Bab 7. Si Kembar Ke Kantor

1179 Words
Devan melirik Naya yang tak mau melihat ke arahnya. Ia mulai membuka tutup styrofoam dan menyendok buburnya. "Rasanya lebih enak makan dengan keluarga sendiri." Naya kembali meliriknya, ingin mempertanyakan ucapan barusan, tapi tidak jadi. Sepertinya ia tahu jawabannya. Akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan makannya. "Kamu tidak bekerja? Apa pamanmu yang membiayai hidupmu? Apa aku bisa bantu?" "Apa?" Seketika Naya berhenti mengunyah bubur dan melirik pria itu dengan satu alisnya naik. "Apa aku terlihat terlalu miskin hingga harus dikasihani?!" jawabnya ketus. "Eh, bukan gitu ...." Devan mulai menyadari kata-katanya mungkin ditanggapi salah oleh Naya. Naya beranjak berdiri dengan pandangan geram ke arah Devan. "Gini-gini aku lulusan baking school di Perancis, ya. Aku kembali ke Jakarta, juga karena membuat toko kue yang sekarang sudah berjalan setahun. Aku bisa kok, mencukupi kebutuhanku diriku sendiri dan anak-anak walaupun cuma dari toko kue saja. Sorry, ya!" Ia melengoskan wajahnya dengan angkuh. Devan jadi ikut-ikutan berdiri karena merasa bersalah. "Eh, maaf. Maksudku tidak begitu. Aku hanya ingin membantu untuk kebutuhan anak-anak ...." Pria itu coba tersenyum, tapi sangat sulit melihat Naya sudah terlanjur ngambek. "Maaf ... aku tak bermaksud merendahkanmu. Malah menurutku kamu sangat hebat. Sekarang saja, kamu sudah punya usaha sendiri setelah sekolah masak. Aku bangga padamu." Devan berusaha tersenyum seramah mungkin. Naya melirik Devan dari sudut matanya, tak percaya. Malah penampilan wanita yang masih cantik setelah mempunyai anak kembar itu makin menggemaskan. Devan sangat suka gerakan bulu mata Naya yang lentik ketika bergerak dari bawah ke atas. Sangat indah. Ia berdehem sebentar agar tak terbawa arus keindahan yang barusan dilihatnya. "Ayo, kita makan lagi." Keduanya kembali duduk. Naya masih tampak kesal walau berusaha melanjutkan makannya dengan enggan. "Jadi, kamu kenapa gak ke toko?" Gantian pria itu bertanya. "Kebetulan babysitter anak-anak cuti pulang kampung, jadi terpaksa aku gak ke toko dulu. Tapi pegawaiku sudah tahu pekerjaannya jadi bisa ditinggal." Ia menyuap bubur ke mulutnya. "Kamu yakin?" "Apa?" Naya melirik Devan yang asyik mengunyah. "Tidak ada yang penting untuk dilihat?" "Sebenarnya ada, tapi aku tidak bisa meninggalkan anak-anak terutama Ami. Dia segala ingin tahu tapi gak ngerti kalo bahaya." "Tinggalkan saja padaku. Aku bisa menjaganya," pinta Devan. "Hah?" Naya menatap Devan tak percaya. "Devan, bukankah kamu ingin ke kantor?" "Oh, aku pemilik perusahaan sekaligus CEO jadi aku bisa kok, kerja di rumah." Devan menanggapi dengan santai. "Kamu yakin?" Naya masih terperangah. Mengurus anak kecil gak gampang, lho!" Devan kembali mengunyah. Ia kembali tersenyum. "Mmh, tenang saja. Kau 'kan lihat kemarin semuanya baik-baik saja? Tinggalkan saja anak-anak denganku, jangan takut. Aku 'kan ayahnya." Pria itu melirik mantan istrinya. "Kalau bisa sih bagus. Ada satu kue ulang tahun yang agak rumit menghiasnya, dan aku ingin lihat apa pegawaiku bisa membuatnya atau tidak, karena selama ini aku selalu mengawasi mereka bekerja. Walaupun bisa, tapi aku ragu dengan pesanan kali ini." Naya sampai berhenti mengunyah karena ingin bercerita. "Ya, kalo begitu, pergi sajalah. Biarkan anak-anak sama aku." Devan kembali menyuap buburnya. Naya melirik Devan. Di kepalanya sudah terbayang toko miliknya. Apalagi Devan bisa membuktikan bisa ditinggal bersama si kecil dengan aman kemarin, walau hanya beberapa jam. hingga akhirnya Naya memutuskan untuk pergi. "Ya sudah. Aku titip anak-anak ya. Ingat, perhatikan Ami, karena kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya kemudian." Iya ... ayo habiskan dulu buburnya, baru pergi." Tak lama, Naya sudah berganti pakaian. Ia juga sudah memandikan si kembar. Devan yang menunggu di ruang tengah sambil nonton TV, melihat penampilan mantan istrinya yang nampak sederhana, semakin cantik. Ia heran kenapa dulu ia tidak pernah memperhatikan Naya seperti sekarang? Apa karena dulu ia terlalu tenggelam dengan masa lalu sehingga bisa kembali pada Lita? Padahal mantan kekasihnya itu sempat menghilang setahun dan kembali ketika ia sudah menikah dengan Naya. Harusnya ia curiga karena Lita pergi tanpa pesan dan tidak bisa dihubungi. Ke mana dia waktu itu? Bisa saja saat itu ia sudah berhubungan dengan orang lain, kenapa dirinya mudah sekali dibohongi? Lagipula sekarang ia tahu, ia mencintai Naya. Namun sudah terlambat. Mereka sudah bercerai dan ia baru sadar Naya mengandung anaknya. Pasti tak mudah bagi Naya mengandung dan membesarkan anak itu sendirian sementara ia juga harus sekolah. Devan melihat anak-anak kembarnya itu tumbuh menjadi anak yang ceria saja, sudah sangat bersyukur. Berarti Naya telah mengurus buah hati mereka dengan baik walaupun tanpa kehadirannya. "Ya, sudah. Berangkatlah." Naya mendekat. Ia menyerahkan kartu apartemen pada Devan. "Ini kartu cadangan, jangan sampai hilang." "Iya." **** Baru saja Devan duduk kembali di sofa ruang tengah, ponselnya berdering. Ia melihat nama asistennya, Ludi. "Ada apa?" "Pak, Bapak kapan bisa ke kantor? Kita 'kan harus rapat mingguan." Suara bariton terdengar di ujung sana. "Hari ini aku bekerja dari rumah. Tunda saja rapat mingguannya. Nanti kalo aku sempat datang hari ini, aku akan ke sana." "Lalu, bagaimana dengan pertemuan dengan klien kita, Kinasih jam sembilan?" 'Aduhh, aku lupa. Ternyata ketemunya hari ini ya. Hh ....' Devan memijit dahinya. "Itu tidak bisa ditunda?" "Tidak bisa, Pak. Aku bikin jadwalnya aja susah karena mereka bawa orang juga dari luar negri. Katanya sih orangnya pulang besok." 'Aduhh ....' Pria itu menyentuh dahinya karena bingung. "Kalau begitu, jemput aku sekarang! Aku akan kirim alamatnya padamu." Setengah jam kemudian, Devan sudah sampai ke kantor. Kedatangannya menarik perhatian karena ia menggendong seorang gadis kecil dan menggandeng seorang bocah laki-laki masuk ke dalam gedung. Sepanjang jalan ia jadi perhatian para pegawai. Tentu saja, karena semua orang tahu, Devan adalah seorang duda, sehingga mereka berspekulasi tentang anak yang dibawanya. Devan tak peduli dengan pandangan aneh para pegawai. Ia bahkan santai saja menerima asistennya yang datang dengan wajah heran. "Bagaimana Ludi? Apa tamunya sudah datang?" "Oh, belum, Pak." Ludi hanya berani melihat, tak berani bertanya karena kalau bertanya masalah pribadi yang sensitif, ia takut bosnya marah. "Kalau gitu kita langsung rapat mingguan saja. Kalau tamunya datang, tinggal cut." "Ok, baik, Pak." Devan naik lift ke ruangannya bersama Ludi. Asistennya itu tersenyum pada si kecil Ami yang berada dalam gendongan bosnya. "Lucu juga, anak ini." Ia mencoba memancing. "Mirip 'kan, denganku?" Devan tersenyum lebar. "Eh?" Ludi syok mendengarnya. "Eh, ini ... ini ... anak Bapak?" ucapnya terbata-bata. "Tentu saja. Ini anak kembarku!" Pintu terbuka. Devan berjalan lebih dulu meninggalkan Ludi melongo beberapa detik, lalu mengejarnya. Bukan untuk mengikuti Devan, tapi mendatangi sekretaris Devan di depan. Sekretaris itu pun bingung melihat bosnya membawa anak kecil. Setelah Devan masuk ruang kerjanya barulah mereka saling berbisik. "Itu anak siapa? Anaknya?" Sekretaris itu menatap Ludi. "Iya." "Apa?" Pegawai yang ada di ruangan itu mulai mendekat karena penasaran. "Beneran itu anaknya?" "Iya. Dia sendiri yang bilang," terang Ludi lagi. "Anaknya dengan siapa? Istrinya, bukannya sudah cerai lama?" "Aku tidak tahu dan sekarang tidak penting. Bos minta meeting mingguan sekarang, Lis! Ayo siapkan!" Seketika sekretaris itu panik dan pegawai lain juga kembali ke kursinya. Mereka juga harus menyiapkan berkas-berkas untuk bahan meeting nanti. **** Devan mendengarkan rapat sambil memangku Ami. Abdul duduk sendiri di kursi di samping ayahnya dengan wajah penuh kebosanan. Dari meja pun tinggi meja itu sedahinya sehingga ia kesulitan melihat ke depan. Ami sibuk makan kue dari kotak snack box, tapi kemudian ia memuntahkannya ke atas meja. "Tatah ... Tatah." Ami menarik-narik kerah kemeja Devan. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD