Di dalam butik, pemilik butik menyambut Naya dan Brian dengan antusias. "Ah, sudah datang, rupanya." Kedua tangannya disatukan. "Ibu, apa mau coba pakaiannya sebelum dipasang payet?"
"Eh, iya, boleh." Naya menyerahkan Ami pada Brian.
"Mari sini ikut aku, Bu."
Sebelum pergi, Naya membungkuk pada Abdul. "Dul, kamu sama Daddy ya. Mama ke sana sebentar."
Bocah itu mengangguk. Brian melihat-lihat pakaian yang dipajang sambil menggendong Ami, sementara Abdul mengekor Brian.
"Oh, Mister." Seorang gadis menyapa bule itu. "Ada yang perlu dibantu?" Ternyata seorang pramuniaga.
"Saya sudah pesan baju jas lengkap dengan kemejanya. Apa sudah selesai?"
"Yang warna apa?"
"Abu-abu."
"Rasanya sudah." Gadis itu pergi ke dalam dan keluar membawa setelan jas berwarna abu-abu yang masih dalam gantungan. "Yang ini?"
"Iya, benar."
"Mister mau coba?"
"Boleh." Namun Brian kebingungan. Ia harus menitipkan Ami pada siapa? Dilihatnya Abdul yang mengikutinya di samping. Pria bule itu kemudian membungkuk. "Abdul. Bisakah Daddy titip adikmu sebentar? Daddy hanya mencoba baju jas itu." Ia menunjuk pada setelan jas yang dipegang gadis itu.
"Bisa!" Abdul mengangguk cepat.
Ami diturunkan. Brian mengikuti gadis pramuniaga itu ke tempat lain. Ami yang ditinggal begitu senang. Ia berlari-lari sambil melihat deretan gaun yang digantung.
"Ami ... kamu mau ke mana?" Abdul mengikuti adiknya dari belakang.
Gadis kecil itu riang berlari. Tiba-tiba ia berhenti pada gaun berwarna pink yang bertabur payet warna warni. Ia menyentuhnya.
"Amii ... kamu mau apa?" Abdul melebarkan kedua mata.
Ami menarik manik-manik berwarna putih di rok gaun itu tapi tak bisa lepas. Ia menunduk dan menggigit manik-manik itu lalu mengunyahnya.
Seketika Abdul berteriak. "Eh, Ami. Jorok! Itu bukan makanan!" Ia menarik adik kembarnya tapi Ami tak mau melepas kunyahannya. Bahkan bertahan dengan berpegangan pada baju apa pun yang bisa diraihnya di rak besi hingga tarik menarik itu membuat roboh rak besi dan menimpa keduanya. Tak lama terdengar tangisan Ami yang tertimbun pakaian.
Orang-orang yang mendengar suara benda jatuh dan anak kecil menangis, segera berdatangan. Mereka melihat rak yang sudah jatuh ke samping dengan tumpukan gaun yang berserakan di lantai. Terlihat di tengah-tengah ada gaun yang bergerak-gerak. Naya dan Brian yang datang belakangan saling pandang dan curiga, pasti ini ulah anak-anak lagi.
"Ami ...." sebuah kepala bocah laki-laki keluar dari tumpukan gaun. Ia kemudian berusaha mengeluarkan Ami dari timbunan rok.
Naya yang melihat Abdul segera tahu, pasti ada Ami di dekat situ. Ia segera berjongkok bersama Brian. "Ya, ampun, Amii ...." Ia merapikan rambut Ami yang berantakan.
Abdul berhasil membantu adiknya keluar, padahal ia sendiri ingin menangis tapi berusaha ditahan. Namun bibirnya sudah mengerucut ke depan. Abdul dibantu Brian berdiri sedang Ami dipeluk Naya.
"Adek nakal, Ma ... dia makan mutiara ...," adu Abdul sambil merengut.
"Apa? Mutiara?" Naya segera memperhatikan mulut Ami, tapi tak ada apa pun di mulutnya. "Ami, apa kamu menelan sesuatu?"
Gadis itu menggeleng walaupun masih menangis. Naya memberi dekapan hangat dan menoleh pada Abdul. "Dul, kalo adek makan sesuatu dilarang dong, Dul ...."
"Udahh, huaahh ...." Dan pecahlah tangis Abdul yang sedari tadi ditahannya. Sebagai kakak ia harus tegar tapi ia tidak bisa.
"Oh, maaf ya. Mama keras sama kamu ya, Dul." Naya berbicara lembut sambil merentangkan satu tangannya pada Abdul.
Abdul menghambur ke dalam pelukan ibunya. Ia menangis sementara Ami malah sudah berhenti. Sambil memeluk Abdul, Naya menghapus air mata di pipi Ami yang tembam itu.
Brian bisa melihat betapa merepotkannya punya anak kembar seperti mereka ini. Untung saja Naya begitu sabar mengurus keduanya.
Ia kembali mengingat masa-masa mereka dulu di Prancis. Naya yang melahirkan di sana, dibantu teman-teman satu flat untuk mengurus bayi kembarnya. Mereka bergantian mengurus si kembar karena Naya juga sedang sekolah di sana.
Brian salah satunya. Meski tahu Naya seorang janda tapi ia sudah jatuh hati pada wanita itu sejak pertama bertemu. Ia ikut teman-teman yang lain menjaga si kembar sampai Naya lulus sekolah masak. Kemudian Naya sempat bekerja di sana hingga jadi koki sebuah hotel.
Kepulangan Naya ke Jakarta, karena ia ingin kembali dan membuka sebuah toko kue. Brian mengikuti dan akhirnya menyatakan cinta. Butuh pemikiran panjang bagi Naya untuk menerima cinta Brian karena masa lalu yang membuatnya trauma laki-laki. Kini di saat ia menerima pinangan Brian untuk menikah, sang mantan suami tiba-tiba muncul.
"Sepertinya kita harus bergantian mencoba pakaian," sahut Naya pada Brian.
"Iya. Maaf ya, Naya. Aku lengah," sesal Brian.
Naya tersenyum manis. Brian pria yang pengertian. Karena itu, siapa yang tak jatuh hati padanya? Wajah tampan, pekerjaan mapan dan sabar. Dibanding ... memikirkan Devan membuat emosi Naya kembali tak terkendali.
****
Mobil Brian berhenti di sebuah gedung apartemen, tapi hanya anak-anak dan Naya yang turun. Mobil Brian kemudian pergi.
Devan mengerut dahi melihat yang terjadi. 'Kenapa Brian pergi? Apa ... dia tidak tinggal di sini?' Seketika terlintas sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri. Penasaran, ia turun dan mengikuti Naya.
Wanita itu menggendong Ami dan menggandeng Abdul berdiri di depan lift. Ada beberapa orang juga ikut menunggu lift.
"Kenapa Brian tidak bersamamu?" Pertanyaan tiba-tiba Devan mengagetkan Naya.
Wanita itu menoleh melihat keberadaan Devan lalu mengacuhkannya. "Apa urusanmu!" jawabnya ketus. "Kau mengikutiku ya." Naya merendahkan nada bicaranya karena tidak ingin jadi perhatian umum. Tidak hanya mereka yang ada di sana, sehingga ia tak berani bicara keras-keras.
Abdul mendongak memperhatikan Devan. Ia bingung kenapa pria ini terus mengikuti mereka. Apalagi sempat mendengar kalimat 'anak kita'. Siapakah pria ini bagi ibunya?
"Naya ... katakan yang sebenarnya. Kamu belum menikah dengan Brian, 'kan?" desak Devan.
Naya merengut, tapi ia hanya menghadap lift, tak mau melihat mantan suaminya.
Seketika ada rasa senang menyelimuti hati Devan. Masih ada kesempatan, entah bagaimana caranya. Sepertinya ia tidak bisa mendesak Naya. Ia harus cari akal bagaimana agar Naya mau menerima keberadaannya dulu.
Pintu lift terbuka, semua orang ikut masuk, termasuk Devan. Naya melihatnya membuat ia semakin cemberut saja. Namun wanita itu hanya bisa merengut sambil menatap pintu lift. Ketika ia turun sambil menggandeng Abdul, Devan masih mengikuti. Disitulah Naya mulai marah. "Kenapa kamu mengikutiku terus sih!" Dahinya berkerut menatap Devan dengan mata menyipit.
"Eh, aku ingin tahu di mana kamu tinggal." Pria itu bicara pelan sambil mengusap belakang kepalanya.
"Aku tinggal di salah satu unit di sini! Puas?! Sekarang kau bisa pergi!" usir Naya.
Devan menoleh pada lift yang telah tertutup. "Tapi aku tidak bisa kembali. Aku tidak punya kunci untuk turun." Ya, semua penghuni di sana memakai kunci kartu untuk menekan tombol lantai.
Naya membuka tasnya tapi kemudian Devan mendekat. Wanita itu mendongak dengan dahi yang lagi-lagi berkerut.
"Eh, Naya. Kita 'kan saling kenal. Bisakah aku bertamu ke rumahmu?"
Naya menyorot tajam ke arah pria itu. "Kamu jangan coba-coba ...."
"Nay, perutku lapar. Mengetahui kita punya anak, aku sangat senang. Bisakah aku mengenal mereka lebih dekat? Dari tadi aku mengikutimu hanya untuk mengetahui di mana kamu tinggal. Tolong Naya, aku sangat bersyukur kau telah melahirkan mereka."
Mata Naya berkaca-kaca. Melihat dari wajah sang mantan yang terlihat tulus, akhirnya ia menyerah. "Ya sudah. Ini kuncinya. Tolong buka pintunya. Kamar 328."
Devan sangat senang Naya mulai percaya padanya. Setidaknya ia harus memenangkan kepercayaan Naya dulu agar bisa dekat dengannya.
Sebenarnya Naya hanya memikirkan anak-anak. Tidak ada salahnya anak-anak mengenal siapa ayahnya walau mereka sudah tidak bersama lagi.
Pintu dibuka. Mereka masuk. Naya membawa anak-anak ke kamar mereka. Devan melihat apartemen yang cukup luas itu. Ia kemudian mengikuti Naya ke kamar anak-anak. "Boleh aku tahu siapa nama mereka?"
Bersambung ....