“Lamaran kamu di-pending?” Noel meringis mendengar kata itu keluar dari ayahnya. “Nggak di pending, Pi. Cuma… hm, apay a? Noel juga bingung sih sebenernya jelasinnya.” Papi menggeleng, ditambah hibasan tangan tanda dirinya tidak sepakat dengan sang putra. “Nggak, nggak. Papi ngerti kok maksud kamu, Papi bahkan lebih paham. Yang Papi tanyain, jadi lamaran kamu itu belum diterima sama Mas Gibran, kan? Maksud Papi, ayahnya Aran.” Noel menggaruk dahinya, mau tidak mau mengangguk. “Kenapa Mas Gibran ini? Anak Papi datang baik-baik lamar putrinya kok malah di-pending gitu jawabannya.” “Bukan di-pending, Pi…” Noel tidak tahu harus mengatakan apa agar Papi mengganti kosakata yang dipakainya. “Kamu mau Papi yang ngomong sama Ayah-nya Aran? Atau kita sekeluarga aja datang ke rumahnya kalau gi

