Jakarta, November 2010.
Lyssa.
Aku melihat sebelah ke kanan dan kiri dari depan lift. Hari ini Dea nggak masuk kelas. Alasannya sih karena dia sakit. Padahal, dia sudah janji mau ikutan mengerjakan tugas makalah kelas Pengantar Ilmu Hukum, biasa di singkat PIH. Dosen kami sengaja memberikan tugas individu yang diberikan untuk diselesaikan dalam satu semester.
Tugasnya tidaklah rumit sebenarnya.
Kami hanya harus membuat makalah mingguan yang ditugaskan oleh Beliau, lalu kami akan menggabungkan keseluruhan makalah tersebut menjadi sebuah buku yang akan dijilid dengan soft cover.
Sementara itu, aku sendiri tidak merasa kesulitan dengan tugas tersebut. Alasannya mudah, Kak Bill sering membantuku untuk menulis makalah seperti yang diinginkan oleh Pak Rivat. Dia memang terkenal menyebalkan dengan pemberian nilainya yang hanya di nilai melalui makalah akhir yang sudah dibukukan itu. Yang dimaksud dengan hanya, ya memang hanya dari makalah itu saja.
Jadi di sinilah aku saat ini. Menjalani hari Selasa yang membosankan dan mengikuti kelas yang membosankan sambil mendengarkan ocehan Bu Rita akan penjelasan hukum dagang.
Sejujurnya saja, aku lebih memilih untuk ikutan bolos kelasnya Bu Rita hari ini kalau tahu penjelasan yang Beliau sampaikan akan sangat membosankan. Sepertinya, Bu Rita sedang mengalami penyakit siklus bulanan yang pastinya di lalui oleh setiap perempuan. Yaitu, PMS.
Selesai setelah dengan kelas Bu Rita, aku sebenarnya mau langsung pulang.
Sebenarnya lho yah.
Tapi kenyataan sayangnya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi yang kuharapkan. Kak Bill ngotot untuk pulang bareng hari ini. Katanya sih, dia mau nemenin adik kesayangannya ini makan di luar karena Om Ridwan dan Tante Elisa ada di Bandung hari ini karena ada salah satu saudara Tante Elisa yang baru melahirkan. Jadi secara otomatis, di rumah tidak akan ada makanan. Makanya itu Kak Bill mengajakku makan ke luar.
Tapi sialnya, Kak Bill baru selesai kelas jam lima sore nanti.
15.57.
Itulah jam yang ditunjukkan di layar ponselku saat memastikan bahwa harus menunggu sekian jam lagi sampai Kak Bill selesai kelas.
Aku pun menunggu di lantai empat, di dekat ruangan kelas Kak Bill agar dia tidak kesulitan mencariku nantinya. Aku pun membuka lockscreen ponselku, dengan membuka passwordnya.
Ada beberapa BBM masuk yang kulihat di sana.
Sabrina Julia. Andrena Margareth.
Kedua temanku itu adalah orang yang mengirimkan BBM itu. Tapi, sejujurnya saja aku malas membukanya. Tak lama setelahnya ada sebuah BBM masuk lagi.
Aldo Renaldi
Lyssa lagi apa?
Lagi kuliah? Atau udah selesai?
Kakak keduaku itu kadang memang suka mengirimkan pesan-pesan singkat lewat BBM untuk menanyai kabarku. Terkadang, ia juga sering meneleponku hanya untuk sekedar menanyakan apa yang sedang kulakukan, dan apakah aku kesepian karena tidak ada dirinya di sekitarku.
Aku pun segera membalasnya.
Alyssa Parahita
Baru selesai kelas Kak.
Lagu nungguin Kak Bill. Habis ini mau di ajak makan sama dia.
Tante Elisa lagi ke Bandung makanya aku diajak makan sama Kak Bill.
Lalu aku dengan isengnya membuka f*******:. Sejujurnya, alasan utamaku membuka f*******: adalah ingin sekedar melihat keadaan teman-temanku SMA-ku yang sudah beberapa bulan ini tak kudengar apapun kabarnya.
Kalian tahu apa yang kulihat pertama kali saat sedang membuka feed f*******:?
Foto Miguel dan Carol yang sedang berada di pantai, layaknya sedang pre-wedding. Carol menggunakan midi dress warna putih, dan Miguel juga memakai kemeja putih dan bawahan celana gelap. Entah konsep macam apa yang sedang mereka gunakan dalam foto itu. Dan kalian tahu bagaimana perasaanku saat melihat mereka seperti itu?
Kira-kira seperti ini gambarannya.
Aku biasa saja sebenarnya. Tapi aku merasa, bagaimana mereka berdua bisa bahagia bersama dengan senyuman yang lebar merekah itu seperti tidak menyakiti siapapun sebelum mereka berdua bersama. Aku memang belum bisa memaafkan mereka, dan melupakan kejadian yang mungkin sudah lumutan itu.
Tapi, mereka sendiri belum pernah mengatakan apapun kepadaku. Entah sekedar ‘sorry’ atau, ‘maaf.’ Aku memang berusaha untuk melupakan dan memaafkan mereka. Namun, kenapa sesulit ini?
——————————
Jam akhirnya menunjukkan pukul empat lewat, dan posisi terakhirku masih berada di di dekat kelas Kak Bill, duduk di kursi tunggu yang biasa digunakan oleh banyak mahasiswa lain untuk menunggu dosen. Biasanya, tempat duduk ini diduduki oleh mahasiswa tingkat akhir yang sedang menunggu dosen pembimbingnya.
Carolista Evania Its been three years we had spent our days together. I thanked God for every minute and second in my life for having this man as my man.
Itulah yang ditulis oleh Carol di dalam status facebooknya, saat foto dirinya dan Miguel muncul di feed f*******:-ku.
I Made Miguel She is more than a present that I ever recieved on my birthdays. She was my dream, and now my dream came true as she is mine, perhaps she also will be my future.
Dua orang yang sedang kasmaran, dan merayakan kisah cinta mereka yang sudah berjalan tiga tahun itupun memenuhi feed f*******:-ku. Aku muak melihatnya, dan aku pun segera menutup ponselku.
“Lagi galau ya, Dek?” tanya sebuah suara yang aku kenali.
Aku menoleh, melihat sumber suara itu berasal. Rupanya adalah kakak tingkatku yang ada di sebelah kiriku. Dia tersenyum tengil, sambil cengengesan sepertinya dia kesenangan karena sudah berhasil menangkap basahku yang habis membuka f*******: tadi. Aku tidak tahu dia siapa, tapi sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana...
“Kok mukanya kaku gitu sih Dek?” tanyanya lagi.
“Win, jangan digangguin!” balas sebuah suara lain. Aku melihat sosok laki-laki yang memakai kacamata, berpakaian rapih, dengan wajah serius sedang menghampiri arahku dan orang disebelahku ini. “Kerjaan lo ngegangguin adik tingkat mulu. Urusin sana skripsi lo yang belom-belom ujian!” Orang ini adalah Allan, yaitu ketua dari acara Faculty Day kemarin.
“Iya, Lan. Lo sensian amat sama gue?”
“Elo kan orang anak paling tengil yang suka gangguin cewek yang lagi sendirian.” Kak Allan langsung melirikku, raut wajahnya seketika berubah saat melihatku. Dia tersenyum, “Alyssa kan? Adiknya Bill?”
“Iya Kak,” jawabku walau sedikit ragu.
“Ini namanya Edwin Permana. Tolong diingat wajahnya baik-baik biar kamu nggak jadi sasarannya dia lagi besok-besok.”
Aku tersenyum kikuk lalu menjawab, “Oh iya Kak.”
“Woy! Berisik tahu! Nggak tahu apa kalo gue lagi ngerjain skripsi!?” teriak seseorang yang muncul dari dalam ruang moot court—ruang peradilan semu, yang biasa digunakan oleh mahasiswa fakultas hukum untuk praktik pengadilan. Orang dari dalam ruang moot court itu adalah orang yang cukup lama sudah tak kulihat lagi sejak Faculty Day.
“Sorry Vin,” balas Kak Allan, “Gue barusan ngamanin Si Buaya Darat angkatan kita dari aksi mematikannya.”
Kak Vincent pun mengamati aku yang berada di sana. Tiba-tiba saja dia menghampiri kami. “Alyssa?”
Aku membulatkan mataku. Dia tahu namaku?
“Nama kamu Alyssa Parahita, bukan?” tanyanya lagi dengan lebih detail. Aku menatap matanya. Tajam, dan seolah mengunci mataku sehingga aku tidak bisa melihat sekitarnya.
Aku pun memalingkan wajahku untuk menjawabnya. “Iya Kak.”
“Kok lo bisa tahu, Vin?” tanya Kak Edwin yang disebelahku ini. “Lo juga ngamatin dia ya?!”
“Nggak,” katanya, “Tapi kan kemaren dia nulis surat cintanya buat gue.”
Aku seketika membulatkan mataku lagi, pipiku terasa panas, telingaku menegang, dan detak jantungku tak ayal tiba-tiba berdetak lebih kencang—tak keruan rasanya. Seolah dia barusan membokar rahasia terbesarku.
“Ketika atom-atom saling menyapa, dan proton-proton rasa mulai bertumbukkan, jadi sebabnya muncul reaksi hati.” Dia mulai mengucapkan isi surat cintaku. “Bahkan Archimedes dan Newton pun tak akan mengerti medan magnet yang berinduksi di antara kita. Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi hukum kekekalan di antara kita. Itulah yang kurasakan jika melihatmu, cukup saja untuk mengagumi kakak.”
Aku tercekat.
Bagaimana dia bisa hapal seluruh isi surat cintaku itu?
“Surat cintanya pake hati nggak tuh di tulisnya?” tanya Kak Edwin dengan senyum menyebalkannya itu.
PLETAK!!!
Kak Allan langsung memukul kepala Kak Edwin dengan gulungan kertas yang ada di tangannya, dan menarik telinga Kak Edwin. “Win, kita kelas jam empat tigapuluh. Lo nggak mau telat masuk kelasnya Pak Yanto kan?” Kak Allan dan Kak Edwin pun perlahan meninggalkan lantai empat, untuk turun ke lantai tiga, menggunakan tangga.
Sehingga tinggallah aku dan manusia bernama Vincent ini.
Dia tidak memberikan ekspresi apapun di wajahnya, sehingga aku kesulitan untuk berasumsi apa yang sedang dia pikirkan. Tapi kemudian, dia mengajakku untuk masuk ke dalam ruang moot court.
“Kamu ngapain?”
“Nunggu.”
“Nungguin pacar selesai kelas?” tanyanya.
“Kakak aku.”
Dia manggut-manggut. “Dari pada kamu disini sendirian, mending ke dalam aja.”
Aku heran awalnya. “Bukannya Kakak lagi bikin skripsi ya? Kalau aku masuk ke dalam sana,” aku menunjuk pintu ruang moot court yang terbuka, “Nanti malah gangguin Kakak.”
“Enggak kok.” Lelaki ini memberikan seulas senyuman tipisnya kepadaku, seolah berkata, ‘masuk aja.’ “Dari pada kamu sendirian di sini.”
Aku pun manut, dan mengikutinya ke dalam ruang moot court.
Di dalamnya, aku melihat ada banyak sekali buku-buku hukum yang terobrak-abrik disana-sini. Mulai dari KUHP, Undang-undang, dan yang paling banyak adalah buku mengenai hukum tata negara. Entah apa yang dilakukan oleh laki-laki ini dengan semua buku hukum yang berserakan di atas meja yang digunakannya itu.
Sebuah laptop hitam ada di tengah-tengah serakan buku-buku itu. Laptop itu terhubung dengan kabel chargernya. Aku yakin laptop itu sudah kelaparan karena terlalu lama digunakan, sehingga dia harus diinfus seperti itu.
“Aku lagi nunggu dosen pembimbing buat konsultasi skripsi,” kata Kak Vincent memulai pembicaraan. Aku baru menyadari bahwa dia tidak memakai kacamata hari ini.
Aku manggut-manggut saja. “Skripsi tentang apa Kak?”
“Tentang DPR dan DPRD. Kalau aku jelasin kamu bisa mabok,” katanya sambil terkekeh pelan.
“Pidana?”
“Tata negara. Kamu masa nggak bisa bedain ranah pembagian hukumnya?” tanya Kak Vincent lagi. “Kamu asalnya dari mana? Nggak kelihatan kayak orang sekitaran Jakarta soalnya.”
“Bali.” Aku menjawabnya sesingkat mungkin, “Kakak sendiri?”
“Bandung,” balasnya, “Jadi di depanku ada gadis Bali nih. Suka ke tempat dugem?”
“Suka ke sebelah tempat dugem,” jawabku kalem, sambil mengamati buku-buku yang tersebar itu.
“Apaan tuh?”
“Gelato.”
Aku melihat Kak Vincent menahan tawanya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya. Kedua matanya membentuk garis yang nyaris identik, seolah merasa lucu dengan jawabanku yang alakadarnya itu.
“Kamu polos banget buat ukuran anak Bali yang biasanya suka ke tempat dugem gitu. Gelato rasa apa yang kamu suka?”
“Mint.”
Kak Vincent manggut-manggut, seolah dia mencoba memahami dan mencerna jawabanku yang mungkin berada di luar nalarnya.
“Tapi aku suka minum vodka.”
Kali ini, Kak Vincent memasang raut wajah yang serius. Dia menatapku serius, seperti seorang jaksa yang sedang memeriksa terdakwanya di dalam ruangan. Dia seolah tak percaya dengan pernyataanku itu.
“Vodka? Umur kamu udah duapuluh satu?”
“Delapan belas.”
“Secara hukum, kamu harus berumur duapuluh satu tahun kalau mau minum minuman beralkohol seperti itu,” jelasnya. “Siapa yang memberikan kamu vodka itu? Memangnya orangtua kamu nggak ngontrol kehidupan kamu?”
“Aku cari sendiri kok,” tukasku dengan senyuman nakal, “Lagian aku minumnya cuma sedikit.”
“Kenapa memangnya kamu harus minum?”
“Stress relief. Karena punya masalah pribadi yang nggak bisa aku bilang ke sembarang orang pastinya,” kataku.
“Dan—“
“Vincent, kamu sudah selesaikan bab berikutnya belum yang saya mau lihat hari ini?” tanya Pak Tirta yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang moot court itu, saat Kak Vincent baru mau melanjutkan ucapannya tadi.
“Oh, sudah Pak,” jawabnya.
Tak lama kemudian, aku melihat sosok Kak Bill yang masuk ke dalam ruang moot court juga, membawa beberapa tumpukkan makalah, dan meletakkannya di dekat buku-buku Kak Vincent yang berserakan. Kak Bill kemudian melihatku, dan keheranan karena aku bisa berada di ruang moot court. “Lho, Lys? Kok kamu bisa ada di sini?”
Aku belum sempat menjawab, tapi Pak Tirta kemudian menyadari kehadiranku di dalam ruangan ini dan Beliau segera menyambarku dengan pertanyaan. “Kamu pacarnya Bill itu?”
“Ah? Bu-bukan Pak.”
“Pacarnya Vincent?” tanya Pak Tirta lagi dengan cepat. Kali ini aku terkejut. Mataku membulat, tubuhku mematung, dan detak jantungku jadi tak keruan setelah mendengar Pak Tirta menyebut nama ‘Vincent.’
“Dia adik saya, Pak,” kata Kak Bill. Puji Tuhan, setidaknya Kak Bill bisa menyelamatkanku dari pertanyaan Pak Tirta tadi. “Tadi saya minta dia tunggu saya buat pulang bareng.” Pak Tirta pun mengerti dengan ucapan Kak Bill. “Saya pamit dulu ya Pak. Lys, ayo pulang.”
Aku pun mengangguk. “Pamit dulu Pak. Kak,” aku melihat Kak Vincent, dan melontarkan senyum tipisnya padaku.
Aku dan Kak Bill pun keluar dari ruang moot court.
Anehnya, aku tidak bisa berhenti membayangkan wajah Kak Vincent setelah aku meninggalkan ruangan itu. Bahkan, degup jantungku ini tak keruan dan membuatku sendiri ingin berteriak saking kesalnya.
Jangan bilang aku mulai penasaran sama cowok itu!
——————————