Jakarta, Desember 2010.
Lyssa.
Aku masih tidak menyangka jika akhirnya aku bisa jalan—lagi—dengan Vincent! Coba tebak kali ini kita jalan ke mana? Tempat yang pastinya agak jauh dari Jakarta, tidak banyak suara-suara bising dari klakson kendaraan, dan pastinya suatu tempat dengan udara yang panas seperti Bali.
Tanjung Lesung.
Itulah tempat yang diajak Vincent untuk jalan-jalan kali ini. Katanya sih, ini buat refreshing karena habis UAS.
“Ujian skripsi gimana nih?” tanyaku iseng.
“Skripsinya juga belom beres, Lys,” balasnya dengan senyuman tipis. “Kenapa emangnya?”
“Nanya doang sih. Kalo udah beres kasih tahu ya!”
Vincent menoleh padaku, dia memasang wajah bingung, “Kenapa harus ngasih tahu kamu? Emangnya penting ya itu ujian skripsi buat kamu?” tanyanya.
“Nggak sih. Cuma nggak apalah, biar aku ucapin semangat gitu.”
“Yang ada aku gagal fokus nantinya,” balas Vincent dengan tawa renyahnya.
Hubunganku dengan Vincent hanya seperti ini saja. Aku tidak merasa spesial-spesial amat sih, tapi juga tidak berarti aku tidak spesial. Buktinya, dia sampai mau mengajakku jalan ke Tanjung Lesung. Aku tidak meminta apapun dari hubungan yang ku punya dengannya saat ini. Status? Atau kejelasan?
Well, untukku saat ini hanya menikmati tiap waktu dengannya adalah hal yang menyenangkan. Hal yang membuatku semangat untuk kuliah, untuk melanjutkan cita-citaku sebagai legal medical consultant.
He’s just like my vitamin. My suplement. My comfort when I really miss my brothers and home.
Sampai di Tanjung Lesung, waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. Kami berdua mampir ke sebuah tempat makan yang ada di pinggir pantai. Just like something I didn’t prepare for, dia sudah memesan semua makanan yang akan kami makan terlebih dahulu.
“Ini apa?” tanyaku.
“Lunch,” jawabnya singkat. “Duduk, makan. Baru main-main di pantainya. Aku punya janji ke Bill buat pulangin kamu sebelum jam delapan malam, atau nggak dia bakalan lapor polisi.”
Aku pun mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Vincent, sambil memasang raut wajah tak percaya, heran dan bingung. “Lapor polisi? Aku aja mungkin keluar rumah kurang dari dua belas jam. Mana mungkin polisi mau nerima laporan orang hilang yang keluar kurang dari satu kali dua puluh empat jam?”
“Dia bisa aja buat-buat ceritanya sendiri. That’s our law. The police will just agree when you came up to him, and telling something about your problem. Apalagi kalo kamu bawa segepok uang.”
Aku mulai mengambil nasi dan beberapa hidangan laut sebagai lauk yang sudah dipesan oleh Vincent. Harus ku akui kalau Vincent mempunyai selera yang cukup baik. Makanan yang dipesannya sungguh nikmat. Ya... bisa dibilang sebelas-dua belas gitu deh sama masakan Bali. Bedanya, kurang pedes aja sih.
Selesai makan, kami berdua bermain-main di sekitaran pantai.
Dia, Vincent memakai kaos abu-abu dengan celana pendek selututnya yang berwarna putih. Sementara aku memakai kaos putih dan celana pendek berwarna pink cerah yang memamerkan setengah pahaku. Berdua bersamanya, aku bermain ombak, membiarkan kakiku tertanam oleh pasir pantai yang dibawa oleh ombak. Lalu, aku berusaha mengejar Vincent ketika dia mulai menyipratkan air ombak kepadaku.
Dia berlari dengan kencang.
Hello... ternyata atlet taekwondo punya tenaga lari yang cukup besar ya. Astaga, aku sendiri sampai kewalahan mengejarnya.
Akhirnya ku putuskan untuk menyerah mengejarnya, dengan duduk di atas lautan pasir, sambil memandang langit sore Tanjung Lesung kala itu. Targetku hari ini setidaknya dapat melihat matahari terbenam di Tanjung Lesung. Namun, mengingat Vincent harus mengantarku pulang sampai di rumah sebelum pukul delapan, berarti aku tidak akan sempat melihat matahari terbenam.
I miss seeing sunset in Sanur with Miguel.
Damn it.
I still hate him.
Terakhir kali aku melihat matahari terbenam adalah saat Miguel sebelum pacaran dengan Carol. Setelah mereka berdua pacaran, aku menghapus kata ‘sunset’ dalam kamus favorite things to do milikku. Aku tidak pernah melihat matahari terbenam dengan siapapun kecuali Miguel.
Begitu Miguel resmi menjadi pacar Carol, aku pun mendeklarasikan pada diriku sendiri bahwa matahari terbenam adalah hal yang paling ku benci. Tapi kali ini aku benar-benar merindukan matahari terbenam.
Warna oranye kuning yang ditorehkan matahari itu, detik-detik sebelum akhirnya ia terbenam, tak terlihat lagi di ujung horizon sana. People would say it’s so romantic. Tapi untuk anak pantai sepertiku yang sudah sedari kecil sering melihatnya, membutuhkan suatu momentum yang pas agar aku bisa menyebut matahari terbenam itu istimewa. For my eighteen years of life, I only experienced it with Miguel.
“Mikirin apa, Lys?” tanya Vincent yang—entah sejak kapan—berada di sampingku, dia mengambil tempat disisiku.
“Thinking about the old days,” balasku, “Di Bali.”
“Kangen Bali?” tanya Vincent, namun detik berikutnya Vincent melanjutkan kalimatnya, sebelum aku sempat menjawab. “I mean, kamu kangen orang-orang yang ada di Bali, bukan karena Bali-nya. Tebakan aku benar, atau benar banget?”
“So damn true.” Aku menjawabnya dengan seulas senyum lalu tertawa kecil. “You read my mind don’t you?”
Vincent mengulum senyumnya. “Ya ampun... Mana mungkin aku bisa baca pikiran orang lain kali Lys? Kalau memang aku bisa baca pikiran kamu, berarti aku nggak usah capek-capek susun skripsi kali sekarang... Aku buka klinik paranormal aja, atau belajar jadi dukun.” Aku tidak merasa lucu dengan ucapannya Vincent, tapi melihat wajahnya yang keheranan akhirnya aku tertawa. He looks so smart just everyday, but not this moment.
Ada jeda waktu beberapa lama sebelum akhirnya Vincent kembali menanyakan apa yang sebenarnya sedang ku pikirkan.
“Jadi kamu mikirin apaan dari tadi? Aku sampe lari ke ujung sana, tapi kamunya berenti lari, duduk disini.”
Aku menoleh kepadanya, “Siapa juga yang suruh lari sampe ujung sana? Lagian aku juga capek ngejar-ngejar atlet taekwondo sabuk item kayak kamu. Aku kan bukan atlet apa-apa.” Vincent tidak berkomentar, sementara aku masih berharap dia mengalihkan pembicaraan lain selain masalah ‘apa yang aku pikirkan.’ Namun sepertinya harapanku itu percuma saja. Toh, lelaki ini terus memandangiku lekat-lekat, walaupun aku sudah membuang muka darinya. “Cowok yang dulu nyaris—mungkin sih—jadi pacarku.”
“Nyaris?” tanyanya skeptis.
Aku manggut-manggut. “There’s this man. So cool, handsome, and the idol of school. Sementara aku cuma siswa biasa, tapi dia quite close sama aku dan kita sering main keluar berdua. Then one day, dia kenalan sama sepupuku, yang ternyata teman lama dia, tapi aku nggak tahu apa-apa. Kita—aku dan that boy—masih sering aja sih main-main bareng, jalan bareng, liat sunset bareng. Until one day in the middle of November about three years ago, they start to make a relationship. Ya, mereka pacaran.”
Vincent tidak menyela ucapanku. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa menceritakan pengalaman terpahitku itu.
“Lo udah maafin mereka?”
Aku menoleh pada Vincent yang sedang melihatku dengan tatapan datar, tapi dapat kuartikan bahwa dari raut wajahnya dia benar-benar serius dengan ucapannya. Seolah dari ucapannya itu mengatakan ‘lo harus maafin mereka.’ Aku tidak menyangka saja kalau Vincent akan menanyakan hal itu.
Aku pun menggelengkan kepalaku.
“Maafin mereka.”
See? He’ll tell me to forgive them.
“Its not an easy matter, Vin. Gue sendiri berusaha selama tiga tahun ini untuk memaafkan mereka, untuk mengampuni mereka. Tapi apa? Gue nggak sesuci itu untuk bisa ngelupain betapa muka duanya mereka.”
Vincent sempat menarik napas panjang sebelum mengatakan apa-apa. Dia terlihat berpikir untuk menimpali perkataanku barusan, seolah dia sedang mencari celah dimana dia mengatakan, ‘pikiran lo itu salah, Lys.’
Aku bangkit berdiri, lalu membersihkan bajuku dari pasir-pasir yang menempel. “Pinjem kunci mobil dong, mau ganti baju nih...” aku baru berbalik badan dan hendak melangkahkan kakiku, ketika Vincent menggenggam cepat pergelangan tangan kananku, sehingga aku berhenti dan seluruh tubuhku mematung. Detik berikutnya aku menoleh ke bawah, melihat Vincent.
“Apa karena itu juga makanya lo kuliah sampai sejauh ini dari rumah lo?” tanyanya.
Kali ini aku merasa ditikam dengan ucapannya Vincent.
“Dan... lo kuliah hukum bukan karena keinginan lo sendiri bukan? Its just a runaway?”
Jantungku berdegup tak keruan mendengar ucapan Vincent yang penuh dengan kebenaran di dalamnya.
Aku ingin mengelaknya, membantahnya. Namun mulut ini serasa terkunci dan tak bisa membalas ucapan yang penuh dengan fakta di dalamnya. Pada akhirnya aku terisak, dan aku mulai merasakan pipiku membasah karena air mataku yang sudah meluncur.
Vincent pun berdiri dari posisi yang semula—masih sambil menggenggam pergelangan tangan kananku. Sebelah tangannya yang bebas mulai menyeka air mataku dari pipiku sendiri.
“A.. Aku...” aku merasakan hatiku sakit. Seperti saat aku tahu Carol dan Miguel jadian. Sakit yang tidak terdefinisikan, dan rasanya membuatku ingin kabur, menghilang saja dari muka bumi ini. Tapi aku tidak bisa. Semakin Vincent menghapus jejak air mataku, semakin sakit hatiku rasanya.
“I know it’ll be not easy for you, Lys,” kata Vincent. “But, when you forgive, you love. Ketika lo berhasil memaafkan orang yang sudah menyakiti lo, disaat itulah lo akan tahu makna cinta yang sesungguhnya.”
Seketika, semua kenangan yang kumiliki dengan Miguel muncul dibenakku bagaikan kaleidoskop. Aku ingat bagaimana dia menyapaku, menyambutku setiap kali aku selesai kelas, menjemputku di gerbang sekolah setelah aku selesai rapat OSIS, dan bagaimana dia menceritakan cita-citanya. Sejujurnya, memang bukan keinginanku sendiri untuk kuliah sampai sejauh ini dari rumahku, dan bukan keinginanku juga untuk kuliah hukum.
Aku ingin kuliah di Bali, aku ingin menjadi event organizer, seperti orangtuaku, menjadi conceptor. Tapi apa?
Karena sakit hatiku, aku justru mengubur impianku itu dan melarikan diri sejauh mungkin yang kubisa. Melarikan diri sampai Jakarta. Melarikan diri dari dunia yang kusukai hanya untuk melupakan Miguel. Namun, semua usahaku malah membuatku semakin mengingat Miguel. Apalagi ketika perasaanku ini dikorek-korek oleh orang lain.
“Just don’t run further more. Hadapi kenyataan, dan stop lari dari perasaan lo sendiri.”
Damn!
Tangisanku semakin pecah setelah Vincent mengatakan itu. Akhirnya Vincent pun menarikku ke dalam pelukannya. Kedua lengan kokohnya itu mendekapku erat. Aku bisa merasakan rasa aman dan tenang di waktu yang bersamaan. Sebelah telapak tangannya mulai mengusap punggungku.
Seperti yang kukatakan. Aku memang menyukai Vincent. Dia adalah tempat dimana aku bisa menceritakan segala hal yang penting untukku. Impianku, harapanku, kepadanyalah kuceritakan semuanya.
Tanpa sadar, aku sudah merasakan hal yang terlalu nyaman bersamanya. Aku tidak lagi menyukainya. Tapi sangat-sangat menyukainya! Aku bisa membuka lagi hatiku untuk orang lain setelah Miguel yang telah menyakitiku. Aku mencintainya.
—————————