Sesudah membuat ulang janji dengan Siska editor penerbit X, Mira pergi kesana bersama Rendra ke kantor itu.
"kamu nanti hubungi aku kalau mau pulang. Jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang."
"iya Mas nanti akan ku hubungi."
Ucap Mira lalu pamit pada Rendra.
Mira membuka pintu mobil lalu melangkah keluar. Tak lama ia berjalan keluar, ia menoleh kembali ke arah belakang. Mobil suaminya sudah berjalan menjauh darinya, Mira pun melanjutkan langkahnya menuju kantor penerbit X. Tak sampai 5 menit ia sudah sampai. Ia menghampiri seorang resepsionis untuk mengabari kedatangannya pada Siska.
"saya Mira Dinata. Hari ini saya ada janji bertemu dengan Ibu Siska editor Penerbit X. Bisa tolong panggilkan mba?"
"baik, tunggu sebentar ya."
Resepsionis itu mulai memencet nomor ekstensi sesuai dengan permintaan Mira. Setelah selesai menghubungi, Mira dimintai tanda pengenal untuk ditukar dengan kartu tamu. Lalu Mira diantar ke ruang tunggu.
"dengan Mba Mira?"
Ucap Siska yang baru saja masuk ruangan.
"iya Mba Siska, saya Mira Dinata."
Ucap Mira lalu berjabat tangan sambil tersenyum pada Siska.
"Silahkan duduk Mba Mira. Tunggu sebentar ya, saya mau panggil atasan saya dulu, beliau juga mau ikut kesini."
Setelah 10 menit berlalu, Siska datang kembali keruangan bersama seorang lelaki yang wajahnya tak asing bagiku.
"Oh! Herdian?"
Mira refleks berdiri karena terkejut.
"ternyata ini kamu."
Herdian tersenyum dengan mata berbinar.
"Oh Mba Mira kenal dengan Pak Herdian?"
"iya dia kenalan saya."
Jawab Mira singkat.
"silahkan duduk."
Herdian mempersilahkan Mira.
"baiklah Mba Mira, kita akan mulai menjelaskan. Jadi novel mba nanti akan masuk tahap penyuntingan naskah terlebih dahulu. Proses cover dan lainnya juga akan di proses oleh kami. Sedangkan untuk royalti Mba bisa lihat di surat kontrak ya."
Mira membaca lembaran kontrak perlahan. Ia membaca detail setiap tulisan yang terpampang. Setelah selesai ia pun menandatangani kontrak tersebut.
"kalau respon pembaca baik, kemungkinan akan kita lanjut ke season 2. Kira-kira dari Mba Mira ada yang mau ditanyakan kembali?"
"Oh seperti itu. Untuk sekarang ini saya belum ada pertanyaan."
"Baiklah, terima kasih atas waktunya ya Mba Mira."
Siska membereskan berkas-berkas yang ada. Herdian menyuruh bawahannya itu untuk kembali ke ruangan kerja lebih dulu. Sedangkan Mira masih duduk diruang tunggu, ia sedang sibuk mencari kontak suaminya di ponsel. Ia mau menghubungi suaminya.
"Mira..."
"Oh ya ada apa Herdian?"
Masih sibuk menatap ponselnya sambil menoleh sekali pada Herdian.
"Kamu mau langsung pulang?"
"iya aku mau langsung pulang."
Mira masih fokus dengan ponselnya. Beberapa kali Mira mencoba menelpon Rendra tapi tidak diangkat. Karena kesal Rendra tak mengangkat teleponnya, Mira pun segera memesan taksi untuk pulang sendiri ke rumah.
"aku antar ya?"
"ah tidak usah, aku sudah memesan taksi. Supirnya juga sudah menunggu. Aku pulang dulu ya."
"Oh baiklah..."
Mira berjalan cepat menuju luar ruangan.
Tak lama Mira pun sampai dirumah. Ia menggerutu kesal karena Rendra tidak mengangkat ponselnya. Padahal Rendra sendiri yang menyuruh Mira untuk menghubunginya. Sekitar 1 jam kemudian, Rendra baru menghubungi Mira.
"Mira maaf ya aku tidak mengangkat telepon darimu. Tadi aku harus menghadiri meeting dan lupa membawa ponselku. Apa kamu masih disana?"
"Ah sudahlah kau tidak perlu menjemputku, lagipula aku sudah pulang."
"kenapa kamu tak menungguku disana? Kan aku sudah bilang tunggu saja sampai aku datang."
"kau saja baru memberiku kabar 1 jam kemudian, apa kau tidak tahu menunggu itu hal yang menyebalkan? Sebenarnya bisa saja aku pulang dengan temanku, tapi aku tolak."
"teman? lelaki atau wanita?"
"lelaki."
"Siapa lelaki itu? Apa dia tidak tahu kau sudah memiliki suami?"
"Ah sudahlah lagipula dia hanya teman SMA ku dulu."
"hanya teman? Lelaki dan wanita itu tidak ada kata teman, apa kau tidak tahu itu hah !?"
"Kenapa kau malah marah-marah padaku? Memangnya aku berbuat apa? Kau berbicara begitu seperti aku sedang selingkuh saja!"
Ucap Mira marah dan langsung menutup telepon sepihak.
Rendra terkejut istrinya marah-marah seperti itu. Ini pertama kalinya mereka bertengkar. Karena merasa tidak enak, Rendra pun segera pulang kerumah meninggalkan setumpuk pekerjaannya.
Sesampainya dirumah, ia melihat istrinya sedang asik menonton tv sambil memakan cemilan. Sesekali istrinya itu tertawa karena tontonan yang sedang ia saksikan. Rendra berjalan menuju ruang tamu, ia pun duduk disamping istrinya. Mira yang menyadari suaminya duduk disampingnya langsung diam, ia segera bangun dan mematikan televisi. Mira bergegas menuju kamar meninggalkan suaminya diruang tamu.
Kini Mira tengah duduk bersandar di kasur sambil memangku laptop. Rendra lagi-lagi duduk di sebelahnya.
"Mira maaf..."
Namun Mira masih tak menggubris perkataan suaminya.
"maafin aku karena tadi sudah membentak kamu. Aku juga yang salah karena tadi tidak mengangkat telepon darimu."
Rendra mengulang ucapannya.
Sambil mengetik, tak terasa air mata Mira menetes. Rendra kini semakin merasa tak enak melihat istrinya menangis. Ia menghapus air mata istrinya itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"untuk apa kau pulang kerumah? Bukankah pekerjaanmu itu lebih penting daripada aku?"
"tentu aku harus pulang kerumah untuk menemui istriku yang berharga ini."
"berharga? Lebih baik kau kembali bekerja saja sana! Aku kesal melihatmu disini !"
"Mira tolong maafkan aku... "
"lalu kenapa tadi kau membentakku? Memangnya tadi aku benar-benar sedang selingkuh? Bahkan aku saja harus pulang sendiri demi menjaga perasaanmu sebagai suamiku."
"iya maaf. Aku tadi emosi, aku tidak suka kalau ada lelaki yang mendekatimu. Aku janji tidak akan seperti itu lagi."
Mira melirik tajam ke arah Rendra. Hatinya mudah luluh hanya dengan melihat wajah Rendra, Ia tak bisa lama-lama marah pada Rendra.
"janji?"
Ucap Mira melembut sambil mengarahkan jari kelingkingnya pada Rendra.
"iya janji."
Rendra pun mengaitkan jari kelingkingnya pada Mira.
"Sudah jangan menangis lagi ya. Bagaimana kalau hari ini kita makan malam diluar? Aku akan reservasi tempat yang indah untuk kamu."
"Benarkah?"
Wajah Mira seketika berubah cerah.
"iya... Ya sudah kamu siap-siap dulu sana."
Setelah siap-siap mereka pun pergi ke restoran yang sudah di reservasi sebelumnya. Butuh waktu sekitar 30 menit menuju restoran tersebut. Saat masuk restoran, Mira melihat ada satu meja yang dihiasi oleh lilin lilin dan beberapa kelopak bunga. Pelayan disana mengiringi mereka menuju meja tersebut.
"wah pemandangan malamnya bagus sekali..."
Ucap Mira sambil memandang dari jendela disampingnya.
"bagus kan? Ini semua untuk kamu."
"iya, aku suka sekali. Terima kasih ya mas..."
"kamu mau pesan apa?"
Mira membuka menu yang ditaruh oleh pelayan di meja. Matanya terbelalak karena harga yang tercantum di menu tersebut.
"mas, ini nggak kemahalan?"
Ucap Mira sambil berbisik dan menutupi wajahnya menggunakan menu dari samping.
"hehe... tenang saja Mira, untukmu apapun akan kuberikan."
"tapi aku nggak ngerti menunya. Samakan saja dengan pesanan kamu mas."
"baiklah."
Pesanan pun datang. Mereka asik berbincang satu sama lain.
"Bagaimana rasanya?"
"ini enak Mas. Kapan-kapan kita boleh kesini lagi kan?"
"iya boleh dong."
"asik..."
Ujar Mira dengan gembira seperti anak kecil yang diberikan es krim.
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba saja ponsel Rendra berbunyi. Seketika raut wajahnya berubah, ia terlihat khawatir.
"kenapa Mas?"
"Mira, aku harus kerumah sakit sekarang. Ada urusan mendadak, kamu nanti pulang sama supir saja ya. Aku pergi dulu."
Ucap Rendra bergegas pergi dari hadapan Mira. Sedangkan Mira terdiam mematung tanpa memanggil suaminya yang telah menghilang dari pandangannya tersebut. Wajahnya kembali muram dan pandangannya kosong.