Den Haag, September 2016.
Vincent.
Aku mendatangi KBRI yang berada di Tobias Arselaan 8, Den Haag untuk mengurusi segala kepentingan yang aku butuhkan sebelum aku dapat pulang ke Indonesia. Berkat beasiswa yang ku dapatkan satu setengah tahun yang lalu, aku berhasil mendapatkan beasiswa ke Belanda, untuk mendalami studi hukumku.
“Oh, Vincent?”
Aku menoleh ke belakang, melihat ke arah Si Pemilik Suara. Rupanya Hans, seorang warga negara Belanda yang bekerja di KBRI sebagai penerjemah bahasa. “What are you doing here?” tanyanya sambil menghampiriku.
“Have so many things to do with my visa before I’m flying back to Jakarta,” kataku dengan senyum.
“Damn. You’re going back to your country?” katanya mengumpat, “I thought I just known you yesterday dude. You’re like my brother!”
“I know. Aku sudah menyelesaikan kuliahku, Hans. Kutunggu saat kau mampir ke Indonesia.”
“Tentu saja.” Hans menepuk punggungku.
Kita memang sudah seperti bromance yang lengket layaknya perangko dan amplop yang saling menempel. Hans adalah sahabat yang selalu ada untukku untuk mengurus segala keperluanku yang berkaitan dengan imigrasi dan urusan lainnya selama aku berada di Belanda. Terkadang aku merasa dia sudah seperti manajerku sendiri yang mengurusiku.
Selesai mengurus segala urusanku, Hans mengajakku untuk minum kopi di satu sudut jalan dari Tobias Arselaan. Aku menikmati americano pekat seperti biasa yang aku sukai, sementara Hans masih tetap konsisten dengan lattenya.
“How’s your girl?” tanya Hans.
“Aku tidak punya pacar Hans. Jangan bergurau.”
“Ah, iya. Kau memang tidak punya pacar,” ulangnya sambil meledek. “Aku lupa akan hal yang satu itu dari seorang Vincent Kristiawan. Lalu, bagaimana kau menjelaskan foto yang kau simpan di dalam dompetmu?”
“Dompet? Aku hanya menyimpan fotoku dengan teman-teman kuliahku sewaktu di Indonesia. Jangan konyol.”
Hans tersenyum meledek. Jangan bilang dia pernah mengeluarkan fotoku dengan teman-teman kuliahku itu dan melihat foto yang kusimpan dibelakangnya. Foto yang sengaja aku sembunyikan agar tidak terlihat oleh siapa-siapa.
“Aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk tidak mengertinya, Vincent.”
“You’ve seen the photo behind it?”
Hans mengangguk. “Gadis itu lucu. Dia mirip denganmu.”
“Mirip?”
“Physically.” Hans menyesap lattenya. “Cara kalian tersenyum, dan bagaimana kalian memiliki bahasa tubuh yang canggung dan kaku. Well, mungkin kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Tapi kalian terlalu memiliki ego yang tinggi terhadap perasaan kalian masing-masing.”
Aku tidak menggubrisnya.
Alyssa Parahita.
Gadis itulah yang kusembunyikan dibalik foto teman-teman kuliahku. Kalau-kalau kalian tidak mengerti apa artinya, aku memang memendam perasaan terhadap Lyssa selama ini. Bahkan setelah aku berpisah dengannya setelah aku lulus kuliah, aku masih memiliki perasaan untuknya.
Salah satu alasan mengapa aku berkuliah di Utrecht adalah untuk menghindar dari Lyssa, dan bisa melupakannya. Namun, bukannya melupakannya, justru Utrecht membuatku jadi mengingat Lyssa akan salah satu cita-citanya.
“S2? Di Belanda?” Tanyaku.
“Universiteit Utrecht. Itu yang aku mau,” kata Lyssa.
Aku tidak tahu kenapa aku harus memilih universitas di Utrecht dari sekian banyak universitas yang ada di Belanda.
Aku tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang.
Terakhir kali aku melihatnya memposting bahwa dirinya sedang berada di California untuk mendapatkan gelar S2-nya di Stanford.
Kabar yang aku tentangnya adalah, dia lulus dalam kurun waktu tiga tahun delapan bulan—karena harus menyesuaikan jadwal dengan beasiswa S2 yang didapatnya—dengan predikat magna cumlaude. Aku yakin kedua orangtuanya sangat bangga terhadapnya.
Dia menghadiri Java Jazz Festival, untuk kesenangan pribadinya beberapa kali bersama teman-teman dekatnya, Dea dan Sasa. Lyssa juga sempat menjadi asisten dosen—sebuah pekerjaan paruh waktu yang biasanya tidak banyak diinginkan oleh mahasiswa karena hanya bikin capek.
“Baiklah kalau kau tidak mau mengakuinya,” kata Hans, “Tapi bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa menulis nama Alyssa Parahita di dalam kata pengantar tesismu?”
Aku melotot.
“Aku membacanya, Bodoh. Kau tahu kalau dosenmu adalah teman dekat ayahku.”
Aku mendesis kesal dalam hati. Tapi percuma juga membohongi Hans. “Ya, ya. Aku memang menulis nama Alyssa. Dia sumber inspirasiku, dan karena dialah aku bertahan di Belanda ini untuk menyelesaikan studi S2-ku. Puas?”
“Ternyata dia sumber inspirasimu,” balas Hans. “Oh ya, Lyssa juga baru selesai S2 di Stanford.”
“Kau tahu dari mana?”
Hans menunjukkan sebuah foto yang menampilkan wajah seorang gadis Bali yang sangat aku rindukan, berbalut dengan toga dan senyumannya merekah sehangat matahari di musim semi dan sesejuk angin di musim gugur. Persetan dari mana Hans bisa mendapatkan foto Lyssa.
“She’s smarter than you,” tandasnya, “Selamatlah jika dia mau menjadi pendamping hidupmu. She does have a bright future.”
Aku tersenyum melihat foto Lyssa. Celah-celah kosong di dalam hatiku segera menghangat begitu melihat foto Lyssa itu.
——————————
Jakarta, Oktober 2016.
Aku berjalan keluar dari boarding room. Sambil menyeret dua koperku, aku melihat sekitaran terminal 2F, dan mencari sosok orang yang kukenali—kalau-kalau kalian bingung, aku sedang mencari orang yang berjanji mau menjemputku dari bandara hari ini. Katanya sih dia bakal anti-ngaret, cuma kenapa dia belom nongol juga?
“VINCENT!”
Aku melihat sosok Allan yang menghampiriku, sambil membawa papan nama bertuliskan nama lengkapku; ‘VINCENT KRISTIAWAN.’ Untungnya dia tidak membawa-bawa embel gelarku. Jujur saja, aku malu jika dia melakukannya.
“Lo bilang landing jam empat. Ini sih tujuh malem, Gila!” protes Allan sambil memukul kepalaku.
“Kan gue jelasinnya waktu gue masih di Den Haag. Berarti elonya aja yang bego nggak bisa ngitung jam,” dalihku. “Tapi makasih Bro, udah mau jemput gue. Keluarga gue aja lagi pada sibuk ngurus ini-itu buat kakak gue yang mau married.”
“Anytime. Dan lo mau langsung pulang ke Bandung? Atau mau ke mana nih?” Tanya Allan. Rumah orangtuaku berada di Bandung, dan Allan tahu kalau aku pasti tidak akan semudah itu untuk langsung mengatakan aku mau pulang ke Bandung dan bertemu dengan keluargaku, sementara aku masih kangen dengan udara Jakarta, serta semerawutnya Jakarta.
Aku sedikit bergumam dan tersenyum penuh arti kemudian. “Jalan-jalan dulu yuk. Gue mau ke Senayan.”
“Senayan?” ulang Allan. “Otak lo sengklek atau gimana? Iya kali lo ngajakin gue—secara gue masih cowok tulen—ke Senayan.”
“Emangnya lo tahu gue mau ngajakin lo ke mana, Lan?” tanyaku balik.
“Jelas lo mau ngajakin gue ke Senayan City kan? Lo pikir gue nggak tahu akal bulus lo yang sok-sok ngajakin gue ke Senayan. Tapi sebenernya lo cuma mau ngulur-ngulur waktu doang supaya lo nggak cepet-cepet pulang!” gerutunya, “Lo pinter tapi ngeselin ya.”
Aku tidak menghiraukan ocehan Allan barusan. Menurutku itu hal biasa jika dia kesal dengan sifatku.
Meski demikian, aku tetap tenang saja. Nyatanya, selama ini antara aku dan Allan, kita sudah bertemanan sejak awal pertama masuk kuliah, dan walaupun Allan sering berselisih pendapat denganku, dengan jalan pikiran kita masing-masing. Kita masih tetap memiliki kesamaan, yaitu bahwa kita saling bisa mengisi otak kita berdua dengan kemampuan yang kita miliki, dan tentunya masih banyak lagi hal lainnya yang membuat kita berdua bersahabat sampai detik ini.
Soal perempuan?
Jangan khawatir. Kami tidak pernah berebut soal perempuan. Nyatanya, selera Allan dengan selera perempuanku sudah mutlak berbeda.
“Ya udahlah yuk jalan. Sebelom tambah malem nih.”
“Ke?”
“Tadi katanya lo mau ke Senci?”
Aku tersenyum akhirnya. Allan pun membantuku membawakan dua koper yang kubawa dari Belanda sana, sampai di depan mobilnya, Allan segera menaruh koper-koperku di belakang bagasi. Setelahnya Allan pun mengambil tempat duduk di belakang kemudi untuk menyetir.
Mobil Allan benar-benar hening. Tidak ada suara bising sama sekali di dalam mobilnya, sehingga membuatku sendiri mengantuk.
“Lo tidur aja Vin,” ujar Allan, “Entar kalo sampe gue bangunin.”
“Yang ada lo ngibulin gue lagi kayak jaman dulu. Tahu-tahu udah sampenya di rumah lo,” kataku kesal, mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dia bilang aku tidur saja, dan ternyata, dia membangunkanku karena sudah sampai di rumahnya. Alasannya, aku kelelahan, makanya aku harus tidur dan besok baru berjalan-jalan kalau mau.
Allan tersenyum meledek sambil terkekeh. “Paham aja lo.”
“Gue nyalain radio aja deh.”
Aku pun menekan radio mobil Allan, sambil mencari-cari siaran radio yang tidak berisi dengan sekmen sampah seperti kebanyakan radio yang menurutku tidak bermutu. Setidaknya, siaran di radio masih lebih baik dibandingkan dengan siaran di dalam televisi yang lebih mengerikan menurutku.
Acara hiburan di televisi yang hanya sekedar memamerkan hal ini dan itu, malah justru membuat mental bangsa ini rusak karena saking tidak mendidiknya.
“Selamat malam Fame FM listener! Sadly to say, Margie hari ini harus merampungkan skripsinya nih, jadi sekmen ini gue yang ambil alih. Oke, selama dua jam ke depan, bersama gue Ara Alyssa, seperti biasanya sekmen Famousic ini akan memutar request lagu dari para listener yang bisa dilakukan lewat mention di twitter, i********: maupun e-mail.
“Sebelumnya, untuk lagu pertama ini adalah lagu jadul yang cukup lama dan merupakan original soundtrack dari sebuah film yang diangkat dari novel karangan Nicholas Sparks di tahun 2002. Its one of my favorite song, dari New Radicals, Someday We’ll Know.”
Aku tercekat begitu mendengar nama Si Penyiar radio itu, dan lagu pertama yang di putarnya.
Aku langsung teringat akan seorang perempuan yang sudah lama aku rindukan.
Alyssa.
Someday we’ll know if love can move the mountain.
Someday we’ll know why the skies is blue.
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you.
“Lagu jadul,” komentar Allan.
“Lagunya Lyssa,” balasku.
“Dan lo masih inget sama Lyssa, Vin?” tanyanya. “Gue kira lo udah nggak inget sama sekali sama Lyssa. Karena lo mutusin buat ke luar negeri setelah lo dapet beasiswa S2 buat ke luar negeri lo itu.”
“You never know how deep is someone’s heart,” kilahku.
Allan terlihat menyunggingkan senyumannya. Aku dapat melihatnya samar-samar dari cahaya lampu di jalan yang menyinar wajahnya sekilas. Senyumannya seperti sedang meledekku, seperti mengatakan, ‘Never talk about love. ‘Coz you never know what it means.’
Allan membuka jendela mobilnya untuk membayar tol, setelah itu dia menuutupnya lagi dan berkata. “Dia berhenti dari dunia hukum, dan memilih untuk menjadi penyiar dan menulis. Menulis apapun. Jurnal, artikel, dan dia menerbitkan beberapa novel.” Allan bercerita tentang seseorang tanpa menyebutkan siapa yang sedang dibahasnya dengan jelas. “Lo nggak perlu pura-pura bego, Vin. Jelas lo tahu kalau orang yang gue maksud adalah Lyssa. Lyssa yang sama dengan penyiar radio yang barusan ngomong tadi.”
Hatiku mencelos.
Seorang Lyssa? Menjadi penyiar radio?
“Kenapa? Lo kaget?” tanyanya lagi. “Dia nggak punya alasan untuk bertahan terus menerus di bidang hukum. Lyssa memang suka hukum, bukan berarti dia mau bergelut selamanya di dalam bidang itu.”
“Dari mana lo tahu?”
“I hear it by myself from her mouth. She works as lecturer though.” Allan tersenyum miris, “Dia dosen juga. Seenggaknya itu yang dia gunakan ijazah dan gelar yang udah capek-capek dia dapatkan.”
“Does she married?”
“Menurut lo, seorang laki-laki yang membuatnya menangis selama berbulan-bulan karena menggantungkannya, dan meninggalkannya tanpa sepatah katapun bisa membuat dia menikah semudah itu tanpa memikirkan masa lalunya yang masih tertinggal. Perasaannya yang masih menggantung?” tanya Allan keras. “Bahkan Rangga menjanjikan Cinta untuk balik dalam dua purnama—walaupun akhirnya digantungin empat belas tahun juga. Seenggaknya Rangga memberikan sebuah janji, dan sebuah kata perpisahan. Sementara lo? Apa yang lo berikan buat Lyssa?”
Terlalu banyak.
Terlalu banyak kejujuran yang diucapkan dalam ucapan Allan barusan yang membuatku sendiri bingung harus bagaimana. Aku tidak pernah berniat untuk menggantungkannya. Tidak. Aku tidak berniat begitu.
——————————