Bab 8. Si Kembar Ke Toko

1185 Words
"Apa?" Pandangan Devan pada meeting teralihkan pada Ami yang barusan memuntahkan makanan, sementara sebagian pegawai sudah melihatnya lebih dulu dengan wajah bingung. "Ya ampun, Ami ...." "A enak." (Gak enak) Ami memandangi sang ayah tanpa rasa bersalah. Abdul yang ngantuk, membuka matanya lebar-lebar mendengar suara bariton Devan yang kaget. Ia menaikkan kepala dengan berpegangan pada pinggir meja mengintip Ami dengan muntahannya di atas meja. "Adek, jorok ih!" Ami menoleh pada kakaknya. "A enak, Bang ...." Ia merentangkan seluruh jemari kecilnya karena tangannya juga kena muntahan sendiri. Saat mencari tisu, beberapa pegawai yang dekat dengan Devan, mengambilkan untuk sang bos. "Terima kasih." Namun Devan bingung bagaimana membersihkannya. Sementara seorang pegawai wanita berinisiatif mengambil beberapa tisu lagi dan mengangkat muntahan itu dengan beberapa kali tarikan. Devan melirik pegawai itu. "Terima kasih." "Gak papa, Pak." Devan kemudian membersihkan tangan Ami dengan tisu pelan-pelan. Namun ia tak yakin bersih. "Sudahlah, cuci tangan saja." Devan mengangkat gadis kecil itu dan membawanya ke wastafel toilet wanita. Di sana wastafelnya lebih besar hingga bisa mendudukkan Ami di samping. Ami senang ketika mulutnya dibersihkan Devan dengan air. Ia bisa merasakan air yang mengalir di tangannya ketika ia letakkannya di bawah keran yang terbuka. "Iih ... ingin." ( iih dingin)" Gadis kecil itu menaikkan bahu begitu merasakan sensasi air di kulit tangannya. "Abang juga mau!" Ternyata Abdul sudah ada di belakang Devan. "Ayo, Dul." Devan mengangkat bocah laki-laki itu hingga kedua berlutut di pinggiran wastafel. Mereka senang membersihkan tangan sambil bermain air. Devan memperhatikan keduanya. "Kalian suka berenang?" "Hah?" Abdul mendongak. "Bisa berenang?" Abdul menggeleng. "Bagaimana kalau nanti papa ajarkan berenang?" Abdul segera menegakkan punggung dengan mata melebar. "Mau, Pa!" katanya setengah berteriak. "Apa?" Ami menoleh pada Abdul, penasaran. Ia tidak mengerti. "Main air, Dek. Di kolam besar." Abdul merentangkan tangan kecilnya selebar mungkin saat menerangkan pada Ami. "Ha? Auu ...!" Ami menoleh pada Devan. Devan memandangi Abdul. 'Ternyata dia juga bisa menerangkan pada adiknya ya. Dul pasti otaknya cerdas.' "Ok, nanti ya, kita cari waktunya." Ludi datang menyusul. Ia agak kurang nyaman berada di sana karena tempat itu adalah toilet wanita. Ia sempat melihat sekeliling karena belum pernah masuk ke sana. " Pak, orang-orang dari Kinasih sudah datang." "Oh, bagus." Devan kemudian menurunkan Ami dan Abdul dari wastafel. "Ayo kita ke ruanganku," ucapnya sambil mengeringkan tangan dengan mesin pengering sebelum pergi. Di ruang kerja, ada tamu yang datang berdua. Keduanya terkejut ketika melihat Devan datang bersama dua anak kecil dan asistennya. "Oh, ini pasti anak Bapak ya?" Seorang pria tersenyum ke arah si kembar. "Oh, iya, benar. Keduanya anakku." "Kembar?" Pria itu menatap Devan. "Iya, betul. Kembar sepasang." "Wah, aku tidak menyangka Bapak punya anak yang lucu-lucu." Namun kemudian ia ingat, dirinya belum memperkenalkan diri. "Oh, iya maaf. Saya Rendra dan ini Mr. Gard, kami dari PT. Kinasih Abadi ingin menawarkan kerja sama." "Silakan duduk." Kedua tamu itu duduk kembali ke kursi sofa, sedang Devan menggendong Ami dan mendudukkannya di samping. Abdul ikut duduk di samping Ami. Namun tamu belum mulai bicara, Ami sudah tak betah dan berdiri. Devan tak melihat karena fokus dengan tamu, sedang Abdul duduk bersandar dan merasa mulai santai. Ami yang tak bisa diam, melangkahi Abdul sedang bocah lelaki itu berusaha mendengarkan pembicaraan tapi tak mengerti. Kembali Abdul merasa bosan dan mengantuk. Ia akhirnya tertidur. Ludi sempat melihat Ami turun dari sofa, tapi karena berusaha fokus dengan klien, ia tak lagi memperhatikan Ami. "... begitu, Pak. Kalau Bapak berminat, Bapak juga bisa datang ke tempat kami untuk melihat pabriknya," ucap Rendra setelah menerangkan tentang perusahaan dan produknya. "Ok, kita lihat dulu produknya ya. Berkas-berkasnya bisa ditinggalkan saja pada asistenku, Ludi," sahut Devan menyilang kakinya. "Ini Mr. Gard juga salah satu staf ahli yang datang langsung dari Zurich untuk label yang kami buat di Indonesia. Kami akan sangat senang kalau Bapak tidak lagi mengimpor produk itu, tapi membelinya dari kami langsung. Mr. Gard bisa menjamin produk yang dihasilkan sama dengan yang diimpor dari sana. Bahkan lebih murah." "Aku harus mengeceknya sebelum memutuskan ini, jadi tidak bisa terburu-buru." "Bahkan bos Saya berharap Bapak bisa membeli perusahaan kami karena perusahaan Bapak sudah punya pasar. Kami kesulitan menjual dengan nama perusahaan sendiri, karena mereka masih percaya barang impor milik Bapak." Devan hanya berdehem dengan pandangan datar ketika mendengar pujian itu. "Sebenarnya itu masalah pemasaran Anda sendiri bagaimana. Membangun sebuah brand juga butuh kerja keras dan konsistensi. Dan itu juga tidak bisa dibangun dalam semalam." "Karena itu, kami percayakan produk kami pada Bapak." "Abangg ... cini!" Abdul terbangun mendengar teriakan Ami. Ami tengah duduk di atas meja kerja Devan sambil mencoret berkas-berkas yang ada. "Astaga, Amii ...." Devan melongo. Dengan sigap, asisten Devan berlari ke meja kerja dan mengangkat tubuh si kecil untuk menghentikannya. Ami malah menjerit kegirangan karena tubuhnya melayang di udara. Devan mendekati meja kerjanya. Berkas-berkas yang sudah ia tandatangani tadi, sudah dicorat-coret Ami dengan pulpen miliknya. Semuanya. "Ami ... kamu kok nakal sekali ...." Devan mengambil Ami dari tangan Ludi dan mencolek hidungnya. Gadis kecil itu malah tersenyum senang tidak menyadari Ludi tengah menatap berkas-berkas yang habis dicoret anak bosnya dengan pandangan nanar. "Ini bagaimana, Pak ... berkasnya sudah kena coret semua." Ludi terlihat syok. "Salahmu, kenapa kamu biarkan berkas yang sudah ku tandatangani tadi di atas meja. Sekarang semuanya harus dibuat ulang." Devan membela Ami. "Apa?" Ludi masih tampak kebingungan. "Sudah, kerjakan saja. 'Kan berkas-berkas itu disimpan di file, 'kan? Tinggal di-print, apa susahnya?" Sambil mengumpulkan berkas-berkas itu, Ludi membayangkan ia akan kena marah setiap divisi yang akan didatanginya. Sebelum sampai ke pintu, sekertaris Devan masuk. Sang sekretaris bingung dengan ekspresi wajah Ludi tapi kemudian fokus mencari Devan. "Pak, tolong tanda tangan." Devan kemudian duduk di kursi sambil memangku Ami. Ia mengecek sebentar sebelum akhirnya tanda tangan. Ketika sang sekretaris, Lisa, mengambil berkas di meja, Devan bicara pada Ami sambil kembali mencolek hidung si kecil. "Kenapa sih kamu gak bisa diam? Apa sebaiknya kamu ke mamamu saja, mmh? Tapi papa tidak tahu di mana tokonya berada." "Toko Kue Amidu." Abdul ternyata sudah berada di samping Devan. "Apa?" "Toko Kue Amidu," ulang Abdul. "Oh, toko kue itu. Toko kue itu lagi hits di Jakarta. Padahal toko kue baru tapi pelanggannya banyak artis dan penjabat," imbuh Lisa memberi tahu. Devan terkejut. "Kamu tahu tempatnya di mana?" "Tahu, Pak. Tokonya 'kan ada di area pertokoan elit jadi mudah mencarinya." "Berikan alamatnya padaku. Aku akan ke sana." "Baik, Pak." Setelah tamu pamit, Devan membawa kedua anak kembarnya ke sana. Ia juga ingin memberi kejutan pada mantan istrinya dengan muncul di sana bersama anak-anak. Mobil berhenti tepat di depan sebuah toko kue. Di bagian depan toko, dindingnya sebagian besar dari kaca sehingga bisa melihat ke dalam isi toko yang banyak berisi kue-kue dalam etalase dan beberapa juga di pajang di luar. Terlihat bersih, cantik dan mahal. Devan membawa kedua anaknya ke dalam. Sepanjang mata memandang, hanya ada berbagai macam kue di dalam toko. Devan mengaguminya, betapa kerja keras istrinya menghasilkan toko kue yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selagi melihat aneka kue, tanpa sadar Ami telah lebih dulu menyelinap ke bagian etalase. Ia sudah mengambil salah satu cake potong dengan tangan dan memakannya. "Eh, anak siapa ini?!" teriak seorang pegawai toko. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD