mengedepankan egoku dalam bertindak. Aku juga tak mau menggunakan perasaan saat membuat keputusan. Aku melakukan semua tindakan menggunakan logikaku, mengkaji kemungkinan-kemungkinan. Seandainya tidak ada kemungkian-kemungkinan pada setiap tindakan, sudah aku pastikan aku sudah lama melakukannya. Tapi itu semua bukanlah realita. Kita hidup didunia nyata, dimana keinginan kita tidak akan pernah sama dengan kenyataan.
Ada orang yang bisa menerima kenyataan. Ada orang yang mau mengambil segala resiko. Harapan yang besar beresiko besar, itu sudah pasti. Namun aku lah yang tak mau mengambil resiko itu. Aku lah yang tidak siap akan kenyataan. Pikiran-pikiran buruk menghantuiku, sehingga mengalir indah diurat natiku. Berkembang menjadi momok menakutkan dijiwa dan sanubariku. Tak ada yang aku salahkan disini. Ini lah keputusanku.
Walau ada sedikit harapan akan cintaku yang berbalas, namun sudah dapat kupastikan dia sudah bahagia dengan hidup barunya. Entah keyakinan darimana, namun lima belas tahun tidak bertemu, akan banyak hal yang sudah berubah. Potret wajah laki-laki dibenakku, hanya lah laki-laki remaja. Namun waktu terus berjalan, waktu akan mengubah segalanya.
Bukan aku berasumsi, namun teman-temanku yang lain sudah membina rumah tangga mereka masing-masing. Hanya aku yang menunggu cintaku akan datang menjemputku. Semua ini hanyalah semu belaka. Tak ada bahagia bila tak ada pengorbanan. Hanya aku yang berada diruang hampa kedap suara, dihantui momok menakutkan itu.
Tapi dari itu semua, tak ada yang tak mungkin. Semua mungkin dimata Tuhan. Mungkin kami tidak dipertemukan selama ini agar kami lebih kuat dari sebelumnya. Agar cinta yang kami miliki kekal abadi hingga di akhirat kelak. Aku yakin, masih ada cinta untukku. Aku yakin, semua anak manusia ditakdirkan untuk bersama.
Hanya satu yang harus aku tekankan, aku harus lebih bersabar. Menjalani hidup tanpa beban apa-apa. Bila aku ditakdirkan meninggal tanpa pendampingpun, aku akan menerima dengan ikhlas. Aku akan ikhlas akan semua jalanku. Agar apapun takdirku kelak, akan ku jalani dengan lapang d**a. Aku berserah diri hanya kepadaNya.