Sesampainya Rendra kerumah sakit, ia langsung menuju ruangan dimana Risa dirawat. Orangtua Risa yang sudah berada disana terlihat cemas. Keadaan Risa mendadak melemah. Dokter lain yang sedang memeriksa keadaan Risa pun baru keluar ruangan. Rendra pun langsung menghampiri dokter tersebut.
"bagaimana keadaan Risa dok?"
"sudah membaik, tadi memang sempat melemah. Tapi kami sudah memberikan obat padanya. Saya tinggal dulu ya dok."
"iya terima kasih sudah membantu saya merawat Risa."
Dokter itu pun berlalu pergi. Rendra masuk ruangan bersama kedua orangtua Risa. Tak lama disana Rendra pamit pulang pada orangtua Risa.
"Bu, Pak, saya mau kembali lagi kerumah. Saya tidak tega meninggalkan istri saya sendirian dirumah."
"baik nak, kamu jaga istrimu baik-baik ya. Terima kasih sudah merawat Risa selama ini. Kalau perlu bantuan kamu bilang saja pada kami ya nak."
Ucap Ibu Risa.
Sesampainya dirumah, Rendra langsung menuju kamar. Saat membuka pintu terlihat suasana kamar sudah gelap karena lampu dipadamkan. Lalu ia nyalakan lampu, ia melihat istrinya tengah tertidur pulas. Wajah Mira terlihat sembab, sangat kentara kalau ia habis menangis. Lampu pun dimatikan kembali oleh Rendra.
"maafkan aku Mira, aku belum bisa membuka hatiku untukmu. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu."
Ucap Rendra sambil mengecup kening MIra.
***
Flashback Mira di Restoran
Kali ini Mira tidak memanggil suaminya. Ia terdiam di tempat duduknya sendiri. Wajahnya yang tadi cerah kini muram kembali. Ia membuka ponselnya lalu menghubungi supir untuk mengantarnya pulang.
"Pak, jemput saya sekarang di restoran xxx ya."
Mira menahan tangis.
"baik Bu saya akan segera kesana."
Sesampainya di rumah, Mira langsung masuk kekamar. Ia merebahkan diri dikasur dan menghela napas kasar. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. Tangis yang sedari tadi ia tahan, kini tak mampu lagi ia bendung.
"lagi-lagi seperti ini... Kenapa kau selalu pergi disaat aku membutuhkanmu? Kalau keadaannya seperti ini terus, lalu apa bedanya saat aku sendiri dulu? Saat aku tak memiliki siapapun disisiku. Sebenarnya kau menganggapku apa?!"
Ucap Mira frustasi.
Air matanya terus mengalir hingga ia tertidur karena lelah menangis.
Flashback END
***
Keesokan harinya seperti biasa Mira menyiapkan sarapan. Saat selesai memasak, Rendra pun datang menghampiri meja makan. Mereka pun makan bersama, tapi kali ini tak ada pembicaraan satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Sesekali Rendra melirik istrinya yang sedang makan. Mira buru-buru menghabiskan makannya dan segera pergi ke kamarnya. Sampai di kamar, Mira mendengar ponselnya berdering, ia pun mengangkat telepon tersebut.
"mba Mira, hari ini ada waktu? Ada beberapa hal yang mau saya bicarakan tentang novel mba, sekalian kita makan siang ya."
"ada Mba, mau ketemu dimana?"
"di kafe xxx ya Mba."
"baiklah, saya akan kesana."
Mira pun menutup teleponnya.
Rendra ternyata mengikuti Mira ke kamar. Sedari tadi ia berada di pintu kamar dan mendengar percakapan Mira di telpon.
"mau kemana?"
"mau ketemu Siska, ada kerjaan."
"aku antar ya?"
"tidak usah, kau pergi saja ke kantor. Aku akan berangkat sendiri."
"apa kau masih marah soal kemarin?"
"Soal apa? aku tidak marah."
Ucap Mira sambil memasukkan beberapa barang kedalam tas.
"lalu kenapa kamu tidak mau menatapku saat aku bicara?"
"lalu aku harus bagaimana lagi Ren? Apa aku harus marah-marah dan melarangmu pergi saat kita sedang makan malam kemarin? Itu kan memang pekerjaanmu dan aku berusaha untuk mencoba mengerti keadaan itu."
Berbalik menghadap Rendra.
"Bohong, matamu tidak berkata seperti itu."
"Ah sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku mau pergi sekarang."
Rendra menahan lengan Mira.
"Apa lagi?"
"Kau yakin benar-benar tidak marah padaku?"
"Kalau aku marah apa yang mau kau lakukan? Minta maaf? Kan aku sudah bilang, aku sudah memaafkanmu. Kau mau aku melakukan apa lagi?"
"Ya sudah. Tapi aku antar ya?"
"Tidak, aku mau berangkat sendiri saja."
Ucap Mira sambil melepas tangan Rendra.
Rendra mengikuti Mira sampai ke depan rumah. Langkah Rendra terhenti di depan pintu rumah, ia melihat sebuah taksi mendekat dan berhenti dihadapan Mira. Perlahan taksi itu pergi membawa Mira dari hadapan Rendra.
Karena masih terlalu pagi, Mira tidak langsung menuju ke kafe, ia pergi ke sebuah taman. Ia ingin menuangkan idenya untuk beberapa bab tulisan yang akan ia buat. Ia mulai membuka laptop dan mulai mengetik.
Tak terasa waktu berlalu, jam makan siang pun tiba. Mira menutup laptopnya dan segera pergi menuju kafe xxx dengan taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Sekitar 15 menit naik taksi, Mira pun sampai di tempat tujuan. Mira melangkah masuk kafe, Siska yang lengkap dengan laptopnya di meja melambaikan tangannya pada Mira.
"sudah lama menunggu mba?"
"saya juga baru sampai kok... Ah iya sebentar lagi Pak Herdian datang, nanti kita diskusi bertiga ya mba."
"lho Pak Herdian kesini juga?
"iya dia juga sekalian mau ikut meeting dan makan siang dengan kita."
"Oh begitu rupanya. Hmm... saya mau tanya Mba, kemarin Mba bilang kalau respon pembaca bagus akan ada season 2, kebetulan waktu saya senggang saya membuat beberapa bab lanjutannya apa boleh di kirim sekarang ?"
"boleh dong mba, tapi seperti biasa akan kita review dulu sebelumnya. Oh ya sambil kita diskusi, kita pesan makanan dulu saja. Aku pesankan dulu ya Mba."
"iya Mba, terima kasih."
Herdian terlihat dari kejauhan dengan kemeja putih dan jas birunya, membuat ia semakin berkarisma. Dengan paras tampannya itu, membuat beberapa pengunjung disana menoleh kearahnya. Pandangannya mulai mencari keberadaan kami, beberapa detik saja ia sudah menemukan Mira yang sedang duduk bersama Siska. Ia langsung menuju meja mereka dan duduk di sebelah Siska.
"maaf saya telat. Sudah mulai diskusinya?"
"belum Pak, kita menunggu Bapak dulu."
Ucap Siska.
"sudah pesan makan?"
"sudah pak. tinggal menunggu diantar saja."
Jawab Siska kembali.
Mira dan Siska terlihat sibuk dengan laptopnya, sesekali mereka berdiskusi lalu mencatat beberapa hal penting.
"saya tinggal sebentar ya, saya mau ke toilet."
Mira mengangguk. Siska pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet.
"Mira, aku senang sekali kita bisa bertemu kembali."
"iya sudah lama sekali."
"Mira boleh aku menyampaikan sesuatu padamu?"
Mira menghentikan fokusnya pada laptop. Ia mulai melihat ke arah Herdian.
"iya tentang apa?"
"aku menyukaimu..."
Mira membeku, alisnya mengerut dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
"maaf Herdian, kamu harus menghilangkan perasaanmu padaku."
Jawab Mira yang sudah menundukkan pandangannya.
"kenapa?"
"karena dia sudah punya suami !!!"
Tiba-tiba Rendra menggebrak meja.
Mira dan Herdian terkejut, mereka menoleh ke arah suara tersebut. Semua pengunjung disana teralihkan oleh keributan itu.
"ayo pulang !"
Rendra langsung menarik tangan Mira dengan kasar. Namun Mira melepas tangan suaminya tersebut, Rendra pun pergi meninggalkan Mira dengan keadaan sangat marah. Mira menyusul Rendra setelah mengambil laptop dan tasnya.
"Herdian, maaf aku harus pulang sekarang."
Herdian mengangguk. Ia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia kira selama ini masih punya kesempatan untuk bersama Mira. Namun mendengar hal itu, membuat hatinya seketika terasa sangat hancur.
Tak lama Siska pun kembali dari toilet dan terheran melihat suasana di kafe yang hening dan pandangan semua orang yang tertuju pada Herdian.
"apa yang terjadi Pak? Lalu Mba Mira kemana?"
"kamu kembali ke kantor saja sekarang, Mira ada urusan mendadak."
Ucap Herdian sambil berdiri membawa jasnya.
"baik Pak."
Siska melihat bosnya pergi dari kafe dan berjalan cepat menuju parkiran. Ia pun kembali ke kantor sendiri.
Sedangkan Mira berlari menyusul Rendra ke mobil. Ia membuka pintu mobil dan terlihat Rendra sudah duduk di kursi pengemudi. Setelah Mira masuk, Rendra mulai menjalankan mobilnya dengan kencang.
"tolong pelankan laju mobilnya Ren."
"siapa laki-laki itu hah?!"
Bentak Rendra.
"Dia.. dia Herdian teman SMA ku dulu."
Ucap Mira dengan terbata-bata takut kalau suaminya semakin marah.
Benar saja, mendengar hal itu Rendra malah semakin mempercepat laju mobilnya, tangannya mencengkram kuat stir mobil. Rahangnya terlihat mengetat dan matanya merah menahan amarah.
"Turunkan aku !"
Rendra lalu membanting stir ke sudut jalan dan memberhentikannya secara mendadak.
"hei kau mau mati hah ?! Kenapa tidak kau biarkan aku mati saja waktu itu !"
Mira membuka sabuk pengaman. Ia segera membuka pintu mobil lalu membantingnya dengan kasar. Ia berjalan cepat ke arah depan mobil.
Rendra menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobil dan menyusul Mira yang berjalan.
"hei kau mau kemana?!"
"apa urusanmu? Bukankah kau ingin aku mati ?!"
"MIRA !!!"
Rendra menarik tangan Mira dengan kasar dan menatap Mira tajam.
"lepaskan !!"
"oh jadi kamu mau kabur sama laki-laki tadi ?! Pantas saja kau tidak mau ku antar tadi, ternyata kau ingin menikmati waktu bersama selingkuhanmu itu kan?"
Rendra tersenyum pahit.
Mira melihat Rendra dengan pandangan tak percaya. Ia menahan tangis atas tuduhan suaminya itu. Ia menutup mata dan menghela napas berat.
"tolong jaga bicaramu Ren... Bisakah kau tanyakan dulu padaku secara baik-baik tentang kejadian tadi? Apa kau tidak mau mendengarkanku dulu?"
Rendra masih terdiam.
"kau tahu disana aku sedang ada kerjaan, Siska meminta waktuku untuk berdiskusi tentang novelku sekalian makan siang disana. Aku pun tidak tahu kalau Herdian akan ikut kesana, karena Siska tidak bilang padaku sebelumnya. Dan saat itu Siska sedang ke toilet, ia meninggalkan kami berdua disana. Apa aku harus ikut ke toilet juga? Lalu kau tiba-tiba muncul seenaknya bilang aku sedang menikmati waktu dengan selingkuhanku?"
Ucap Mira dengan air mata yang berlinang.
"maafkan aku Mira, maaf aku salah paham padamu dan tidak bisa mengontrol emosiku ini. Maaf..."
Rendra menarik Mira yang menangis sesenggukan kedalam pelukannya.