Girl In The Radio

2957 Words
Jakarta, Oktober 2016 Vincent.             Aku menginap di rumah Allan—tepatnya rumah orangtua Allan—semenjak kepulanganku ke Indonesia. Alasannya ada banyak jika kalian tanya mengapa aku tidak mau pulang ke rumah orangtuaku yang berada di Bandung.             Pertama, Jakarta-Bandung memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan. Sementara, aku saat ini bekerja di Kementerian Luar Negeri yang ada di Jakarta Pusat sebagai anggota staff ahli di bidang hubungan kelembagaan. Tepatnya, aku bekerja di Kemenlu untuk membayar beasiswa yang telah kudapatkan kemarin. Selain itu, orangtua Allan sudah menerimaku seperti anaknya sendiri, itu jugalah yang membuatku nyaman di rumah Allan.             Hari ini seharusnya aku masih tidur dan menikmati masa indahku di Jakarta sebelum aku harus masuk awal Januari 2017 nanti. Namun sepertinya Allan tidak suka melihat temannya ini sedikit merasakan kebahagiaan.             “Bujangan Bandung! Bangun lo!” seru Allan.             Aku masih merasa malas untuk beranjak dari tempat tidur. Aku pun hanya mengangkat kelima jari tangan kananku, pertanda ‘tunggu, aku masih mau tidur.’ Tapi nampaknya Allan tidak menghiraukan sinyal tanganku. Sehingga dia malah mengobrak-abrik selimut yang menutupi seluruh tubuhku.             “Bangun, Vin! Ke Frais Cafe, biar lo nggak lumutan di kamar gue mulu.”             Aku melihat jam yang ada di nakas sebelah tempat tidur Allan. “Baru jam sebelas siang Lan. Lo ngapain ngajakin gue ke kafe jam segini?”             “Lo butuh nyegerin otak lo yang kusut,” balasnya dongkol, “Kerjaan lo semaleman dengerin radio. Berani jamin lo lagi nungguin semoga Lyssa yang jadi nyiarin acaranya bukan? Kok lo bego sih?”             “Dih! Sok tahu banget lo! Gue kan cuma...” aku jadi bingung mau bilang apaan. Yang dibilang Allan memang benar sih.             “Apa? Lo mau bilang cuma apa? Cuma apaan, Vincent?”             “Iya gue emang nyariin Lyssa.”             “See?” jawab Allan dengan senyumannya yang sangat amat menyebalkan itu. “Ya udah ke kafe aja bareng gue. Gue udah janjian sama orang di kafe. Kali aja dia bisa bantuin lo.”             Aku sempat heran dengan siapa yang akan ditemui Allan di kafe yang bernama Frais itu. Aku juga sebenarnya malas untuk beranjak dari tempat tidur, namun di sisi lain juga aku sedang lapar-laparnya karena semalam aku hanya minum bir. Iya, kalian tidak salah baca, aku semalaman minum lima kaleng bir sambil mendengarkan Fame FM, berharap ada sekmennya Lyssa.             “Di kafenya ada makanan juga?”             “Kafe komplit. Lo nggak bakalan nyesel kalo dateng ke situ,” kata Allan.             Okelah, aku pun sudah hampir mati kelaparan kalau kelamaan berada di sini tanpa adanya asupan nutrisi yang masuk ke tubuhku. “Gue mandi dulu.” ——————————             Aku mematung di depan sosok perempuan yang ku ingat beberapa tahun lalu meminta tanda tanganku untuk tugas Faculty Day yang diketuai Allan.             Kalau kalian berpikir dia adalah Lyssa, sayang sekali jawaban kalian salah.             “Dia ngapain ada disini?” tanya Perempuan tersebut. “Allan yang baik hati dan luar biasa cerdas, buat apa lo bawa-bawa orang macam ini kesini!?”             “Ini orang gue impor jauh-jauh dari Belanda, De! Masa tanggapan lo ngeliat dia pertama kali kaya gitu sih?” balas Allan, “Mainan impor dari Belanda langsung nih, lo bisa banyak tanya-tanya sama dia tahu!”             “Kalo lo impor makhluk ini jaman pas gue nyusun skripsi, mungkin gue bakal terima dia ada disini. Tapi sekarang gue udah nggak butuh bantuan dia, maupun otak encernya dia,” kilah Dea, “Jadi, daripada lo lihat gue ngamuk di kafe gue sendiri dan customer gue kabur semua keluar karena gue maki-maki makhluk astral satu ini, mendingan lo bawa dia pergi dulu deh, Lan!”             Dari ucapan Dea, aku jelas dapat memahami bahwa dia benar-benar tidak menyukai kehadiranku yang ada di kafe ini.             Aku sendiri tidak tahu kalau Allan akan membawaku ke Senayan City hanya untuk nongkrong di kafe. Aku juga tidak tahu kalau Allan akan membawaku ke kafe milik Dea—iya, Dea yang sama, Dea yang adalah sahabat dari Alyssa.             “De,” Allan pun menyanggah Dea ketika Dea hendak meluncurkan sumpah serapahnya lagi. Allan menggunakan kedua tangannya memberikan gestur pada Dea supaya Dea mengontrol emosinya yang menggebu-gebu itu. “Kontrol De. Pelanggan lo bisa kabur beneran semua kalo lo ngamuk gara-gara ada Vincent di sini kali. Lagi pula, profesional aja sih, gue dateng sama Vincent ke sini buat isi perut dan kita bayar. Nggak macem-macem kok.”             “Lo emang nggak macem-macem. Tapi gue nggak yakin sama orang di sebelah lo ini,” balas Dea sambil menatapku sinis. “Berani jamin, dia ke sini juga berharap bisa liat Lyssa kan? Setelah tahu kalau gue yang punya kafe ini.”             Walau masih kesal mungkin, Dea pun akhirnya mempersilakan aku dan Allan untuk duduk di salah satu sudut Frais Cafe, dan memesan. Allan seperti biasanya memesan americano, serta club sandwich. Sementara aku, memesan capuccino dan tuna sandwich.             “Kafe ini punya Dea?” tanyaku pada Allan sembari menunggu pesanan kami berdua. “Bukannya dia kuliah hukum?”             Allan manggut-manggut. “Memang. Tapi lo tahu nggak kalau skripsi dia mangkrak hampir satu tahun karena ngurusin kafe ini?” tanya Allan. “Dia mulai buka bisnis kafe kecil-kecilan di tahun ketiga kuliahnya, sehabis dia selesai praktik kerja. Bisnisnya cukup bagus, dan dia mulai sibuk ngurus kafe ini, bikin menu, buat inovasi terus. Sampe akhirnya pas dia udah ngajuin skripsi, dia lebih milih buat jaga kafe, masak dan sebagainya.             “Lyssa pun jarang ambil kelas bareng Dea di tahun terakhir, karena Lyssa ambil spesialisasi skripsinya untuk hukum internasional, sementara Dea perdata. Jadi, Lyssa nggak tahu kalau Dea jarang ngampus, dan jarang konsultasi skripsi. Dosen pembimbing skripsinya aja ganti dua kali saking Dea udah nggak mikirin skripsi lagi gitu.”             “Akhirnya dia lulus juga tapi?” tanyaku.             Allan menganggukkan kepalanya lagi. “Iya. Itupun karena Lyssa heran, waktu Lyssa wisuda—emang dia wisudanya duluan karena ngejar tenggang waktu beasiswanya—Dea nggak dateng. Terus sebulan kemudian, Lyssa harus ke Amrik buat S2-nya. Lalu, sekitar awal Desember tahun itu, Sasa lulus dan Lyssa sempetin dateng buat liat Sasa, karena dia pikir Dea juga lulus. Tahu-tahunya skripsinya Dea masih belom selesai juga.”             Aku sedikit tak habis pikir dengan kelakukannya Dea. Hebat juga anak itu bisa mangkrak skripsi hampir setahun.             “Sebelum Lyssa balik ke Amrik, dia nemuin gue,” kata Allan. “Dia tahu gue dari Luna, yang dateng juga pas Sasa wisuda. Terus Luna akhirnya bilang coba aja Si Dea temuin gue, barangkali bisa cepet lulus kalo gue bantuin skripsinya.”             “Dan lo berhasil bikin dia lulus?”             “Ya akhirnya gue tiap hari maksain anak itu buat selalu siapin laptopnya jam tujuh malam di kafenya.”             “Kafe di Senci ini dia udah lama bukanya?” tanyaku terheran-heran.             “Kalo di Senci ini baru tiga bulan lalu,” kata Allan. “Sebelumnya dia ada kafe di deket Rawamangun. Tapi kontrak sewanya abis, dan karena modalnya cukup, dia buka kafe di sini.”             “Ralat aja sih. Ini kafe gue sama Lyssa,” kata Dea yang sudah datang membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami pesan. “Ini club sandwich, dan ini tuna sandwich. Americano dan cappuccino.” Dia meletakkan pesanan kami lalu duduk di sebelah Allan.             “Tuna sama cappuccinonya nggak lo kasih sianida kan?” tanyaku asal.             Dea mendengus sebal, “Gue emang kesel sama lo. Karena lo bikin sahabat gue hidup statis selama enam tahun ini. Tapi, bukan berarti gue punya ide buat masukkin sianida kayak kasus kopi sianida itu kali.”             Aku tersenyum geli.             “Pasti habis ngomongin skripsi gue yang mangkrak setahunan,” ujarnya. “Ganti topik napa? Kayanya klise banget deh bahas materi skripsi gue yang udah basi itu.”             “Kalo Lyssa kenapa jadi penyiar radio?” tanyaku. Aku sendiri tak sadar bahwa aku menanyakan hal itu. Alunan musik jazz khas kafe masih terdengar di telingaku, meskipun aku merasa bodoh sekali menanyakan soal Lyssa kepada Dea.             “Dia nggak punya masa depan, dan cita-cita.” Itu yang Dea ucapkan untuk menjawab pertanyaanku. “Lulus dari Stanford, dapet gelar LLM. Dia nggak punya tujuan, dan nggak tahu apa yang mau dia lakukan. Sampai akhirnya universitas kita itu buka lowongan buat dosen baru, dan akhirnya dia milih buat jadi dosen. Kalau malam, dia jadi penyiar radio. Seenggaknya dia nggak jadi kupu-kupu malam.”             Allan segera menyenggol lengan kiri Dea, “Mulut lo kalo ngomong suka bener ya De!’             “Lah, Lyssa sendiri juga suka bilang gitu. Dia bilang kerja apapun nggak masalah daripada dia harus pulang ke Bali atau jadi kupu-kupu malam kali.”             Aku jadi prihatin mendengar ucapan Dea. Entah apa yang aku rasakan, tapi menurutku, kenapa seorang Lyssa harus menyia-nyiakan hidupnya seperti itu?             “Dia emang diminta buat pulang ke Denpasar, nerusin EO keluarganya. Tapi dia lebih milih di Jakarta,” lanjut Dea. “Gue rasa dia lagi bunuh diri pelan-pelan dengan menjalani kehidupannya yang kayak saat ini.”             Allan bergeming mendengar kalimat terakhir yang diutarakan oleh Dea tadi. “Itu bahasanya Dea aja yang lebay, Vin. Jangan di dengerin. Justru ya, Lyssa lebih bahagia saat ini, ketimbang saat dulu dia masih di dunia hukum yang menurut gue dia sendiri jalaninnya setengah hati.”             “Tapi gue punya pertanyaan buat lo, Vin.” Suara Dea merendah seketika saat dia bilang ingin bertanya, “Apa pernah lo mikirin Dea selama enam tahun terakhir ini?” —————————             “Sekmen Famoldsic di Fame FM jam sepuluh malam tiap hari Sabtu. Famousic, tiap hari Selasa, Kamis, Jumat jam delapan malam. Itu jadwal siaran program tetapnya Lyssa kalo lo penasaran sama dia.”             Itulah hal terakhir yang diucapkan Dea sebelum aku dan Allan pulang dari kafenya.             Sorenya, kami mengunjungi kantor notaris Allan, katanya dia ada beberapa dokumen yang harus ditandatanganinya. Kantornya tidak terlalu besar, namun Allan mempekerjakan beberapa orang pegawai untuk membantu kantor mungilnya itu.             Sambil menunggu, aku melihat ada beberapa foto yang terpampang di ruang kerja Allan. Foto-foto itu berisi foto Allan dengan anggota senat pada masa dia menjabat menjadi ketua senat, lalu foto wisuda S1-nya saat berjabat tangan dengan  rektor, foto keluarganya saat dia wisuda S1. Lalu masih ada lagi foto wisuda S2-nya bersama dengan orangtuanya. Tapi aku sama sekali tidak mendapati foto Allan bersama dengan kekasihnya.             “Lo bujang lapuk juga Lan?” tanyaku. “Ngatain gue bujangan tadi pagi. Lo sendiri rupanya juga bujangan.”             Allan cengengesan sambil masih menandatangani berkas-berkas dokumen yang entah apa yang tertulis didalamnya. “Gue masih sama Aileen kok.”             Seketika aku jadi penasaran dengan cerita cinta Allan dan Aileen yang selama ini tidak pernah go public. Hanya orang-orang sekitar Allan dan Aileen yang tahu bahwa mereka punya hubungan khusus. “Dan masih belom go public juga Lan?”             “Something like that,” balasnya.             “Kuat juga enam tahun hidup kayak anjing-kucingan kalo ketemu. Berantem mulu, tapi punya hubungan dibalik itu semua,” sindirku.             “Dia yang minta buat nggak dikasih tahu ke siapapun. Gue cuma nurut aja,” balas Allan. “Mungkin orang bisa ngira gue gay kali kalo lihat meja kerja gue. Yang gue pasang malah foto waktu elo wisuda sama gue wisuda.”             Aku pun melihat foto yang dimaksud Allan. Aku memang diwisuda tiga bulan lebih cepat dari Allan, sehingga kami harus wisuda di waktu yang berbeda. Tapi, aku pun datang saat dia wisuda dan memberikan hadiah untuknya, sebagai balasan karena dia sudah datang saat aku wisuda juga. Begitulah cara kami berteman, bersahabat. Kami saling dukung dan menyemangati satu sama lain. “Waktu lo bantuin Dea bikin skripsi Aileen tahu?”             “Tahu.”             Aku pun manggut-manggut. “Kenapa lo mau bantuin Dea bikin skripsinya?”             “Karena gue punya jiwa sosial yang tinggi Vin,” balas Allan. Dia menutup seluruh dokumen yang sudah selesai dia tanda tangani. Ia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya layaknya seorang bos. “Yang jelas sih, karena Lyssa bela-belain buat nyari gue cuma buat bantuin Dea. Gue hargai usahanya dia yang mau bantu sahabatnya itu, faktor lainnya karena gue nganggur juga—maksudnya gue punya cukup banyak waktu luang.”             Aku pun sadar kalau Lyssa adalah orang yang memiliki jiwa simpati yang tinggi meski yang kutahu, dia adalah orang paling keras kepala yang pernah kutemui.             Tiba-tiba ada sebersit keinginanku untuk melihat Lyssa. Aku ingin melihatnya.             “Lan, lo punya nomornya Lyssa? Line? w******p?”             Ekspresi wajah Allan berubah kusut seluruhnya. “Siapa elo? Minta-minta kontak Lyssa?”             “Ayolah Lan...”             Drrt... Drrrt...             Aku melihat ponsel Allan yang berada di atas meja kerjanya itu berbunyi. Caller ID-nya bertuliskan: Alyssa Parahita. Aku pun segera ingin mengangkatnya, namun tangan Allan jauh lebih cepat beberapa detik sehingga dia yang berhasil mengangkatnya.             Aku hanya bisa mendengar ucapan Allan, tanpa tahu apa yang dikatakan oleh Lyssa diujung sana.             “Iya Lys? Kenapa?” tanya Allan. “Oh, masalah ngasih materi buat Faculty Day di kampus? Iya, iya, gue udah atur jadwal kok, udah gue hubungin juga alumni yang lainnya. Lo tenang aja, ada beberapa kok alumni angkatan gue yang udah fix bisa. Iya Lys, sama-sama. Nggak ngerepotin kali. Anytime Lys.”             Agak iri sebenarnya melihat Allan bisa berbicara dengan Lyssa via telepon barusan.             “Faculty Day?”             Allan mengangguk. “Iya, konsepnya sekarang dibikin lebih baru sama Lyssa biar kerjaannya senior nggak cuma main gojlokin anak orang aja. Biar maba-mabanya bisa tahu dunia hukum setelah kuliah ngapain aja. Konsepnya bagus.”             “Dia di kampus?”             “Lyssa? Pastinya.”             “Bukannya sekarang udah jam enam? Dia bukannya ada siaran radio jam delapan nanti?” tanyaku.             “Vincent Kristiawan bakalan dengerin Famousic nih kayaknya,” ledek Allan.             “Sialan lo.” Aku mendengus, lalu memandang keluar jendela ruang kerja Allan, sambil berharap aku bisa mendengar suara Lyssa nanti malam. Setidaknya aku ingin mendengar ocehannya di radio. —————————             Aku memutuskan untuk pulang ke Bandung malam ini. Jangan tanya kenapa aku memilih untuk pulang malam ini. Jawabannya adalah, mobilku yang aku memang titipkan di rumah Allan selama aku kuliah di Belanda hari ini sudah keluar dari bengkel.             Akhir tahun lalu, aku membeli mobil ini. Tidak ada alasan khusus, tapi simpelnya karena aku merasa uangku sudah cukup untuk kebutuhanku pribadi tiap bulannya, dan aku merasa mampu untuk membeli dan merawat sebuah mobil. Alasan yang cukup mudah sebenarnya bagiku. Selain itu, aku juga sudah mulai mencicil rumah yang akan aku tinggali nanti.             Jadi, aku akan tinggal di Jakarta pastinya mulai tahun depan karena aku sudah mulai bekerja di Kemenlu. Dan akan konyol buatku jika aku terus-menerus tinggal di rumah orangtua Allan, padahal aku sendiri sudah memiliki pekerjaan yang cukup bagus.             Honda HR-V yang kukendarai pun membelah jalanan malam Ibukota yang sudah tidak terlalu padat, karena sekarang jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.             Tunggu dulu, apa aku bilang jam sepuluh? Berarti waktu siaran Lyssa sudah lewat dong!             Aku pun menyalakan radio mobil dan mencari Fame FM.             Sebuah lagu berbahasa asing itu masih terputar. Entah apa yang dikatakan oleh penyanyinya. Aku tidak tahu bahasa ini sama sekali. Bukan bahasa Inggris ataupun Belanda.             Lagu itu pun berakhir beberapa menit kemudian. Lalu seorang perempuan yang memiliki jenis suara rendah itupun mulai berkicau.             “Elle Me Rend Fou dari Souf. Is there anyone can understand this song? Well, kalau dalam bahasa Inggris, lagu ini memiliki judul ‘It Makes Me Mad.’ Lagu yang di request oleh Malika dari Pasar Minggu, katanya sih dia suka lagu ini karena tugas mata kuliahnya yang mengharuskan dia menyanyikan satu lagu Perancis supaya dia lebih fasih lagi ngomong bahasa Perancisnya. Buat Malika, semoga lagu tadi bisa jadi penyemangat ya! Dan makasih loh udah bikin seluruh pendengar Famousic jadi kebingungan sama lagu yang kamu request. But, I like that song though. Je sais parler Française un petit.             “Oke, udah mulai ngalor-ngidul nih kalo gue curhat yah... Di sini gue udah punya satu e-mail yang masuk lagi dari Ivan di Kemayoran. Wow, e-mailnya cukup panjang juga ya. Oke biar gue bacain ya.             “Malam Famousic, gue Ivan dari Kemayoran. Sebenernya ini bukan gue banget buat curhat di dalam radio, dan curhatan gue didenger oleh berpasang-pasang telinga di luar sana yang nggak kenal juga siapa gue. Anyway, gue mau curhat soal perempuan yang selama beberapa tahun ini selalu ada di benak gue. She’s my junior when I was college, dan gue udah lost contact selama beberapa tahun terakhir karena setelah gue lulus, gue merasa dia sendiri yang menjauh dari gue. Tapi secara nggak sengaja kemaren gue dateng ke kampus gue dulu pas ulangtahun fakultas gue, dan gue bertemu dia lagi. Entah kenapa, tapi gue seneng banget saat ketemu dia, namun sepertinya dia nggak merasakan hal yang sama, padahal dulu kita pernah deket—jalan bareng, ngerjain tugas, makan bareng dan pulang bareng. Tapi kenapa dia yang sekarang ini berbeda dengan dia yang gue kenal dulu. Hanya itu yang gue rasain saat ini. Gue pengen request satu lagu yang bisa gambarin perasaan gue saat ini bolehkan? Thanks Famousic.             “Oke, thank you Ivan buat ceritamu. Is your story real? Kok jadi baper ya gue setelah baca e-mail dari kamu hahaha. My suggestion is, lebih baik kamu mulai coba dari awal lagi dengan cewek itu karena buat perempuan, masalah perasaan dan hati adalah problematika yang paling krusial karena udah menyangkut hati yang penjabarannya itu abstrak. Benerkan ladies? Karena gue sendiri pun kalau jadi cewek itu juga akan merasakan hal yang sama.             “Buat lagu requestnya, gue bakal puterin If You’re Not The One dari Daniel Bedingfield. Semoga lagu ini bisa memberikan semangat buat kamu ya biar kamu yakin kalau dia adalah ‘the one’-nya kamu. And this is will be the end of our segment today. Stay tune terus di 77.87 Fame FM radio, your famous radio tuner. Gue Ara Alyssa pamit, and this is Daniel Bedingfield, If You’re Not The One. Caw!”             Aku merasa senang mendengar suaranya, walau aku tak tahu jelas bagaimana dirinya sekarang. Aku sudah menyukai sosok perempuan dalam radio itu. Menyukainya.             Seperti lagu yang dipilihnya, perempuan dalam radio itu aku yakini adalah miliku semestinya. —————————
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD