Not Too Special

2260 Words
Jakarta, November 2010. Lyssa.             Kak Bill dan aku hari ini jalan-jalan.             Itulah yang bisa kukatakan. Tante Elisa dan Om Ridwan hari merayakan ulangtahun pernikahan mereka dengan meminjam rumah untuk dipakai nge-date seharian penuh. Aku dan Kak Bill pun diberikan uang untuk jalan-jalan seharian kemanapun yang kami mau supaya bisa memberikan privasi khusus pada Om dan Tante.             “Hati-hati aja sih Kak, entar pulang-pulang punya adek,” ledekku dengan senyuman iseng yang kuberikan pada Kak Bill.             “Sial. Jangan sampe sih Lys! Mau taro dimana mukaku kalo punya adek di umur duapuluh tahun ini?” tanyanya dengan wajah kebingungan.             “Iya sih, bukannya di panggil ‘Kakak’ tapi harusnya di panggil ‘Papa’ kali.”             “Nah kan, kalo ngomong suka bener kan kamu,” desis Kak Bill lagi sambil melirik sinis ke arahku dari kursi kemudi. “Jadi kita mau ke mana nih? Sebenernya aku mau ngerjain tugas sih sama temenku jam satu di deket CP.”             “CP?”             “Di Central Park-nya sih sebenernya,” ralat Kak Bill, “Kamu mau jalan sama temen kamu aja atau mau ikut aku? Atau aku temenin kamu aja biar aku batalin kerja tugas sama temen-temenku.”             “Ih janganlah, nanti nilai Kakak jelek gegara aku kan repot,” balasku. “Ya udah, aku ikut Kakak aja deh. Emang temen-temen kakak siapa aja?”             “Anak 2007 semua sih.”             “Lho? Tugas apaan emangnya?”             “Kepailitan.” Kak Bill melirikku sedikit, melihat perubahan ekspresi yang ada di wajahku sedikit, “Ada anak 2008 juga sih, Si Heru. Tapi sisanya anak 2007, karena aku kemaren duduknya deket anak-anak 2007. Kenal Allan, Luna sama Gita? Itu temen kelompokku.”             “Ya udah, gak kenapa-napa sih. Paling aku jalan-jalan sendiri nanti di CP. Kalo udah selesai bilang aja Kak.”             Kak Bill mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk pelan, pertanda mengerti dengan kemauanku. “Tapi katanya sih nanti ada Vincent.”             Deg!             Aku merasakan jantungku berdegup tak keruan saat mendengar Kak Bill menyebut nama ‘Vincent.’             “Katanya dia mau ikut gitu buat apalah itu.”             “Apanya apa Kak?”             “Nggak tahu sih. Cuma dengernya sih Allan ngajak Vincent soalnya dia mau ke Bandung barengan Luna sama Gita gitu. Sekalian weekend di sana. Jadi Vincent ikut biar mereka sekalian jalan pas tugasnya udah selesai,” jelasnya.             Aku manggut-manggut. “Ya udah deh. Aku ikut.”             “Mau nyari Vincent ya?” katanya dengan senyuman yang benar-benar menyebalkan. Sungguh, aku ingin sekali menampolnya karena senyumannya benar-benar menyebalkan. Rese banget sih!             “Ih, orang aku mau nyari buku. Pak Rivat kebangetan sih ngasih makalahnya minggu ini,” keluhku.             Kak Bill manggut-manggut. “Ya udah, nanti Kakak kabarin aja kalo udah selesai sama tugasnya, oke?”             Aku mengangguk setuju untuk menjawabnya. —————————             “Lun, lo jadi cewek yang cantik dikit napa? Pake baju yang bener dikit kek, masa pake baju robek-robek gitu celananya?” komentar Kak Allan. “Lo tuh liat Gita kek.”             “Halah, berisik banget sih lo Lan!” kata Kak Luna, “Lo tuh yang nggak ngerti fashion. Makanya sekali-kali cari pacar dong, biar dikasih tahu sama pacar lo fashion yang lagi ngetren tuh kayak gimana. Lonya aja yang norak!”             Kami—Kak Allan, Kak Luna, Kak Gita, Kak Bill dan aku—sedang berada di salah satu restoran cepat saji yang berada di lantai dasar Central Park. Sudah sekitar setengah jam kami berada disana, sudah memesan makanan, minuman, dan sudah memakannya sampai habis pula. Namun, mereka kakak-kakak ini belum memulai tugas mereka sama sekali. Jangan tanya kenapa, karena juru kunci dari tugas mereka adalah Kak Heru yang kena macet.             Debat adu fashion itu masih berlangsung sampai akhirnya aku berbisik pada Kak Bill, “Kak, aku ke toko buku dulu ya. Kabarin kalo misalnya udah selesai.” Kak Bill membalasnya dengan anggukkan kepadaku, sambil tersenyum, dan akhirnya aku berdiri dari tempat dudukku, dan hendak pergi. “Lho? Alyssa mau ke mana?” tanya Kak Allan.             Seketika debat fashion itu akhirnya berhenti saat Kak Allan menegurku yang mau pergi.             “Iya, Lys. Aku baru aja mau nanya-nanyain ke kamu nih!” timpal Kak Luna dengan wajah isengnya yang seperti biasa suka meledek tiap orang. Aku sudah sering terkena ledekan Kak Luna sejak isu aku suka sama Vincent tersebar.             Waktu itu, aku mengambil sertifikat Faculty Day, sebagai tanda bahwa aku sudah lulus acara rutin fakultas tersebut, yang juga menjadi syarat kelulusan untuk wisuda kelak. Kak Allan dan Kak Luna saat itu yang membagikan sertifikat, dan mereka sebelumnya bertanya kepada angkatan 2010, tentang kesan dan pesan.Sialnya, akulah yang ditunjuk untuk memberikan kesan dan pesan.             Karena aku bingung mau mengucapkan apa, Sasa dengan entengnya berseru, “Kesannya, biar kakak keamanan kemaren bisa bales chat-nya Lyssa! Pesannya, tolong disampein ya Kak Al, Kak Lun!”             Memang itu adalah hari yang paling sial dalam hidupku. Kemudian, aku dan Sasa kelaparan setelah pembagian sertifikat itu. Kak Luna yang juga selesai membagikan sertifikat itupun mengajak kami untuk makan di restoran cepat saji yang ada di seberang kampus. Kami pun setuju. Yang aku tak sangka-sangka, disana aku bertemu dengan Vincent dan Kak Ferdi, yang juga sedang makan.             Ajang ledek-meledek pun di mulai oleh Kak Luna. Aku pun tak sanggup menutupi rasa maluku, sehingga aku menutupi wajahku—yang pastinya sudah merah seperti kepiting rebus—dengan novel yang sedang kubawa.             “Lys, kamu beneran suka nggak sih sama Vincent?” tanya Kak Luna santai.             Aku hanya tersenyum meringis menaggapinya. Jawabannya adalah iya, tapi kalian harus tahu bahwa aku tidak berani mengakuinya. Memangnya aku ini siapa? Sehingga aku bisa mengakui perasaanku yang sejujurnya, lagi pula aku tidak tahu kalau Vincent punya pacar atau tidak.             “Lho iya Lys? Kamu beneran suka nggak sama Vincent?” tanya Kak Allan.             Tuhan bunuhlah aku sekarang juga! Aku nggak sanggup di bully kayak begini mulu!             “Kok kamu bisa suka sama Vincent sih?” tanya Kak Allan lagi. Nada bicaranya seolah meremehkan dan tak percaya kalau aku memang menyukai Vincent. “Rampok kayak dia kok bisa ditaksir sama kamu coba?”             “Luna ini kan mantan gebetannya Vincent dari semester satu,” timpal Kak Gita yang sangat suka meledek juga seperti Kak Luna. Mungkin karena hal itulah Kak Gita dan Kak Luna sangat akur. “Di PHP-in sama Vincent tiga tahun masa! Iya nggak, Lun?”             “Iya tuh, Lys. Kamu yakin? Vincent tuh tukang PHP tahu! Aku aja udah dianggurin tiga tahun. Parah banget kan?”             Aku malah tertawa karena heran dengan ucapan yang dikatakan oleh ketiga kakak senior yang ada di depanku ini.             “Bill, adekmu ini mending cepet-cepet diamanin sebelum kena jadi sasarannya Vincent lagi yang kesekian kalinya. Kamu inget Tia yang angkatan 2008 atau 2009 itu? Dia kan juga kena. Untung aja Si Tia pindah ke luar kota,” jelas Kak Allan.             Kak Bill hanya melihatku. Dia sepertinya paham kalau aku tetap menyukai orang yang sudah dikata-katai oleh teman angkatannya sendiri. Seolah aku masih tak bisa menentukan sikapku, akhirnya aku bilang. “Nggak sih Kak Allan, Kak Luna sama Kak Gita apaan sih. Aku nggak naksir sama Vincent kali! Aku ke toko buku dulu ya!!! Kalo udah selesai tugasnya, bilang. Dah!!!” —————————             Aku menghabiskan waktuku selama satu jam di dalam toko buku untuk mencari buku yang setidaknya memiliki hubungan dan kaitan dengan tugas Pak Rivat. Namun, sial saja, tidak kutemukan dimanapun bukunya. Akhirnya, aku memutuskan untuk makan Baskin Robbins.             Kabar terakhir yang kudapatkan dari Kak Bill adalah, tugas mereka baru kira-kira lima puluh persen rampung. Berarti aku masih harus menunggu dan jalan-jalan sendiri. Dari pada aku balik sendiri ke sana dan kena semprot dari Trio angkatan 2007 disana.             Makasih untuk ledekan satu jam lalu disana. Aku nggak mau kena ledekan lagi.             Tiba-tiba aku merasakan ponselku bergetar.             Alvin Julian.             Tumben banget Kak Alvin nelpon.             “Halo?”             “Lagi di mana kamu?” tanyanya.             “Di Central Park, Kak. Kenapa emangnya?” tanyaku lagi. Di ujung telepon sana, Kak Alvin mengatakan kalau dia mau berangkat ke Australia siang ini dari Denpasar, untuk bertemu dengan salah satu kolega kerjanya. Dia bertanya apa aku mau menitipkan barang atau tidak selama dia ke Australia nanti, dan aku jawab jika aku sedang tidak memerlukan apapun. Tapi kalau dia mau, dia bisa membelikanku buku hukum.             “Teleponan sama pacarnya ya?”             Suara itu seperti suara yang aku ketahui, berasal dari belakangku. Aku pun menoleh ke belakang dan menemukan sosok lelaki yang kusukai di sana.             Vincent.             Jantungku mulai berdegup tak keruan lagi. Ya Tuhan! Kenapa aku harus bertemu dengan Vincent di sini sih?!             “Ng.. Nggak kok Kak. Tadi kakakku yang di Bali,” kataku sedikit tergagap.             Vincent menganggukkan kepalanya dan melihatku, “Baskin Robbins rasa mint?”             Aku mengangguk untuk menjawabnya.             “Suka banget sama rasa mint?”             “Kakakku juga suka rasa mint. Lagian ini bukan rasa yang pasaran kayak stroberi, vanilla sama coklat. Ngapain beli es krim semahal Baskin Robbins kalo cuma pilih rasa pasaran itu?”             “Statement yang bagus. Ikut debat yuk?”             Aku cengok seketika mendengar tiga kata terakhirnya yang mengajakku untuk bergabung dengan klub debat. “Statement ngaco kayak gitu dibilang bagus? Situ sehat?”             “Lho? Itu bagus kok. Kenapa orang bela-belain beli Baskin Robbins kalo cuma mau makan es krim stroberi, vanilla sama coklat? Mereka kan bisa beli es krim Walls atau Campina sekalian yang tersedia di toko-toko terdekat?” jelas Vincent. Aku masih bingung dengan kalimatnya yang mengatakan bahwa statementku itu bagus. Menurutku, itu hanya sekedar opini biasa saja. “Ikut debat ya? Ya?”             Kok ini orang jadi maksa ya? Untung ganteng.             “Kok diem aja sih Lys?” tanyanya lagi dengan wajah yang lebih serius. Duh, jadi salah fokus sama mukanya nih kalo dia merhatiin aku serius kayak gini. Siapapun tolong selamatkanku sebelum aku pingsan karena jantungku berdegup makin kencang melihat titisan malaikat di hadapanku ini.             “Ta... Tapi Kak... Aku..” aku malah jadi gagap kayak gini sih?             “Kamu? Kamu dilarang sama pacar kamu?”             “Siapa bilang? Punya pacar aja nggak!” Eh bego! Kenapa aku malah keceplosan bilang kayak gitu coba? Duh, bego, bego, bego!             “Nah, nggak punya pacar kan? Siapa lagi yang ngelarang ikut debat emangnya?” tanyanya, “Yang latihin debatnya aku kok. Santai aja... Kan sekalian belajar debat, sekalian cuci mata.”             “Cuci mata?”             “Kan aku ganteng. Biar nggak tegang nanti pas latihan debat.”             Cih! Narsis juga cowok yang satu ini. Oke, aku tarik kembali ucapanku barusan yang bilang dia ganteng. “Pede banget sih? Siapa juga yang bilang situ ganteng?”             “Banyak. Kalo menurut kamu aku nggak ganteng, tempo hari kenapa ngasihnya ke aku surat cinta pas Faculty Day?” tanyanya.                    Sialan. Dia kenapa ngungkit lagi cerita soal Faculty Day itu?             “Kasian aja sih ya. Kemaren Kakak pas Faculty Day kan galak banget, siapa tahu nggak ada yang mau ngasih surat cinta buat Kakak karena nyeremin?”             “Buktinya aku dapet dua surat cinta lagi yang lainnya selain dari kamu,” balasnya dengan seringaian menyebalkan yang minta aku tabok. Pak, Bu, semuanya yang ada di sini boleh pinjam gagang sapu untuk mencoreng muka mulusnya laki-laki menyebalkan di depanku ini sekarang nggak? “Tapi ya udah sih, kalo menurut kamu aku nggak ganteng hari ini, mungkin besok kamu bisa bilang aku ganteng.”             Aku tersedak oleh es krimku sendiri saat mendengar kalimat terakhirnya.             Aku tidak menyangka bahwa dia ini laki-laki yang super narsis banget. Pede jaya.             “Jadi ikut debat ya?” tanyanya lagi.             Aku menggeleng, sebagai jawabannya kali ini karena mulutku masih penuh dengan es krim. “Aku nggak suka debat Kak. Bikin tegang otak tahu kalo debat-debat gitu. Lagi pula aku udah ikut peradilan semu.”             “Kamu mau jadi hakim? Jaksa? Atau pengacara?” tanyanya.             Aku menggeleng. “Konsultan hukum aja Kak.”             “Konsultan hukum justru harus debat. Gimana kamu bisa menyatakan suatu pendapat, dan pendapatnya itu harus rasional lho buat klien kamu itu.” Aku memang tahu Vincent ini juara debat paling top di angkatannya. Dia sering menjuarai lomba debat di mana-mana. Vincent juga anak emas kesayangan dosen. Astaga, aku jadi heran kenapa bisa naksir sama orang sepintar dia?!             “Aku...”             “Lyssa!” suara Kak Bill memanggilku. Ah, Puji Tuhan akhirnya penolongku datang juga. “Lho? Vincent ada di sini? Kata Allan sama Luna kalian mau ke Bandung ya?”             “Iya Bill,” balas Vincent dengan senyum yang merekah. “Adik lo ini suruh ikut debat dong. Biar dia bisa asah kemampuan soft skill-nya. Jangan cuma hard skill doang. Masa dia mau jadi konsultan hukum tapi nggak bisa berargumen nanti?”             Kak Bill tersenyum melihatku sekilas, dan dia membelaku. “Lyssa memang nggak suka debat, dan dia keras kepala anaknya, Vin. Kalo dia nggak suka, dia pasti bilang nggak walaupun mau dibujuk kayak gimanapun juga. Biarin aja kalo emang dia nggak suka.”             Vincent manggut-manggut paham dengan jawaban Kak Bill. “Ya udah, aku nggak paksain deh. Susah kalo ngomong sama orang yang keras kepala juga.”             Aku melihat Vincent dengan senyuman yang... Astaga, apakah dia tahu kalau jantungku bisa copot jika harus melihat senyumannya yang amat sangat menyilaukan itu di mataku?             “Tugasnya udah selesai Kak?” tanyaku pada Kak Bill yang sudah berada di sampingku saat ini.             “Udah. Yuk, mau nonton?” tanyanya. “Tadi aku lihat ada film bagus. Gimana?”             Aku mengangguk setuju dengan ajakannya itu. “Oke!”             “Vin, duluan ya. Allan, Gita sama Luna masih di tempat tadi kok,” kata Kak Bill sebelum pergi. Vincent menanggapinya dengan anggukkan kecil dan sebuat kalimat singkat, “Hati-hati ya kalian.”             Ini bukan hal spesial. Sungguh.             Hari ini juga bukan hari yang spesial. Tapi Vincent-lah yang membuatnya jadi spesial. —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD