Devan bergerak pelan. Ia mulai menggeliat dan membuka matanya. Ia kaget ada Naya tengah menatapnya. "Naya ...?" Ia berusaha duduk dengan pelan sambil mengucek-ngucek mata. Baru kali ini tidur dengan nyenyak walau cuma sebentar.
"Kamu ngak pulang?"
"Kamu ngak keluar kamar dari tadi." Devan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menatap sekitar. "Anak-anak tadi kusuruh merapikan sendiri mainannya dan ternyata bisa."
Naya melihat sekeliling. Ia baru menyadari mainan anak-anak sudah terkumpul di tempatnya masing-masing. Ia terkejut melihat kenyataan ini. "Tapi sekarang kamu harus pulang. Ini tidak baik untukku kalau kamu berlama-lama di sini. Lagipula aku sebentar lagi akan menikah dengan tunanganku."
Devan menatap Naya yang wajahnya begitu teduh. Tidak adakah cinta yang tersisa untuknya? Bukankah dulu Naya sangat mencintainya? Apakah kini cinta itu telah musnah tanpa sisa? "Tidak bisakah kamu memikirkan keberadaanku, Naya? Kita sudah punya anak, dan aku bersedia berubah untukmu."
Kini mata Naya menyorot tajam dengan mulut merengut. Ia menarik tangan pria itu dengan kasar agar turun dari ranjang. "Keluar! Aku bilang, keluar, keluar! Aku sudah bilang jangan ganggu hidupku lagi. Aku mau menikah sebentar lagi, jadi jangan coba-coba halangi aku!" Ia mendorong Devan hingga hampir jatuh dari tempat tidur. Anak-anak terbangun karena suara keras sang ibu.
Ami menangis. Naya segera menggendongnya tapi kembali mendorong Devan keluar kamar. "Ayo, keluar!"
Devan mengangkat kedua tangannya. "Iya, iya, maaf." Ia sendiri kaget dengan kemarahan tiba-tiba mantan istrinya itu dan bergerak keluar. "Berapa lama lagi kalian akan menikah?" Wajahnya tampak kecewa.
"Tak sampai sebulan. Tinggal 21 hari lagi." Naya mengucapnya dengan wajah dingin.
"Apa?" Devan berhenti dan memutar tubuhnya ke belakang. "Naya ...."
"Dengar ... aku tidak suka diungkit-ungkit lagi tentang masa lalu! Bagiku semua itu sudah lewat! Jelas?!" Kemarahannya nampak belum hilang dari wajah wanita cantik itu. 'Kenapa orang ini masih mengungkit-ungkit masa lalu? Tidakkah dia tahu, akibat perbuatannya, butuh waktu lama untuk aku menyembuhkan luka ini? Sekarang setelah semuanya membaik, kenapa dia tiba-tiba muncul? Tidakkah dia tahu trauma yang kuderita pasca perceraian itu membuat aku tak lagi percaya laki-laki? Kenapa di saat-saat begini kita harus bertemu lagi?'
Devan hanya bisa menghela napas. Ia memutar tubuhnya ketika Naya kembali mendorongnya ke pintu depan. Dengan tubuh lemas ia melangkah keluar saat wanita berkerudung itu membuka pintu.
"Mama!"
Naya menoleh. Abdul mengejarnya.
"Mama pergi sebentar, Sayang, mengantar Papa ke lift."
Bocah itu mengangguk. Naya dan Devan kemudian menunggu lift. Ketika pintu lift terbuka, pria itu masuk dan Naya menggeser kartu yang dibawanya pada layar dekat tombol, lalu menekan tombol lantai satu.
Sebelum pintu ditutup, Devan masih menyebutkan keinginannya. "Aku masih boleh 'kan ke sini lagi?"
Naya menanggapinya dengan cemberut dan dahi berkerut. Pintu tertutup tanpa jawaban. Namun, di luar dugaan, si kecil Ami berkomentar. "Acian, Mama. Tata acian." ( Kasihan, Mama. Papa kasihan.) Kepalanya yang bersandar pada bahu Naya, diangkatnya sambil menatap sang ibu.
"Sudah, Sayang. Kamu tidak tau, seberapa menyebalkannya Papamu itu." Naya bicara sambil merengut. Dibawanya Ami kembali melangkah ke tempat tinggal mereka.
Abdul masih menunggu. "Mama, Kenapa Mama marah-marah. Papa salah apa?"
"Papamu itu menyebalkan!" Naya menurunkan Ami.
"Apanya, Ma?" Abdul tidak melihat ada hal aneh yang membuat Naya harus marah-marah. Karena itu ia mengerut dahi.
Naya menghela napas. "Ha ... sudahlah, kamu masih anak-anak. Tidak akan mengerti masalah orang dewasa." Ia melihat Abdul sambil mengusap kepala bocah itu dengan lembut. "Apa kamu mau tidur lagi, Dul? Sini, mama temani. Maaf ya, dengar mama marah-marah, begini." Ia kembali membawa kedua anaknya ke kamar.
Devan berjalan gontai keluar gedung apartemen. Masihkah ada kesempatan baginya untuk membujuk Naya membatalkan pernikahannya? Setidaknya ada jawaban kenapa Tuhan mempertemukan mereka kembali. Ia harus berusaha, entah bagaimana hasilnya. Yang penting berusaha!
Dengan penuh semangat ia kembali ke mobilnya.
****
Devan turun dari mobil. Ia sudah ada di lobi. Dicobanya menelepon Naya dengan nomor teleponnya yang lama, dan ternyata tersambung! Naya masih memakai nomor telepon lamanya? "Halo?" Mata Devan melebar penasaran.
"Iya, apa, Devan?" Suara Naya seperti malas mengangkat teleponnya.
"Kau masih memakai nomor telepon lamamu?" Devan nampak terkejut.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Eh, tidak apa-apa." 'Berarti dia tahu aku pernah meneleponnya berkali-kali tapi tidak diangkat. Apa saat itu dia masih kesal ... atau sedih?'
"Kenapa meneleponku?" tanya suara dari ujung telepon dengan malas.
"Eh, aku datang lagi. Bisa menjemput aku di bawah?"
"Apa? Kenapa kamu datang lagi? Ini jam berapa, Devan? Masih pagi. Anak-anak bahkan belum aku buatkan sarapan!" Terdengar protes Naya karena didatangi mantan suami pagi sekali.
Mendengar suara cerewet Naya, pria itu tersenyum senang. "Ini aku bawakan bubur ayam buat sarapan." Devan mengangkat plastik belanja di tangan dan melihatnya.
"Hh ... ya sudah!" Naya masih mengomel ketika menutup telepon, tapi Devan tak bisa berhenti tersenyum.
'Apa dia secerewet itu bila punya anak?' Namun baginya itu tak masalah. Ia malah makin merindukan wanita itu setiap saat.
Naya menjemputnya bersama si kecil Ami dalam gendongan. Ami nampaknya baru bangun tidur.
Devan segera bergabung dengan masuk ke dalam lift yang tak lama kembali tertutup. "Baru bangun, Sayang ...." Ia mencubit dagu si kecil Ami yang mungil. Sempat melirik Naya yang sedang memperhatikan dirinya menggoda Ami, Naya langsung melengos tak peduli.
"Tataa ... ain, yuk?" (Papa ... main, yuk?) ajak Ami sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kita sarapan dulu ya?" Devan memperlihatkan yang dibawanya.
"Apa?" Mata Ami penasaran.
"Bubur ayam."
"Hah ... auu ...!" Gadis kecil itu menyatukan telapak tangannya yang kecil.
Devan tersenyum lebar. Rasanya aneh melihat si kembar yang berlainan jenis kelamin ini. Yang satu cadel dan manja sedang yang satu lagi bicaranya lurus seperti orang dewasa. Kalau tidak melihat wajah mereka, orang pasti tidak yakin kalo keduanya kembar.
Ketika sampai di unit apartemen Naya, Abdul menyambutnya dengan tangisan. Di kedua tangannya ada mainan robot kecil yang tangannya lepas. "Mamaa ... robot Adul, Maa ...."
Naya menurunkan Ami. "Kenapa lagi?"
"Pataah ... Pasti adek yang patahin, huaa ...." Air matanya mengalir dari kedua sudut mata Abdul.
Ami sendiri tampak tidak peduli dan tidak terlihat merasa bersalah juga. Ia malah sibuk memperhatikan bawaan Devan.
"Mana ... sini papa lihat." Devan memberikan bungkusan itu pada Naya dan kini mendekati Abdul.
Bocah itu memberikan robot mainannya. Sebentar kemudian, robot itu sudah kembali seperti semula. Betapa girangnya Abdul, mainannya kembali sempurna.
Devan mengusap sisa-sisa air mata di pipi Abdul dengan kedua ibu jari dengan lembut. "Makanya, jangan nangis dulu. Lihat .... ini 'kan ngak patah, cuma lepas."
Abdul mengangguk senang.
"Abang! Cini ...." Ami memanggil dengan tangannya. "Ada bubul ayam." Ternyata gadis kecil itu sudah duduk di meja makan sambil menikmati bubur yang dibawa Devan bersama ibunya. Kakinya bergoyang-goyang tanda senang. Ami memang tubuhnya sedikit gemuk dibanding Abdul karena suka makan.
Devan mendudukkan Abdul di samping Ami, dan ia duduk di sebelahnya. Naya memberikan bubur yang masih dalam wadah styrofoam pada Devan dengan segelas air putih.
"Terima kasih."
Naya kembali ke kursinya dan melirik baju Devan yang menggunakan jas seperti kemarin. "Kamu mau ke kantor? Kenapa mampir ke sini?"
"Mmh?" Devan sudah mengambil sendoknya. "Tak enak rasanya makan sendirian."
"Kamu 'kan bisa makan di kantor atau dengan teman bisnismu." Naya masih mengunyah.
Bersambung ....