A Glass of Ice Tea

1712 Words
Jakarta, November 2010. Lyssa.             “Lys, cantik bener mau ke mana?” tanya Kak Bill yang sedang mengetik di ruang tamu saat melihatku turun mengenakan dress selututku yang berwarna pastel, tak lupa aku memakai cardigan hitam favoritku dan juga, memakai sepatu flat senada dengan dressnya. Aku pun juga memakai bando kecil berwarna pink untuk menghias rambutku yang kubiarkan tergerai.             Kak Bill masih melihat gerak-gerikku yang seperti anak ABG baru kasmaran. Lama berpikir, akhirnya Kak Bill menjentikkan jarinya dan dia menganga heran. “Jangan bilang kamu beneran diajak jalan keluar sama Vincent?!”             Aku cengengesan tak keruan. “Tuh tahu! Masih nanya lagi!”             “Kakak kira kamu bercanda kemaren!” balasnya.             Aku memang bercerita kalau beberapa hari yang lalu, Vincent dan aku memang BBM-an karena sebuah kejadian konyol dimana Vincent bertanya apa yang aku lakukan di kelasnya Pak Rivat karena sampai membuat kegaduhan. Akhirnya, aku bilang saja kalau dia terlalu mempermasalahkan masalah yang kecil dan sepele sehingga membuat kelas tidak kondusif.             Lalu tak lama, Vincent mendapat celah dimana hal tersebut dijadikannya sebagai senjata untuk ‘menikamku.’ Dia hendak mengadukanku kepada Pak Rivat via BBM-nya karena sudah ngomongin Pak Rivat. Akhirnya, dia bilang nggak jadi diaduin cuma dengan aku traktir dia es teh manis.             Aku menceritakannya pada Kak Bill dua hari yang lalu, dan Kak Bill kira hal itu hanya bercandaan aku saja—awalnya aku pun juga berpikir begitu. Namun, rupanya kemarin malam Vincent mengingatkanku untuk tidak melupakan traktiran es teh manisnya kalau masih mau mendapatkan nilai yang aman dari Pak Rivat.             “Terus Vincentnya mana sekarang?” tanya Kak Bill sambil menengok-nengok ke depan jendela depan. “Kamu diajak keluar jalan kaki, naik motor atau mobil? Kalo naik motor, hati-hati terbang aja tuh roknya entar.”             Aku mendengus pelan. “Ya kali Kak naik motor!”             “Loh? Vincent itu ke kampus naik motor tahu! Dia nggak dibawain mobil dari Bandung sama emak-bapaknya kali.”             Iya juga ya? Duh, kenapa aku malah pakai dress begini sih? Apa aku ganti baju dulu aja ya?             Aku buru-buru berbalik badan dan menaiki tangga, namun tepat saat itu, Kak Bill langsung menghentikan langkahku. “Telat Lys, tuh, orangnya udah dateng.”             Dari dalam rumah, aku melihat sebuah mobil putih terparkir di depan lalu seseorang keluar dari dalamnya. Yang keluar adalah Vincent! Tunggu, bukannya Kak Bill bilang tadi Vincent pake motor ya biasanya? Kok dia dateng pake mobil sekarang?             Aku pun buru-buru turun lagi ke bawah dan mengambil tasku saja.             Vincent mengetuk pintu rumah, dan Kak Bill membukakan pintunya. Aku masih ada di ruang tamu untuk membenarkan riasanku sedikit. Tapi aku dapat melihat sekilas mereka berdua di dari ruang tamu, dan juga mendengar percakapan mereka.             “Hei Bill,” sapa Vincent.             “Lyssa ya?” tanya Kak Bill, “Bentar, dia lagi di ruang tamu.”             Aku pun buru-buru berjalan ke arah pintu, seketika aku muncul di balik tubuh Kak Bill, layaknya anak kecil yang sedang bersembunyi di balik tubuh ayahnya. “Hai Kak!”             “Siapkan traktir es tehnya?” sahut Vincent dengan gurauan.             “Iya,” balasku. “Kak, aku pergi dulu ya.”             Kak Bill mengangguk sekilas, dan berkata, “Oke.” Sebelum aku keluar rumah, dia mengatakan sesuatu pada Vincent. “Cent, lo emang kakak tingkat gue. Tapi kalo sampe Lyssa kenapa-napa awas aja.”             Vincent tersenyum tipis dan mengangguk. “Aman Bill.” —————————             Di dalam mobil, aku dan Vincent diam-diaman cukup lama. Aku memerhatikan interior mobil ini. Bersih dan wangi. Aroma lavendernya menenangkan pikiranku.             “Bill itu saudara kandung?”             “Sepupu,” jawabku. “Kenapa emangnya?”             “Protektif banget rasanya.” Vincent mengatakan itu dengan wajah yang cukup serius. Entah dia merasa seperti gimana saat mengatakannya.             “Jelaslah. Kak Bill pengen punya adik cewek. Pas aku dititipin sama orangtuanya Kak Bill buat kuliah di sini, makanya Kak Bill semangat, terus berusaha jadi kakak yang baik gitu deh. Termasuk, ngejagain aku dari serangan-serangan buaya.”             “Buaya?”             “Buaya darat.” Vincent terkekeh pelan mendengarku mengatakannya. “Tumben tapi Kakak bawa mobil? Biasanya juga bawa motor ke kampus.”             “Mau jemput kamu, makanya aku pinjem mobilnya Allan. Untung aja mobil dia bersih,” jelasnya, “Lagian kamu udah pake dress kayak gitu masa aku ajak kamu jalan naik motor.”             Aku sedikit tersipu malu mendengar pengakuan Vincent.             Kita berdua sampai di sebuah restoran kecil yang memiliki interior ruangan bernuansa vintage. Aku suka dengan pernak-pernik yang ada di sana. Vincent memarkirkan mobilnya di halaman parkir restoran tersebut.             Park Huis.             “Pernah ke sini?” tanya Vincent sebelum dia mematikan mesin dan membuka sabuk pengamannya. Dia melirikku sekilas, dan aku menggeleng cepat. “Bill padahal suka nongkrong di sini juga sih sama temen-temennya. Tapi baguslah kalau kamu belum pernah ke sini.”             “Emang ini restoran isinya apa aja?”             “Banyak. Makanan Indonesia, western, eastern, latin juga ada.”             “Enak?” tanyaku. Sejauh ini, ak memang suka dengan makanan latin, tapi hanya yang dibuat dan dimasak di Latino, milik Miguel dan keluarganya, karena keluarganya memang keturunan asli dari Meksiko.             Aku turun dari mobil bersama dengan Vincent. Kami berdua masuk ke dalam Park Huis dan duduk di salah satu tempat duduk yang berada di sebelah tembok. Hanya ada satu meja dan dua kursi yang saling berhadapan.             Vincent memesan laksa Singapura, dan es teh. Sementara aku memesan fish and chips dan vanilla milkshake.             “Jadi tugasnya Pak Rivat udah kelar?” tanyanya. Menunggu makanan itu cukup lama, tanpa pembicaraan, yang ada kami berdua bisa dikira orang ansos—anti sosial—yang sedang bertengkar. “Tugasnya gampangkan?”             “Gampang dari mananya Kak? Cari sepuluh referensi buku emangnya gampang?” tanyaku balik. “Aku sudah hampir gila tahu mikirin tugas-tugasnya beliau.”             Vincent terkekeh pelan, “Itu baru makalah mingguan. Gimana skripsi nanti kamu? Bisa jadi penghuni RSJ kali?”             Leluconnya tidak lucu, tapi aku tertawa.             “Kenapa masuk hukum?” tanyanya. Pertanyaannya benar-benar random, tapi bukan berarti aku tidak menyukainya. Tanpa melakukan apapun, aku tetap menyukainya. Aku sudah menyukainya.             “Karena masuk ekonomi terlalu mainstream. Iya sih, mata emang sipit nih, tapi nggak berarti aku harus masuk ekonomi. No way, thanks. Aku nggak suka ekonomi.”             “Desain?”             “Bisa sih,” kataku, “Tapi kalo lulus nanti cuma kerja di EO-nya Mama sama Papa. Nggak asik. Loh? Kakak sendiri mau jadi apa emangnya kuliah hukum?”             “Advokat,” jawabnya, “Penasihat hukum yang membantu terdakwanya di pengadilan. Seneng rasanya bisa bantu orang di pengadilan. Keren gitu rasanya.”             Oh, jadi cita-citanya Vincent jadi advokat toh. Keren juga ya... Jadi seneng rasanya kalo jalan calon advokat gini. Rasanya kan jadi lebih aman gitu, kalo ada yang macem-macem tinggal bilang deh, entar dibelain!             Makanan kami pun datang, kami berdua masih mengobrol disela-sela waktu kami makan. “Kamu punya berapa saudara?” tanya Vincent. “Maksudnya, selain Bill ya. Saudara kandung kamu.”             Aku mengangkat jari telunjuk dan tengah tangan kananku, “Ada dua, semuanya laki-laki.”             “Wow, aman banget dong kamu ya? Kakaknya laki-laki semua, kamu anak perempuan sendiri. Mereka ambil hukum juga atau gimana?”             “Kak Aldo kuliah bisnis, Kak Alvin kuliah desain. Intinya sih dua-duanya kerja di tempat Mama sama Papa. Somehow, jadi bosen aja kalo sekeluarga kita cuma ngurusin bisnis keluarga. Nggak aneh sih, cuma kesannya kayak nggak ada kerjaan lain aja di dunia ini?” keluhku. “Kakak sendiri? Anak tunggal?” sejujurnya, aku hanya basa-basi saja. Toh, aku sudah tahu kok berapa adiknya dan orangtuanya kerja apaan berkat hasil stalking ku tempo hari.              “Adikku ada tiga. Satu perempuan—namanya Vanessa—dan dua laki-laki—namanya Victor sama Valentino. Papa kerja sebagai dosen, dan Mamaku punya coffee shop. They’re not really special, but I love my family.”             “Such a big family I guess,” gumamku. “Cuma beda satu saudara doang sih.”             Kami berdua selesai makan setelah bercanda dan banyak bercerita tentang masing-masing keluarga yang kami miliki. Tentu saja, aku tidak terlalu banyak bertanya karena aku sendiri bingung apa yang ingin aku tanyakan padanya. Lagi pula, akan terkesan agresif juga jika aku menanyai Vincent banyak hal.             Terakhir, sebelum kami selesai, Vincent kembali memesan dessert yaitu, dua potong blueberry cheese cake untuk masing-masing aku dan dia. Kami kembali memakan kue itu dengan tenang sambil menikmati alunan musik yang ada di restoran ini.             “Kamu masih nggak mau ikut UKM debat juga nih Lys?” tanyanya.             Aku mendongak melihatnya lurus. Mataku jelas sudah membulat dan aku segera menggeleng, “Aku udah bilang aku nggak suka debat. Lagian debat-debat gitu cuma bikin tegang otak doang.”             Vincent geleng-geleng keheranan. “Rupanya aku berhasil mendapatkan orang yang sama-sama keras kepalanya sepertiku. Kalau kamu nggak suka sesuatu, kamu akan benar-benar bilang nggak suka hal itu terus-menerus bukan?”             Aku mengangguk. “Iyalah. Ngapain aku harus pura-pura suka buat hal yang aku nggak sukai sama sekali.”             “I like your style. Straight forward and just the way it is.”             Aku merasakan ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku sesaat setelah Vincent mengatakan hal itu. Degup jantungku juga jadi tak keruan untuk beberapa detik berikutnya.             Selanjutnya, Vincent meminta seorang pelayan untuk membawakan tagihan makanan kami berdua.             Aku sudah mempersiapkan uang untuk membayar makananku tentunya. Aku tidak menganggap hari ini sebagai kencan. Oh ayolah, mana mungkin aku kencan dengan cara yang semudah ini dengan seorang Vincent Kristiawan?             Ketika tagihan itu dibawakan oleh pelayan, aku segera melihat harga makanan dan minumanku serta kue yang tadi terakhir dipesan oleh Vincent.             “Es tehnya aja yang kamu bayar, Lys.” Suara lembut nan tegas milik Vincent segera menyadarkanku, dan aktivitasku yang sedang mengulik isi dompet untuk mengeluarkan sejumlah uang pun terhenti sesaat. Aku melihat arahnya dan mengernyitkan dahi karena tak percaya dengan ucapannya. “Iya kamu bayar es teh manisnya aja. Itukan janji kamu buat traktirin aku es teh manis.”             “Tapi aku juga makan banyak kali Kak,” sanggahku.             “Bayar es tehnya aja atau nggak usah bayar sama sekali.”             Aku mendesah panjang. Dia tadi bilang kalau kita berdua sama-sama keras kepala, jika diantara kita berdua tidak ada yang mengalah, maka perdebatan ini akan bertambah lama. Oke, aku mengalah dengan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu padanya. “Thanks for the ice tea.” Vincent tersenyum padaku, lalu berdiri menuju kasir untuk membayar semuanya.             Jujur. Aku jadi makin menyukainya setelah hari ini.             Aku sangat menyukainya. —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD