Bab 5. Mengenal Si Kembar

1175 Words
Naya sedikit malas menjawabnya tapi sebenarnya Devan berhak tahu. Karena itu ia terpaksa menjawabnya. "Ini Aminah Dahlia dan Abdullah Adirama. Mereka kembar." Devan menatap keduanya dengan rasa bangga. Ternyata ia sudah punya anak sebesar ini rupanya. Si kembar mulai penasaran. "Ini siapa, Ma?" tanya Abdul penasaran. Ia heran pria itu mengikutinya hingga ke kamar. "Ini ...." Naya melirik Devan sekilas. "Papa." "Papa?" Abdul melirik Devan. Adiknya hanya melihat sebentar lalu sibuk mencari mainan. "Eh, sudahlah. Mama mau beres-beres." Naya sudah menyingsingkan lengan baju dan berbalik. "Eh, Naya." "Apa?" Naya kembali menoleh. Devan sepertinya enggan meminta tapi terpaksa. "Boleh aku minta makanan sedikit?" Tiba-tiba ia begitu lapar ketika menemukan ketiga harta karun ini. Naya mendelik dengan rasa sebal sambil menghela napas. "Ya sudah. Aku buatkan mi saja." "Terima kasih." Devan menyatukan kedua tangan, lega. Ia kini beralih pada kedua buah hatinya. Betapa ia tidak menduga kejadian malam itu telah membuahkan hasil si kembar ini. Hidupnya selama ini lengkap sudah. Hanya ... Naya sudah menjadi orang lain. Adakah kesempatan untuk mereka bisa kembali bersama? Dipandanginya punggung mantan istri yang kini telah menjadi ibu yang bergerak menjauh. Walaupun begitu, Naya tidak selembut dulu. Pastilah Devan yang telah ikut andil dalam perubahan ini. "Kenapa Papa masih di sini?" Devan menoleh pada si kecil Abdul. "Memang kenapa?" "Ruang tamu 'kan di sana." Abdul menunjuk ke arah luar. "Oh." Devan kembali melihat Abdul. Wajahnya sangat mirip dirinya hanya versi mini. Jika saja Devan mencukur brewoknya yang lebat, mungkin orang akan mengira mereka kembar, beda waktu lahir. Atau yang lebih umum, menganggapnya ayah dan anak. Itu masih bisa dimaklumi. Betapa menggemaskan melihat si kecil yang lebih tampan dari dirinya itu. "Apa Papa boleh kenalan dengan kalian?" "'Kan udah." Abdul masih belum bergeming dari tempatnya, sementara sang adik sudah mengambil sebuah boneka beruang dan duduk di lantai karpet karet sambil bermain mainan lain. "Mmh, lebih dekat, begitu?" Abdul memandangi pria itu dengan kening berkerut. "Untuk apa?" Devan tersenyum simpul. "Memang tidak boleh berkenalan lebih dekat?" Abdul masih mengerut kening. "Kamu mau ambil Mamaku ya?" Ia bertelak pinggang dengan mulut merengut. Kini senyum Devan semakin lebar. "Masa begitu? Aku ini bukan orang jahat. Aku ini papamu." Ia mencoba meyakinkan. Kerutan di dahi Abdul makin dalam. "Papaku?" Diturunkannya kedua tangan dari pinggang. "Papa mama ... sepertinya pasangan." Ia bergumam sendiri, tengah berpikir. "Jadi kamu papaku?" 'Cerdas juga anak ini. Dia benar-benar keturunanku.' "Iya." Abdul melihat lagi pria yang ada dihadapkan. Kalau diperhatikan, pria itu memang mirip dirinya. 'Jadi dia ini papaku.' "Lalu ... kenapa kalian berpisah?" "Mmh." Seketika Devan bingung harus mulai dari mana. "Kalau orang dewasa, ada saja yang membuat pasangan jadi tidak betah bersama." "Berarti, Papa jahat dong?" Mendengar ini, Devan kesulitan menelan ludah. Ia tak tahu bagaimana menyangkal kesalahan yang memang dibuatnya. Di dapur, Naya sibuk memasak mi buat Devan. Setelah itu meletakkannya di mangkuk saji dan diletakkan di atas meja. Ia kemudian ke kamar si kecil. Dilihatnya Devan sedang menemani Ami bermain boneka. "Dev, mi kuahnya sudah jadi!" Namun, seketika, mata wanita itu melebar saat melihat sekeliling. Kamar itu kembali berantakan karena si kecil telah membongkar mainnya di lantai. Ia hanya bisa menghela napas. Devan mendongak dan terlihat senang. Di sudut lain ruangan, Abdul menyendiri dan tidak mau bergabung dengan Devan. Ia main kapal terbang, sendirian. "Terima kasih, Naya." Pria itu berdiri dan melangkah ke ruang tengah. Namun ia menoleh ke belakang mendapati Naya masih melihat lantai yang berantakan oleh mainan. "Biarkan saja, Naya. Mereka masih main. Nanti saja kalau mereka sudah tidur." Naya pun akhirnya mengikuti Devan ke ruang tengah. Namun bukan untuk menemani pria itu makan, melainkan merapikan rumah. Ia mengeluarkan vacuum cleaner untuk membersihkan sofa dan karpet. Selagi Devan makan, Naya sibuk membersihkan rumah. Suara vacuum itu bising tapi Devan menikmatinya. Tiada hari yang senikmat hari ini. Andai saja dulu ia tak menceraikan Naya, ia pasti melihat keramaian rumahnya seperti hari ini. Sejak ditinggal Naya, rumah serasa sepi seperti kuburan. Tidak ada pemandangan seperti melihat istrinya membersihkan rumah atau suara anak kecil di ruang sebelah. Kalaupun ada pastinya suara para pembantu di rumah yang sedang membersihkan rumah. Itu pun tidak boleh sampai berisik bila ia sedang ada di rumah. Sungguh berbeda dengan unit apartemen ini. Seakan ia ingin memindahkan seluruh isi ruangan itu ke rumahnya agar ada yang sedang membersihkan rumah atau suara anak-anak yang sedang bertengkar soal mainan. Betapa mahal harga sebuah penghianatan. Ia benar-benar menyesali keputusannya waktu itu pada Naya. Tak terasa air matanya mengalir saat menyendokkan mi ke dalam mulut. Ia sangat menyesal. Bisakah ia mendapatkan kembali apa yang sudah hilang dari sisinya? Ketika Naya mematikan vacuum, ia tak sengaja melihat Devan makan dengan air mata berlinang. Ia tentu saja terkejut. Awalnya ia menyangka Devan datang karena ingin mengenal anak mereka, si kembar Abdul dan Ami tapi melihat wajahnya yang tampak sedih, ia berpikir ulang tentang pendapatnya itu. Apa yang membuat Devan mencarinya? Apa bukan karena anak? "Ehem." Naya berdehem sejenak. Devan yang tersadar, segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia malu, Naya melihat dirinya menangis. "Kamu tidak ke kantor? Kami ingin tidur siang. Cepat habiskan minya!" Devan menunduk. "Aku ingin di sini. Aku ngantuk. Boleh 'kan aku tidur di sini?" "Apa?!" Mata Naya menyorot tajam. "Enak saja! Kita sudah tidak muhrim lagi!" "Kalau begitu, aku tidur di tempat anak-anak saja," rajuk Devan. Wajahnya jadi seperti anak manja. "Tidak bisa, tetap tidak boleh! Aku 'kan sudah bercerai denganmu. Mana boleh!" Naya tetap protes dengan permintaan Devan. "Lagipula, bagaimana dengan istrimu? Pasti dia marah besar!" Tiba-tiba Devan kembali bersikap dewasa. "Jadi itu masalahmu? Aku belum menikah lagi, Naya. Sejak kamu pergi ..." Naya terkejut. Namun ia berusaha tak peduli. "Itu bukan urusanku! Itu masalahmu! Jadi, cepat selesaikan makananmu dan pergi dari sini! Aku mau bersih-bersih!" Ia langsung menyimpan vacuum dan melepas celemek. Kemudian masuk ke kamar. Setelah membersihkan make up, Naya berganti baju dan kemudian merebahkan diri di kamar. Rasanya menyenangkan karena ia lelah dan kemudian tertidur. **** Naya terbangun dengan tersentak. Ia ingat kembali, mantan suaminya masih ada di rumah. Setelah mengenakan kerudung instannya, ia keluar. Di luar sepi. Pergi ke mana Devan? Suara anak-anak juga sunyi hingga ia pergi ke kamar anak-anak dan membuka pintu. Ternyata Devan tidur dengan anak-anak di ranjang. Ia memeluk Ami yang memang gampang didekati, dan di punggungnya ada Abdul yang tidur dengan nyenyaknya. Betapa menenangkan melihat mereka tidur bersama. Walaupun banyak hal yang masih ia sesali tentang Devan, tapi buah hati mereka juga butuh sosok seorang ayah. Seringkali Abdul menanyakan tentang orang tuanya yang hanya sendiri tidak sama dengan orang lain, Naya hanya bisa menghela napas. Devan juga nampak kurus dan tak terurus. Naya pikir karena istri Devan terlalu egois. Namun ketika mendengar Devan belum menikah lagi, lalu apa yang terjadi dengan selingkuh mantan suaminya waktu itu? Bukankah Devan menceraikannya karena ingin menikah dengan Lita? Kalau perkara tidak disetujui oleh orang tua Devan, pria itu bisa menjadikan wanita itu istri simpanannya. Kalau ingin, selalu ada cara, bukan? Naya menggelengkan kepala cepat. Kenapa ia pusing memikirkan ini? Bukankah urusan mantan suaminya itu bukan urusannya lagi? Hanya ... pasti karena mengetahui tentang si kecil, pria itu mengunjunginya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD