"Aku akan mengajak anak-anak makan siang di restoran sebelum pulang. Apa kamu mau ikut?" Devan masih berharap bisa berbaikan lagi dengan Naya, walaupun sempat bertengkar tapi Naya tak meresponnya dengan baik. Wanita itu menyerahkan kartu ATM Devan dengan mulut cemberut.
Akhirnya Devan pergi hanya dengan anak-anak dan sisa kue yang diantar ke mobil. Abdul antusias ingin membuka kotak kue yang dibeli Devan karena sejak semula ia sudah mengincar cookies coklat yang ada di toko ibunya, tapi ternyata Devan melarangnya.
"Jangan dimakan. Biar papa berikan saja pada pembantu di rumah."
"Lho, buat Dul mana, Pa?" protes Abdul tampak kecewa.
"Kita beli di tempat lain saja. Takutnya itu kotor karena sudah jatuh." Devan melirik putrinya yang bajunya masih kotor. "Kita pulang saja ya, makan di rumah. Ami bajunya sepertinya harus diganti."
"Aku gak mau pulang! Gak mau!" Abdul merengut.
Devan menatap Abdul dengan kening berkerut. "Gak mau pulang? Kenapa?"
Abdul menggelengkan kepala kuat-kuat. "Gak mau! Mama benci sama kita!" Digesernya tubuh kecilnya pada pria berbadan atletis itu dan meraih lengan kokoh sang ayah. Walaupun begitu ia bisa merasakan keramahan dari pria yang baru dikenalnya ini. "Papa punya rumah?" Kepalanya mendongak.
"Apa? Oh, punya." Devan merasa aneh dengan sikap Abdul. Dari mana dia tahu ibunya benci padanya? Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh, iya, papa juga punya kolam renang."
"Ah! Dul mau main ke sana, Pa!" Seketika wajah Abdul ceria. Ia memeluk lengan Devan sambil menempel tubuhnya di samping.
"Boleh. Jadi kita tidak perlu mencari makan siang lagi. Ok, papa akan telepon ke rumah agar airnya kolamnya kurangi." Devan mengeluarkan ponsel.
****
Naya tengah memperhatikan rak tempat kue ketika seorang wanita masuk ke toko dan langsung menyadari keberadaannya. Wanita muda itu mendekati Naya. "Nay ...."
Naya membalik tubuhnya. Matanya melebar dengan senyum terukir kemudian. "Friska, tumben ...." Mereka berpelukan. "Gimana ... anak-anak?"
"Anakku baru satu lho! Gak kayak kamu, sekaligus dua!" Friska tersenyum lebar. "Harusnya aku yang tanya. Gimana persiapan nikahmu? Udah berapa persen?"
Naya hanya tersenyum di kulum. "'Kan diserahin sama wedding organizer jadi aku tinggal follow aja. Tapi sejauh ini, lancar aja."
"Mmh ... gak ada masalah sama calonnya, 'kan?"
"Ya enggaklah. Malah lancar-lancar aja."
"Bagus deh. Biasanya suka ada tuh yang ribet, deket-deket waktunya."
"Brian orang yang sabar, sampai kadang aku gak tega dia kadang ngurusin si kembar."
"'Kan dari kamu hamil dia udah ikut nemenin sampai si kembar udah sebesar sekarang. Pria yang setia kayak gitu tuh, jangan sampai lepas. Mana ganteng. Beda dari mantanmu yang dulu."
Naya sedikit terusik ketika Friska kembali mengingatkannya pada Devan. Walau ia berusaha bersikap normal, tapi bola matanya menunjukkan emosi yang berusaha dipendamnya.
"Apa kabar, mantan? Dia masih belum tahu kalau kamu punya anak kembar? Ini bisa menjadi ancaman lho, kalo dia juga menginginkannya."
Seketika wajah Naya kembali suram. Ia mengingat kembali kejadian yang baru beberapa jam yang lalu terjadi di toko kuenya.
Tiba-tiba ponsel Naya berdering. Ia kaget melihat siapa yang menelepon. Apa ini tentang anak-anak? "Halo."
"Halo, Naya. Anak-anak gak mau pulang. Apa kamu bisa bawakan pakaian ganti untuk mereka?"
"Apa maksudmu dengan ngak mau pulang?" Seketika Naya kembali emosi. Dahinya berkerut. 'Anak-anak ke mana?'
"Mereka ada di rumahku sedang bermain air di kolam renang. Tadi aku ajak pulang ke apartemen dia gak mau."
"Dia siapa?!" Kembali nada suara Naya meninggi.
"Abdul. Kamu cepat ke sini ya, takut anak-anak masuk angin. Kamu masih ingat rumahku, 'kan?"
'Ini pasti kerjaan Devan dengan membujuk anak-anak mampir ke rumahnya. Mana mungkin Dul tiba-tiba gak mau pulang.' Naya menurunkan ponsel dari telinga.
"Siapa, Nay?"
"Devan,"' sahut Naya sedikit merengut. Ia kembali kesal.
"Apa? Kamu kembali berhubungan dengannya? Bagaimana kalau Brian tahu?"
Naya melirik Friska. "Brian sudah tahu."
"Astaga ... jadi kenapa Devan menghubungimu? Bagaimana kalian bisa bertemu?" Namun kemudian Friska menjawab sendiri pertanyaannya. "Eh, tapi kamu sudah ada di Jakarta sih, ya. Gak aneh bisa kembali bertemu."
"Panjang ceritanya. Yang pasti, Devan udah tau tentang si kembar. Kebetulan babysitter-ku sedang cuti, jadi aku titip anak-anak padanya."
"Oya?" Friska membulatkan mulutnya. "Jadi ...." Ia berpikir sebentar. "Apa Brian tau?"
"Eh ... jangan sampe. Takut ada masalah."
"Ya iyalah, Nay." Friska menatap Naya. Di perhatikannya teman sejak SMAnya itu yang tampak gelisah. Ia tahu seperti apa kisah asmara Naya pada Devan, pria yang dulu amat dicintainya itu. "Kamu gak niat balik lagi sama Devan, 'kan Nay?"
Naya kembali melirik teman baiknya itu. "Ya enggaklah. Setiap ketemu dia, aku rasanya ingin marah-marah. Tapi kali ini aku butuh tenaganya dan si kembar juga anak-anaknya, jadi aku terima bantuannya. Kebetulan anak-anak juga cepat dekat dengannya." Dilihatnya mata wanita di depannya terlihat khawatir. "Aku takkan mungkin balik dengan Devan, Friska. Mana mungkin!"
"Tapi kemarahanmu padanya bisa saja sebenarnya menutupi perasaanmu dengannya. Kalau saja masalah ini segera di selesaikan ...."
Naya menepuk lengan temannya yang berambut sebahu itu dengan cepat. "Kamu ini bicara apa?"
"Naya, aku ini psikolog. Aku berharap kamu menyelesaikan masalahmu dengan Devan sebelum menikah. Aku lihat emosimu berubah setelah bertemu Devan."
"Masalah apa sih ...." Naya melengos.
Namun Friska meraih tangan sahabatnya. "Ini penting, Naya. Agar kamu bisa menjalani pernikahanmu dengan tenang. Jangan sampai salah melangkah."
Naya terdiam. Ia memikirkan kata-kata Friska.
"Kamu harus menuntaskan kemarahanmu padanya. Bicaralah padanya. Aku lihat kamu belum menyelesaikan kemarahanmu di masa lalu."
"Eh, sudahlah." Naya meraih balik tangan sahabatnya dengan tangan yang lain dan menepuk-nepuk punggung tangannya. "Sudah, jangan pikirkan aku. Aku baik-baik saja. Eh, terus ... kamu ke sini mau beli kue 'kan?"
"Oh, iya. Lupa ...."
Keduanya tertawa.
****
Naya berdiri di depan pintu gerbang yang tinggi itu. Sudah lama ia tak ke sini. Sempat beberapa tahun ia tinggal di sini sebelum akhirnya bercerai dari Devan dan angkat kaki dari rumah ini.
Ia kemudian membayar taksi dan bertemu dengan penjaga gerbang. Pria itu masih mengenali Naya hingga membukakan pintu gerbang. Demikian juga dengan pintu depan. Ia segera masuk ke dalam ketika seorang pembantu membukakan pintu.
"Devan ...! Anak-anak mana?" Naya sudah muncul di kolam renang yang airnya sedikit. Ia mengerut dahi. Kembali ia melihat pria itu dengan hanya memakai celana pendek longgar yang basah di dalam kolam yang cetek. Bentuk tubuh atletisnya membuat Naya ingin memalingkan wajah.
Devan mendekati pinggir kolam tempat Naya berada. "Itu di sana!" Ia menunjuk di salah satu sudut kolam, tempat anak-anak bermain air. "Aku sengaja mengurangi airnya agar anak-anak tidak tenggelam."
Ya, Devan mengurangi airnya hingga selutut hingga anak-anak puas bermain air. Bahkan terdengar suara teriakan Ami beberapa kali karena senang. "Tataahh ...!" Gadis kecil itu melambaikan tangan pada Devan.
Devan membalik tubuhnya dan bersandar pada pinggir kolam. Tubuhnya basah. Entah kenapa Naya teringat kembali kejadian di Singapura waktu itu. Namun buru-buru ia mengalihkan pandangan. "Ami! Dul! Ayo ganti baju!" Naya menaikkan tas besar yang dibawanya ke udara.
Anak-anak berlarian mendekat. Abdul terlihat tidak antusias.
"Ayo, sekarang kalian mandi ya," sahut Devan yang mengangkat si kembar satu-satu keluar dari kolam renang. "Hap!" Ami mengangkat kedua kakinya saat diangkat dari air, sedang Abdul terlihat tenang.
Kemudian Devan menyodorkan satu tangannya pada Naya. "Nay, bantu aku dong!"
Dengan cemberut, wanita itu menarik pria itu dari dalam kolam.
"Terima kasih."
Bersambung ....