DUA PULUH

795 Words
sesampainya di rumah saat turun dari motor milik Gavin, Rasel begitu pucat dan terlihat sangat ketakutan. ya mungkin Rasel masih trauma atas apa yang menimpanya di sekolah tadi akibat ulah Raka. Gavin yang menyadari perubahan Rasel lalu menggandeng tangannya. " jangan takut tidak akan ada yang menjahatimu lagi. ada aku di sini " ucap Gavin dengan lembut. Rasel langsung menatap Gavin yang membuat Gavin salah tingkah tapi Gavin berusaha untuk tidak terlihat gugup saat di pandang Rasel. " kakak janji mau lindungin aku dari Raka kak ? " tanya Rasel polos Gavin menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. dari dalam rumah mereka tak lepas dari pandangan mama dan papa Rasel . mereka heran kenapa setiap hari Rasel dan Gavin pulang bersamaan. dan terlihat semakin akrab. biasanya Rasel selalu di antar Raka tapi sudah sangat lama tak pernah di antar ataupun di jemput oleh Raka. sampai ketukan pintu menyadarkan mama dan papa Rasel. mereka buru- buru membuka pintunya .. " hai sayang kamu sudah pulang ? " tanya sang mama tapi Rasel tak menjawab dan malah menangis. sang mama khawatir melihat putrinya yang seperti itu. apalagi dengan wajah pucat Rasel. " kamu sakit kok pucat sekali ? " tanya sang papa Rasel hanya menggeleng. sang papa langsung menatap ke arah Gavin. " eh masuk dulu nakk maaf aku lupa saking paniknya karna melihat Rasel yang bukan Rasel ini nak " ucap papa Rasel " gapapa om " ucap Gavin dengan sopan dan dengan senyumannya. " ayo masuk " ajak papa Rasel dan semua masuk kedalam.mereka duduk di ruang tamu. lantas papa dan mama Rasel yang penasaran dengan Rasel terus menanyai Rasel dengan pertanyaan- pertanyaan tapi tak satu pun yang di jawab oleh Rasel. malah Rasel memeluk mamanya sangat kuat. " sebenarnya kamu kenapa sayang crita dong sama mama " ucap sang mama. tapi Rasel tak mau menjawab. " ehemz .." deheman Gavin langsung membuat semua orang melihat ke arah Gavin " om tante mungkin Rasel masih trauma " " apa trauma ? karna apa ? " tanya papa Rasel dengan suara menggelegar membuat seisi rumah jadi kaget dan buru- buru berlari ke arah suara tadi. dan pada saat itu juga Gavin menceritakan semua yang terjadi pada Rasel. betapa terkejutnya mereka mendengar cerita dari Gavin. Raka yang di kenal baik malah mau melecehkan anak gadisnya dan untungnya ada Gavin yang menolong tak sampai terjadi sesuatu yang tak di inginkan. " sungguh aku tak menyangka den Raka yang terlihat baik akan berani melakakuan hal seperti itu " " iya padahal dia kelihatan sopan tapi siapa sangka bisa jadi buas seperti itu" bisik- bisik pekerja di rumah Rasel. mama Rasel seketika meneteskan air mata saat mendengar cerita Gavin tadi. dia tau bagaimana rasa trauma anak gadisnya ini. " sayang jangan takut ya mama di sini " ucapnya sambil memeluk Rasel. Rasel hanya mengangguk. " saya harus ke rumah Raka ma biar Raka tak seperti itu lagi sama anak kita " " mama setuju pa tapi kita bicara baik- baik saja pa " " iya pasti ma kasihan Rasel jadi ketakutan ma " ucap papa Rasel mereka mengobrol cukup lama hingga tak terasa waktu sudah sore. " om tante , saya pamit pulang dulu " ucap Gavin " iya nak...makasih ya udah nolongin Rasel kalau aja gak ada kamu gimana nasib Rasel saat ini " ucap mama Rasel sambil menangis. " sama- sama tante selagi saya bisa melindungi Rasel pasti akan saya lindungi tan " " sungguh anak yang baik " ucap papa Rasel. " terimakasih om " ucap Gavin saat Gavin mau berdiri tiba - tiba Rasel berlari kearah Gavin . " kakak jangan pergi aku takut hikz ...hikz..." ucap Rasel menangis " Rasel jangan takut ya sekarang kamu aman aku janji bakal lindungin kamu " ucap Gavin sambil mengelus kepala Rasel sayang. " sayang Gavin mau pulang kamu di sini ada papa sama mama " ucap sang papa " iya sayang kasihan Gavin sayang " ucap sang mama sambil mendekati Rasel. Rasel menatap semua orang yang ada di sana. " non jangan takut kami juga ada di sini buat jaga non " ucap para pekerja di rumah Rasel. " kak Gavin " ucap Rasel lirih " iya " jawab Gavin Rasel setelahnya diam tak bicara dan tetap dengan posisi menahan tangan Gavin. " Rasel besok aku kesini lagi ya sekarang aku pulang dulu. nanti kalau ada apa- apa kamu bisa telfon aku" ucap Gavin pelan. setelahnya Gavin baru menyadari mereka tak saling bertukar nomor hahahah Gavin merogoh sakunya mengambil Hp dan memberikan kepada Rasel. " tulis nomor kamu biar nanti aku hubungi kamu " ucap Gavin Dan Rasel lalu menuliskan nomornya setelahnya Gavin pamit pulang. jangan lupa mereka semua membujuk Rasel tidak mudah sekali. akhirnya dengan bujukan maut dari mereka semua Rasel membolehkan Gavin pulang. membuat semua bernafas lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD