Old Days

2643 Words
Jakarta, Oktober 2016. Vincent.             Akhir Oktober pun aku kembali lagi ke Jakarta. Kali ini aku sudah tidak tinggal ataupun numpang di rumah Allan—tepatnya orangtua Allan—lagi. Aku tinggal di rumahku sendiri kali ini. Iya, rumah burung yang dikatakan oleh Mama itulah yang menjadi tempat tinggalku di Jakarta saat ini.             Rumahku memang kecil, tapi bukan berarti rumah ini tidak layak huni. Karena rumah ini aku beli dengan hasil tabunganku. Ayolah, kalau kalian pikir aku bisa membeli rumah dengan murah di Jakarta, dari hasil usahaku sendiri pasti kalian akan berpikir darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk beli rumah? Pesugihan?             Aku sudah membereskan rumahku ini selama dua hari. Victor akan tinggal di sini mulai November, dan minggu ini barang-barangnya akan mulai dia bawa dari Bandung untuk dipindahkan kemari. Aku membuka f*******:-ku yang sudah lama tidak aku buka. Mungkin sekitar dua minggu, karena aku belum sempat membuka laptopku selama aku berada di rumah orangtua Allan dan di Bandung kemarin. Banyak sekali rupanya hal-hal yang aku lewatkan di sana. Mulai dari berita yang sedang panas-panasnya mengenai isu Pilkada serentak yang akan diselenggarakan tahun depan, sampai hal-hal nggak penting yang seharusnya tidak menjadi bahan perbincangan.             Tak lama, aku melihat Pak Tirta—iya, Beliau adalah dosen pembimbingku saat skripsi dulu—sedang online di f*******:, dan aku pun tanpa ragu-ragu mengklik nama Pak Tirta, dan memulai obrolan. Vincent Kristiawan: Siang Pak, apa kabar? Tirta Winata: Oh, Vincent! Baik, baik. Kamu sendiri apa kabar? Denger-denger baru balik dari Belanda ya? Vincent Kristiawan: Puji Tuhan, baik-baik juga Pak. Iya, saya baru balik dari Belanda awal bulan ini, setelah menyelesaikan tesis saya di sana Agustus kemarin. Tirta Winata: Anak bimbingan saya ternyata hebat ya. Kerja di mana sekarang? Atau masih cari-cari? Vincent Kristiawan: Saya diterima di Kemenlu Pak, bidang hubungan kelembagaan tapi baru mulai bekerja awal tahun depan. Saat ini saya masih berstatus pengangguran. Bapak masih mengajar di kampus? Tirta Winata: Oh, masih tentunya. Kalau kamu belum sibuk, main-mainlah ke kampus sini, biar adik-adik kelas kamu yang sekarang bisa tahu kalau ada kakak tingkatnya yang juga sukses dan hebat. Selama ini anak-anak baru selalu bangga sama Alyssa karena masih muda dan cerdas. Vincent Kristiawan: Alyssa? Memangnya kenapa bisa dibanggakan oleh anak-anak Pak? Tirta Winata: Biasalah, Alyssa itu lulus kurang dari empat tahun, dapat beasiswa di Stanford dan umurnya belum sampai 24 tahun sudah jadi dosen di kampus ini. Itu yang selalu mereka banggakan. Tapi mereka nggak tahu aja kalo Alyssa itu sebenarnya nggak ada apa-apanya. Dia memang pintar, tapi ilmunya hanya mentok dia gunakan untuk mengajar, nggak ada kerjaannya lagi yang lain dia selain dosen.             Aku jadi teringat ucapan Allan yang mengatakan bahwa Lyssa kehilangan tujuan hidupnya dan tidak tahu apa yang ingin dilakukannya. Tirta Winata: Kalau kamu nggak sibuk, datanglah main-main ke kampus Vin. Dengan senang hati pintu ruangan saya selalu terbuka untuk kamu. Vincent Kristiawan: Siap Pak. Saya janji akan ke sana nanti.             Ketika aku mengetik ‘janji’ aku benar-benar mengartikan janji tersebut dengan sungguh-sungguh. Dalam arti lain, aku benar-benar akan ke sana. Bukan hanya untuk bertemu dengan Pak Tirta, tapi juga ingin bertemu dengan Lyssa.             Itupun jika Tuhan memang menghendaki bila aku akan bertemu dengan Lyssa. —————————             Aku melihat lorong gedung fakultas hukum tempat aku menimba ilmu strata satuku beberapa tahun lalu. Hampir sepuluh tahun sejak aku pertama kali menginjakkan kakiku di gedung fakultas hukum ini, tapi tidak sedikitpun ada perubahan yang signifikan. Tidak terlalu banyak perubahan yang ada. Yang jelas, aku masih melihat lantai yang sama, cat warna tembok yang sama, dan berbagai hal yang sama lainnya.             Aku menunggu lift untuk naik ke lantai empat, tempat ruangan dosen-dosen berada.             Dr. Tirta Winata, S.H., M.H.             Aku melihat nama Pak Tirta beserta dengan gelar yang dimilikinya itu di depan pintu ruangannya. Di bawah namanya terdapat keterangan yang tertulis bahwa Beliau menjabat sebagai kepala program studi magister ilmu hukum.             “Vincent,” panggil seseorang dari arah kananku. Sosok tubuh yang kukenali ada di sana. Beliau masih tetap sama dengan gayanya yang santai, memakai kemeja yang agak longgar dan jins. Pakaian yang biasa digunakannya untuk mengajar di kelas. “Udah lama sampenya? Katanya mau agak siang?”             “Saya kira macet tadi Pak,” kataku, “Ternyata jalanannya lengang. Jadi bisa sampai cepat.”             “Baguslah kalau begitu. Ayo masuk ke dalam,” Pak Tirta membuka pintu ruangannya. Hanya ada satu meja yang dipenuhi dengan tumpukkan dokumen, di belakang meja kerjanya ada sebuah kursi dan komputer. Di depan meja kerjanya ada dua kursi. Selain itu, masih ada sebuah dua buah sofa—satu sofa terpisah dan satu sofa yang dapat diduduki untuk dua orang—dilengkapi dengan sebuah coffee table.             Ada pula beberapa foto yang terpampang di dinding ruangannya itu. Foto keluarga, foto kedua anak laki-lakinya yang sepertinya sekarang sudah masuk SMP. Selain itu, masih ada foto lain yang dipasangnya.             “Hari ini kamu nggak ada kerjaan apa-apa?” tanyanya. “Oh ya, mau minum apa nih? Teh? Kopi? Atau mau apa? Biar saya minta orang TU beli nanti.”             “Nggak usah repot-repot Pak. Saya ke sini mau ketemu Bapak aja kok.”             “Jangan gitu. Minum soda aja ya? Biasanya kamu minum soda. Biar saya bilang sama Mbak Ani sekalian,” katanya. Beliau keluar sebentar masuk kembali ke ruangannya, “Duduk di sana Vin,” menunjuk arah sofa, “Kamu masih kontak-kontakan sama anak-anak seangkatan kamu?”             “Masih Pak. Tapi hanya beberapa sih. Kemarin saya sendiri di jemput Allan waktu pulang,” kataku menjelaskan sambil mengambil posisi duduk di sofa.             “Allan yang mana itu?”             “Allan Tanujaya, Pak,” jelasku, “Dulu itu ketua senat angkatan saya Pak. Sekarang dia buka kantor notaris di Kebon Jeruk.”             “Oh iya, iya. Ingat saya sama dia. Allan yang agak pendek itu kan?” katanya, “Dia kemarin datang juga untuk acara Faculty Day sebagai alumni untuk menjelaskan pekerjaan profesi hukum yang digeluti oleh alumni sini. Ada Luna, sama Ferdi juga dari angkatan 2007 dan beberapa alumni yang lainnya juga dari angkatan lain. Kamu nggak ikut ya Vin?”             Aku menggeleng.             “Wah, Alyssa ini payah. Masa yang alumni yang berbobot kayak kamu malah nggak diundang datang?” keluhnya sambil berguyon. Pak Tirta mengambil tempat duduk di sofa yang terpisah dariku, ia masih mengajakku mengobrol biasa. Bukan hal-hal yang menjadi materi kuliahnya atau pembicaraan berat lainnya. Malah, lebih banyak membahas mengenai hal pribadi. “Jadi sekarang kamu udah siap nikah?”             “Ni.. kah?” ulangku dengan wajah yang bingung. Kenapa semua orang disini menanyakan kapan aku menikah? Kemarin ibuku, sekarang Pak Tirta.             “Lho? Tunggu apa lagi? Umur udah siapkan?”             “Mau di kasih makan apa Pak nanti anak orang?”             “Kerjaan kamu kan udah bagus di Kemenlu. Yakin saya kalau kamu mampu biayai istri kamu kok,” balasnya, “Atau jangan bilang kamu nggak punya calonnya?”             Skak!             “Lho? Kamu beneran belom punya calonnya? Kamu ngapain aja selama ini Vin?!” balas Pak Tirta diiringi dengan tawa.             Tok-tok-tok.             Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. “Ya, masuk!”             Muncullah di sana sosok seorang perempuan dengan rambut coklat yang diikat setengah, memakai kemeja yang rapih dan rok hitam serta wedges. Dia mengenakan riasan make-up natural dan yang paling menjadi ciri khasnya adalah eyeliner hitamnya, bibirnya berwarna merah muda. “Permisi Pak, ini tadi Mbak Ani nitip ke saya buat di kasih ke Bapak.”             “Oh, iya. Taro di sini aja,” balas Pak Tirta. “Eh Lys, kamu inget sama Vincent nggak? Masa dia bilang belum siap untuk nikah. Kamu sendiri udah mau nikah juga kan tahun depan?”             Lyssa yang tadinya tersenyum melihat Pak Tirta itu menoleh ke arah kiri Pak Tirta. Seketika, senyumannya menghilang saat kedua bola matanya mengarah padaku. “Vincent?” dia mengucapkan namaku, sedikit ragu dengan raut wajah yang agak heran juga.             “Kamu kenal kan? Dia itu angkatan 2007. Kemarin waktu kamu urusin Faculty Day itu kenapa nggak undang Vincent juga?” tanyanya pada Lyssa, “Nanti buat LDKM—Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa—kamu pakai Vincent juga ya sebagai speakernya.”             Aku langsung menyela, “Tapi Pak...”             “Kamu sibuk?”             “Nggak Pak. Tapi..”             “Sudah kalau begitu, kamu jadi pembicara juga. Alyssa, kamu atur jadwal materinya Vincent supaya jadwalnya sama dengan jadwal materi yang akan saya sampaikan juga. Oh, nanti juga ada temu alumni lagi nggak buat LDKM?” tanya Pak Tirta.             Lyssa menggeleng, “Buat acara LDKM ini tidak ada temu alumni Pak.”             “Sayang sekali Vin,” desah Pak Tirta. “Kalau dies natalis? Nanti alumni diundang?”             “Kalau misalnya alumni mau datang, diperbolehkan Pak, dengan membayar biaya kontribusi sebesar—“             “Saya yang bayar,” potong Pak Tirta, “Kamu harus datang ya Vin!”            Aku melihat raut wajahnya Lyssa yang memperlihatkan keengganan karena ucapan Pak Tirta barusan. Namun, di sisi lain aku tidak bisa menolak ucapan Pak Tirta yang sudah mengharuskan aku untuk datang ke acara dies natalis fakultas hukum ini. Sehingga aku harus mengatakan, “Baik Pak. Saya datang.” ————————— Lyssa.             Aku keluar bertahap dari ruangan Pak Tirta dan segera kembali ke ruang TU, untuk mengurus beerapa hal yang sempat tertunda saat aku urus tadi karena Mbak Ani mendadak ada panggilan alam. Aku baru masuk ke dalam ruang TU, dan Mbak Ani memberikan sekantong plastik padaku yang berisi dua botol soda.             Aku pun membawanya ke ruangan Pak Tirta, dan melihat Vincent di sana.             Sialan. Kenapa pula aku harus bertemu dia? Tidak, kenapa aku harus terlihat seperti orang bodoh ketika aku berada di dalam sana tadi? Astaga, kenapa aku harus menunjukkan ekspresi wajahku yang bodoh itu di sana?             Dasar bodoh!             “Alyssa,” panggil Mbak Sandy.             “Ah, iya Mbak?” aku menanggapi panggilan Mbak Sandy. Kalian bingung siapa dia? Mbak Sandy adalah salah satu rekan dosenku di sini, sebelum ada aku, Mbak Sandy adalah dosen termuda yang dimiliki fakultas ini. Dulu, saat aku masih kuliah juga Mbak Sandy sudah terdaftar menjadi dosen tetap di sini sejak aku tahun ketiga.             “Ini surat yang tadi kamu minta Lys,” katanya sambil menyerahkan surat tugas yang berisikan bahwa aku menjadi penanggungjawab untuk LDKM tahun ini. Sebenarnya, aku memang sudah dari tahun lalu menjadi penanggungjawab untuk kegiatan orientasi mahasiswa, Faculty Day, LDKM, acara dies natalis, sampai acara parents meeting untuk mahasiswa yang akan di wisuda. Namun tahun ini, aku hanya mengurusi kegiatan yang terkait dengan mahasiswa tahun pertama.             “Iya Mbak. Makasih,” kataku, “Oh iya, nanti malam ada rapat perdana untuk panitia dies natalis ya?”             Penanggungjawab untuk dies natalis tahun ini ialah Mbak Sandy sendiri. “Iya,” balasnya, “Kamu nggak bisa datang ya?”             Aku tersenyum sungkan, karena Mbak Sandy tahu jawabanku. “Iya Mbak. Jadwal siaran malam nanti soalnya.”            “Ya udah, nggak apa.” Mbak Sandy tersenyum tulus, dan mengangguk penuh perhatian. “Aku ngajar dulu ya. Ada kelas ilmu negara yang harus aku ajar. Duluan ya Lys.”             Aku menangguk. Aku masih berada di ruang TU cukup lama sebelum akhirnya kembali ke ruanganku. Beruntung, ruanganku tidak berada di dekat ruangan Pak Tirta. Aku sempat mengintip dari kaca luar ruangan Pak Tirta sewaktu jalan tadi, di sana masih ada Pak Tirta dengan Vincent yang masih mengobrol.             Sialan! Kenapa orang itu masih saja ada di sini sih!!             Dr. Dwi Andina Saputri, S.H., M.Hum.             Sandy Indira, S.H., M.H.             Alyssa Parahita, S.H., LLM.             Aku berada satu ruangan dengan Bu Dwi dan Mbak Sandy. Hari ini Bu Dwi tidak ada jadwal mengajar, sehingga meja Beliau kosong, dan Mbak Sandy biasanya akan ada di ruang TU jika hanya lowong beberapa jam, untuk menunggu waktu jam mengajarnya lagi. Tinggalah aku disini sendiri.             Aku masih emosi dengan kemunculan Vincent hari ini. Aku pun mengambil handphone yang ada di dalam tasku, dan mencari nama Dea. Jika dia tidak mengangkatnya, aku akan telepon Allan saja, atau aku datang saja ke kafenya. Toh, aku sudah tidak jadwal mengajar lagi hari ini.             “Halo?” di ujung sana mengangkat teleponku.             “Dea!!! Lo harus tahu siapa yang ada di ruangan Pak Tirta sekarang! b******n itu dateng ke kampus, De! Dateng ke kampus! Dia ada di sini sekarang De! Gue harus ngapain? Gue harus gimana? Anjir!!!”             “Woy! Santai, Lys! Lo lagi di kampus sekarang, dan lo dosen, jaga omongan lo dikit kenapa sih?” balasnya, “b******n yang lo maksud itu Vincent?”             “Emangnya ada b******n lain lagi selain dia?”                                           “Nggak sih.” Dea terdengar sedang berbicara dengan salah satu baristanya sebelum akhirnya menanggapi aku lagi. “Terus dia ngapain elo emangnya Lys?”             “Dia dateng ke sini... nggak ngapa-ngapain sih.”             Dea mendesah panjang di ujung sambungan telepon itu. “Terus kenapa lo harus panik Alyssa Parahita kalo emang dia nggak ngapa-ngapain elo?! Suka bener lo ya kalo kayak gini!”             “Pak Tirta minta dia buat jadi pembicara di LDKM nanti, dan dia minta gue buat ngasih jadwal materi mereka itu di jam yang sama. Gimana dong??”             “Ini baru ada apa-apa!”             “Apanya yang apa?”             “Nggak kenapa-napa deh. Ya udah Lys, just relax okay? He’s only your past, and there’s nothing to do with you now.”             Aku berusaha untuk menguasai diriku sendiri dan berusaha untuk menarik napas.             “Are you free tonight?” tanya Dea lagi.             “Nope. Gue—“             “Ada siaran radio nanti malem. I see, you love your job really well. Okay, see you tomorrow kalau gitu.”             Sambungan terputus. Dea sepertinya sedang sibuk dengan kafenya hari ini. Baiklah, aku mau pulang, karena semua tugasku di sini sudah selesai. Let’s get going!             Ckrek...             Pintu ruanganku terbuka saat aku sedang membereskan barang-barangku. “Mbak Sandy udah selesai ngajarnya...?” aku menoleh melihat sosok Vincent yang ada di hadapanku saat ini. Dia tidak banyak berubah, hanya wajahnya yang lebih tirus. Dia masih terlihat sama seperti dulu.             “Lo ngapain di sini?” tanyaku dingin.             Vincent tersenyum, seolah dia tidak pernah memiliki kesalahan apapun terhadapku. “Kamu satu ruangan sama Mbak Sandy dan Bu Eka sekarang?”             “Gue tanya sekali lagi. Lo ngapain di sini?”             “Ketemu sama Pak Tirta tadi,” balasnya, masih mengamati sudut-sudut ruangan ini yang memang dihias sedemikian rupa oleh aku dan Mbak Sandy karena kami jenuh dengan ruangan dosen yang identik dengan kaku dan serba kosong.             “Di sini. Di ruangan gue. Lo mau ngapain?” tanyaku lagi. Tuhan, berikan aku tiket surga sekarang karena sudah berhasil menahan amarahku. Jangan lupa berikan aku satu kavling di surga sana.             “Ketemu kamu,” balasnya, kali ini dengan kedua bola mata yang menatapku lurus-lurus ke dalam kedua bola mataku juga.             Aku kira aku telah melupakannya selama ini. Tapi nyatanya, jantungku seperti berhenti berdetak beberapa detik dan aku kesulitan bernapas saat dia mengatakan ingin bertemu denganku. “Lo? Seorang Vincent Kristiawan mau nemuin gue? Apa gue nggak salah denger?”             Vincent masih berdiri di tempat yang sama. “Lys, maafin aku.”             Aku mendengar ucapan maaf dari mulutnya.             Aku paling benci orang yang meminta maaf tapi tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Meskipun aku mendengar Vincent mengatakan ‘maaf’ kepadaku, tetap saja menurutku dia tidak layak untuk menerima maafku.             “Gue mau pergi. Lo mau tetep di sini atau keluar juga?” tanyaku.             Dia tidak bergeming.             Akhirnya aku tetap bergerak untuk keluar dari ruanganku. Aku melewatinya juga dan dia tetap mematung.             Laki-laki b******k.             Setelah sekian lama aku tidak pernah bertemu dengannya, aku kira aku sudah berhasil melupakannya dengan menguburkan semua keinginanku untuk menjadi konsultan hukum, menjadi orang yang berguna dengan ilmu yang kumiliki, karena jika aku tetap melakukannya aku akan semakin mengingatnya. Aku kira aku sudah berhasil.             Ternyata aku gagal.             Sudah berkali-kali aku katakan kalau dia hanyalah orang di masa laluku.             Tapi hatiku masih sama seperti dulu. Masih tetap diam di tempat yang sama seperti aku yang masih menyukai Vincent enam tahun lalu. Tapi kenapa harus kepada dia lagi?             “Kenapa gue masih suka sama dia? Kenapa??” jeritku di dalam mobil dengan kepala tertunduk di bawah stir mobil. —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD