Sekarang
Indra Hardianto. Seperti janjiku lima belas tahun yang lalu. Aku tak akan pernah melupakan namamu dari hati dan pikiranku. Namamu terukir indah dihatiku. Rasa itu, bukannya berkurang malah semakin tumbuh. Perasaan ini bagaikan tunas yang tumbuh subur dihatiku. Semakin hari tunas itu semakin berbentuk dengan akar yang kuat dan kokoh. Seperti itulah perasaanku kepadamu.
Dulu aku tak tau apa nama perasaan ini. Setelah tumbuh dewasa, aku baru mengerti perasaan apa yang mampu menggerogoti hatiku. Perasaan yang tak pernah aku inginkan, hadir begitu saja dihatiku saat pertama kali aku melihatmu. Namun tiada penyesalanku akan semua itu. Malah aku sangat menikmati perasan indah itu. Ada kalanya debaran dijantungku begitu kuat bila kamu disampingku. Aku terpesona akan sosok tampanmu dan senyummu yang mampu memikat hatiku. Masih segar diigatanku, kala melihat senyummu. Andai saja aku bisa melukis, akan kulukis wajahmu dengan tinta emas. Agar aku bisa memandangimu dalam diam. Kata demi kata yang kurangkai saat ini, tak luput dengan senyum dibibirku. Aku sudah tau perasaan apa yang kurasakan belasan tahun yang lalu. Walau kita tak bertemu pandang bertahun-tahun lamanya, tapi aku yakin rasaku padamu akan tetap sama. Iya, aku tau perasaan C I N T A namanya. Cinta yang tumbuh begitu saja dihatiku, dan tetap aku jaga sampai hari ini.
Tak ada seorang laki-lakipun yang mampu menggetarkan hatiku. Bukannya aku tak pernah menjalin kasih dengan seseorang. Namun sayang seribu sayang, perasaan itu tak sama. Tak ada debaran dihatiku saat aku bersamanya. Tak ada perasaan salah tingkah saat dia menatapku. Hanya kamu yang bisa meluluhkan hatiku. Hanya kamu yang mampu melumpuhkan semua indra yang ada ditubuh ini. Tak akan ada yang bisa menggantikan kamu dihatiku.
Aku tak tau dan tak akan pernah tau. Apakah aku pernah ada dihatimu? Apa kamu pernah menganggap aku ada? Apakah kamu pernah menatapku dalam diam? Semua pertanyaan ini hanya kamu yang sanggup menjawabnya. Rasanya mustahil menanyakan ini langsung kepadamu. Sejak pertemuan terakhir kita waktu itu, sejak saat itulah aku tak pernah bertemu kamu. Aku tak pernah mencari keberadaanmu karena aku yakin hatiku yang akan menemukanmu.
Tak pantas rasanya aku mengharapkanmu membalas rasa cintaku ini. Tapi apa iya aku tak pantas? Rasa-rasanya semua orang menemukan cintanya. Apa hatiku mencintai orang yang salah? Tapi kenapa namamu masih terukir indah dihati ini? Jika seandainya mesin waktu itu ada, aku tak akan pernah merubah masa laluku. Bagiku semua yang terjadi sudah suatu keharusan. Begitulah skenario hidup yang harus aku jalani.
Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Semua yang terjadi sesuai kehendakNya. Mencintaimu dalam diam sudah seharusnnya aku lakukan. Seandainya aku jujur menyatakan perasaanku waktu itu, masih ada dua kemungkinan. Kemungkinan kita masih bersama menjalin sebuah keluarga bahagia, atau malah sakit yang tiada obatnya yang aku rasakan. Bagiku kemungkinan tetaplah kemungkinan, tak bisa ku ubah sebagai sebuah kepastian.
Aku tahu kita sudah sama-sama dewasa. Ada kemungkinan kamu menemukan cintamu dan hidup bahagia dengannya, atau masihkah kamu menunggu cinta datang padamu? Entahlah. Tapi dimanapun kamu, kamu akan selalu dihatiku. Cintaku bukanlah obsesi. Cintaku murni apa adanya. Tak akan pernah aku nodai cinta suci ini. Cinta yang hanya aku serahkan kepada kamu seorang. Percayalah, hanya kamu yang bisa membuka hatiku yang terkunci rapat. Sebab kunci itu hanya ada padamu. Tanpa kamu sadari, kamu sudah mengunci hati ini hingga hatiku hanya tertuju padamu. Hati ini sudah dipenuhi namamu seorang hingga tak ada ruang kosong barang sejengkalpun. Sungguh sebegitu besarnya cintaku kepadamu.
Wanita mana yang tak berharap dicintai oleh laki-laki yang dicintainya? Namun bila takdirku hanya mencintai tanpa dicintai, aku bisa apa? Jangan katakan aku berputus asa. Bila itu aku lakukan, mungkin cinta itu hanyalah kenangan belaka. Aku tak pernah putus asa mencintaimu. Aku yakin segenap jiwa dan hatiku hanya untukmu. Aku akan tetap setia menunggumu hingga ajal menjemputku. Aku ingin kamu menjadikanku pasanganmu baik didunia maupun disurga kelak. Namun jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, aku tak ingin kisah kita berakhir seperti ini.
Kisah ini bukanlah akhir dari segalanya. Karena kisah ini akan menjadi awal pencarian cinta antara aku dan kamu. Entah kapan aku dan kamu akan menjadi kita. Tapi aku tetap sabar menunggu waktu itu tiba. Semoga keajaiban itu akan segera datang. Amin…