“Maaf tiba-tiba minta kamu untuk datang malam-malam begini, El.” Gibran menyambut kedatangan Noel ke rumah itu dengan senyum tipis. Di wajahnya lebih terlihat keseriusan yang kental, membuat adrenalin Noel lumayan terpancing. “Nggak masalah, Om. Kapan pun Om panggil, saya bersedia datang kok.” Noel tersenyum mencoba untuk mencairkan suasana. Gibran tidak banyak menanggapi hal itu, hanya menarik garis bibirnya sedikit namun tidak sampai bisa disebut sebagai sebuah senyuman. “Kamu udah makan malam?” “Sudah, Om. Sudah.” Gibran mengangguk, menarik napasnya kemudian menghembuskannya pelan. “Begini, El. Saya sudah membicarakannya panjang lebar dengan Aran, bundanya, dan Zillo.” Gibran memulai topik utama dari alasannya memanggil Noel malam itu. “Dan saya sengaja hanya ingin membicarakan i

