“Perkenalkan saya Zanna, saya di utus oleh bapak Azam untuk mengantikan beliau menemui bapak Azura, Apakah anda bapak Azura?!” tanya Zanna.
“Iya saya Azura, oh teryata anda! Saya fikir bapak Azam sendiri yang akan turun tangan untuk bertemu dengan saya!” jawab Azura.
“Iya pak saya mohon maaf sebelumnya karena bapak Azam secara mendadak mengutus saya! Maaf kalau membuat anda binggung!” papar Zanna.
“Yaudah sekarang kita mulai langsung aja! Silakan duduk terlebih dahulu!” ujar Azura.
“Apakah anda sudag tau kerja sama apa yang akan kita lakukan!” lontar Azura.
“Tidak pak! Saya belum sempet di jelaskan! Karena tadi juga mendadak sekali! Jadi saya belum sempet untuk memahaminya!” ujar Zanna.
“Hmm ... baiklah kalo seperti itu! Saya jelaskan terlebih dahulu! Antara perusahaan anda dan perusahaan yang saya pimpin akan menjalin kerja sama selama 3 tahun!” jelas Azura.
“Karena berhubungan perusahaan anda perusahaan manufakture dan perusahaan saya adalah perusahaan game, saya ingin anda mengeluarkan perabotan yang melambangkan permainan-permainan yang saya kembangkan, bagaimana? Apakah anada setuju tentang ini!” sambung Azura kembali.
“Jadi maksud ada, anda ingin saya membuat produk yang sesuai karakter yang ada di game anda!? Bukan begitu!” tegas Zanna.
“Iya betul! sebagai keuntungannya, saya akan mengiklankan produk anda yang membentuk karakter dari game saya, dan begitupun dengan anda!” tutur Azura.
“Kalo begitu apa keuntungannya buat saya! Itu hanya menguntungkan anda kalo begitu! Terus apa yang saya dapatkan dari kerja sama kita!” tanya Zanna dengan polos.
“Haduh anda ga paham ya! Ya jelas banyak keuntungannya lebih banyak anda! 1. Barang-barang anda akan menambah daya tarik yang berbeda 2. Barang siapa yang di beli apakah barang saya, kan tidak!” jelas Azura.
“Sistem keuntungannya kita bagi 2, 70:30 karena bahan-bahan dan memang ini produk anda, ya kita bagi 70 % buat anda dan 30% buat saya! Karena karakter tokoh game saya di pakai di barang anda! Bagaimana?! Apakah sudah jelas!” sambung Azura kembali.
“Oh iya oke kalo begitu saya setuju!” jawab Zanna dengan polosnya dan tidak mengerti apa yang di maksud dengan Azura.
“Oke kalo anda setuju, silakan tanda tanganin dokumen-dokumen ini!” ucap Azura.
“Danita, tolong kamu siapkan semua dokumen yang harus di tanda tanganin oleh Zanna! Dan tolong di bantu di beritahu dimana harus di tanda tanganin!” perintah Azura.
“Siap pak! Ini semua dokumen yang harus di tanda tanganin! Silakan dibaca terlebih dahulu, sebelum di tanda tangainin,” ujar Danita.
Setelah semua dokumen sudah di tanda tanganin kerja sama mereka kini sudah resmi dan Azura akan mengirimkan tokoh karakter-karakter yang akan di bentuk untuk desain produk lemari kursi meja dan lain-lain.
Azura yang merasa sudah selesai dengan semua urusannya pun izin untuk pulang terlebih dahulu, namun Zanna yang belum puas melihat wajah tampannya Azura pun berusaha untuk menahan kepergian Azura
Namun Azura bukan merupakan sosok laki-laki yang mudah untuk dekat dengan cepat kepada wanita walaupun kliennya sekalipun, hal yang di lakukan Zanna tidak berhasil untuk menahan Azura agar lebih lama di restoran bersamanya.
“Pak Azura yang terhormat, bagaimana kalo kita mengobrol sebentar, karena kita pathner setidaknya saya harus tau sedikit sifat anda!” ujar Zanna.
“Karena semua sudah selesai, saya harus pamit, masih ada yang saya harus kerjakan juga!” tutur Azura.
“Yaudah paling tidak berikan nomor telfon anda pak! Masa kita pathner tapi ga punya kontak satu sama lain!” pinta Zanna.
“Oke baiklah!” imbuh Azura.
“Danita tolong berikan kartu nama saya pada Zanna!” perintah Azura.
“Kalau begitu saya pamit duluan!” sambung Azura lagi.
Azura dan Danita pun pergi berlalu melalui Zanna kembali ke kantor, tidak memerlukan waktu yang lama untuk mereka sampai ke tempat parkir, Danita yang cekatan dengan gerak terburu-buru membuka pintu mobil untuk Azura.
Azura yang merasa tidak enak, seharusnya Danita tidak perlu membukakan pintu untuknya meskipun Azura adalah Bosnya.
“Danita! Jangan repot-repot saya bisa kok buka sendiri!” tegur Azura.
“Oh iya gapapa pak, saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan aka kok pak! Bapak ga perlu ngerasa gaenak sama saya pak!” cakap Danita.
“Iya udah gapapa! Saya cowok kok! Buka pintu doang mah gampang!” ujar Azura.
“Iya pak siap! Tapi saya akan tetap melakukan sesuai dengan seharusnya!” tolak Danita.
“Hm..!” lontar Azura.
Tidak ada percakapan lain setelah obralan tentang pintu, suasana terasa hening sekarang, Azura sibuk dengan ponselnya, sedangkan Danita sibuk memperhatikan jalan.
~Place Zanna~
Zanna yang pulang dengan hati yang sangat gembira, zanna yang tidak berambisi menjadi sangat berambisi! Entah apa yang dirasakan di hatinya, namun hatinya berdegup dengan kerasanya, dan pikirannya tertuju dengan Azura.
Zanna yang tidak mengerti banyak tentang perasaan yang ia rasakan membuatnya merasa tidak tenang, perasaan hatinya ingin selalu melihat Azura dan mendapatkan kabar dari Azura namun Zanna mengabaikan perasaanya begitu saja.
Zanna yang langsung melaporkan hasil kerja sama kepada papahnya dengan singkat membuat papahnya merasa sedikit lega, karena Zanna mampu melewati tugas pertamanya meskipun tidak sebaik yang di harapkan tapi hal ini sudah cukup baik untuk tugas pertamanya.
“Apa hasil pertemuan tadi!” tandas Azam seakan meminta jawaban yang memuaskan.
“Ya begitu lah pah! Perusahaan kita kerja sama dengan perusahaan Azura selama 3 tahun!” tutur Zanna.
“Oh oke baiklah kalo begitu! Lumayan juga! Untuk selanjutnya mohon kerja kerasnya, dan jaga selalu sikap kamu!” tegas Azam.
Obrolanpun berakhir begitu saja, Zanna pun mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan lelah, tidak lama kemudian ponsel Zanna berdiring menandakan ada pesan masuk, Zanna yang merasa ada getaran di ponselnya pun melihatnya.
~pesan~
“Zan nongkrong yuk! Lu lagi sibuk ga!” tanya Fara.
“Udah ga sibuk sih, sekarang mah! Lagi rebahan aja nih gua!” jawab Zanna.
“Yaudah nongkrong aja yuk! Gabut nih gua! Habis iklanin produk tadi! Sekarang udah selesai! Tapi gua mau main dulu!” ajak Fara.
“Yaudah oke deh! Mau ketemu dimana! Gua kesana nanti! Eh bye the way lu ga sama doi lu Far!” papar Zanna.
“Dia lagi seminggu yang lalu, dinas di luar kota selama 2 bulan katanya!” celoteh Fara.
“Udah lu kesini dulu! Gua mau cerita banyak nih! Gua tunggu di mall Opi cepet ya! Ga pake lama!” tegas Fara.
“Oke gua siap-siap terus berangkat!” ujar
Zanna yang terbaring sedari tadi pun dengan cepat bergegas berganti baju dan pergi menemui sahabatnya yang sudah menunggunya! Dengan sangat santai Zanna mengendarai mobilnya di sertai adanya alunan musik membuatnya sangat menikmati perjalanan ini.
~Fara plcae~
Fara yang sedang menunggu Zanna di balkon Mall dengan menikmati makanan dan minumanya mengoceh karena sudah 30 menit lamanya Fara menunggu tapi Zanna belum juga terlihat batang hidungnya.
“Buset tuh anak lama banget sih! Perasaan gua tadi bilang jangan lama-lama kenapa malah lama banget!” gerutu Fara.
“Kalo dia dateng liat aja!” geram Fara.