"Mmh?" Ami hanya kaget karena teguran gadis pekerja toko. Ia berhenti mengunyah sebentar dan menatap pekerja toko itu dengan kedua manik mata hitam kecilnya, lalu kembali mengunyah.
Pekerja toko itu gemas, tapi ia takut gadis kecil itu anak seorang pelanggan. Selain dimarahi bos karena kehilangan satu potong cake, ia juga bisa dimarahi pelanggan karena berani memarahi anak mereka. Ia begitu dilema hingga mengerut kening sambil menggigit bibir bawahnya. Tangannya yang ingin menangkap anak kecil ini jadi ragu-ragu bergerak.
Devan melihatnya karena mendengar teriakan pegawai toko itu, tapi sebelum sempat bertindak, ada kejadian lain yang membuat ia mengurungkan niat. Terdengar suara barang jatuh beruntutan membuat ia menoleh. Di lantai, ada Abdul yang tengah menangis dengan puluhan kotak kue berserakan di mana-mana. Kotak-kotak itu ada yang rusak, atau bahkan isinya menggelinding keluar.
"Abdul?!" Devan terbelalak dan bergegas mendatangi si kecil. "Kamu tidak apa-apa?" Ia memeriksa tubuh Abdul.
Abdul yang didatangi beberapa orang terlihat begitu ketakutan terkena tuduhan merusak barang hingga meraih baju Devan dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tangisannya bahkan makin keras. "Huaa ...."
Padahal ia hanya ingin mengambil satu kotak kue kering yang letaknya agak ke tengah meja. Karena mejanya agak tinggi, ia mencoba menggapai dengan berjinjit. Namun yang terjadi malah tangannya ikut menyenggol kotak lainnya hingga kotak-kotak itu jatuh menimpanya. "Haa, Papa ...."
Devan memeluk Abdul dengan lembut. Pelukan itu setidaknya bisa meredakan tangis si kecil yang mulai sesegukan.
"Abang ... ini!"
Keduanya melepas pelukan dan mendapati tangan Ami memegang cake yang krimnya sudah menempel di mana-mana. Di tangan, di mulut kecil Ami, dagu bahkan juga hidung. Bentuk cake-nya pun juga sudah tak karuan. "Ini enyak lho!" Kepala kecilnya mengangguk-angguk. Rambut keriting Ami yang hanya sebatas leher, bergerak-gerak maju mundur di samping membuat wajah polosnya terlihat lucu.
"Ami!" teriak Devan dan Abdul bersamaan. Keduanya mengerut dahi menatap ke arah gadis kecil berwajah tak berdosa itu.
Tiba-tiba Naya muncul di kerumunan. Dari wajah yang khawatir kemudian berubah kesal ketika mengetahui siapa yang menyebabkan semua kekacauan ini. "Devan ...." Matanya melotot menahan amarah.
Devan kaget dan hanya bisa menelan ludah. Kedatangan mereka bertiga malah membawa bencana.
Ketiganya dibawa ke ruang kerja Naya. Di sana wanita berkerudung biru itu membersihkan tangan dan wajah Ami dari bekas makanan dengan tisu basah.
Devan mengusap air mata Abdul dengan pelan dan mulai bicara. "Naya, maaf. Sebenarnya aku ingin kasih kamu kejutan dengan datang membawa anak-anak tapi anak-anak malah tak bisa diam ...."
Naya melirik dengan sorot tajam. Ia berdiri dan mulai bicara dengan telunjuknya dengan berapi-api. "Tak bisa diam, katamu?! Anak-anak hampir saja merusak seluruh jualanku! Apa kamu tidak berpikir sebelum datang bahwa ini bukan tempat bermain anak-anak?!"
"Naya, maaf. Tapi aku tak bermaksud begitu. Memangnya anak-anak tidak pernah dibawa ke tempat kerjamu?" Tak gentar dengan kemarahan Naya, Devan berusaha berbicara baik-baik.
"Apa kamu sudah gila?! Anak-anak bisa mengambil apa saja kalau tak diawasi. Apa kamu tak dengar peringatanku?!" Naya semakin sengit.
"Aku tadi bawa ke tempat kerja, tidak masalah, kok!" Devan menutupi kejadian muntah dan coret mencoret Ami. Baginya, kenakalan anak-anak masih wajar.
"Apa?" Naya benar-benar kesal mendengar jawaban Devan yang membuat ia kembali naik pitam. "Ya tentu saja! Tempat kerjamu dan tempat kerjaku beda! Di tempat kerjaku, banyak barang-barang berbahaya seperti kompor dan pisau, dan juga barang-barang lainnya seperti kue yang gampang rusak. Kamu pikir ada yang mau beli makanan yang rusak seperti itu, hah?!" Naya benar-benar marah dengan melipat tangan di depan.
Abdul menoleh pada Ami. "Mama tidak suka kita di sini. Ayo, kita keluar saja."
Ami malah meraih tangan kakak kembarnya. "Cian, Tatah ...." Mulutnya merengut.
"Sudah ... jangan lihat mereka bertengkar. Nanti sakit hati lagi." Abdul melangkah ke pintu diikuti Ami. Ia membuka pintu dengan sedikit berjinjit, kemudian keduanya menyelinap ke luar.
"Naya, kalau yang rusak itu jangan dijual. Sudah, aku beli saja semua. Berapa kerugiannya?" Devan yang tak ingin berdebat dengan mantan istrinya, mengeluarkan kartunya.
Naya hanya melirik kartu itu dengan wajah sinis. "Oh, begitu?! Semua dengan uang! Semua selesai dengan uang hingga aku tak boleh berkomentar. Kamu selalu begitu, 'kan?!" ledek Naya yang kembali geram.
Devan bingung kenapa Naya masih saja marah. "Naya, aku berusaha menyelesaikan masalah. Aku datang bermaksud untuk menyenangkanmu, tapi kalau kamu tidak suka, aku minta maaf. Tapi aku tidak mau anak-anak yang disalahkan karena semua ini ideku. Aku yang membawa mereka ke sini. Karena itu, aku berinisiatif menutup kerugianmu dengan membayar ganti rugi kue yang rusak. Apa ini juga tidak bisa menyelesaikan masalah?" Kembali ia menyodorkan kartu itu pada Naya.
Naya yang bersandar pada meja, kini berdiri tegak. "Jadi begitu caramu menyelesaikan masalah?! Harus dengan caramu? Kamu tidak pernah mendengarkan kata-kataku ...." Naya tersenyum sebal.
"Naya, ini bukan siapa yang paling benar, hanya aku tidak ingin bertengkar denganmu. Anak-anak kita itu bukan bayi lagi. Kita bisa mengarahkannya melakukan sesuatu, jadi kita tak perlu mengawasinya terus. Yang penting kita peka kebutuhannya. Kalau begini, bagaimana anak-anak akan jadi mandiri?"
"Heh!" Naya mendengus kesal. "Kamu kayak mengerti anakmu saja! Aku yang mendampingi mereka selama empat tahun, kamu anggap apa?!"
"Naya, bukan begitu maksudku." Devan melangkah maju, tapi Naya bergerak mundur dengan dahi berkerut.
"Untuk apa kamu dekat-dekat denganku?! Kamu mau mengambil si kembar, atau merusak pernikahanku?!"
Devan seketika berhenti melangkah. Kalau bisa mendapatkan ketiga-tiganya kenapa tidak? Namun bukan itu maksud dari yang dilakukannya hari ini. Ia hanya ingin agar Naya mengerti apa yang dikerjakan tanpa perlu harus curiga. "Naya, apa kamu tidak merasa apa yang kamu pikirkan terlalu berlebihan? Lihat anak-anak ...." Ia terkejut saat menunjuk si kembar, keduanya tak ada di tempat. "Ke mana mereka?" Matanya mencari.
Naya juga kaget sekaligus panik. "Mereka kembali keluar ...." Ia bergegas keluar diikuti Devan. Di luar, ternyata Ami dan Abdul tengah memperhatikan pegawai toko tengah merapikan kotak-kotak kue yang berada di lantai. Mereka memisahkannya dan tidak lagi dipajang.
"Dul! Ami!"
Keduanya menoleh. Sang ibu mendatangi keduanya. Naya menarik kedua bocah itu menjauh. "Jangan diganggu ya, Sayang. Mereka sedang bersih-bersih." Dilihatnya Devan juga ada di sana. Naya kemudian mengulurkan tangan. "Sini! Mana kartunya. Katanya mau membeli semua yang rusak?"
'Wanita ... kenapa mereka aneh sekali? Tadi katanya tidak mau, sekarang malah minta.' Devan mengeluarkan kartu ATM-nya dari dompet dan menyerahkannya pada Naya.
Naya mengambilnya dengan kasar. "Tolong jaga anak-anak." Ia meninggalkan ketiganya menuju ke tempat kasir.
Devan menyentuh bahu si kembar dengan lembut. "Sini, coba ikut papa." Ia membawa si kembar pada etalase kue. "Kalau mau ambil kue yang di dalam, minta sama Mbaknya ya. Mbak yang mengurus kue. Kita tidak boleh mengambil sendiri."
Ami dan Abdul mendengarkan ucapan Devan. Ami bahkan terdiam, fokus mendengar ucapan pria itu. "Inta, ya?" (minta ya).
"Iya, bener. Kue-kue yang lain juga sama. Kalau mau, kita harus bicara dengan Mbak pegawai tokonya." Terang Devan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
"Iya, Pa," sahut Abdul patuh.
Devan tampak senang hingga mengusap lembut kepala Abdul yang berambut hitam lurus seperti Naya.
"Devan, kue-kuenya mau bagaimana? Masih ada yang tidak rusak sama sekali," ucap Naya dari meja kasir.
"Bungkus saja yang masih bagus, sisanya buang!"
Naya kemudian memberi tahu kasir. Para karyawan di sana tak berani bertanya. Mereka hanya melakukan tugas mereka sambil berbisik-bisik.
Bersambung ....