Feeling Movement

2041 Words
Jakarta, November 2010. Lyssa.             “Kalo diliat-liat, Kak Vincent ganteng juga yah?”             PLETAAAK!!!             Aku merasakan sesuatu mengenai kepalaku. Bukan, itu bukan batu ataupun suatu benda asing yang tak kuduga akan mengenai kepalaku. Namun, sesuatu yang sengaja dikenakan ke kepalaku.             “Lo sarap ya Lys?” tanya Sasa yang tadi memukulku dengan bindernya. “Lo bilang Si Vincent-Vincent itu ganteng? Kesambet apaan lo? Dari kemaren yang lo omongin Vincent lagi, Vincent lagi. Nggak aus lo bahas Vincent mulu kayak nggak ada cowok lain aja sih di sini?!””             Aku langsung memandang Sasa yang menyambarku dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Saat ini, kami bertiga sedang ada di depan gedung fakultas hukum, duduk di kursi panjang yang dilengkapi meja juga sambil menunggu kelas Pengantar Ilmu Hukum. Biasanya, tempat ini digunakan oleh banyak mahasiswa lain untuk diskusi kelompok, atau latihan debat gitu.             Aku tersenyum sambil melihat Sasa. “Ih, iya tahu. Dia tuh pinter, tinggi, putih, jago taekwondo, jago debat—udah beberapa kali menang lomba debat juga, kemaren acara debat kampus se-Jawa dia ketuanya! Dia juga aktif organisasi! Kurang ganteng apa coba dia jadi orang?” tanyaku dengan wajah sumringah. “Cowok impian banget kan?”             “Vincent yang kemaren sok-sokan ngamuk pas Faculty Day itu kan?” tanya Sasa, “Dia mana ganteng sih? Gantengan juga Dimas tahu...”             “Ih, Dimas nggak ada kharismanya,” balasku. “Lo tuh yang sarap kalo bilang Dimas ganteng.”             Sasa mendengus heran. “Tempo hari lo ngatain dia cuek, ngeselin, gitu-gitu kan pas lagi Faculty Day? Kenapa sekarang lo jadi muji Si Vincent itu?”             Aku tiba-tiba berpikir sambil menggaruk-garukkan kepalaku. Iya sih, benar juga katanya Sasa.             Belum hampir sebulan lalu aku mengatai Vincent karena sikapnya yang menyebalkan dan dingin itu. Namun, kenapa sekarang membahas soal Vincent terus ya?             Di kelas, saat dosen sedang menjelaskan, aku berbisik pada Sasa kalau Vincent ganteng. Saat sedang mengerjakan tugas makalah Pak Rivat pun Dea geleng-geleng kepala saat aku bertanya, kenapa nggak ada Vincent ya di perpus ini. Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang aku tanyakan secara bodoh kepada Dea dan Sasa.             Aku yakin, sebenarnya mereka bedua pasti sudah muak mendengar pertanyaanku tentang Vincent. Padahal, aku sendiri nggak pernah melihatnya sering-sering amat di kampus. Aku juga nggak pernah ngobrol kok sama dia. Tapi, semakin aku memikirkannya, semakin aku jadi penasaran dengan sosok seorang Vincent Kristiawan itu.             “De, temen lo tuh urusin!” kata Sasa dongkol dengan kening yang berkerut.             “Dia aja semalem bilang sama gue di BBM, katanya mau masuk KBM debat, supaya bisa lebih kenal sama Vincent. Bego nggak tuh?” ungkap Dea dengan wajah ogah-ogahan. “Padahal anak ini mana pernah suka debat? Ngomongin pendapat dia sendiri aja kadang ketakutan kayak kucing abis kecebur got.”             “Sialan lo, De,” dengusku.             “Lah emang bener kali.”             “Yailah. Kalian malah ribut lagi,” sanggah Sasa. “Ya udah deh, gini aja. Lo ikut debat juga Lys, gue butuh temen nih di debat. Masa nggak ada yang gue kenal di KBM debatnya?”             “Ada Vincent kok.”             “Bodo amat!!!” seru Sasa kemudian. —————————             Dia jarang kelihatan di kampus memang. Aku sendiri juga nggak tahu dia kelas jam berapa aja sebenarnya.             Bahkan, sekarang aku sudah seperti orang i***t yang menguntitnya lewat f*******:, hanya untuk tahu hal tentang dirinya sebanyak mungkin. Ingin tahu dari mana dia berasal, dimana rumahnya, dia punya berapa saudara, dan masih banyak lagi keingintahuan yang berkelebat di dalam benakku mengenai seorang Vincent itu.             “Vincent Kristiawan.”             Aku terkejut mendengar suara bass Kak Bill yang tiba-tiba muncul di belakangku saat aku sedang membuka laptopku. Dia benar-benar seperti setan yang tiba-tiba nongol dibelakangku.             “Kamu lagi stalking Vincent?”             Layaknya kucing yang baru ketahuan nyolong ikan asin, aku buru-buru menutup layar laptopku sesegera mungkin dan langsung mengalihkan pembiacaraanku saat Kak Bill mulai mengambil tempat duduk di pinggir ranjangku.             “Eh Kak Bill... Udah pulang toh?”             “Udahlah. Buktinya aku bisa lihat kalo kamu lagi stalking Vincent kan?”             Sial juga nih, Kak Bill!             “Kamu ada angin apaan mulai kepo-kepo soal Vincent itu?” tanya Kak Bill. “Karena Faculty Day?”             Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Terkaannya nggak salah sih, tapi kurang tepat aja. Sejujurnya, aku ngasih surat cintaku pada Vincent bukan karena suruhan dari Dea dan Sasa seutuhnya. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku memang dengan sengaja menulis surat cinta itu untuk Vincent.             Memang konyol sih awalnya aku pikir untuk memberikan surat itu pada Vincent, tapi akhirnya tetap aku lakukan—apalagi setelah Dea dan Sasa menyuruhku untuk memberikan surat itu pada Vincent juga.             “Apa karena kamu berduaan di ruang moot court sama Vincent itu tempo hari?”             Kali ini aku mematung sambil membulatkan mataku. Pada dasarnya, aku tak percaya Kak Bill bisa menebak dengan jitu apa yang ada di dalam pikiranku.             “Like I said before Lys, he’s a good match for you,” kata Kak Bill. Aku dapat melihat ungkapan tulus dari Kak Bill saat mengatakan hal itu kepadaku. Meski aku merasa Kak Bill masih sedang mengerjaiku saja. “Tapi dari yang aku denger dari temen seangkatan dia, emang dia itu suka bersikap baik sama siapapun. Dua hari lalu, aku lihat kamu udah di add friend sama Vincent di f*******:. Jangan gampang kebawa perasaan aja sama Vincent karena dia bersikap baik gitu.”             Aku jadi bingung sebingung-bingungnya.             “Kak Bill seolah dukung aku sama Vincent, tapi disisi lain juga, Kak Bill bilang jangan gampang kebawa perasaan sama dia. Kesannya, Kak Bill nggak mau aku suka sama Vincent juga. Gimana sih?”             Kak Bill terkekeh pelan. “Iya emang Lys. Kakak seneng kalo kamu bisa sama Vincent. Cuma, Kakak nggak mau kamu sakit hati kalau misal kamu tiba-tiba bingung kenapa Vincent  gini atau gitu. That’s all.”             Aku tidak peduli dengan peringatan yang dikatakan oleh Kak Bill. “Kak, dia orang mana sih?”             “Dia dari Bandung. SMA-nya dari swasta juga, dan dia emang terkenal cerdas kok dari dulu,” jelasnya singkat. Kak Bill pun beranjak kemudian dari tempat tidurku, dia mengusap-usap kepalaku beberapa kali sebelum akhirnya pergi. “Udah ya, aku mandi dulu. Belajar, Lys. Jangan banyak-banyak stalking Vincent mulu.”             “Siap Bos!” kataku sambil memberi hormat padanya.             Walaupun begitu, aku tetap melihat saja postingan-postingan lama yang ada di dalam f*******: Vincent. Bahkan, aku menemukan foto jaman dia masih memakai seragam putih abu-abunya. Gayanya memang tidak jauh berbeda, hanya gaya berpakaiannya saja yang berubah menurutku.             Aku pun berhasil menemukan tanggal lahirnya, foto-foto keluarganya, bahkan sampai beberapa kejuaraan debat, maupun taekwondo yang pernah diikutinya.             Lahir di Bandung, 20 Juni 1989. Dia anak sulung, dan memiliki tiga orang adik dibawahnya—satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Ayahnya adalah seorang dosen ekonomi di salah satu universitas di Bandung dan ibunya memiliki restoran. Vincent juga sering mengikuti kejuaraan taekwondo tingkat nasional bahkan sampai internasional, maklumlah dia sudah sabuk hitam.             “Gue bisa suka sama orang model kayak gini juga rupanya?” gumamku tak percaya karena benar-benar kagum sambil melihat foto-fotonya Vincent dan beberapa informasi yang menarik buatku. Aku pun terkekeh-kekeh karena membayangkannya itu. Hanya itu saja. Setidaknya hanya itu saja saat ini. —————————             Aku memang selalu terpesona dengan sosok orang yang pintar, cerdas, dan memiliki prestasi. Menurutku, itu adalah modal yang paling penting jika aku sudah mengatakan aku menyukai seseorang.             Begitulah yang aku katakan saat aku menyukai Miguel dulu. Menurutku, seorang yang cerdas dengan pikiran dan pendapatnya seperti Miguel, adalah orang yang terbaik untuk membuatku tidak sakit hati. Setidaknya itulah anggapanku, karena ia memiliki otak yang cerdas, sehingga ia pun juga pastinya cerdas untuk memahami perempuan.             Anggapanku dulu memang begitu.             Ketika semuanya berubah dan Miguel sudah berpacaran dengan Carol, aku pun berbalik membencinya. Aku tidak mau memilih dan jatuh cinta lagi kepada seseorang layaknya Miguel yang memiliki segalanya di dalam dirinya pribadi. Nyatanya, orang yang cerdas, adalah orang yang mampu membuatmu sakit hati teramat dalam di bandingkan jika kamu jatuh cinta kepada seorang yang pada dasarnya adalah player.             Notabenenya, seorang player memang sudah menjadi pekerjaannya untuk menebar jala disana-sini. Sehingga, saat jatuh cinta pada player, kamu sudah tahu apa yang kira-kira akan dilakukan oleh player itu. Kalau tidak diselingkuhi, diputusin, atau—kalau beruntung—kamu adalah perempuan yang memang dicarinya. Namun, seorang yang cerdas dan biasanya kerjanya hanya belajar, adalah orang yang serius dan bisa diajak untuk berbicara tentang hal-hal yang sifatnya jangka panjang.             Kalau ditanya kenapa aku bisa menyukai Miguel dulu, selain karena dia menarik, dan cerdas seperti yang aku pernah katakan. Aku juga berpikir bahwa Miguel adalah orang yang tepat untuk diajak berpikir dan bicara tentang jangka panjang.             Jika kalian mengerti, aku memang perempuan yang berpikir kalau mencari pacar, adalah mencari orang yang tepat untuk selamanya bersamaku. One man for the rest of life. Itulah prinsipku. Maka, ketika aku patah hati karena Miguel, aku tidak mau jatuh cinta terlalu cepat lagi, dan bahkan aku tidak mau menjatuhkan hatiku untuk kedua kalinya kepada orang yang memiliki karakteristik yang sama seperti Miguel.             Tapi saat ini, aku malah menyukai sosok seorang Vincent Kristiawan.             Cowok yang—katanya Kak Bill—memiliki IPK selalu di atas 3,5.             Cowok yang sangat berbakat di bidang hukum, memiliki masa depan yang sangat cerah dengan segala bekal yang dimilikinya. Pandai mengutarakan argumentasinya, pandai menulis legal opinion, dan juga aktif di dalam kegiatan organisasi. Terakhir, dia menjabat sebagai ketua bidang dua di dalam senat mahasiswa.             Cowok yang tidak banyak bicara, memiliki hobi di bidang bela diri, khususnya dalam dunia taekwondo.             Cowok asal Bandung, yang memiliki tiga orang adik dan merupakan anak sulung.             Aku menyukainya.             “Kira-kira Kak Vincent lagi ngapain ya? Ikut debat bisa kali ya gue?” tanyaku asal pada saat aku, Dea dan Sasa sedang menunggu kelas berikutnya. “Ganteng ya dia? Demen deh gue liatinnya.”             “Si Metha juga suka loh sama dia,” kata Sasa, “Kata Nadia sih gitu kemaren pas dia main ke kos gue. Metha malah kemaren udah daftar ikut debat duluan. Pas langsung Kak Vincent sama Kak Luna datengin kelas gue buat promosiin KBM-nya itu.”             Aku hanya cengengesan, tapi begitu mendengar cerita Sasa, seketika aku mengerucutkan bibirku. “Dih! Kok kelas lo dimasukkin KBM-nya sih? Kok kelas gue nggak? Dih parah ah!”             “Udah sih Lys!!! Makalah lo nih, beresin dulu kali,” kata Dea sambil menunjukkan materi yang seharusnya sudah menjadi makalahnya untuk minggu ini di kelas Pak Rivat. “Vincent mulu dunia lo. Emangnya nggak ada lagi apa cowok selain dia?”             “Ih, jangan sebut namanya kali, De! Entar kalo didenger temennya yang lain gimana?”             “Bukannya emang lo demen ya sama Vincent?” balas Dea tak acuh dengan sekitarnya. “Kayaknya semalem lo baru di chat sama dia kan?”             Aku mematung terkejut. “Lo tahu dari mana!?” Aku tidak cerita apapun kepada Dea dan Sasa kalau semalam aku memang chatting dengan Vincent lewat f*******: sebentar, sebelum akhirnya aku ketiduran karena mataku lelah melihat layar laptop, dan karena aku juga kurang tidur selama beberapa hari terakhir.             “Biasa aja kali, gue cuma nebak doang. Ternyata beneran di chat sama Vincent lo,” kata Dea dengan senyuman meledek. “Luar biasa ya. Kayaknya ada tanda-tanda lampu hijau kebahagiaan nih buat Gadis Bali kita.”             Aku hanya tersenyum karena senang. “Apaan sih De?!”             “Di ajak ngobrol apa aja sama dia kemaren lewat chatnya?” tanya Sasa antusias. Aku memberikan ponselku pada Dea dan Sasa biar mereka lihat sendiri apa yang ada di dalam chat itu dari aplikasi f*******: di ponselku.             Aku hanya tersenyum dan tersenyum. Memang layaknya orang gila mungkin aku saat ini. Tapi bukankah itu hakikatnya jatuh cinta? Menjadi tidak waras, dan selalu bahagia?             “Nanyain kenapa gue kuliah di Jakarta, terus kalo disini biasanya main ke mana aja, terus ngambil kelasnya siapa aja... Gitu aja kok, nggak spesial-spesial amat,” balasku. Aku tidak berani berharap terlalu tinggi seperti bintang yang ada di langit-langit.             Namun, Dea malah memberikanku harapan. “Kalo gue lihat dari chatting lo itu, dia kayaknya ada feel juga sama lo.”             “Masa iya?” tanyaku polos.             “Iya Lys, dia kayaknya ada perasaan juga sama lo,” tambah Sasa.             Aku tak kuasa mengulum senyum saking senangnya. Aku sangat senang mendengar kedua sahabatku itu memberikan dukungan berupa sinyal lampu hijau tersebut.             Namun, meski demikian, aku tetap tidak berharap terlalu tinggi karena aku sadar diri untuk mengharapkan orang seperti Miguel lagi. —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD