Not Moving Yet

1737 Words
Jakarta, Oktober 2016. Lyssa.             Aku hendak pulang ke apartemenku malam itu setelah aku selesai melakukan siaran di radio. Aku memang ingin langsung pulang, namun entah kenapa aku masih merasa ada hal yang mengganjal, apalagi dengan lagu terakhir yang aku putarkan di playlist lagu siaranku malam ini. Lagu Move On yang dipopulerkan oleh Bruno Mars membuatku jadi teringat akan sosok Vincent yang muncul tadi siang di kampus.             Aku menarik rambutku dengan kedua tanganku kuat-kuat sambil mengutuki betapa bodohnya diriku yang telah bersikap seperti tadi saat bertemu Vincent. t***l! Dasar bodoh! Alyssa Parahita adalah orang terbodoh di muka bumi ini!!!             “Lo kenapa Lys?” tanya Adit. Kalian bertanya-tanya siapa gerangankah Adit ini? Dia adalah pemilik dari radio Fame tempat aku bekerja. Dia juga salah satu teman seperjuanganku saat aku sedang kuliah di Amerika. Awalnya, aku berkenalan dengan Adit lewat perhimpunan mahasiswa Indonesia yang belajar di Stanford, dan akhirnya kami menemukan kesamaan yang membuat kami berdua cocok satu sama lain.             “Nggak napa kok Dit, sakit kepala doang,” balasku dengan senyuman yang dipaksakan. “Lo belom pulang?”             Adit menghampiriku dan meletakkan punggung tangannya di dahiku. “Agak anget sih. Lo yakin sehat-sehat aja? Besok nggak usah ke radio kalo emang sakit. Gue nggak kekurangan penyiar radio kok,” balas Adit. Kadang perhatiannya memang terlalu berlebihan karena dia memang memperlakukanku seperti anak kecil, hanya karena dia lebih tua enam tahun dariku. “Kalo elo sakit, mending istirahat. Kerjaan di kampus gimana?”             Aku menggeleng, “Gue baik-baik aja Dit. Di kampus juga beres kok kerjaan gue. Cuma...”             “Cuma?”             Aku ingin menceritakan kedatangan Vincent ke kampus tadi siang. Namun, setelah aku pikir-pikir sepertinya bukan saat yang tepat untukku bercerita ke Adit tentang masalah Vincent ini.             “Vincent?”             Headshot! Kenapa Adit bisa tahu persis apa yang ada dalam benakku?             “Lo nggak usah heran kalo gue bisa tebak ini karena Vincent kali, Lys,” balasnya dengan senyuman kecil, “Gue nggak pernah dengerin on-air lo yang hampir tujuh puluh lima persen isi siarannya muterin lagu-lagu galau yang gagal move on gitu ya. Suasana hati lo amat sangat mudah ketebak dari playlist yang lo puterin itu tahu.”             Aku tersenyum malu. “Gue suka lupa kalo lo itu juga psikolog yang bisa dengan mudah menebak suasana hati seseorang hanya dengan membaca gerak-geriknya sekilas.”             “So, would like to tell a story to me about this Vincent today?”             Aku bergumam sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Well, my stomach is too tired to tell these whole feeling in my heart to anyone right now. But if you insist, I’ll tell the whole story only in one condition!”             Adit mengernyitkan dahinya, “What is it?”             “Traktirin gue makan! Ya? Ya? Ya???” pintaku dengan puppy eyes yang sangat memohon. Aku belum makan sama sekali sejak tadi siang, karena aku memutuskan untuk pulang ke apartemenku sebentar dan kemudian ke radio karena jadwal siaran akan segera mulai. Aku belum memiliki waktu istirahat sama sekali.             “Ya udah. Gue traktir.” —————————             Aku bangun dari tempat tidurku paginya, ponselku bergetar beberapa kali. Alarm pagiku berbunyi untuk membangunkanku. Well, aku sudah bangun hari ini terlebih dulu daripada alarm itu. Aku menggeser lock screen, dan melihat ada beberapa pesan yang menumpuk dari w******p. Andrena Margareth: Hari ini jadi ke kafe nggak? Alyssa Parahita: Oke, tunggu yaw! Gue siap-siap ke sana!             Apartemen ini tidak besar, tepatnya ini hanya sebuah studio yang aku beli berkat hasil tabunganku yang sedikit demi sedikit kukumpulkan dari aku masih berkuliah di Stanford. Aku tidak mungkin pulang ke Indonesia dan masih numpang hidup di rumahnya Om Ridwan dan Tante Elisa.             Sehingga, aku mendapatkan studio kecil ini yang berada di pinggiran Jakarta. Aku berhasil menemukan studio yang terbaik yang kuinginkan di sini. Dapur kecil di depan pintu masuk, dan terdapat sebuah kamar mandi di sebelahnya. Masih ada tempat untuk menonton televisi, dan bekerja juga aku bisa menaruh buku-bukuku di atas rak yang ada di atas televisi. Tempat tidurku sendiri berada di atas kamar mandinya.             A simple studio but perfect.             Itulah yang ku katakan jika ada orang yang merasa studioku terlalu sempit.             Aku selesai mandi dan bersiap ke Senci. Sampai di sana, aku segera menuju kafe milik Dea—dan milikku juga sebenarnya. Tepatnya, aku juga ikut membayar sewa untuk kafe ini karena harga sewanya sangat fantastis. Dea sendiri yang mengatakan kalau dia tidak akan sanggup membayar biaya sewanya jika dia menanggungnya sendirian.             Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut membayar sewa. Setidaknya aku memiliki alasan tambahan agar aku tidak pulang ke Bali.             Selama ini, orangtuaku selalu memintaku pulang ke Bali. Entah kenapa juga, aku selalu mencari-cari alasan agar aku tidak pulang. Aku mengatakan kalau aku bekerja sebagai penyiar radio, dan penulis novel juga orangtuaku masih memaksaku pulang. Beruntung, aku berhasil lolos seleksi menjadi dosen di kampus tempatku kuliah dulu sehingga mereka mengizinkanku untuk tetap berada di Jakarta.             Alasan lainnya, karena aku bilang sudah membuka bisnis kecil-kecilan dengan Dea makanya orangtuaku membiarkanku tetap berada di sini.             “Lyssa! Ini brunch lo,” kata Dea dari bar table. “Gue sengaja masakin chicken parmigiana with mashed potato demi elo nih. Minumnya mau apa?”             “Black coffee.”             “No,” sanggahnya, “Lo langsung minum kopi? Sinting kali! Lemon tea okay?”             Aku manut saja dengan ucapannya Dea. Dia terkadang bertindak seperti emak-emak yang terlalu over protektif terhadap anaknya. Walaupun menurut Allan, kelakuan Dea itu wajar, karena aku ini ceroboh dan suka teledor.             “Kemaren lo ketemu sama Faith lagi?” tanyaku. Oh, Faith itu adalah cowok yang berhasil membuat Dea nggak move on selama sepuluh tahun. Singkatnya, aku gagal move on dari Vincent, sementara Dea punya lelakinya juga yang membuatnya stuck di tempat selama bertahun-tahun yaitu, Joyvensen Faithful. “Udah di tembak belom sama Faith? Apa mau langsung lamaran ke keluarga besar aja nih?” godaku sambil tersenyum meledek, dan lalu menyuap makananku.             “Lo jangan ngerusak mood gue dong pagi ini,” desisnya.  “Gue ada jadwal siaran sama Faith dua minggu lagi kayaknya buat ngebahas album baru dia yang bakal keluar Februari 2017 nanti. Anyway, Faith nggak main-main ke sini nih?” “Nanti malem kali. Dia lagi latihan sama orkestranya,” jelas Dea singkat. Masih membersihkan meja barnya sambil mengobrol denganku masih. “Terus lo nggak apa-apa kan Lys?” Kata ‘apa-apa’ Dea ini membuat jantungku berdetak aneh. Aku tahu maksudnya dia ‘apa-apa’ di sini adalah, ‘gimana keadaan lo setelah ketemu Vincent?’ Aku hanya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya panjang dan menggeleng pelan seolah tak ada tenaga. “Peduli setan dengan dia De. Gue nggak ngurus.”             “Kalo emang lo nggak ngurus, kenapa lo kayaknya panik banget waktu kemaren ketemu dia dan lo buru-buru telepon gue sampe kayak lo barusan melihat mayat yang udah dinyatakan mati enam tahun lalu dan hidup lagi saat ini?” tanya Dea.             “Dia emang udah mati enam tahun yang lalu De. Sejak dia lulus dari kampus dia udah mati.” Aku menyedot minumanku untuk mengalihkan perasaanku. “Dia memang mati dan gue nggak peduli sama dia lagi.”            “Jelas lo tahu betul kalau Vincent masih hidup. Kenapa lo harus pura-pura seakan lo nggak peduli?” tanyanya. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih seperti ini setelah enam tahun tidak bertemu dengannya. Kenapa aku masih seperti orang bodoh yang sama dengan enam tahun yang lalu. Kenapa?             Aku meletakkan alat makanku dan menatap Dea. “Gue nangis semalam. Entah kenapa gue masih tangisin laki-laki macam dia? b******n kayak gitu masih aja gue tangisin. Buat apa coba? Buat apa gue nangisin laki-laki b******k yang playboy abis kayak Vincent?”             “Buat cinta lo sama dia yang masih sama seperti enam tahun lalu, Lys.”             Aku menundukkan kepalaku.             Aku terdiam sesaat sebelum menanggapi ucapan Dea. Aku sudah meninggalkan semua hal yang dapat mengingatkanku akan Vincent. Aku sudah melupakan semua mimpiku yang pernah aku ceritakan padanya. Apa aku tidak punya kesempatan untuk melupakan dia seratus persen?             “Gue udah lupain dia De. Beneran,” balasku dengan kepala terangkat melihat Dea.             “Dengan lo jadi dosen, penyiar radio, novelis—memang lo mapan, memang lo cukup dengan itu semua. Tapi gue yakin Lys, lo hanya menjadikan itu semua sebagai pelarian. Dalam lubuk hati lo yang paling dalam, lo masih ingetkan apa yang jadi impian lo itu? Apa yang selama ini masih tertahan di benak lo?” balas Dea. “Biar gue tanya sekarang, apa impian lo yang belom tercapai?”             “Jadi konsultan hukum di bidang kesehatan.”             “Alasan lo ninggalin impian lo?”             “Vincent.”             “See? Lo bahkan bisa inget dengan jelas alasan lo mengabaikan impian lo yang tinggi itu. You just never forget him don’t you?”             Aku melupakan Vincent. Sungguh, aku benar-benar melupakannya setelah dia lulus. Kenapa Dea tetap memojokkanku dengan mengatakan hal demikian?             “The only problem is, she never try to forget him.” Sebuah suara berat yang kukenali itu menyambut jawaban dari Dea. Aku melihat Allan di sana, dengan kaos, dan celana jins belel. “Bener kan? Masalahnya adalah lo nggak pernah berusaha untuk melupakan Vincent. Karena itu lo nggak bisa lupain dia.”             “Bisa kita ganti topiknya?” tanyaku jengah saking kesalnya. “Gue mau ngurusin hal lain dulu dibandingin dengan ngurusin Vincent ini. Gue mau beresin LDKM kampus, yang—s**t! Gue harus manggil dia buat jadi pembicara lagi!”             “Loh? Bukannya lo minta gue buat jadi pembicaranya Lys?” tanya Allan.             “Mandat langsung dari Pak Tirta pas kemaren ketemu Vincent. Sial banget nggak tuh?” balasku dengan wajah memberengut. “Gue nggak bisa bilang nggak, dan Vincent udah ‘nge-iya-in’ buat jadi pembicaranya. Sialan banget!”             “Jaga omongan lo Lys,” tegur Dea, “Lo masih berstatus dosen. Tapi omongan kayak gitu.”             “Bodo ah. Lagi di luar kampus,” balasku.             “Anyway, gue mau ketemu Vincent nih entar. Mau ikut?” tanya Allan dengan senyuman khasnya yang iseng.             Dea melotot ke arah Allan. Seolah berkata, ‘Jangan bahas itu!’             Aku menggeleng cepat. “Ogah. Gue mau ketemu Sasa nanti. Tuh anak janji mau jadi pembicara buat LDKM juga. Habis lobi alumni yang lain kan susah. Gue pake dia aja deh.”             “ Ke Bekasi?” tanya Allan.             Aku mengangguk. “Doakan gua selamat pulang-perginya ya.”             Allan terkekeh. “Ati-ati ya. Salam buat Sasa. Bilang cepet married, sebelum Ditto nyadar kalo dia selama ini pacaran sama orang nggak waras ya.”             Aku menahan tawa. “Iya. Gue sampein.” —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD