Pagi itu Mira bangun seperti biasanya. Saat Mira bangun, ia tidak melihat Rendra berada ditempat tidur. Pikirnya jarang sekali suaminya bangun terlebih dahulu seperti itu. Melihat Rendra tak ada dikamar, ia pun keluar kamar untuk mencarinya.
Dan ketika ia berjalan menuju dapur, ia melihat Rendra sudah memakai baju yang rapi. Pandangan Mira tertuju pada meja makan yang sudah tersaji beberapa makanan.
"Mas, ini semua kamu yang masak?"
"iya, aku ingin memasak untukmu. Oh ya aku mau pergi dulu ada urusan sebentar dan mau langsung ke kantor."
"oh baiklah..."
Saat Mira ingin membetulkan kemeja Rendra, lelaki itu menghindar dan terlihat ingin buru-buru pergi dengan membawa tas hitamnya keluar rumah. Mira hanya memperhatikan suaminya melangkah pergi.
Sesampainya dirumah sakit, Rendra langsung pergi menuju ke sebuah ruangan. Terlihat seorang perempuan yang tergeletak tak berdaya. Tubuh wanita itu berbalut banyak peralatan medis. Rendra perlahan duduk disamping wanita itu. Ia hanya menatap wanita itu dari tempat duduknya.
"Risa, bagaimana kabarmu? Maafkan aku harus meninggalkanmu, aku harus cepat ambil keputusan agar tidak terjadi lagi hal yang buruk. Tapi hatiku juga tak bisa berbohong kalau aku sangat mencintaimu. Hanya kamu yang ada dihatiku, bangunlah segera..."
Ucap Rendra lirih yang tak bisa membendung air matanya.
Seusai menjenguk wanita yang ia cintai itu, ia kembali bekerja ke kantor. Saat ini Rendra sudah menduduki jabatan direktur utama di rumah sakit. Mau tidak mau ia harus mengurus segala urusan kantor rumah sakit yang memiliki beberapa cabang itu.
Sementara itu, Mira dirumah mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Keseharian yang ia jalankan rasanya hanya seperti berulang-ulang. Ia mulai merasa bosan. Sembari menunggu suaminya pulang, ia pergi ke mall untuk belanja bulanan dan sekalian jalan-jalan.
"apakah ada warna merah?"
Ucapmu pada penjaga toko baju.
"ada kok mba, tunggu sebentar ya saya ambilkan dulu."
"ini yang warna merahnya mba..."
"baiklah saya mau yang ini saja."
Setelah puas berbelanja baju, Mira berjalan menuju tempat belanja makanan. Mira menghampiri troli besi yang berbaris rapi ditempatnya. Mira pun mengambil salah satu troli disitu dan membawanya.
"hari ini aku mau masak apa ya?"
Batin Mira sambil melihat sekelilingnya dengan perlahan.
Ia mulai mengambil beberapa bahan makanan dan menaruhnya ke dalam troli. Lalu terlihat oleh Mira sepasang suami istri yang sedang berbelanja dengan anaknya. Mira memperhatikan sejenak keluarga kecil itu.
"Pah, aku mau itu."
Tunjuk anak perempuan itu pada tumpukan es krim.
"mau yang cokelat?"
"iya iya..."
Ucap anak itu kegirangan sambil meloncat-loncat kecil.
"aku ingin seperti mereka, pasti rasanya sangat menyenangkan. Tapi rasanya mustahil, Rendra saja tak pernah meluangkan waktunya untuk bersamaku."
Batinmu tersenyum pahit.
Namun tiba-tiba saja lamunan Mira buyar karena terdorong sebuah troli dari belakang.
"hei, kalau jalan lihat-lihat dong!"
Ujar Mira dengan meninggikan nada suaranya tanpa menoleh terlebih dulu siapa yang ada dibelakangnya.
Saat Mira menoleh ke belakang, ia terkejut.
"Herdian?"
"Mira?"
Mira teringat seseorang yang dulu pernah ia cintai saat SMA. Lelaki yang sering memberikan perhatian padanya. Ia masih sama seperti dulu masih tampan, bahkan lebih tampan dari sebelumnya. Meski Mira pernah mencintainya, tetapi kini di hati Mira hanya ada Rendra. Mereka berdua tertawa saat menyadari ternyata saling mengenal satu sama lain.
"sedang apa kau disini Mira?"
"aku sedang jalan-jalan saja.hehe..."
"hmm... bagaimana kabarmu Mira?"
"Alhamdulillah aku baik-baik saja.
Saat Herdian ingin bertanya lagi, tiba-tiba Mira melihat jam tangannya. Mira baru sadar kalau ia harus segera pulang.
"Herdian, maaf aku harus segera pulang."
Ucap Mira terburu-buru meninggalkan Herdian.
"ah baiklah... hati-hati ya..."
Mira tak menjawab hanya mengangguk dan berjalan cepat sambil membawa troli yang sedari tadi ia bawa. Ia langsung menuju ke arah kasir.
"akhirnya aku menemukanmu lagi Mira. Kali ini aku takkan melepasmu lagi."
Batin Herdian yang melihat Mira pergi menjauh darinya.
Selesai membayar belanjaan, Mira memesan taksi dan segera pulang menuju rumahnya.
Sampai dirumah, ia melihat Rendra sudah berada dirumah. Tidak biasanya Rendra pulang lebih awal.
"kau darimana saja?"
"aku habis belanja bulanan. Tunggu sebentat ya, aku akan segera memasak untukmu."
"kamu tidak perlu memasak, aku mau kembali ke rumah sakit dan makan disana saja. Ada urusan sebentar."
"tapi..."
Belum sempat Mira menyelesaikan kata-katanya, Rendra segera pergi membawa jasnya. Mira hanya diam, entah kenapa dadanya terasa sesak. Tak lama terdengar suara mobil yang kian menjauh dari rumah.
Mira berusaha memalingkan perasaannya dengan merapihkan barang-barang belanjaannya ke dalam lemari pendingin. Selesai membereskan belanjaan, ia mulai memasak masakan untuk dirinya sendiri karena dari tadi belum makan siang.
Masakan matang, Mira mulai menyantap masakan yang ia masak. Namun saat akan menyuap makanan itu, tangannya bergetar matanya memerah dengan air mata yang sudah menumpuk. Meski begitu ia tetap makan dengan perlahan.
"kenapa dia mau menikahiku kalau dia memperlakukanku seperti ini?"
Sehabis makan, ia mandi lalu menonton tv di ruang tamu. Tak terasa sudah hampir jam 11 malam, Mira tertidur di sofa. Rendra tak lama pulang.
"Mira... Mira... bangun... jangan tidur disini. Ayo pindah."
Ucap Rendra mengguncang bahu Mira perlahan agar ia bangun dan pindah ke kamar.
"oh kamu sudah pulang? Baiklah aku akan pindah."
Mata Mira sedikit sembab dan terlihat mengantuk, namun ia tetap memaksakan diri untuk bangun dan pindah menuju kamar.
Esok paginya saat sarapan, Mira mulai membuka percakapan dengan Rendra.
"Mas Ren, aku mau bekerja. Apakah boleh? "
"kenapa kau ingin bekerja? Apakah uang yang kuberikan kurang?"
"tidak, tapi aku bosan dirumah terus."
"aku masih sanggup untuk menafkahimu, kalau bosan kamu tinggal jalan-jalan saja. Nanti uangnya aku tambah ya? .
"aku tidak mau berjalan-jalan sendiri, kecuali kalau kamu menemani aku."
"kamu tahu sendiri kan pekerjaanku tidak bisa ditinggal?"
"iya makanya ijinkan aku untuk bekerja."
"hah... memang kamu mau bekerja apa?"
"aku juga masih mencari-cari."
"Ya sudah nanti bicarakan dulu padaku apa pekerjaannya. Baru nanti akan kuberikan keputusannya."
"iya baiklah..."
Selesai sarapan, Rendra pergi ke kantor seperti biasa. Mira pun mulai membersihkan rumah. Saat ia menyapu kamar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"halo, kami dari penerbit X. Benar ini dengan mba Mira?"
"iya benar. Ada apa ya?"
"Saya Siska editor dari penerbit X, kami ingin konfirmasi kalau novel yang mba kirim akan kita tinjau lebih jauh. Apakah mba bersedia untuk datang ke kantor kami untuk pembicaraan lebih lanjut?"
Mira diam sejenak, ia mencoba mengingat-ingat. Ia baru tersadar kalau ia memang pernah mengirim sebuah novel ke penerbit X.
"Oh iya saya pernah kirim sebuah novel kesana tapi sudah lumayan lama. Kalau boleh tahu kapan saya harus ke sana?"
"Besok sekitar jam 10 pagi, apakah bisa?"
"hmm... apa boleh saya konfirmasi ulang? Karena saya mau minta ijin pada suami saya terlebih dahulu."
"Boleh mba, silahkan nanti hubungi saya kembali di nomor ini ya..."
"Baik terima kasih."
Mira pun menutup telepon. Senyumnya mengembang, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah datar.
"kira-kira Rendra kasih ijin nggak ya? Aku takut dia tidak memperbolehkanku. Tapi akan aku coba tanyakan padanya terlebih dahulu."
Waktu tak terasa berlalu. Rendra sudah pulang dari kantornya. Sesampainya di kamar setelah mandi dan makan, seperti biasa ia membuka laptopnya. Terlihat sekali kalau Rendra sangat sibuk dengan pekerjaannya itu. Mira pun duduk disamping Rendra untuk menyampaikan hal tadi.
"Mas Ren..."
"iya Mira... Ada apa?"
Jawab Rendra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"aku tadi dapat telepon dari penerbit X kalau novelku ada potensi untuk diterbitkan."
"lalu?"
"iya mereka mengundangku untuk datang ke kantor mereka. Mereka bilang ingin berbicara lebih lanjut denganku. Apakah aku boleh kesana? Sebenarnya mereka mengundangku besok pagi jam 10, tapi aku ingin minta ijin padamu terlebih dahulu."
Tangan Rendra yang sedari tadi tak henti mengetik laptop kini terdiam sejenak.
"baiklah, kamu boleh kesana. Lalu kapan kamu mau kesana?"
"aku mau konfirmasi pada mereka besok. Kemungkinan lusa aku baru kesana."
"Ya sudah nanti akan ku antar kamu kesana. Sekarang kamu tidur saja, sudah malam."
"kamu juga lekas lah tidur, akhir-akhir ini kamu terus begadang karena pekerjaanmu."
"iya nanti kalau aku sudah mengantuk, aku akan tidur."
Lagi-lagi Mira tidur lebih dahulu. Sendirian.