Jakarta, November 2016.
Vincent.
“Lo tuh ya! Udah bagus jauh-jauh nggak usah nongol lagi di depan Lyssa!” seru Dea di hadapanku. Saat ini aku sedang berada di kafe milik Dea di Senci bersama dengan Allan. Aku nggak ngerti dengan ucapan Dea barusan yang langsung mengomeli aku barusan setelah pesanan minuman aku dan Allan datang. “Belegug sia!”
Aku mengerutkan keningku sambil melihat Dea heran. Dia barusan ngomong apa?
“Kasar De, lo jangan bilang gitu kali,” teguh Allan.
“Emang artinya apa?” tanyaku pada Allan, dan dia pun membuka mulutnya tanpa bersuara berkata, ‘Lo tolol.’
“Sadayana wae sia nyieun nyeri hate Si Lyssa,” katanya lagi dengan nada bicara khas Sundanya.
Aku nggak ngerti sama sekali bahasa Sunda, jadi jangan tanya aku apa artinya. Akhirnya aku melihat Allan lagi dan bertanya padanya apa arti yang diucapkan Dea tadi. “Semuanya aja lo bikin sakit hati Si Lyssa.”
Tepat setelah Allan mengatakan artinya, Dea menyambar lagi, “Ngaku teh urang Bandung, iye bahasa Sunda teu nyaho wae!”
Tanpa aku tanya, Allan langsung membalas, “Ngakunya orang Bandung, ini bahasa Sunda aja nggak ngerti.” Akhirnya aku menarik napas dalam-dalam, hanya berusaha sabar untuk persidangan di kafe hari ini. Allan kemudian berdeham keras dan merenggangkan badannya, “Tolong ya De, gue di sini nggak di sewa buat jadi translator antara omelan bahasa Sunda kasar lo dengan Vincent yang nggak ngerti apa-apa tentang apa yang lo omongin. Mending gue datengin mediasi masih bisa dapet uang, daripada di sini. Ngabisin duit!”
Dea menatap tajam Allan lalu beralih padaku. “Intinya, jauh-jauh dari Lyssa! Nggak bakalan sudi gua liat muka lo lagi sampe lo masih sakitin Lyssa lagi!”
“Gue sakitin Lyssa di mana sih, De?” tanyaku. Aku benar-benar tidak mengerti di bagian mana sebenarnya aku menyakiti Lyssa. “Apa b******n? Apa gue laki-laki b******k?”
“Nah, tuh lo paham!” balas Dea. “Makanya, lo tuh kalo jadi cowok, jangan kurang ajar sama cewek! Lo punya saudara perempuan? Kalo saudara perempuan lo digantungin tiga bulan, terus cowok itu udah ngajak dia jalan-jalan, dan tanpa sepatah kata cowok itu pergi menghilang, apa yang akan lo lakuin ke cowok itu?”
Aku membayangkan Vanessa seperti itu. “Cowok itu bajingan.”
“You tell yourself like that!” balas Dea. “Lo adalah cowok b******n itu!”
Allan akhirnya mengangkat tangannya dan menahan Dea yang hendak menamparku. “Udah gue bilang kalo lo lagi PMS jangan ketemu Vincent. Lo masih ngotot aja mau nemuin Vincent,” sanggah Allan, dan akhirnya Dea duduk lagi di tempatnya, “Gini deh Vin, pada intinya gue sama Dea nggak mau lihat Lyssa galau lagi. Enam tahun dia emang gagal move on, tapi dia udah punya kehidupannya sendiri sekarang. Setidaknya dia nyaris berhasil kalo dia nggak ketemu sama lo kemarin.”
“Gagal move on enam tahun?” tanyaku balik. “Itu artinya dia memang masih ada rasa sama gue?”
“Lo cukup cerdas untuk memahami itu Vin,” balas Allan.
Aku termenung cukup lama sebelum akhirnya mendengar sebuah suara yang lama tidak kudengar muncul dari belakang tubuhku. “Allan! Dea! Novel baru gue mau keluar dong! Akhirnya editor gue udah selesai ngeditnya!!”
Aku menoleh, mendapati Lyssa di belakangku. Dia tersenyum secerah matahari saat melihat Allan dan Dea. Namun detik berikutnya, saya dia berpaling padaku, dia menghapus senyumnya tersebut dengan tatapan dingin yang sulit ku artikan.
“Lo nyuruh gue kesini karena ada orang ini, De?” tanya Lyssa. “Anjir lo.”
“Bukan Dea. Ini gue yang nyuruh,” kata Allan, “Both of you need to talk.”
“Gue nggak butuh pembicaraan apapun buat laki-laki b******k ini,” katanya tanpa takut, “Gue juga nggak peduli sama apapun yang dia mau katakan. Oh, karena dia ada di sini,” Lyssa mengeluarkan sesuatu dari dalam tas pundaknya, “Ini materi yang harus lo bawain buat LDKM nanti. Kalo lo nggak ngerti boleh tanya gue. Lan, De, gue cabut.”
Aku memegang beberapa lembar kertas yang diberikan Lyssa padaku itu. Materi tentang time management adalah materi yang diberikannya padaku. Tak sampai semenit, aku melihat Lyssa sudah keluar dari kafe milik Dea.
Aku masih tercenung, melihat Allan dan Dea bergantian. Dea tidak memasang tatapan mematikannya, tapi dia berkata dengan santai, “I know her feeling for you. That feeling still remain the same like before.”
Sementara, Allan membalas berkata, “Lo ngapain masih di sini Bego? Gue emang nggak izinin lo buat ketemu sama Lyssa. Tapi kali ini gue kasih lo pengecualian. Kejar cepetan.”
“Gue titip ini.” Aku meletakkan kertas yang diberikan Lyssa padaku tadi kepada Allan dan Dea, dan segera keluar mencari Lyssa.
Beruntung, aku masih bisa berlari dan jarak pandangku masih cukup jauh dengan bantuan kacamata ini. Aku mencari sosok Lyssa yang tadi sekilas kulihat, aku menemukannya. Dia hendak turun menggunakan eskalator. Tanpa pikir panjang, aku pun berlari ke arahnya dan menahannya.
Aku berhasil menarik sweater berwarna merah muda itu, dia berbalik menghadapku dengan mudah tanpa aku harus menarik lengan atau tangannya, dia pun menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Pergi lo!”
“Aku mau ngomong Lys. Kita harus ngomong,” kataku dengan penekanan di akhir kalimatku. “We need to talk.”
“Ngomong apaan? Gue nggak merasa kita harus ataupun perlu.”
“Kalo lo nggak mau ngomong fine. Tapi gue mau ngomong sama lo.”
Dia terlihat frustasi dengan paksaanku. Dia masih marah denganku. Itu yang dapat aku tangkap dari matanya yang berkaca-kaca. Dengan satu kedipan, air matanya meluncur di pipinya. Detik berikutnya, dia mengambil ponselnya yang bergetar dari tasnya.
“Gue punya panggilan yang lebih penting dibandingkan meladeni omongan lo yang full of bullshit okay?” katanya sambil menunjukkan caller ID yang meneleponnya. Aditar Hadiantoro. Siapa dia?
Lyssa mengangkat telepon itu. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan karena Lyssa hanya membalas dengan jawaban ‘oke’ atau ‘iya’ dan ‘baiklah.’ Sebenarnya siapa Aditar Hadiantoro ini?
“Gue mau nemuin Adit jam tiga sore. Jadi gue nggak bisa ngomong sama lo.”
Aku segera melihat jam tanganku, dan sekarang baru jam duabelas. Oh Tuhan, perempuan ini memang sengaja sekali tidak ingin bicara denganku. “Sekarang masih jam duabelas. Lo punya dua jam untuk ngomong sama gue. Satu jam aja kalo menurut lo dua jam terlalu lama.”
“Nggak mau.” Lyssa berbalik dan hendak melangkah ke eskalator. Aku pun segera menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat. Aku dapat mendengarnya merintih kecil karena kesakitan dengan genggamanku itu. Aku sudah lama tidak main taekwondo, tapi sepertinya aku masih memiliki kemampuan untuk bertahan jika diserang. “Dasar banci lo! Bisanya main kasar sama cewek!” seruannya tidak membuatku melepaskan genggamanku.
“Satu jam bicara sama gue, dan gue bakal lepasin genggaman ini,” kataku.
“Fine! Satu jam!”
Aku tidak yakin dengan janji Lyssa, akhirnya aku menambahi ucapanku. “Kalo sampe lo kabur, gue nggak akan mau jadi pembicara di LDKM kampus.”
“Ancaman macam apa itu?! Lo kan punya janji sama Pak Tirta bukan gue!”
“Tapi Pak Tirta bilang di hadapan elo kan? Dan lo yang ngurusin LDKM.”
Dia akhirnya pasrah. Aku melihat sorotan mata lemahnya dan dia pun menyerah. “Satu jam. Itu waktu yang lo punya.”
Aku pun melepaskan genggamanku dari pergelangannya.
—————————
Kini aku duduk berhadapan dengan Lyssa di dalam kafe Dea. Bahkan, sebelum kami berdua berbicara Dea membersihkan meja dari segala sesuatu yang dapat memicu kegaduhan. Maksudnya di sini adalah pisau, garpu yang berbahaya untuk digunakan menunjuk-nunjukku saat emosi oleh Lyssa. Selain itu, untuk menghindari siraman lokal, Dea mengangkat air minum di situ, juga piring agar tidak terjadi ufo terbang di siang hari.
“Lo udah buang waktu lo selama lima belas menit. Kalo memang nggak ada apapun yang harus lo katakan, mending gue cabut,” kata Lyssa sambil membereskan tasnya dan hendak berdiri.
Namun, detik itu juga aku segera menahannya dengan perkataanku. “Maaf untuk semuanya Lys. Nggak seharusnya dulu gue kayak gitu, membuat lo bahagia dan ninggalin gitu aja.” Aku menarik napas dalam-dalam untuk mengutarakan isi hatiku yang lain. “Sesungguhnya, apa yang gue lakuin ke lo dulu itu tulus.”
“Tulus?” ulangnya dengan alis terangkat sebelah. “Apa lo yakin ketika lo mengatakan lo tulus? Apa yang lo tahu dan paham soal ketulusan? Lo emang selalu bikin cewek baper, tebar jala lo di sana-sini. Lalu, lo ceritain ke orang-orang kalau cewek itu yang ngejar lo padahal nyatanya lo yang deketin cewek itu. Otak lo dimana sih? Oh, apa mungkin karena lo terlalu cerdas makanya lo nggak tahu yang namanya perasaan?”
Aku terdiam mendengar setiap dakwaan yang diucapkan Lyssa. Tidak ada yang salah sebenarnya. Memang aku sebrengsek itu. Ya, aku memang mendekati perempuan dan mengatakan pada orang lain kalau mereka yang mengejarku.
“Gue nggak ngerti maksud lo berkata kayak gitu ke orang-orang apaan. Tapi kalau memang lo selama itu ngejar cewek, dan selalu bilang kalau mereka yang ngejar lo, gue cuma penasaran aja sama apa yang lo bilang ketika ada cewek yang bener-bener ngejar lo?” tanya Lyssa, “Apa lo bilang kebalikannya juga? ‘Oh iya, kali ini gue yang ngejar dia. Bukan cewek itu yang ngejar.’ Gue yakin lo nggak bakalan bilang gitu.”
“I admit my wrongs. Gue memang salah, Lys. Apa nggak bisa buat gue mendapatkan maaf dari lo?”
“You asked for my sorry. But it’s uneasy for me to give it to a bastard like you.” Lyssa menatapku lekat-lekat. “Udah ada berapa cewek yang lo mintain maafnya? Gue bukan korban pertama lo pastinya.”
Aku memang kurang ajar, dan entah ada berapa banyak perempuan yang aku buat sama seperti Lyssa. “Gue memang b******n. Tapi apa yang gue lakuin ke lo adalah jujur dan tulus.”
“Apa ada yang bisa jamin itu? Apa alasan lo bisa bilang gitu?”
“Karena gue benar-benar cinta sama lo.” Lyssa pun mematung seketika.
—————————