bc

Tangisan Lavanya

book_age18+
145
FOLLOW
1K
READ
fated
friends to lovers
scandal
manipulative
mystery
betrayal
affair
friends with benefits
substitute
Neglected
like
intro-logo
Blurb

Berpacaran, menikah, lalu disiksa, bahkan diselingkuhi oleh suaminya sendiri. tiada hari untuk berbahagia, hanya bisa menangis didalam hati dengan balutan luka. Setiap harinya, Lavanya hanya dijadikan sebagai pembantu oleh Davendra, suami yang ditakdirkan untuknya.

Lavanya tidak mengerti mengapa sikap suaminya seperti itu, padahal Davendra selalu bersikap manis dan lembut kepadanya sejak berpacaran. Lavanya hanya bisa diam tak percaya, apakah sikap manis itu hanya untuk menjebaknya? apakah ada dendam yang tersirat untuknya? entahlah ....

Dikelilingi oleh dua orang b***t, Davendra dan Kanaya, kekasihnya atau lebih tepat disebut pelakor. ternyata ada sosok lain yang bersimpati kepadanya dan bersikap perhatian dengan pandangan yang penuh iba.

"Dia baik, pasti karna kasihan saja. jangan sampai aku memiliki perasaan lebih padanya. Ingat, Nya, di dunia ini nggak ada orang yang tulus, mereka semua sama."

Apa yang terjadi sebenarnya antara Lavanya dan sang suami?

Dan bagaimana proses hubungan dekat antara Lavanya dan Chandra (Assisten Pribadi Davendra), apakah hanya sekedar mengasihani atau ada perasaan lebih pada suatu hari nanti?

chap-preview
Free preview
Bab 1: Suamiku Berubah
Beberapa jam yang lalu, seorang gadis berusia dua puluh dua tahun bernama Lavanya Anastasia, baru saja menyandang status sebagai seorang istri dari pewaris Angkasa Corp, Davendra Ardiya. sudah enam bulan Lavanya dan Davendra menjalin kasih sebagai sepasang kekasih yang penuh cinta, dan tepat hari ini mereka mengesahkan hubungan yang terjalin dalam sebuah ikatan suci pernikahan yang didambakan semua orang. Lavanya adalah lulusan designer berkat beasiswa yang ia pegang dari hasil kecerdasannya. Hidupnya sempat terpuruk tatkala pernah kehilangan sahabat dan juga kedua orang tua yang telah meninggal dalam kecelakaan tragis pada satu tahun yang lalu. sungguh memilukan hidup dalam kesendirian, hingga hadirlah seorang pria yang kini telah menjadi suaminya, memberikan banyak cinta dan kasih sayang, hingga berhasil membuatnya bangkit menjadi pribadi yang lebih bersemangat lagi. Lavanya dan Davendra baru saja tiba di kediaman baru mereka, hadiah pernikahan dari orang tua Davendra yang sengaja mereka berikan kepada sepasang pengantin baru ini. "Ini rumah baru kita." ucap Davendra dengan wajahnya yang dingin, kemudian ia melenggang pergi melangkah duluan mencapai pintu "Wah ... bagus banget." Lavanya kagum, memandang takjub pada rumah megah dihadapannya ini Pandangannya beralih menatap sang suami yang sedang membuka pintu, Lavanya mengangkat gaun putih yang menjulang panjang hingga menyentuh tanah, kemudian melangkah menyusul Davendra yang sudah masuk lebih dulu. "Heran, kenapa dia cuek?" gumam Lavanya sembari melangkah. Ia mendapati pria itu sedang merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, sedang kedua tangan kekarnya direbahkan diatasnya "Pasti dia capek." gumamnya lagi, memasang raut wajah kasihan "Yang, kamar kita di mana?" "Di atas." Davendra menunjuk ke lantai atas dengan jari telunjuknya "Hmmm ... kamu istirahat saja diatas, aku siapkan air hangat buat kamu, ya?" tanpa menunggu tanggapan dari suaminya, Lavanya bergegas ke lantai atas untuk menunaikan tugas seorang istri. Ia tahu pasti Davendra sangat kelelahan sampai tidak bersemangat seperti ini Walaupun Lavanya berasal dari kalangan bawah, tapi ia pernah menginap dikediaman orang tua suaminya. kala itu--Lavanya diusir oleh pemilik kontrakan karena menunggak pembayaran sewa selama beberapa bulan. sedangkan gajinya ia gunakan untuk membayar hutang Almarhum orang tuanya. "Airnya sudah siap, mandilah, setelah itu istirahat lalu makan malam." "Aku masak dulu." pamit Lavanya, Davendra memerhatikan langkah istrinya yang berjalan menuju dapur. sebuah senyum aneh terukir dibibir lelaki tampan itu sebelum ia beranjak menuju ke kamarnya. Lavanya mendengus kasar melihat isi kulkas tidak memiliki apa-apa didalamnya. tidak ada sayuran, telor, daging, atau apapun itu. Lavanya baru ingat kalau rumah ini masih baru ditempati, ia pun mengangguk paham akan keadaan ini. Lavanya kembali menutup pintu kulkas dan kembali ingin mengambil ponselnya. *** "Terima kasih, ya, Pak." ucap Lavanya kepada Pak Kurir yang baru saja mengantarkan pesanannya Lavanya memesan makanan yang mengenyangkan melalui sebuah aplikasi online yang melayani apapun. entah itu order makanan, jasa antar jemput dan lain sebagainya. Lavanya memang wanita yang sigap, cepat berpikir agar segala yang ia kerjakan cepat selesai. dirinya sudah terbiasa hidup mandiri, apa lagi semenjak orang tuanya sudah meninggal dunia. "Sudah masak? lama sekali!" gerutu Davendra, ia menuruni tangga dengan langkahnya yang cepat "Maaf, Yang, ternyata didalam kulkas nggak ada apa-apa. aku terpaksa deh delivery aja." dengan senyum manisnya Lavanya memamerkan sekantung kresek yang berisi dua kotak food stairofoam "Oh." Davendra melenggang pergi menuju meja makan Lavanya terdiam, keningnya berkerut memandangi punggung kokoh suaminya. pria itu semakin aneh, sikapnya berubah tidak seperti biasanya. jika sangat kelelahan, setidaknya beri sedikit senyuman saja sudah cukup untuk Lavanya. Lavanya menggelengkan kepala, ia tidak boleh berpikir yang macam-macam. "Ini, makanan favorit kita kalau lagi ngedate, juga minuman Boba yang biasa kita pesan." ucap Lavanya sembari menyodorkan jatah untuk suaminya "Ayam geprek? dan malam-malam begini kamu pesan es? nggak salah?" ketus Davendra, bola matanya sedikit membulat memandang istrinya yang berwajah lugu ini Lavanya terkesiap, ia tertegun menangkap ekspresi suaminya. "Bukannya kita sudah biasa makan dan minum yang beginian?" Davendra terdiam sejenak "Ah, sudahlah, mari kita makan." ucapnya, Davendra langsung menyuapi nasi ke dalam mulutnya. ayam geprek yang dibubuhi sambal diatasnya, segumpal nasi, ada pula tahu dan tempe beserta lalapannya. sudah menjadi makanan favorit mereka kala tiap berkencan sebelum menikah Dan kini, malam ini--untuk pertama kalinya Lavanya melihat tingkah aneh pria dihadapannya yang merasa berat menikmati makanan sederhana dengan harga ekonomis ini. Kenapa dia begini? padahal dia sudah biasa makan begituan kalau lagi pengen. apa dia sudah bosan? tapi setidaknya dia menghargai, bukan melukai hatiku. batin Lavanya bermonolog Cepat-cepat Lavanya menyeka air matanya yang telah menumpuk, bergelinang di bola matanya. ia tidak ingin Davendra menangkap perasaannya yang teramat sedih dan terluka dengan perkataan itu. entah kenapa, hatinya sangat lemah dan mudah cengeng, mungkin selama seumur hidup Lavanya tidak pernah diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Semoga ini cuma perasaanku saja, Mas Dave nggak mungkin kasar orangnya. dia cuma kecapekan sama acara pernikahan kami, batin Lavanya Usai makan malam dengan menu apa adanya, selesai pula mencuci piring dari bekas makan yang mereka kenakan, Lavanya bersiap untuk melangkah menuju kamar pribadi mereka. namun--Lavanya terdiam sejenak memikirkan apa yang terjadi selanjutnya dimalam-malam begini. apalagi--ini adalah malam pertama bagi mereka sebagai penyandang status baru "Aih, takutnya!" Lavanya bergidik ngeri membayangkan adegan demi adegan yang akan terjadi "Is, otak kotor!" Ia menepuk keningnya dua kali, "Mana mungkin terjadi malam ini, Mas Dave sedang capek dan butuh istirahat. dasar!" gumamnya Lavanya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. dengan percaya dirinya ia begitu yakin bila lelaki tersebut tidak menerkamnya saat ini juga. mengingat suasana hati pria itu yang begitu buruk, sepertinya tidak mungkin untuk menyetubuhinya. Suasana kamar terlihat sangat lengang, tidak terlihat keberadaan sang kekasih hati didalam sana. Lavanya menutup pintu kamar dan memeriksa sekitar, terlihat pintu geser tampak terbuka dan melihat bayang-bayang suaminya ada disana. entah sedang apa, Lavanya pun mendekat. "Nggak tidur, Yang?" sapa Lavanya Merasa terpanggil, Davendra pun menoleh sekilas lalu menenggak minuman berwarna kehitaman dari gelas kaca. "Belum nganntuk." katanya Lavanya mengernyitkan dahinya, ia kembali melangkah untuk mendekat alih-alih ingin melihat lebih jelas bentuk minuman yang sedang dinikmati. "Itu minuman apa? perasaan, aku nggak ada buat kopi." tanyanya, bersamaan dengan itu Lavanya melihat sebotol bir bermerek guinness, seketika saja kedua matanya terbelalak. "Kamu minum alkohol, Yang?" "Kalau iya, kenapa? kamu tidur saja sana! siapkan tenagamu untuk hari esok!" Bersambung ...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
191.6K
bc

Siap, Mas Bos!

read
14.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
207.4K
bc

My Secret Little Wife

read
100.3K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.8K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
15.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook